
"Kak, aku kok deg-degan ya?"
"Semoga hasilnya sesuai harapan aku,"
"Astaga sebentar lagi sampai sekolah,"
"Tapi... Kalau kenyataannya gak sesuai harapan aku gimana Kak?"
Yang awalnya sangat bersemangat, tiba-tiba saja terlintas sebuah pemikiran yang membuatnya sedih. Selama dalam perjalanan tak henti-hentinya Litha mengoceh, Raka hanya meresponnya dengan senyumannya saja.
Ini adalah hari dimana pihak sekolah akan mengumumkan hasil nilai para murid yang akan mendapatkan juara serta nilai tertinggi ujian kelulusan, atau bisa dibilang murid yang berprestasi akan dipanggil untuk maju sebagai rasa bangga guru terhadap anak didiknya.
Raka memarkirkan mobilnya dengan rapi diparkiran sekolah. Lalu menoleh menatap Litha yang terlihat sangat tertekan atau lebih tepatnya dilanda rasa galau karena memikirkan hasil perjuangannya jika tidak sesuai ekspektasinya.
"Harus optimis, jangan pesimis!" Raka mengusap lembut kepala Litha.
"Tuh kan..." Litha menoleh sekilas ke samping.
Raka terkejut mengerjapkan matanya beberapa kali. Tuh kan? Dimana letak kesalahannya? Bukankah dirinya memberikan semangat? Oke, benar kata Leon wanita memang makhluk satu-satunya di bumi yang sangat aneh dan pastinya sulit dimengerti.
Raka menghelai nafas panjangnya. "Oke realitanya gini,"
Litha langsung menoleh, menatap Raka dengan serius serta memasang telinga dengan baik.
"Kalau kamu nanti gak juara umum, seenggaknya kamu udah ada niat untuk jadi yang terbaik dan kamu juga udah berusaha untuk belajar rajin dan tekun," jelas Raka.
Uhhh gemas sekali melihat Litha yang hanya diam dengan wajah yang terlihat sangat imut, lucu, dan cantik. Ingin sekali Raka mencubit kedua pipinya yang putih bersih itu.
Raka segera membuang jauh-jauh pikirannya itu. Karena saat ini Litha tidak membutuhkannya sebagai seorang pacar yang biasanya romantisan manja-manja. Kali ini gadis itu membutuhkannya sebagai seorang ayah yang memberikan nasehat kepada anaknya.
"Usaha tidak akan mengkhianati hasil, aku percaya kata-kata itu. Tapi kalau hasilnya masih tidak sesuai dengan ekspektasi, berarti usaha yang kita lakukan itu kurang besar untuk mencapai tujuan kita," ujar Raka.
"So jangan pernah menyerah untuk mencapai tujuan itu. Masih ada hari esok untuk kita berusaha dan berjuang hingga kita mencapai tujuan itu. Intinya jangan pernah menyerah dan selalu optimis. Harus yakin kalau usaha keras kita pasti akan membuahkan hasil yang maksimal," tambahnya.
__ADS_1
"Tapi kalau yakin jangan terlalu over! Nanti malah kecewa kalau hasilnya nggak sesuai harapan. Yaaa setidaknya kita harus siap untuk dua keadaan. Pertama jika hasilnya membuahkan hasil yang maksimal, kedua jika hasilnya kurang memuaskan," Raka tersenyum menatap Litha yang sepertinya mengerti dengan nasihat yang ia berikan untuknya.
"Oke. Aku paham maksud ucapan Kak Raka. Makasih Kak udah jadi penasihat yang baik untuk putri kerajaan ini," Litha tertawa renyah dengan candaannya.
"Anak pandai," Raka mengacak-acak gemas rambut Litha.
"Eeee tapi kalo aku gak dipanggil maju ke depan, kamu pasti kecewa. Emmm... jangan tunjukkin kekecewaan kamu yah..! Nanti aku malah jadi tambah kecewa dan sedih," raut wajah cantik tersebut kembali terlihat sendu.
"Nggak akan. Aku akan tetap bangga sama kamu, karena kamu udah berusaha keras untuk ujian ini," Raka tersenyum meyakinkan Litha jika apapun hasilnya Raka akan tetap menghargai usaha Litha yang belajar keras.
"Oh iya, nanti Bunda ke sini atau enggak? Biasanya kalau pengumuman nilai ujian beliau hadir, tapi rumah kamu kayak sepi gitu tadi," Raka mengalihkan pembicaraan agar Litha tidak memikirkan hasil nilainya terus menerus.
"Oh itu tadi Bang Umran bilang, Bunda lagi sibuk ngurusin acara tunangan besok. Soalnya Bang Umran sama Sarah ada yang kelupaan katanya," jawab Litha.
Raka tertawa memikirkan calon iparnya itu. Raka mengira bahwa Umran mengambil keputusan untuk tunangan, karena Umran yakin jika ia sudah memiliki sikap tanggung jawab yang penuh. Lhah ini? Udah mau tunangan kok masih ceroboh dan suka kelupaan. Padahal tinggal H-1 tapi persiapan acara belum 99% siap.
***
"Whoooo... Prok... Prok... Prok... Prok..." semua murid bersorak gembira sambil bertepuk tangan setelah mendengar nama Raka Adelard Pangestu yang mendapatkan nilai tertinggi ujian kelulusan.
"Sohib gue tuh..." Dengan bangganya Leon berkata seperti itu.
"Ya elah, dia yang maju elo yang sombong," cibir Arkan.
"Biarin napa? Kalo gue banggain elo juga apanya yang bisa dibanggakan dan disombongkan dalam diri lo?" Leon balas mengejek Arkan.
Danil menyunggingkan senyumnya melihat dua anak Adam tersebut adu mulut. Tidak hanya Leon yang bangga terhadap Raka, jujur Danil juga begitu bangga memiliki teman dekat seperti Raka.
"Woi pada bisa diem gak sih? Brisik lu semua," Jordy berteriak sangat kencang, namun suaranya tak mampu mengalahkan suara kericuhan disekitarnya.
Jordy tuh mau buat instatory tentang Raka taukk... Kok pada bersuara keras banget sih... Kan suara Jordy yang seksi itu jadi gak masuk di audio gadgetnya, saking berisiknya! Pada gak peka deh!
Jordy mendengus kesal, dan disambut tawa mengejek dari teman-teman kampr*t nya itu.
__ADS_1
Disisi lain ada Sarah yang tak kalah heboh dengan murid lainnya. "Whooooo...." Sarah lompat-lompat karena Raka mulai tak terlihat akibat barisan yang awalnya rapi kini sudah porak poranda tidak beraturan.
Fika menggelengkan kepalanya melihat Sarah. Padahal dia juga sering melihat Raka bahkan dari jarak dekat, lalu untuk apa calon tunangan Umran itu lompat-lompat? Kurang kerjaan sekali.
'Nanti kalau kakinya keseleo baru tau rasa, biar besok gagal tunangan, mampus lu,' batin Fika. Hahaha dasar Fika sahabat lucknut, mendoakan yang jelek tentang sahabatnya sendiri.
Fika bergantian menatap Litha yang tersenyum bahagia dengan menundukkan kepalanya kebawah. Cuaca pagi menjelang siang ini memang cerah, sinar matahari paginya mulai terasa membakar kulit, mungkin karena itu Litha lebih memilih menundukkan kepalanya.
Fika juga melakukan hal sama dengan Litha, karena apa? Fika yakin kericuhan ini pasti tidak akan sebentar, para guru pasti akan kesusahan untuk meredakan suara bising ini.
"Wihhh emang the best tu es balok... Piuwit," Sarah bersiul seperti seorang pemuda yang bersiul karena melihat wanita seksi lewat dihadapannya. Jangan lupakan jika dia masih melompat-lompat tidak jelas, sama seperti murid lain yang berada dibarisan paling belakang.
Litha dan Fika menoleh sekilas ke arah sahabatnya yang besok akan tunangan itu, kemudian mereka menundukkan kepalanya lagi dan saling lirik, lalu tersenyum mengingat Sarah yang sangat heboh.
"Adek ipar gue tuh..." Sarah menepuk dada kirinya dengan tangan kanannya.
"Belum nikah juga, udah bilang adek ipar," cibir siswi lain.
"Suka-suka gue ngomong apa, mulut-mulut gue," balas Sarah.
"Iya deh sebahagia lo aja," siswi tersebut mengalah. Dia tahu hal kecil seperti ini akan menjadi masalah besar dan akan diperpanjang oleh Sarah, jika ia tidak mengalah dengan perempuan bar-bar plus tomboy macam Sarah.
"Semuanya harap tenang dan kembali diposisi barisan masing-masing!" Sudah berkali-kali kepsek berkata didepan mikrofon, tetapi instruksinya tak dihiraukan oleh muridnya.
"Jika kalian tidak dapat tenang saya tidak akan membubarkan barisan dan tidak akan mengakhiri acara pengumuman nilai ini," ancamnya, masih tak dihiraukan. Justru malah membuat kericuhan semakin heboh, kalau pun berlama-lama dibawah terik sinar matahari ini tak apa, mereka malah senang karena bisa melihat Raka lebih lama lagi.
Kepsek dan para guru laki-laki lainnya menggelengkan kepalanya. Sedangkan guru perempuan terlihat senang-senang saja, mereka juga setuju dengan para murid perempuan, yang penting bisa melihat wajah tampan dan tubuh Raka yang seperti pahatan patung sempurna.
"Jika kalian tidak dapat tenang saya akan menyuruh Raka untuk meninggalkan tempat ini sekarang juga," suara Pak kepsek begitu tegas. Kali ini ancamannya sukses membuat para murid seketika bungkam.
"Kembali ke posisi barisan masing-masing!" Perintahnya tak kalah tegas dengan ancaman sebelumnya. Sontak para murid langsung memposisikan diri masing-masing.
Raka tersenyum tipis menatap salah satu siswi diantara banyaknya murid yang berjajar rapi dihadapannya. Para murid yang mayoritasnya perempuan menyadari hal tersebut, mereka berteriak keras melihat senyuman yang jarang dipamerkan tersebut.
__ADS_1
Kepsek menepuk jidatnya sendiri. Hadehhh cuma-cuma dong kepsek berhasil meredam kericuhan, mereka heboh lagi hanya karena senyuman tipis tersebut.
Berbeda dengan yang mendapat senyuman tipis tersebut, justru Litha terlihat gugup. Pikirannya berkecamuk, ia ingin menjadi juara umum tahun ini, tapi bagaimana nanti jika orang yang menyandang gelar juara umum tahun ini bukan dirinya? Pasti sangat kecewa, terlebih lagi Raka sudah berdiri dengan gagahnya dihadapan para warga sekolah SMA Nagara.