
"Raka kamu marah dengan Oma?" Tanya Oma kepada cucunya. Saat ini Raka satu mobil dengan Oma dan akan mengantarkan Via ke apartemennya.
"Raka hanya kecewa," jawabnya dingin.
"Antarkan Oma dulu, baru kamu antarkan Via!" Perintah Oma.
"Tidak," tegas Raka memutar stir mobilnya menuju apartemen Via lebih dulu.
Oma mulai terbawa emosi, dia menoleh ke sampingnya, menatap tajam cucunya. Ini adalah pertama kalinya Raka menolak permintaannya dengan terang-terangan. "Kamu membantah perintah Oma?"
"Maaf Oma, tapi Raka tidak ingin satu mobil hanya berdua dengan wanita seperti dia," ujar Raka.
"Mm... Maksud kamu apa Ka?" Via merasa menjadi wanita yang polos dihadapan Oma dan Raka. Dia tidak tahu saja jika Raka sudah mengetahui kebusukannya.
"Jangan memancing emosi Oma!" Tegas Oma.
"Raka akan memberitahu Oma setelah di rumah," sahut Raka masih terlihat tenang.
"Kamu mau fitnah aku?" Mata Via berkaca-kaca.
"Oma... Jangan percaya sama apapun yang nantinya Raka bilang ke Oma, Oma percaya sama Via kan?" Via memeluk Oma dari belakang.
Oma Rahma mengusap air mata palsu dipipi Via, "Iya Oma percaya kamu,"
***
Brak...
Sampai rumah Oma langsung melemparkan tasnya di meja kaca dengan kasar, sehingga menimbulkan suara keras.
"Keterlaluan!!!" Suara Oma meninggi.
"Begitukah kamu menunjukkan sikap tidak sopan mu terhadap seorang wanita?" Tatapan mata Oma sangat tajam.
"Belajar dari mana kamu?" Tanya Oma.
"Sikap sopan dan menghargai itu harus ada dalam setiap keluarga Adelard. Sebenci dan setidak suka mu terhadap seseorang, kamu harus tetap menjaga sikap di depan orang tersebut, terlebih lagi orang itu seorang wanita," ceramah wanita tua yang masih terlihat cantik itu.
"Raka belajar dari Oma," ucap Raka dingin.
"Apa maksud kamu?" Tantang Oma.
__ADS_1
"Bagaimana sikap Oma terhadap Litha?"
"Apakah bisa disebut menunjukkan sikap sopan?"
"Dan apakah Oma menghargai Litha sebagai orang terdekat Raka?"
"Lalu apakah Oma tidak membayangkan bagaimana perasaan kedua orang tua Litha, saat mengetahui putrinya tidak dihargai oleh seseorang?"
"Oma bahkan tidak sadar jika Oma tidak hanya menyakiti hati Litha, tetapi Oma juga telah menyakiti hati kedua orang tua Litha, Oma tidak menghargai mereka,"
"Bagaimana perasaan Oma jika Oma yang berada di posisi kedua orang tua Litha? Bagaimana..." ucapan Raka terpotong.
"Cukup Raka cukup!" Teriak Oma.
"Kenapa Oma? Ucapan Raka ada yang salah?" Raka masih setenang mungkin, dia tidak ingin terbawa emosi dihadapan Omanya.
Oma tidak menjawabnya, melainkan langsung melangkah pergi begitu saja. Raka menghembuskan nafas kasarnya, ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahu kebusukan Via, karena saat ini emosi Oma sedang kurang baik.
***
Litha melirik benda pipih disampingnya yang sedari tadi terus berdering. Panggilan berkali-kali masuk ke ponsel miliknya, tidak hanya dari kedua orang tuanya, Raka, Umran, Sarah, Fika, Sekar, bahkan Arkan juga mengkhawatirkan keadaan Litha.
Angin kencang menerpa wajahnya yang terlihat lesu, air mata sudah kering, matanya terlihat lelah dan sayu.
Seseorang datang menaruh jaketnya di punggung gadis tersebut. Litha menengadahkan kepalanya, "Kak Fandy," Litha langsung berdiri terkejut dengan kedatangan Fandy.
"Hai... Apa kabar?" Fandy melangkah membuat Litha mundur satu langkah.
"Gue masih waras lo gak perlu takut sama gue," Fandy tersenyum. Sejak kejadian di acara pertunangan tersebut, Fandy diam-diam mengikuti Litha, menunggu waktu yang tepat untuk menemui Litha agar gadis didepannya ini tidak lari darinya.
Fandy duduk di bangku yang Litha duduki tadi. Dia menepuk tempat disebelahnya, menyuruh Litha ikut duduk disampingnya.
Litha hanya menurut, jika dirinya menolak pasti Fandy akan tetap memaksanya. Saat ini Litha sedang tidak bersemangat untuk berdebat, Litha juga penasaran mengapa Fandy bisa keluar dari rumah sakit jiwa dan dari mana Fandy tahu keberadaan Litha sekarang?
"Bingung kenapa gue bisa ada disini?" Tanya Fandy yang diangguki oleh Litha.
"Gue udah dinyatain sehat sama pihak rumah sakit jiwa. Tadi gue jalan-jalan keluar mau cari makan, terus gak sengaja lihat cewek sendirian malem-malem di tepi danau," ujar Fandy.
Litha manggut-manggut percaya saja dengan penuturan Fandy.
"Waktu itu gue terlalu kangen banget sama Fani makanya gue ngira dia masih hidup," Fandy tertawa.
__ADS_1
"Tapi tenang aja, lo gak perlu takut. Sekarang gue udah sadar Fani udah tenang di alam sana, gue akan bangkit mulai hidup bahagia walaupun tanpa Fani. Dan tentang perasaan gue ke elo, gue ikhlas, gue bahagia kalo lo juga bahagia sama Raka," ujar Fandy panjang lebar.
Litha tersenyum kecut, "Kak Raka dijodohin sama Omanya," setetes air mata mengalir di pipinya.
"Serius?" Fandy berakting terkejut.
Litha mengangguk, "Mungkin sebentar lagi tunangan,"
"Gue yakin Raka pasti akan nolak perjodohan itu, dia pasti akan lebih pilih elo. Gue bisa lihat dari tatapan matanya, betapa dia sangat sayang sama lo," Fandy mengusap bahu Litha.
Fandy mengajak Litha pergi makan ke restoran. Fandy memberi tahu Litha jika angin malam tidak baik untuk kesehatannya apa lagi pikirannya saat ini sedang kacau.
***
"Maaf ya Kak, gue gak bisa bales perasaan lo. Ternyata sakit hati rasanya gak enak," ujar Litha sambil melegut minuman yang telah dipesannya.
"Siapa bilang gak enak? Enak-enak aja kok," Fandy terlihat santai-santai saja, tidak terlalu menganggap ucapan Litha serius.
Bola mata Litha melirik ke atas, memikirkan maksud ucapan Fandy yang sulit dimengerti.
"Di enakin aja, sambil makan ini pasti rasanya enak," Fandy menunjukkan makanan yang telah disedoknya.
Lalu Fandy memasukkan sendok ke dalam mulutnya, "Tuh kan rasanya enak," Fandy mengunyah makanannya sambil tersenyum dan mengangguk-nganguk, membuat Litha tertawa renyah dengan tingkah konyol Fandy. Sebisa mungkin Fandy berusaha membuat Litha nyaman berada didekatnya.
"Lo bener gak mau makan? Gak laper?" Tanya Fandy.
Litha menggeleng, dia tidak selera makan malam meskipun dari pagi Litha belum memakan sesuap nasi pun. Litha terlalu sibuk membantu Bundanya mempersiapkan acara pertunangan Umran, sampai lupa tidak makan.
"Oke terserah gue gak maksa lo, yaa walaupun gue tau perut lo belum ke isi nasi seharian ini," ujar Fandy bak seorang peramal.
Litha tertawa renyah, "Belajar dukun sejak kapan?"
"Sejak di rumah sakit jiwa," Fandy tertawa dengan leluconnya.
Tidak lama kemudian penglihatan Litha sedikit kabur, kepalanya terasa pusing. "Kenapa Tha?" Fandy menyadari ada yang aneh pada diri Litha.
"Gak tau Kak, tiba-tiba rasanya pusing," Litha mengedipkan matanya beberapa kali dan tangannya memegang kepalanya yang terasa sangat pusing.
"Apa mungkin karena belum makan atau kena angin malam ya?" Tubuh Litha mulai terasa lemah.
"Kita ke rumah sakit ya..?" Bujuk Fandy, detik berikutnya Fandy sudah menopang tubuh Litha yang pingsan.
__ADS_1
Fandy tersenyum sinis sembari mengangkat tubuh mungil Litha ke dalam mobilnya, rencananya berhasil. Tidak sia-sia dia menunggu di danau selama beberapa jam, menunggu waktu yang tepat dimana emosi Litha sudah mereda dan pikirannya yang sedang kacau.