Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Dia Spesial


__ADS_3

Sampai di hotel Fandy menggendong Litha menuju kamar yang dipesannya. Sudah menjadi hal yang wajar pemandangan tersebut dilihat oleh para karyawan hotel ini, karena hotel ini khusus diperuntukkan bagi orang-orang tidak beres seperti Fandy. Saat menunggu lift terbuka, Fandy tak sengaja bertemu temannya yang baru dua hari dikenalnya.


"Bro..." Sapa temannya tersebut.


"Hai Nick," balas Fandy dengan senyum bahagianya. Yap dia adalah Nick, Fandy mengenal Nick saat di hotel ini, dua hari yang lalu mereka memesan kamar yang bersebelahan.


Fandy melirik wanita seksi yang dirangkul oleh Nick, terlihat jelas bila keduanya sedang dalam pengaruh alkohol.


"Jangan lihat-lihat, malam ini dia sama gua," oceh Nick melihat Fandy yang terus menatap wanitanya malam ini. Nick benar-benar frustasi karena ditolak oleh Via.


Fandy tersenyum sinis, "Tenang aja, gue gak akan ganggu lo," Fandy tersenyum puas menatap gadis digendongannya.


Mereka masuk ke dalam lift setelah pintu terbuka. Nick memang sedang mabuk berat, tetapi dia cukup sadar bahwa Fandy terus tersenyum lebar sejak awal didepan lift.


"Seneng banget lo hari ini, udah berapa ronde sampe pingsan gitu," tutur Nick sambil tertawa renyah melihat wanita yang digendong Fandy.


"Belum gue mulai," jawabnya santai.


"Gue tebak lo dapet yang masih ke segel?" Ujar Nick dengan pd nya.


"Dia spesial," Fandy tersenyum memandang wajah Litha.


Nick jadi penasaran sendiri ingin melihat wajah wanita yang tidak sadar tersebut. Nick meninggikan sedikit tubuhnya untuk mengintip bagaimana paras cantik wanita milik Fandy malam ini. Belum sampai Nick melihat, wanita disampingnya mengarahkan dagu Nick untuk menatapnya.


"Sayang..." Ucap wanita seksi tersebut dengan suara serak menggoda, membuat Nick luluh seketika.


Pintu lift terbuka, Nick melangkah lebih dulu. Baru beberapa langkah, dia menoleh ke belakang.


"Kenapa?" Heran Fandy.

__ADS_1


"Kuat juga lo, gendong dia dari tadi," Nick tersenyum miring melihat wajah wanita cantik digendongan Fandy.


"Kenapa lagi?" Tanya Fandy melihat raut wajah Nick yang terkejut melihat Litha.


"Kayak pernah lihat, tapi lupa dimana. Mungkin gua lihatnya dipertigaan jalan sana kali ya..." ucap Nick santai plus ngawur. Otak Nick berusaha keras mengingat wajah wanita tersebut, mungkin karena pengaruh minuman keras dan wajah Litha yang memakai makeup membuat Nick lupa mengingatnya.


"Sialan lo, dia bukan cewek sembarangan," Fandy berlalu meninggalkan teman gilanya.


***


Sampai didalam kamar hati Nick masih gelisah memikirkan wanita yang bersama Fandy. Hati kecilnya mengatakan dirinya mengenal wanita itu, tetapi jujur Nick benar-benar tidak mengingatnya.


Kepalanya terasa berdenyut tidak karuan ditambah lagi dengan wanita seksi yang dibawanya ini selalu menggodanya.


"Sayang ayo aku udah siap," rengekan tersebut membuat kepala Nick hampir pecah.


Nick masih memegang ponselnya, hatinya sangat gelisah tapi otaknya tidak bisa berpikir jernih. Akhirnya Nick memilih menyenangkan dirinya bersama wanita yang telah dibayarnya mahal-mahal. Percuma saja ia terus berpikir namun otaknya tidak jalan.


Kenapa dirinya bisa tergila-gila dengan perempuan seperti Via? Nick sendiri bingung memikirkannya. Karena rasa cintanya tersebut kepada Via, dia sampai hampir menodai kekasih dari sahabatnya sendiri karena mabuk berat. Nick tidak bisa membayangkan jika waktu itu hal tersebut sampai terjadi, mungkin hubungan persahabatannya dengan Raka sudah berubah menjadi musuh.


Meskipun saat itu Nick tidak sadar sepenuhnya, dia masih mengingat jelas wajah ketakutan dari Litha. Mata indahnya terpejam, bibirnya gemetar karena ketakutan, sungguh Nick merasa sangat bersalah terhadap Litha.


Tunggu...! Nick mengingatnya! Dia...? Saat matanya tertutup, wajahnya mirip dengan Litha. Mungkin jika Litha memakai makeup wajahnya akan sama seperti wanita tadi, pikir Nick.


Tapi bagaimana mungkin Fandy mengenal Litha? Dan bagaimana bisa Fandy membawa Litha dalam keadaan tidak sadar? Entahlah itu tidak penting, yang terpenting Nick yakin gadis malang itu adalah Litha dan sekarang Litha sangat membutuhkan bantuannya.


"Ck... Sial," umpat Nick karena dia mengingat Litha diwaktu yang kurang tepat. Nick beranjak dari tempatnya dan memungut pakaiannya yang berserakan di lantai.


"Sayang kenapa berhenti? Aku masih pengen..." Rengek wanita tersebut sambil berpose menggoda diatas ranjang dengan tubuh polos.

__ADS_1


"***... Ck... Diam jala*g," Nick jadi kesal sendiri.


"Kalau bukan karena si kulkas, gua ogah kayak gini. Pokoknya gue harus minta ganti rugi ke kulkas, udah dibayar mahal-mahal gue tinggalin gitu aja," Nick pergi meninggalkan kamar tersebut.


Kalau boleh jujur sebenarnya bukan karena Raka, tetapi hati kecil Nick memang ingin menolong Litha. Gadis polos seperti Litha tidak pantas dikotori oleh pemuda brengsek seperti dirinya dan Fandy.


Nick emang nakal, tapi nakalnya juga harus sama yang nakal. Itu prinsip hidup Nick dan harus diterapkan sama orang-orang lain yang juga suka nakal kayak Nick. Kalo dia lihat yang baik di nakalin, dia gak terima dong.


"Ini sih namanya nyiksa diri sendiri, udah mau keluar eh malah gak jadi. Si Fandy emang anji*g," Nick berjalan melewati lorong-lorong kamar hotel dengan mulut komat-kamit. Untung saja tadi Fandy berjalan lebih dulu sehingga Nick tahu letak kamar Fandy.


"Sial, semoga belom diapa-apain," Nick hendak mengetuk pintu, namun ia tahan. "Ngapain gue ketok? Mau gue gedor-gedor sampe subuh juga gak bakal dibukain, dodol banget sih punya otak,"


Nick mendobrak pintu dengan kuat, sekali dobrakan dannn berhasil! Brak...


Nick masuk dan langsung meninju wajah Fandy yang mungkin berencana mencium bibir Litha.


Bugh... Satu pukulan kuat melesat dipipi Fandy membuatnya tersungkur ke lantai. Nick melihat keadaan sekitar, di lantai ada kaos dan jaket, punya siapa?


Matanya beralih pada Litha, pakaian masih rapi dan lengkap, oke aman!


Kemudian matanya beralih pada Fandy yang sudah telanja*g dada? Gila... Permainannya akan dimulai? Untung masih akan, belum terjadi!


Tunggu! Kalo udah gimana?


Nick hendak mengecek tubuh Litha, namun ia tahan. "Dodol banget sih ni otak. Kalo gue bilang ke kulkas udah gue cek dan masih aman, bisa-bisa gue yang kena amuk. Orang gue yang nolongin, masak gue yang kena amuk, gagal dong nanti minta ganti rugi dua kali lipat?," Nick geleng-geleng kepala, rencananya untuk menyentuh Litha ia urungkan.


Fandy mencoba berdiri dan langsung ditonjok oleh Nick lagi. "Maksud lo apa?" Fandy duduk dilantai menatap tajam Nick.


"Nakal boleh bro, tapi lihat-lihat dulu sama siapa ceweknya. Kalo dia emang spesial buat lo seharusnya lo jaga dia, bukan malah punya niatan jelek ngehancurin dia," tatapan mata Nick tidak menunjukkan ketakutan sama sekali.

__ADS_1


"Jangan ikut campur urusan gue," Fandy terlihat sangat marah.


Terimakasih atas dukungannya. Author sayang kalian 🥰


__ADS_2