
Raka berjalan menuruni anak tangga menuju lantai bawah, kemana lagi kalau bukan nyari Litha di toilet anak kelas 10.
Jujur saja Raka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Litha. Dari tadi pagi mereka baik-baik saja, bahkan Litha sempat memuji skill Raka dalam mengendarai mobil.
Raka telah sampai di depan pintu toilet, dia sangat ragu untuk memasuki ruangan itu. Ya iya lah ragu, orang itu toilet khusus perempuan.
"Raka," panggil seseorang dari belakang Raka.
Raka hanya menoleh tanpa membalas sapaan tersebut.
"Lo ngapain disini?" tanya siswi itu. Yups dia adalah seorang perempuan, mungkin dia juga mau masuk ke dalem toilet.
"Bukannya di lantai di tiga ada toilet?" tanya nya lagi.
"Ada urusan sama Litha," jawab Raka yang membuat Dita tersenyum kecut.
Yups dia adalah Dita Tabitha. Siswi yang dulunya pernah membully Litha, dan dari dulu sampai sekarang dia masih menyimpan perasaan untuk Raka. Entahlah mengapa Dita juga berada di lantai bawah, padahal ini area kelas 10. Dan kalau Dita mau ke toilet, bukankah di lantai dua juga ada toilet? Tapi ya sudahlah itu tidak penting untuk Raka.
"Dia di dalem?" tanya Dita sambil menunjuk ke arah toilet.
Belum dijawab oleh Raka, pintu toilet sudah terbuka. Krek... Munculah sosok gadis cantik dengan wajah kesalnya.
Litha sedikit terkejut melihat dua manusia dihadapannya sekarang ini. Yang satu adalah pemuda tampan yang sangat berarti dalam kehidupannya, yang satunya lagi cewek centil yang selalu saja berusaha merusak hubungannya dengan pemuda tampan disebelahnya.
"Kalian ngapain di sini?" tanya Litha menyelidik.
Dita mengira jika Litha cemburu, terbukti dari raut wajah Litha yang menunjukkan ekspresi kesal dan sangat bad mood sekali. Padahal Litha kesal bukan karena hal tersebut, emang Dita aja yang sok tahu!!!
"Kita lagi..." jawab Dita terpotong karena Raka.
"Nggak sengaja," selah Raka dengan ekspresi datarnya.
"Nggak sengaja ketemu?" tanya Litha memperjelas penuturan Raka.
"Enggak kok, kita itu..." ucap Dita lagi-lagi dipotong oleh Raka.
Dita itu sedang berusaha untuk membuat Litha menjadi cemburu dan salah paham. Walaupun Dita harus berbohong, itu tidak menjadi masalah untuknya. Toh dulunya dia juga pernah melakukan hal lebih buruk dari pada itu. Contohnya mengunci Litha di dalam toilet tempo hari, sampai membuat dirinya terkena hukuman yang menurutnya sangat memalukan.
Yang terpenting tujuannya untuk membuat hubungan Raka dan Litha menjadi renggang berhasil. Namun nyatanya usaha Dita nihil, dan itu disebabkanoleh sang pujaan hatinya sendiri yang menggagalkan rencananya.
"Ayo ikut!" pinta Raka sembari menggandeng tangan Litha agar segera menjauh dari Dita.
Dita berdecak kesal karena sikap Raka yang sangat dingin terhadap dirinya. Terlebih Raka menarik tangan Litha dan pergi meninggalkan Dita tanpa berpamitan dengan Dita, Dita merasa kehadirannya saat ini tidak dianggap oleh Raka. Padahal Dita pernah menjadi teman satu kelas dengan Raka, tapi seolah-olah Raka tidak mengenal Dita.
__ADS_1
Ya begitulah seorang Raka Adelard Pangestu, pemuda tampan tanpa ekspresi yang selalu bersikap sedingin es batu. Tetapi pesonanya memang tidak bisa dipungkiri, Raka memang digilai oleh banyak para kaum hawa, wajah tampannya mampu menghipnotis siapa saja yang melihatnya.
**Taman__
Raka dan Litha duduk di bangku taman sekolah. Kali ini suasananya cukup ramai, banyak pasang mata yang melihat interaksi antara dua sejoli itu.
Mereka sangat ingin berada di posisi Litha yang sekarang tangannya sedang berada digenggaman pemuda dingin tersebut. Tapi Litha malah melepaskan genggaman Raka dari tangannya, Litha itu gadis yang tidak pandai bersyukur menurut mereka yang menggilai Raka.
Sedangkan Raka sangat heran dengan sikap Litha padanya. Apakah Litha cemburu dengan Dita saat di depan pintu toilet? Atau Raka mempunyai kesalahan lain yang tanpa disadarinya, sampai membuat Litha menjadi kesal?
"Apa?" tanya Litha tanpa melihat wajah rupawan seseorang yang berada di sampingnya. Gadis cantik itu menatap lurus ke depan.
"Jutek," jawab Raka datar. Seharusnya Raka bukan menjawab seperti itu, karena tentu saja penuturannya tersebut tambah membuat Litha menjadi kesal saja.
Litha menatap tajam ke arah Raka, lalu yang dipelototi malah menaikkan salah satu alisnya. Litha menghelai nafasnya, mengingat sesuatu yang tidak ia sukai.
"Tadi ulangan sejarah dapet nilai 75," sahut Litha masih dengan kesalnya.
"Karena itu?" Raka memperjelas apa yang ada di pikirannya, jadi hal tersebut yang membuat Litha kesal hari ini? Litha mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Lumayan jelek," ungkap Raka santai.
"Apanya?" tanya Litha ngegas. Gimana gak ngegas? Dia itu sebenarnya juga paham dengan ucapan Raka, namun Litha ingin memperjelas ucapan Raka. Takut-takut nanti malah salah paham!
"Tuh kan nyebelin," Litha mengalihkan pandangannya ke arah lain, pokoknya jangan ke samping kanan.
Litha mengerucutkan bibirnya, dan semakin membuat Raka menjadi gemas sendiri dengan tingkah dari kekasihnya.
"Tha," panggil Raka.
"Hm," Litha berdeham singkat.
Lalu Raka mengarahkan wajah Litha untuk menghadap ke arahnya, dengan memegang dagu Litha. Gadis itu hanya menurut saja, tetapi bibir mungilnya masih mengerucut. Raka melepaskan tangannya dari dagu Litha.
"Maaf," ungkap Raka lembut sampai-sampai Litha mau luluh.
Tapi sesegera mungkin Litha tersadar dengan ucapan Raka tadi, terus Litha jadi kesal lagi deh sama cowok ganteng ini. Litha menggeleng-gelengkan kepalanya masih setia dengan bibirnya yang manyun. Raka menghelai nafasnya.
"Aku gak bermaksud ngehina nilai kamu," jelas Raka.
"Bukan!" sahut Litha yang membuat Raka menjadi bingung.
"Kak Raka ngehina kemampuan aku," sambungnya.
__ADS_1
"Iya terserah. Dimaafin gak nih?" tanya Raka. Ya Raka sih terserah Litha mau bilang kesalahannya apa aja, yang penting dimaafin. Udah itu aja valid no debat, yang penting dimaafin.
Belum juga Litha menjawab, diujung sana terlihat Leon yang berjalan ke arah Raka dan Litha. Tau-tau Leon udah ada didepan mata aja.
"Keren bro," ujar Leon seraya menepuk bahu Raka. Lalu Litha dan Raka beranjak dari duduknya, mensejajarkan diri dengan Leon yang juga berdiri.
"Emang panutan lo," tambah Leon dengan senyum tampannya.
"Panutan?" tanya Litha heran.
"Lo gak dikasih tau Raka?" tanya Leon, Litha menggelengkan kepalanya.
"Tadi gue gak sengaja denger pembicaraan anak kelas tiga yang sekelas sama Raka. Mereka bilangnya Raka dapet nilai sempurna ulangan sejarah tadi pagi," jelas Leon panjang lebar.
Raka dan Litha hanya saling pandang tanpa mengeluarkan suaranya. Yah sepertinya keduanya memikirkan hal yang berkaitan dengan nilai Litha tadi. Teman kampr*t nya yang satu ini hanya membawa masalah saja untuk Raka.
"Tau nggak Tha?" tanya Leon.
"Apa?" tanya Litha yang mengalihkan pandangannya ke arah Leon.
"Ulangannya tadi tu mendadak. Yang lain cuma dapet nilai pas-pasan 75 aja dan ada yang dibawah KKM, eh ni anak malah dapet nilai 100," jelas Leon yang kagum dengan otak cerdas yang dimiliki sahabatnya yang mirip kulkas berjalan ini.
Pasti itu Litha insecure, atau lebih tepatnya jadi kesal sendiri. "Gue duluan," pamit Litha pada Leon. Lalu berjalan meninggalkan dua cogan tersebut, tanpa berkata apapun kepada Raka.
"Napa cewek lo?" tanya Leon keheranan.
"Gara-gara lo," ketus Raka lalu pergi meninggalkan Leon sendirian.
"Gue?" gumam Leon bertanya pada dirinya sendiri.
***
Raka menyusul Litha, ia hanya mensejajarkan langkah kakinya dengan Litha tanpa ada niatan untuk memaksa Litha berhenti berjalan cepat. Sedangkan murid-murid yang melihatnya terpesona oleh ketampanan Raka, ralat cuma siswi-siswi aja yang terpesona. Yang siswa mah enggak, kan semua siswa di SMA Nagara ini masih pada normal, mungkin mereka pada iri aja sama kegantengan Raka wkwk...
Litha melirik ke atas, dimana ia bisa melihat wajah tampan seorang Raka. Litha jadi bingung sendiri, kenapa Raka diem aja? Dia nggak mau minta maaf atau bujuk Litha gitu? Pikir Litha. Ya meskipun kenyataannya untuk kejadian dengan Leon tadi, mutlak bukan kesalahan Raka. Tapi tetap saja Raka adalah penyebab kekesalan Litha kali ini.
"Marah?" tanya Raka sambil berjalan cepat supaya gak ketinggalan langkah kaki Litha.
Dengan spontan Litha mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah satu detik, ia tersadar bahwa dirinya tidak seharusnya marah dengan Raka. Litha menoleh ke arah Raka dengan sedikit mengangkat dagunya ke atas, lalu kembali lagi menghadap lurus ke depan dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Raka menyunggingkan senyumnya, cuma sekilas doang kok, so gak ada satu orang pun yang melihat senyumannya.
Raka mengandeng tangan Litha, mendadak Litha jadi menghentikan langkah kakinya. Dan keduanya saling berhadap-hadapan serta bertatapan.
__ADS_1