
Litha menepuk pundak Nara membuat empunya terlonjak kaget kemudian menoleh kepada orang disebelahnya yang sudah tertawa puas.
"Untung jantung gue gak copot," Nara mengusap dadanya.
"Gitu aja kaget!" Ucap Litha masih setia dengan tawanya.
"Gue kepikiran operasi," sahut Nara.
Mereka berdua berpapasan dengan Fika yang hendak pulang. "Lhoh... Kalian baru berangkat?" Tanya Fika.
"Iya. Shift malem," ucap Nara.
"Gue udah pulang, kalian baru mulai kerja," Fika tertawa mengejek dua calon dokter tersebut.
"Oh ya lo tau gak Tha? Ternyata Kak Aldi kerja disini, dia jadi dokter umum disini," Fika tersenyum membayangkan mantan seniornya di kampus yang tadi siang menuju bagian farmasi karena ada kepentingan dengan apoteker lama disana.
"Ternyata dia masih ingat nama gue," Fika memejamkan matanya mengingat Aldi yang menyapa Fika terlebih dahulu.
"Dokter Aldi mantannya Fika?" Nara berbisik kepada Litha sambil melirik Fika yang sibuk dengan khayalannya.
"Mantan senior kampus," jawab Litha.
Pletak.
Litha menyentil dahi Fika yang membayangkan wajah tampan pria lain, padahal cowok sendiri udah cogan.
"Lo udah kerja hampir dua minggu, tapi baru tahu sekarang?" Sahut Litha.
Fika mengusap keningnya akibat ulah sentilan Litha. "Lhoh lo udah lebih dulu tahu dari gue?"
"Dokter Aldi, dokter penanggung jawab program koas tahun ini," ujar Nara.
Interaksi tiga gadis tersebut diam-diam diamati oleh seorang Dokter muda. Senyuman terukir di bibirnya saat melihat dua peserta koas yang kemarin ikut bersamanya menemui beberapa pasien yang baru dioperasi.
Dokter Ken mendekat kepada mereka. "Selamat sore semua," sapa Dokter Ken.
"Sore Dok," sahut mereka bertiga kompak.
"Kalian berdua baru datang?" Tanya Ken basa-basi. Litha dan Nara mengangguk dengan senyum yang dipaksakan, suasana mendadak canggung akan kehadiran Dokter muda tersebut.
Tatapan Dokter Ken tertuju kepada Fika yang ternyata jago bela diri. Ken mengetahui langsung dari Raka bahwa yang membuat badannya remuk enam hari yang lalu adalah wanita yang bersamanya saat itu. Dan Ken menduga jika wanita itu adalah Fika. Apoteker cantik yang dianggap Ken memiliki hubungan spesial dengan direktur rumah sakit ini.
Bukan tanpa alasan Ken berfikir seperti itu. Pasalnya pada saat hari pertama peserta koas, Raka tidak mengatakan jika Fika bukan kekasihnya, pada saat itu Raka hanya mengganti topik obrolan saja agar menghindari pertanyaan Ken tentang siapa Fika sebenarnya.
__ADS_1
"Fika, kamu kenal saya?" Tanya Ken dengan senyum ramahnya.
"Satu rumah sakit kenal kali Dok. Dokter Ken itu kan viral karena satu-satunya orang di rumah sakit ini yang berhasil temenan sama Dokter Raka. Orang setiap hari Dokter Ken jadi bahan gosip anak apoteker," Fika tertawa renyah mengingat teman satu profesinya yang juga suka bergosip sama seperti dirinya.
Sejurus kemudian Fika baru sadar dengan perkataannya sedetik yang lalu. "Ups... Keceplosan," Fika menutup mulutnya yang tidak ada rem nya.
Dokter Ken menatap Litha dan Nara yang menahan tawanya. Ken membandingkan postur tubuh Litha dan Fika yang hampir sama, bedanya Fika sedikit lebih tinggi dari Litha. Rambut keduanya yang panjang dan sedikit bergelombang juga mirip.
Yah tidak salah memang jika Ken mengira wanita yang bersama Raka saat itu adalah Fika. Karena jika rambut panjangnya diikat, Litha dan Fika akan terlihat seperti anak kembar jika dilihat dari belakang yang tidak akan menampakkan muka mereka.
Fika kembali kaget mengingat ucapan Dokter Ken. "Tunggu! Tadi Dokter manggil saya Fika? Dokter kenal saya?" Fika melihat baju seragamnya yang sudah terbalut jaket, sehingga name tag nya juga tertutup oleh jaketnya. Seingat Fika, mereka berdua juga tidak pernah bertegur sapa sebelumnya.
Dokter Ken mengangguk. "Saya tahu hubungan antara kamu dan Raka,"
Litha dan Fika terkejut saling tatap. Hubungan apa?
Hubungan persahabatan? Atau Dokter Ken tahu jika Fika adalah kekasih dari Leon, yang masuk dalam geng pertemanan anak sultan? Dimana Raka juga termasuk dalam pertemanan tersebut.
"Saya tidak menyangka ternyata kalian bertiga teman dekat ya?" Tanya Ken lagi-lagi menyimpulkan sendiri sesuka hatinya.
"Bukan Dok. Litha dan Fika yang teman dekat dari SMA, saya baru kenal mereka saat mulai koas disini," sahut Nara membuat Ken manggut-manggut paham.
Ken tersenyum melihat Raka yang baru sampai ke rumah sakit, dokter dingin itu melangkah ke arah mereka dengan tatapan tajam dan langkah cepatnya.
Ken cengar-cengir tidak jelas. "Santai... Keep calm bro,"
Ken berbisik tepat ditelinga Raka dan tangannya menutupinya sehingga tiga wanita didepannya tidak dapat mendengarnya."Tenang gue gak godain cewek lo,"
Raka mengikuti arah pandang Ken yang melirik Fika. Litha dan Fika sudah saling tatap curiga dengan obrolan dua dokter tersebut.
"Gue kek nya tertarik sama salah satu anak koas di RS ini," bisik Ken.
"Siapa?" Raka bertanya tanpa volume rendah membuat tiga wanita di depannya penasaran dengan bisikan Dokter Ken.
"Gue yakin pasti lo kenal dia. Gue suka sama Litha, temennya cewek lo. Litha itu anaknya gemesin, pinter lagi. Kemarin gue baru jadi dokter pembimbingnya, nanti malem kelompok Litha ikut gue lagi," bisikan Ken terasa panas ditelinga Raka.
Mendengar nama Litha disebut, Raka mengepalkan tangannya. Ia menahan diri sampai dokter gadungan didampinginya ini mengehentikan bisik-bisik tetangga yang membuat hati dan telinga Raka menjadi panas.
Bugh...
Raka menonjok kuat perut Ken yang membuat tiga gadis itu terkejut bukan main. Sedangkan Ken sendiri shock mendapat serangan mendadak dari temannya, Ken langsung memegang perutnya yang terasa nyeri.
"Kak Raka!" Teriak Litha refleks, membuat orang-orang yang berlalu lalang di koridor itu menatap ke arah mereka.
__ADS_1
"Kak?" Ken menatap heran Litha yang menutup mulutnya.
"Dokter Ken gak papa?" Tanya Litha beralibi. Ken tersenyum, belum juga berjuang dia sudah merasa diperhatikan oleh Litha.
"Maaf kami permisi duluan, karena harus membahas kasus operasi besar untuk malam ini," Raka menarik lengan Ken secara paksa.
"Duluan ya apoteker cantik dan adek-adek koas," Ken berteriak sambil matanya berkedip sebelah kepada Litha yang melongo karena sikap Dokter Ken yang ternyata genit.
Raka semakin mencepatkan langkah agar Ken jauh-jauh dari Litha. Jika tidak karena Litha yang meminta merahasiakan identitas aslinya dan merahasiakan hubungan mereka, Raka akan berteriak kencang tepat ditelinga Ken bahwa Litha adalah tunangannya.
"Gila... Sakit bro," sahut Ken masih memegang perutnya.
Raka menghentikan langkahnya, ia menoleh kepada Ken dan melepaskan cekalannya pada dokter sialan itu.
"Jangan macem-macem lo sama anak koas itu," ucap Raka merujuk pada Litha.
"Jadi karena itu lo nonjok gue?" Bukannya marah, Ken malah tertawa dengan sikap protektif Raka terhadap sahabat dari pacarnya itu.
"Gue tau lo gak mau temen cewek lo itu sakit hati kan? Tenang aja, walaupun gue luarannya tengil kek gini, tapi aslinya gue setia kok," Ken tersenyum lebar menepuk dadanya bangga.
"Dia udah punya pacar," sahut Raka.
"The Perfect lagi?" Tanya Ken apakah pacar Litha salah satu dari member The Perfect.
Raka hanya mengangguk.
"Sebelum janur kuning melengkung, siapapun bisa menikung!" sahut Ken masih usaha saja.
"Litha tuh gemesin, dia perpaduan antara cantik manis imut lucu-lucu gitu. Menurut gue, dia lebih pantes jadi anak SMP, dari pada anak koas," Ken senyum-senyum sendiri membayangkan wajah baby face Litha.
"Jangan pernah ganggu anak koas itu. Sekali lagi gue lihat lo deketin dia, jabatan lo jadi taruhannya," tatapan Raka sangat tajam, dia tidak main-main dengan ancamannya.
Ken merinding sendiri, dia dapat membedakan antara Raka yang serius dengan Raka yang hanya main-main atau sekedar bercanda dengan ancaman. Maklum saking seringnya Ken bicara ngawur, jadi sering diancem juga sama Raka.
"Baru juga sekali deketin," ucap Ken pelan.
"Itu yang pertama dan terakhir kalinya," tegas Raka dengan sorot mata tajam.
"Iye-iye bos. Kakak Ken nurut sama adek Raka," Ken menunjukkan dua jarinya.
"Tapi... Emang kenapa sih gue gak boleh deketin Litha?" Rasa penasaran Ken tidak dapat ia tahan.
Raka tidak menjawabnya, dia menatap tajam Ken.
__ADS_1
"Iye-iye. Perasaan salah mulu dari tadi," Ken kembali memperlihatkan dua jarinya.