
"Kak Raka S1 jurusan apa?" Litha menatap Raka yang malah menaikkan sebelah alisnya ke atas.
Para orang tua tertawa pecah mendengar pertanyaan Litha. "Kenapa ketawa?" Litha merasa tidak ada sesuatu yang bernilai lucu disekitar mereka.
"Tha aku ngambil Program Studi Doktor S3 Ilmu Kedokteran," ungkap Raka membuat Litha sangat terkejut.
Mulut Litha terbuka lebar, kedua matanya terbuka lebar. Litha menatap orang tuanya yang masih menertawai dirinya.
Pantas saja Raka tidak ada waktu untuk hanya sekedar memberikannya kabar saat menempuh pendidikan di luar negeri. Ternyata Raka belajar keras untuk meraih gelar Doktor? Wow keren sekali!
"Kok Kak Raka gak kasih tahu aku?" Litha cemberut merutuki kebodohannya yang tidak tahu apapun tentang kekasihnya sendiri.
"Aku kira kamu udah tahu. Waktu keberangkatan aku pas di bandara aku mau kasih tau, tapi kamu malah nangis," ujar Raka.
"Alesan," ketus Litha.
"Aku gak mau ngerusak suasana kamu yang lagi sedih. Setelah aku cerita kalau target aku cuma dua tahun meraih gelar Doktor di Inggris nanti kamu malah jadi bahagia senyum-senyum sendiri. Kan gak lucu Tha kalau dilihat orang-orang abis nangis histeris terus tiba-tiba senyum-senyum gak jelas," Raka bergidik ngeri seolah membayangkan bahwa Litha seperti orang tidak waras.
"Ish... Kak Raka," Litha mencubit lengan Raka yang berada di atas meja.
"Aw... Sakit kali Tha," Raka mengusap lengannya yang terbalut oleh jas hitam.
"Jadi semuanya tau kalau Kak Raka udah ada planning menyelesaikan S3 nya selama dua tahun doang?" Tebak Litha menatap semua keluarga yang langsung menganggukkan kepalanya.
"Kok Bunda gak kasih tahu Tatha?" Litha melihat ke arah Bunda Larissa.
"Bunda kira kamu udah tahu. Memangnya kamu pikir Raka akan sampai kapan di luar negeri hm?" Bunda Larissa mengusap pipi putri bungsunya.
"Tiga tahun S1," jawab Litha lesu.
Ayah Kusuma tertawa lepas mendengar ucapan anaknya. "Kalau tiga tahun S1 ngapain jauh-jauh ke luar negeri? Di Indonesia juga banyak kali Tha," ucapan Ayah Kusuma membuat Litha mengerucutkan bibirnya.
Bunda tersenyum hangat, "Gak papa kalau Tatha baru tahunya sekarang. Raka gak marah kok. Udah jangan sedih lagi,"
Raut sedih dalam wajah Litha berubah seketika saat mendengar nama Raka disebut. "Kok Kak Raka sih Bun? Harusnya Tatha yang marah, sedih, dan kecewa karena gak di kasih tahu tentang apa pun, apa lagi diketawain Ayah tuh," Litha masih kesal dengan Ayahnya yang tidak berhenti tertawa.
__ADS_1
"Jangan bilang gitu. Kamu gak malu sama orang tua Raka dan Oma Rahma?" Tatapan Bunda mengarah kepada keluarga sahabat dari suaminya tersebut.
Litha mengikuti arah pandang Bunda. Lalu lanjut menatap ke arah Ayahnya yang masih cekikikan tidak jelas. "Udah malu dari tadi,"
Ayah yang merasa ada macan betina yang siap memangsanya langsung menghentikan tawanya. "Bercanda Tha. Ayah minta maaf oke?" Ayah mengusap kepala putrinya.
"Yang tulus dong Yah kalau minta maaf," sahut Litha.
"Iya. Dari lubuk hati terdalam Ayah minta maaf karena udah ngetawain anak sendiri," ucap Ayah tulus.
"Janji di ulangin lagi?" Jari kelingking Litha menggantung di udara.
Ayah menautkan kedua jari kelingking mereka. "Janji,"
Setelah tautan jari kelingking mereka terlepas, Ayah baru menyadari sesuatu. "Eh kok 'di ulangin?' .... tadi?" Ayah menatap putrinya yang sudah menahan tawa.
"Kamu ngerjain Ayah ya?" Seperti kebiasaan saat Litha berhasil mengerjai Ayahnya, ia akan mendapat hadiah kelitikan dari sang Ayahanda.
Litha sudah kabur berlari dan di kejar oleh Ayah Kusuma dibelakangnya. Mereka berdua hanya berputar-putar disekitar meja tempat keluarga menunggu makanan dihidangkan di depan meja persegi panjang tersebut.
Yang lain ikut tertawa bahagia dengan kedekatan antara Ayah dan putrinya. Pandangan Raka tidak berhenti mengikuti arah gerak tubuh Litha yang ke sana kemari.
Tangan pelayan yang hampir ditubruk oleh Litha sampai gemetar karena jika sampai makanannya tumpah mengenai pelanggan maka ia akan terancam angkat kaki dari pekerjaannya saat ini.
Ayah memeluk tubuh Litha yang hampir terjatuh kebelakang jika Ayah tidak menahannya. Keduanya saling bertatap muka.
"Sosweet," ucapan Litha membuat Ayah Kusuma memincingkan matanya.
Litha membenarkan posisi berdiri begitu pula dengan Ayah Kusuma. Ayah menyentil dahi putrinya yang membuat jantungan orang lain karena ulahnya yang ceroboh. Litha mengusap dahinya sambil cemberut.
"Sosweet-sosweet apanya? Kalau tadi tabrakan kamu bisa kena beling dan Mbak pelayannya bisa kena omel sama manajer nya," omel Ayah Kusuma.
"Emang Ayah lebih sweet dari pada Kak Raka. Buktinya, ini Ayah masih perhatian sama Tatha takut nanti kalau kena beling. Tadi sore Kak Raka cuek banget ke Litha padahal ada Pak Gio di depan mata Tatha dan Pak Gio nunjukin perhatian lebih ke Tatha," Litha mengalihkan pembicaraan agar Ayah tidak mengomelinya lebih jauh.
Kini semuanya berganti menatap tajam ke arah Raka.
__ADS_1
"Emang Raka harus bersikap gimana?" Pertanyaan Raka secara tidak langsung mengiyakan bahwa ucapan Litha benar.
"Yaa harusnya kamu lebih perhatian lagi ke Litha dari pada guru biologi itu. Tunjukkin kalau kamu itu bisa membuat Litha bahagia. Bukannya malah cuek bebek," ucap Mama Kania.
"Untung aja pertahanan Litha gak goyah selama dua tahun ini, dia masih setia sama kamu. Nah kamu sekarang ada disisi Litha bukannya di kasih perhatian lebih malah Litha kamu cuekin," kini gantian Raka yang kena omel Mamanya sendiri.
"Nah bener tuh Ma. Untung pertahanan aku kuat dan kokoh kayak tembok China," Litha menepuk bangga dadanya.
"Emang kamu udah pernah ngecek sendiri segimana kuat dan kokohnya tembok China itu?" Tanya Papa Baskara mencairkan suasana.
Litha menggeleng dan tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya. "Belum sih Pa,"
"Kamu mau ke sana nggak?" Tanya Papa Baskara.
Litha mengangguk bersemangat. "Mau kalau diajakin Papa, biar semuanya serba gratis,"
Papa Baskara tertawa ringan. "Sukanya yang gratisan ya,"
"Biar ngirit," Litha nyengir kuda.
Papa tertawa menatap Ayah yang ikut tertawa. "Kalau gini aku baru percaya kalau Litha anak kandung kamu, jadi kalian gak perlu tes DNA lagi," Papa Baskara mengingat masa mereka berdua berkuliah, dimana Ayah selalu berusaha menghemat pengeluaran dan meminta ditraktir makan oleh Papa Baskara.
"Dia tahu kalau Ayahnya kerja keras cari duit berangkat pagi pulang pagi," sahut Ayah disisa tawanya.
Keduanya lalu kompak membahas masa muda mereka sembari memakan makanannya masing-masing. Oma dan para ibu negara juga ikut mengobrol tentang masa muda suaminya itu. Litha sesekali ikut menimpali. Hanya Raka yang memilih diam.
Sampai makanan dalam piring tidak tersisa pun mereka masih asyik mengobrol. Raka yang jengkel sendiri jadi angkat suara. Kalau nunggu mereka selesai bahas masa-masa muda mereka, bisa-bisa Raka jadi pusing sendiri karena rencananya terancam gagal.
"Ini Raka jadi lamar Litha nggak? Atau tetap mau bahas masa-masa muda Papa sama Ayah?" Suara keras dan tegas tersebut sukses membuat semuanya langsung diam dan menatap ke arah Raka semua.
Litha melongo terkejut menatap Raka. Bahkan Litha sampai tersedak oleh air liurnya sendiri. Maklum saking kagetnya. Mak deg gitu wkwk....
"L... Lamar? Terus nikah?" Tanya Litha gugup.
Melihat kegugupan dalam diri Litha membuat Raka menjadi tidak enak hati.
__ADS_1
"Eh bukan. Maksud aku kita tunangan dulu kayak Umran sama Sarah," Raka yakin jika Litha sudah berpikir sangat jauh padahal Litha belum siap sepenuhnya.
Mendengar penjelasan Raka membuat Litha bernafas lega.