Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Bercerita


__ADS_3

"Jadi tuh dulu gini Kak ceritanya... Waktu itu aku sebenarnya udah masuk SMP," ujar Litha mengingat kecerobohannya pada masa itu.


Litha sudah seminggu memasuki bangku Sekolah Menengah Pertama, seragam SMP nya yang baru pun juga sudah jadi. Namun karena saat itu Litha bangun kesiangan, ia terburu-buru jadi salah seragam memakai seragam yang biasanya ia pakai saat masih masa pengenalan lingkungan sekolah.


Raka tertawa terbahak-bahak mendengar cerita konyol itu. "Nggak ada yang ngasih tau kalau kamu salah seragam?"


Litha menggeleng cemberut, waktu itu tidak ada siapapun di rumah. Hanya ada Umran yang mengantarkannya berangkat sekolah.


"Aku yakin waktu itu pasti dalam hati Umran cekikikan puas ngetawain kamu," ucap Raka disela tawanya.


Saat Litha jalan kaki pulang sekolah ia melihat seorang turis asing yang dihadang oleh tiga preman di sebuah gang sempit yang sepi.


Litha menolongnya atas dasar rasa kasihan dicampur dengan rasa penasaran akan perkembangan ilmu bela dirinya yang baru mengikuti latihan tinju selama lima hari. Tak disangka ternyata keahliannya yang baru diasah lima hari tersebut dapat mengalahkan tiga preman sekaligus.


"Turisnya tuh ganteng banget Kak, wajahnya kayak orang Korea gitu," Litha tersenyum membayangkan anak berseragam SMP yang memiliki postur tubuh tinggi, kulit putih bersih dan wajah yang begitu mempesona.


"Jadi dia ganteng BANGET?" Raka menahan tawa melirik Litha yang tersenyum-senyum sendiri.


"Banget!" Jawabnya yakin.


"Ganteng mana sama aku?" Goda Raka.


Litha menoleh sebentar sebelum menjawab. "Emm... Ganteng turis itu kayaknya. Waktu masih kecil aja udah ganteng, gimana gedenya sekarang? Pasti beruntung banget yang jadi ceweknya," ocehan Litha terdengar.


"Penasaran sama ceweknya apa cowok turis itu?" Tanya Raka.


"Dua-duanya. Tapi... Kenapa turis ganteng itu bisa masuk gang sempit itu? Kesasar kali ya?" Ujar Litha menduga-duga sendiri.


Raka menggeleng tersenyum dengan pemikiran absurd seorang Litha. "Yang kamu bilang turis ganteng itu aku Tha,"


Mata Litha terbelalak terkejut dengan pengakuan Raka. "Hah?"


Raka mengangkat kepalanya, bersandar pada tangannya, menatap lekat gadis cantik yang masih kurang percaya dengan pengakuan Raka.


"Jadi menurut kamu, aku GANTENG BANGET?" Senyuman Raka terlihat menggoda kekasihnya.


Litha memalingkan wajahnya, tidak ingin melihat tatapan Raka.


"Cewek beruntung itu adalah kamu," Raka mencubit gemas hidung Litha.


"Ish... Kak Raka!" Litha melepaskan tangan Raka dari hidungnya yang sedikit memerah.


"Kenapa kamu nyangka aku turis? Emang ada turis pake seragam sekolah dari Indonesia?" Raka geleng-geleng kepala dengan tawanya.


"Emm... Namanya juga masih kecil Kak, baru lulus SD. Jadi gak kepikiran sampai situ, hehehe..." Litha menyengir memperlihatkan gigi putihnya.

__ADS_1


Saat kejadian itu Raka juga hendak pulang ke rumah setelah selesai sekolah. Ia memutuskan pulang jalan kaki melewati jalan pintas yang jaraknya lebih dekat untuk menuju rumahnya.


Raka ingin coba-coba mandiri dengan tidak mengandalkan jemputan yang datangnya lama sekali sampai membuat Raka bosan.


"Saat ditengah perjalanan aku disamperin tiga preman. Terus gak lama kemudian muncul anak SD yang culun. Aku kira bocah SD itu cuma modal nekad doang sok-sokan nantangin permen itu," ujar Raka.


"Dih? 'sok-sokan' kamu bilang? Culun-culun gitu juga aku udah bisa bela diri tauk!" Lidah Litha terjulur keluar.


"Iya deh kesayangannya Raka," Raka mengusap sisi wajah Litha, membuat wajah empunya memerah tersipu malu.


"Untung tiga preman itu badannya kurus-kurus," Raka tertawa melihat muka Litha semakin memerah, bukan karena tersipu malu melainkan karena menahan emosi.


"Maksudnya apaan? Ngremehin kemampuan aku?" Mata Litha melotot seperti minta dicolok.


Raka hanya tertawa renyah menanggapi pertanyaan Litha. Ia kembali menidurkan dirinya diatas pasir menatap langit biru gelap.


"Setelah tiga preman itu pergi, kenapa kamu juga langsung pergi ninggalin aku sendirian di sana?" Sejak kejadian tersebut Raka selalu bertanya-tanya sendiri alasan mengapa Litha meninggalkan dirinya tanpa sepatah kata pun.


"Emmm... Soal itu, aa.. aku malu," cicit Litha namun terdengar jelas ditelinga Raka.


"Malu? Kenapa malu?" Heran Raka tidak mengerti.


"Aku sadar sama penampilan aku yang jauh dari kata cantik. Kalau aku sapa duluan, takutnya nanti kamu cuekin aku karena kamu ngerasa kalau aku gak sebanding dengan kamu," ungkap Litha jujur.


"Kamu kan tahu aku males ngomong," bela Raka pada diri sendiri.


Setelah kepergian si culun Litha, diam-diam Raka membuntuti Litha. Siapa yang tidak penasaran dengan bocah culun yang ternyata bisa bela diri?


Saat itu Raka menyadari ada suatu getaran dalam hatinya kala melihat keceriaan bocah SD tersebut. Namun Raka belum mengerti arti getaran dalam hatinya pada saat itu. Senyum tipis dibibir Raka terukir saat melihat gadis kecil kepang dua berjalan ditepi jalan raya sambil sesekali melompat-lompat kegirangan dengan mulut komat-kamit dan senyuman lebar.


"Komat-kamit komat-kamit!" Litha menyela cerita dari Raka yang mengatainya komat-kamit seperti dukun yang membaca mantra.


"Aku tuh lagi dengerin lagu dari handphone sambil ikut nyanyi Kak!" Sambung Litha meluruskan kesalahpahaman Raka.


Raka tertawa mengiyakan ucapan Litha.


"Saat aku sampai didepan rumah kamu, aku kaget. Aku kira kamu anak kurang mampu karena kamu pakai kacamata kebesaran," Tawa Raka langsung pecah mengingat kacamata kebesaran yang membingkai wajah kecil Litha culun.


Litha bangun dari rebahannya, ia duduk di pasir. Litha menoleh ke belakang melihat suara tawa Raka yang besar. Wajah Litha memberengut kesal karena diejek habis-habisan oleh tunangannya sendiri.


"Kenapa fokus Kakak ke kacamatanya sih?" Kesal Litha.


"Kenapa gak pakai kacamata khusus anak-anak?" Raka menahan tawanya tapi sulit sekali baginya.


Akhirnya tertawa lagi sampai tangannya memegang perutnya yang terasa nyeri akibat kebanyakan ketawa. Seumur-umur baru kali ini Raka sampai kesakitan perut karena tertawa tidak ada hentinya.

__ADS_1


"Kacamata yang biasa aku pakai pecah, belum sempat beli. Jadi aku pakai yang ada aja," Litha meminjam kacamata Bunda Larissa untuk sementara, karena saat kecil mata Litha sedikit bermasalah sehingga harus memakai kacamata kesehatan jika tidak ingin matanya menjadi minus.


Flashback On


Umran menghentikan laju mobilnya ketika mendapati seorang anak SMP yang mencurigakan sedang memata-matai rumah mewahnya.


Umran menepuk pundak Raka membuat sang empu menoleh ke belakang. Tatapan Umran penuh mengintimidasi, tidak ada ketakutan dalam diri Umran teruntuk anak SMP ini. Iya lah gak takut, orang waktu itu Raka masih dibawah umur.


"Ngapain lo lihatin rumah gue? Mau maling lu?" Tuduh Umran yang mengancam akan melaporkan Raka ke polisi dan ditambah pula dengan ancaman yang beraneka ragam dengan tujuan menakut-nakuti Raka.


Umran membaca nama yang ada di seragam Raka. "Raka Adelard P? P itu kepanjangan dari pencuri?" Ucap Umran asal jeplak.


"Eh Raka lo udah nyuri apa dari rumah gue? Raka Adelard, gue laporin polisi beneran lu ya! Jangan main-main lu sama gue!" Ya begitulah Umran, orangnya suka panikan. 11 12 kayak adeknya.


Raka menatap dingin anak berseragam SMA didepannya. "Kalau mau lapor polisi harus ada bukti Kak, bukti barang yang saya curi mana?" Raka memperlihatkan telapak tangannya yang kosong.


"Yaaa... Pokoknya lo gue laporin polisi kalau berani macem-macem sama gue," sahut Umran masih usaha menakuti si bocil yang Umran akui ketampanannya 11 12 dengan dirinya. Lebih gantengan Raka kali Ran! Sadar diri woi..!


"Atas dasar apa Anda melaporkan saya ke polisi?"


"Apa saya melakukan pencemaran nama baik? Atau melakukan tindakan yang tidak terpuji? Atau saya melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan?"


"Dari ketiga tuduhan ringan tersebut, saya tidak melakukan semuanya kan Kak?"


"Kalau Anda benar akan melaporkan saya entah atas tuduhan apa. Saya akan menuntut Anda balik atas tuduhan pencemaran nama baik, mari kita saling berperang dalam keadilan di persidangan nanti,"


"Saya mempunyai bukti, sedangkan laporan Anda tidak mempunyai bukti!" Raka memperlihatkan layar handphonenya yang menunjukkan sebuah rekaman suara yang baru terjadi beberapa detik yang lalu.


Mata Umran terbelalak besar, mulutnya terbuka lebar. Ia terkejut tidak menyangka ternyata bocil satu ini melampaui standar kepandaian dari usia anak kecil beranjak remaja pada umumnya, sehingga tidak mudah ditakut-takuti. Malah sekarang Umran yang takut karena ulah Raka.


"Soal lapor polisi tadi gue bercanda," Umran nyengir kuda dengan jari membentuk huruf V.


"Kita temenan aja yuk! Nama gue Umran. Umur lo berapa? Dan kelas berapa lo?" Umran merangkul pundak Raka yang berwajah datar.


"14 tahun, kelas 2," jawabnya singkat.


"Cocok! Pas banget. Gue punya adek cewek yang umurnya 13 tahun, dia baru masuk SMP tahun ini. Nanti gue kenalin ke dia. Pasti kalian klop!!! Dia agak culun sih tapi sebenarnya cantik kok," ocehan Umran membuat senyuman tipis dibibir Raka terukir. Bahkan sampai tipisnya, Umran tidak menyadari itu.


Flashback Off


Yap begitulah awal hubungan pertemanan antara Raka dengan Umran. Tetapi sebenarnya mereka telah lama saling berjumpa, tanpa mereka sadari.


***


Penasaran? Nanti akan ada chapter yang menjelaskan!!!

__ADS_1


__ADS_2