
"Iye gue," sahut Sarah lalu berjalan capcuss keluar dengan tujuan ke warung depan.
"Ya udah yuk ke kamar gue!" ajak Fika yang diangguki oleh Litha.
"Fik lo gak takut tinggal sendirian di rumah segede gini? Ehh.. tapi bokap lo di rumah apa enggak sih?" tanya Litha sambil berjalan menaiki tangga menuju kamar Fika.
"Bokap gue ada urusan. Lagi pula ini rumah gue sendiri dan gue udah tinggal disini bertahun-tahun, jadi apa yang harus gue takutin?" tanya Fika.
"Maksud gue bukan setan tapi kalo misalnya ada orang jahat gitu," jawab Litha.
"Apa lo mau nginep di rumah gue buat sementara waktu?" tawar Litha.
"Enggak, gue yakin aman kok, lo tenang aja," jawab Fika dengan menunjukkan senyum manisnya.
**Kamar Fika__
Fika mengambil bubuk masker wajah miliknya dilaci meja dekat ranjangnya. Sedangkan Litha masih duduk santai dengan memainkan handphonenya ditepi ranjang milik Fika.
"Yuk buat adonannya!" ajak Fika setelah mendapatkan bubuk masker wajah.
"Adonan? Kayak roti aja, hhh..." seru Litha dengan tawa-nya dan Fika pun juga ikut ketawa.
Fika mengambil botol berisi air putih di mejanya, Fika itu memang selalu menyetok air putih di dekat tempat tidurnya. Fika males aja kalau malem-malem pas haus, dia harus ngambil minuman di dapur. Fika dan Litha mencampurkan air putih yang seharusnya berfungsi sebagai minuman tersebut ke dalam mangkuk masker.
"Kok Sarah lama banget ya?" tutur Litha disela-sela mengaduk adonan masker tersebut sambil memainkan handphonenya, entahlah apa yang sedang Litha lakukan dengan handphonenya?
"Paling ketemu cogan di kompleks sini, terus diajak ngobrol," gurau Fika lalu tertawa, begitu juga dengan Litha. Mereka mengaduk adonan masker tersebut sambil becanda ria, sesekali mereka tertawa dengan gurauannya masing-masing.
Prak...
__ADS_1
Tiba-tiba pintu kaca di samping ranjang Fika pecah. Sehingga membuat suara yang sangat keras, dan tentu saja itu membuat Litha dan Fika sangat amat terkejut.
Kedua gadis tersebut menoleh kearah sumber suara tersebut dengan perasaan yang tidak karuan. Fika melangkahkan kakinya mendekat ke pintu kaca tersebut, sedangkan Litha masih berada di tepi ranjang dan masih menggenggam handphonenya.
"Fik..." ucap Litha lirih.
Fika hanya menoleh ke belakang dengan ekspresi ragu, lalu dia kembali menghadap ke depan mendekat ke pintu kaca yang kini sudah rusak.
Litha dikejutkan lagi oleh kedatangan lima orang yang tiba-tiba berada tepat dihadapan Fika. Mereka menggunakan pakaian serba hitam dan wajahnya tertutup oleh kain berwarna hitam juga. Akh... Mereka seperti ninja di film-film action yang sedang beraksi saja.
"Siapa kalian?" teriak Fika sangat lantang.
Mereka tidak menjawab, mereka malah memperlihatkan tatapan tajam yang ingin memakan mangsanya. Atau lebih tepatnya ingin membawa gadis tersebut.
Fika mundur dengan langkah sangat pelan, lalu berbalik arah dan menggandeng tangan Litha, lalu berlari dengan tujuan meninggalkan tempat tersebut. Tetapi langkah mereka terhenti tepat didepan pintu kamar Fika, pintu tersebut sudah terbuka, Litha dan Fika disambut oleh lima orang dengan penampilan yang sama persis seperti lima orang tadi.
"Mau apa kalian?" tanya Litha dengan tubuh yang kini bergetar, begitu juga dengan Fika. Litha masih menggenggam handphonenya dan beruntungnya Litha tidak sengaja menekan aplikasi perekam suara, serta menekan tombol on perekam suara tersebut.
"Dan lo pasti adeknya," tambah orang tersebut yang kini menatap Litha dengan tatapan tajam. Walaupun perkiraan orang tersebut salah, Litha tetap diam dan tidak membenarkan penuturan orang asing tersebut.
Tanpa aba-aba orang yang berada di belakang Litha dan Fika, mereka memegang dengan erat dan mengunci kedua tangan Litha dan Fika agar tidak bisa memberontak, karena kejadian tersebut handphone Litha terjatuh ke lantai.
"Kena..." seru sepuluh orang tersebut secara bersamaan dengan nada puas tentunya, karena tujuannya untuk menangkap gadis-gadis cantik itu berhasil dengan sangat mulus, tanpa adanya gangguan dari siapa pun.
Litha dan Fika tidak mengeluarkan suara apapun dari mulutnya. Kedua gadis cantik itu menatap penjahat tersebut dengan tatapan antara benci dan marah. Fika sedikit merasa takut, tapi tidak dengan Litha. Litha sangat ingin mengeluarkan amarahnya, tetapi saat ini Litha tidak bisa melakukan apa-apa.
'Raka... Ternyata kekhawatiran lo bener,' batin Litha yang kini sudah berada di dalam mobil bersama lima penjahat tersebut, dengan keadaan mata tertutup, jadi Litha tidak dapat melihat jalanan yang dilewatinya. Sedangkan Fika dibawa di mobil yang lain bersama lima penjahat lainnya.
***
__ADS_1
"Guys... Timunnya udah dateng, yuhuuu..." seru Sarah masuk ke rumah Fika. Sarah belum tahu aja sekarang rumah Fika benar-benar kosong, tidak berpenghuni.
"Woiii... Pada kemana sih..?" teriak Sarah ngegas.
"Awas aja kalo kalian mau nakut-nakutin gue atau ngeprank gue!" ancam Sarah sambil clingak-clinguk kanan kiri.
"Pada kemana sih? Nyebelin banget, awas aja kalo ketemu. Apa mereka ada di kamar?" gumam Sarah sambil berjalan menaiki tangga menuju kamar Fika.
Sarah terkejut karena melihat pintu kamar Fika yang sudah rusak. Seperti pintu yang habis didobrak saja, itulah pemikiran Sarah. Sarah masuk ke dalam kamar Fika dengan perasaan ragu, dan Sarah tambah dikejutkan lagi oleh pintu kaca yang kini kacanya pecah berceceran dimana-mana.
"Litha... Fika..." panggil Sarah dengan volume rendah. Sarah sudah mulai memikirkan hal-hal yang negatif tentang kedua sahabatnya yang entah keberadaannya dimana?
Mata yang awalnya terlihat bahagia seketika menjadi berkaca-kaca, "Apa jangan-jangan Litha sama Fika..." gumam Sarah dengan air mata yang tidak ia sadari ternyata sudah menetes di pipinya. Sarah terjatuh tubuhnya lemas, tak sengaja tangannya menyentuh suatu barang.
"Handphone," gumam Sarah setelah melihat barang yang tadi sempat disentuhnya.
Sarah memutar bola matanya dan dia teringat handphone ini tidak begitu asing baginya, "Litha... Iya ini HP-nya Litha," Sarah segera mengambil dan membuka handphone milik sahabatnya tersebut, untung saja Sarah mengetahui password nya.
Setelah membuka dan mengetahui isi handphone tersebut, Sarah segera menghubungi Umran untuk memberitahu keadaan Litha, namun sayangnya Umran tidak bisa dihubungi.
Tapi untung saja Sarah berkepikiran untuk menghubungi Raka, Sarah menyuruh Raka untuk datang ke sini. Agar Raka juga dapat melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa tempat yang sudah berantakan ini adalah saksi bisu tentang keberadaan Litha yang tiba-tiba menghilangkan.
***
Tak berselang lama Raka sudah sampai di rumah Fika, Raka melihat Sarah di teras sedang duduk di lantai dengan ekspresi sedih. Sarah pun belum menyadari akan kedatangan Raka, Raka sendiri bingung dengan sikap Sarah, dan dimana kekasihnya yang bernama Litha?
"Dimana Litha?" tanya Raka yang membuyarkan lamunan Sarah.
Tadi Sarah tidak memberitahu Raka tentang apa yang sebenarnya telah terjadi dengan Litha. Sarah harus terpaksa berbohong dengan memberitahu Raka, jika Litha ingin dijemput oleh Raka. Alasannya karena Sarah tidak ingin Raka terlalu mengkhawatirkan Litha dan nantinya tidak akan fokus saat mengendarai mobilnya. Lagi pula sebaiknya Raka harus mendengarkan rekaman suara tadi, bukan mendengar dari ucapan Sarah.
__ADS_1
"Kak, gu... gue gak tau Litha dimana," ucap Sarah jujur.
"Maksudnya?" tanya Raka mengerutkan keningnya.