
Raka terkejut saat mendapati sebuah mobil dari Rumah Sakit Jiwa mendatangi kediaman keluarga Sekar. Sekelebat bayangan tentang laporan dari orang suruhan Raka yang mengawasi Fandy berputar dipikirannya.
"Pagi ini Fandy berteriak keras setelah dari balkon, entah apa penyebabnya saya tidak tahu. Yang pasti dia seperti orang depresi," begitulah yang diucapkan orang suruhan Raka.
"Apa Litha ke sini karena Fandy?" gumam Raka.
Pihak RSJ masuk ke dalam rumah Sekar dan beberapa detik berikutnya terdengar suara seorang pria yang berteriak keras. Pihak RSJ menyeret Fandy keluar dari rumah Sekar diikuti oleh orang tua Sekar beserta Litha dan Sekar yang sudah banjir air mata.
"Gue mau ikut nganterin Fandy," ucap Sekar melihat sepupunya dipaksa masuk ke dalam mobil berwarna putih tersebut.
Disaat itu pula netra Litha menangkap sebuah mobil sport yang tak asing baginya. Litha menyipitkan matanya mengecek apakah ia mengenali plat nomor kendaraan tersebut.
Litha kembali menatap Sekar, "Sorry gue gak bisa nemenin lo," Litha kembali menatap mobil sport tersebut.
Sekar mengikuti arah pandang Litha, "Gpp, gue ngerti kok," Sekar tersenyum walau air matanya tidak bisa ia bendung.
Litha membalas senyuman Sekar dan menggenggam tangan Sekar, sebagai memberi saluran penyemangat. Litha melangkah mendekati mobil yang ada di seberang sana, setelah sebelumnya mengelap air matanya dan berpamitan kepada orang tua Sekar.
Tok Tok
Litha mengetuk kaca mobil sport tersebut. Membuat pemilik mobil menurunkan kacanya.
"Kamu kenapa ada disini?" heran Litha dengan membungkukkan tubuhnya.
"Masuk!" Bukannya menjawab, Raka malah menyuruh Litha masuk mobil.
"Jawab dulu pertanyaan aku," ucap Litha.
"Jemput kamu," jawabnya. Membuat Litha tersenyum lalu melangkah ke belakang, membuka pintu mobil, masuk dan duduk di bangku belakang tanpa rasa bersalah.
"Kenapa di belakang?" tanya Raka sedikit kesal.
"Katanya jemput aku," sahut Litha menahan tawanya.
Ini Raka dijadiin sebagai sopir pacarnya sendiri? Akh... Ya sudah terserahnya saja! Raka tidak ingin berdebat dengan Litha. Terakhir dia berdebat dengan Litha, berakhir dengan status hubungan mereka yang hampir diujung tanduk.
Raka melanjutkan mobilnya dengan kecepatan sedang, kedua hanya diam, tidak ada yang bersuara. Litha selalu melihat kaca depan mobil, mengamati Raka yang tidak berekspresi sama sekali, bahkan tatapan Raka hanya terfokus pada jalanan.
"Masih marah?" gadis itu memberanikan diri untuk bertanya. Tidak ada tanggapan apapun dari Raka.
Litha masih memperhatikan pemuda didepannya yang sama sekali tidak menatapnya. Jangankan melirik, merespon ucapannya saja tidak.
__ADS_1
"Aku nggak suka di cuekin," tutur Litha dengan mata berkaca-kaca menatap ke arah samping jalanan yang dilaluinya.
"Aku nggak suka segampangnya kamu bilang putus," sahut Raka dingin.
Litha melihat kaca depan lagi, Raka masih tidak ingin melihatnya balik.
"Aku tau aku salah, tapi jangan diemin aku kayak gini," ungkap Litha. Tak ada sahutan dari Raka lagi, suasana menjadi hening sejenak.
"Mending kamu marah-marah aja sama aku," perlahan air mata menetes, Litha tidak dapat membendungnya lagi.
"Aku gak bisa marah ke kamu," ucap Raka dengan pandangan masih lurus ke depan.
"Tapi hati aku sakit, kalo kamu cuekin aku," Litha menepis air matanya.
Mobil berhenti di pekarangan rumah mewah keluarga Nagara. Litha turun tanpa memperdulikan si pengemudi yang masih termenung di dalam mobil.
Saat hendak membuka pintu tiba-tiba Litha dikejutkan dengan pemuda dingin yang menarik tubuhnya untuk masuk ke dalam pelukannya. Litha membalas pelukan hangat tersebut, dia menumpahkan kesedihannya pada pelukan Raka.
"Maaf Tha, aku gak bermaksud buat kamu sedih," tutur Raka merasa bersalah membuat gadis yang disayanginya menangis sesenggukan seperti ini.
"Jangan cuekin aku lagi," lirih Litha disela tangisannya.
"Kalo aku salah kasih tau aku atau tegur aku, dimarahin juga gpp. Asal jangan diemin aku atau cuekin aku," tambah Litha.
Setelah cukup lama puas berpelukan, mereka melepaskan pelukannya. Baju Raka di bagian dada sampai basah akibat air mata Litha. Raka menangkup wajah Litha lalu menempelkan dahi mereka berdua.
"Sekali lagi aku minta maaf," ucap Raka.
Litha tersenyum, "Aku juga minta maaf,"
"Woi..." Seru Umran dari dalam rumah. Menggangu momen romantis saja!
Raka dan Litha menoleh, Umran mengernyitkan keningnya. "Pada ngapain?" tanya Umran tanpa rasa berdosa.
Mata Litha yang masih sembab menatap tajam ke arah abangnya, Raka menatap calon iparnya dengan tatapan dingin.
Umran yang tidak tahu letak kesalahannya dimana, semakin heran karena tidak mendapat sahutan dari mereka.
"Pada kenapa sih?" Umran menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
Litha masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan pertanyaan abangnya yang selalu menjadi pengganggu. Begitupun dengan Raka yang malah pamit pulang.
__ADS_1
"Gue duluan," ucap Raka tanpa intonasi apalagi ekspresi, lalu melangkah menuju mobil.
"Woi gak ada sopan-sopannya lo sama calon ipar," Umran berteriak. Raka tidak memperdulikan celotehan Umran, dia sudah berada di dalam mobil.
***
Malam ini ada dua laki-laki yang tengah duduk berhadapan di ruang tamu. Satunya adalah tuan rumah yang selalu memperlihatkan sisi dingin dan seramnya. Dan sisanya adalah laki-laki yang sangat menghormati tuan rumah tersebut.
"Tidak ada yang mencurigakan dari nona Via, hari ini nona Via tidak memiliki aktivitas apapun, dia hanya keluar sebentar," ucapnya.
Raka menatap bawahnya dengan tatapan dingin, dia tidak suka jika bawahannya menyebutkan nama orang yang ia intai. Raka pun tidak menginginkan laporan tersebut, dia membutuhkan penjelasan bukan kesimpulan.
"Jangan menyebut nama!" Raka menatap tajam.
"Mm.. maaf tuan, saya lupa," ucapnya sambil menunduk.
Raka masih diam menatap dingin orang tersebut. Sedangkan orang itu tidak mengerti apa keinginan dari bos nya. Biasanya Raka akan menyuruhnya pergi jika Raka sudah puas atas hasil pengamatannya terhadap seseorang yang diawasinya.
"Apa yang harus saya lakukan tuan?" Orang tersebut memberanikan diri untuk bertanya.
Raka tersenyum sinis, "Kamu sudah lama bekerja dengan saya, seharusnya kamu tau apa yang saya inginkan,"
Orang tersebut berpikir keras, dia memang sudah lama bekerja dengan Raka untuk menjadi mata-mata. Sampai kemudian dia teringat pesan dari Raka beberapa bulan yang lalu, saat dirinya disuruh mengintai seorang pengusahawan yang ternyata melakukan korupsi dan berniat menjatuhkan Papa dari tuannya tersebut.
"Saya memperkerjakan kamu untuk mengawasi apa saja aktivitas yang dilakukannya. Saya tidak membutuhkan pendapat yang telah kamu simpulkan sendiri. Kamu tidak mengetahui apapun tentang kehidupannya, saya yang mengetahuinya, kamu paham?" Beberapa bulan yang lalu Raka menjelaskan hal tersebut dengan nada tegas dan tatapan tajam.
Raka mempunyai banyak mata-mata yang bekerja dengannya, para orang yang menjadi mata-matanya tidak saling mengenal. Raka menyuruh satu orang untuk menyelediki satu orang. So orang yang mengawasi Fandy dan Via adalah orang yang berbeda.
Raka juga tidak memberitahu kepada bawahannya tentang kenapa Raka menyuruhnya untuk menyelidikinya, sekalipun dengan orang yang sangat Raka percaya. Jadi bawahannya itu tidak tahu menahu tentang kehidupan orang yang di intainya. Karena apa? Karena Raka tidak menginginkan adanya pengkhianatan.
"Sekali lagi saya minta maaf tuan," ucap orang tersebut.
"Sudah ingat?" Raka menyindir bawahnya.
Orang tersebut mengangguk. Raka tersenyum sinis, ternyata bawahannya yang sangat ia percaya dan ia andalkan memiliki ingatan yang sangat bagus sekali.
"Pagi ini mobilnya berhenti di salah satu kompleks perumahan elit, tetapi dia tidak masuk ke dalam rumah tersebut, dia hanya keluar dari mobil sebentar lalu masuk lagi ke mobil. Selanjutnya dia menuju ke apartemennya dan menghabiskan waktu disana selama satu jam. Lalu dia kembali ke hotel," terang orang tersebut.
"Hanya itu?" Raka memastikan.
Orang tersebut menganggukkan kepalanya. Raka menyuruhnya untuk segera pergi meninggalkan rumah ini sebelum Oma Rahma terbangun dari tidurnya dan menanyakan apa yang terjadi?
__ADS_1
Sekedar informasi, kali ini tethering nya dari kakaknya Author hhh😆