Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Akhirnya Ketemu


__ADS_3

Raka memutar bola matanya yang hitam itu, dia mencoba mengingat ruangan mana yang belum di datanginya. Raka mengistirahatkan tubuhnya sebentar diatas kursi yang sekarang sedang di dudukinya.


Kepalanya menunduk melihat ke bawah lantai, tangan kanannya memegang kepalanya yang sedang pusing. Sedangkan tangan kirinya berada diatas paha kirinya, dengan jari-jarinya yang sedari tadi sibuk naik turun secara bergantian diatas pahanya, seperti kaki yang jalan ditempat saja.


Arkan sangat bingung dengan sikap Raka kali ini, bahkan ini adalah pertama kalinya Arkan melihat seorang Raka Adelard Pangestu begitu panik dan cemas, hanya karena menghawatirkan seorang wanita bernama Litha Kusuma Jaya Nagara.


Tiba-tiba Raka beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya lagi dengan cepat, Arkan pun mengikuti langkah kaki itu.


"Mau kemana lagi?" tanya Arkan kebingungan.


"Ada satu tempat yang belom kita datengin," jawab Raka sambil berjalan cepat.


"Mana?" tanya Arkan sambil mengekori Raka.


"Kamar mandi wanita yang ada peringatan toiletnya lagi rusak," jawab Raka.


"Lo yakin kalo cewek itu ada di sana? Itu toiletnya kan lagi rusak, terus ngapain dia ada di sana?" tanya Arkan kebingungan. Namun pertanyaan itu tidak dijawab oleh Raka.


**Kamar mandi__


Raka mencoba membuka pintu kamar mandi yang di depannya bertuliskan peringatan kalau toiletnya sedang rusak, tetapi pintunya tidak bisa terbuka.


Seperti ada seseorang yang sengaja mengunci pintunya dari luar kamar mandi. Itulah pemikiran Raka yang masih mencoba membuka pintu itu. Memang Dita juga sengaja mengunci pintu kamar mandinya, Dita takut jika nantinya Litha bisa keluar dari toilet yang juga telah dikuncinya.


Jadi kalau Litha bisa lolos dari pintu toilet, setidaknya dia masih terkunci dalam kamar mandi tersebut. Dita itu benar-benar sangat licik, dia tidak akan membiarkan Litha lolos begitu mudahnya.


Raka saat ini tengah bersiap-siap untuk mendobrak pintu kamar mandinya, Raka melangkahkan kakinya satu langkah, langkah yang kedua, langkah ketiga dannn...

__ADS_1


"Stop!!!" ucap Arkan tiba-tiba.


Rencana mendobrak pintu itu gagal, karena terhalang oleh Arkan yang tiba-tiba menghentikan Raka dengan berdiri tepat dihadapan Raka.


"Ck... apa lagi?" Raka berdecak kesal karena rencana mendobrak pintu kamar mandinya, menjadi terhambat oleh ulah sahabatnya sendiri.


Arkan tersenyum lebar sampai memperlihatkan gigi putihnya, seperti orang yang tidak mempunyai dosa saja.


"Dari pada lo ngerusak pintu, mending minta kunci cadangan sama satpam," jawab Arkan yang berdecit ngeri karena melihat tatapan tajam dari Raka, yang seperti akan memakan orang hidup-hidup. Ya salah sendiri Arkan mengganggu rencana Raka. Udah tahu keadaan lagi panik kayak gini, masih aja gangguin bigbosss nya.


"Kelamaan," ucap Raka. Karena satpamnya sedang tidak bersama mereka, jadi kalau mau membuka pintunya dengan kunci cadangan, mereka harus mencari satpamnya terlebih dahulu.


Brakkk....


Suara Raka yang akhirnya berhasil mendobrak pintu tersebut. Namun Raka dan Arkan malah disambut oleh keheningan malam.


Dok... Dok... Dok...


"Suara apaan tuh..? Jangan-jangan hantuuuu!!!" ucap Arkan ketakutan, buktinya saja kepalanya sekarang sedang clingak-clinguk ke kanan, ke kiri, bahkan sampai melihat ke arah atas dan bawah. Hadehhh masak seorang sniper handal seperti Arkan bisa ketakutan, hanya karena mendengar suara ketukan pintu.


Sontak suara itu pun membuat Raka semakin yakin kalau Litha berada di salah satu toilet tersebut. Raka mulai membuka satu per satu pintu toilet tersebut. Arkan yang masih ketakutan hanya mengekori Raka dari belakang. Setelah sampai pada toilet yang paling ujung, ternyata pintunya terkunci lagi. Raka mencoba mengetuk pintu toilet tersebut.


Dok... Dok... Dok...


"Litha...!" teriak Raka, tetapi tidak ada respon apa pun dari teriakannya itu.


"Thaaa lo didalem sini?" teriak Raka sekali lagi, tetapi belum ada yang meresponnya.

__ADS_1


"Udahlah pulang aja yuk! Mungkin suara tadi itu, bukan karena cewek yang lo cari. Tapi hantu yang buat suara itu, bisa jadi hantunya merasa terganggu karena kedatangan kita ke sini," ujar Arkan.


"Ehh... Mau ngapain lagi lo?" tanya Arkan. Karena saat ini Raka memasang gaya seperti tadi saat hendak bersiap-siap untuk mendobrak pintu. Tetapi kali ini yang didobraknya adalah pintu toilet.


Brakkk...


Suara pintu yang berhasil terdobrak, Raka dan Arkan sangat terkejut setelah melihat seorang wanita yang pingsan didalam toilet tersebut dalam keadaan yang terlihat sangat berantakan.


Rambut panjangnya dipenuhi kotoran berwarna merah hingga membuat rambutnya menjadi kusut. Seragam sekolahnya pun juga dipenuhi kotoran berwarna merah yang berbau busuk, seperti bau buah yang sudah busuk. Mukanya terlihat sangat pucat, tubuhnya terlihat sangat lemas, keringat dingin terus bercucuran hingga membasahi wajah cantiknya.


"Litha!!!" ucap Raka tidak berdaya, lanjut menghembuskan nafas beratnya, setelah melihat keadaan kekasihnya yang sangat berantakan. Dengan sigap Raka segera menggendong tubuh mungilnya Litha yang sudah tidak sadarkan diri.


"Akhirnya ketemu juga," ucap Arkan sangat bersyukur. Walaupun Litha, dalam keadaan berantakan, setidaknya perempuan yang berhasil membuat Raka cemas dan khawatir itu masih bisa bernafas.


**Rumah Keluarga Adelard__


Perlahan Litha membuka matanya dan mengerjapkan matanya berkali-kali, sebelum dia menyadari bahwa ruangan ini sangat asing baginya. Ruangan ini sangat luas dan mewah serta terdapat pula fasilitas lengkap yang canggih-canggih. Ini seperti kamar tidur seorang anak sultan, tapi ini bukanlah kamar Litha yang didalamnya juga terdapat fasilitas lengkap. Ini lebih mirip seperti sebuah kamar seorang laki-laki, terbukti dari desain interiornya yang lebih dominan berwarna hitam.


Litha melihat ke arah jam dinding yang unik dan mewah, yang sekarang menunjukkan pukul 00.17, ini adalah satu-satunya jam mewah yang pertama kali dilihat oleh Litha "Tengah malam? jam dindingnya aja bagus dan kelihatan mewah, pasti harganya mahal banget," gumam Litha.


Krekkk...


Litha yang belum sadar sepenuhnya menjadi terkejut karena mendengar suara pintu yang terbuka, dengan segera Litha beranjak dari tempat tidurnya dan duduk, setelah itu dia melihat ke arah sumber suara itu.


"Ngapain ke sini? Kalo mau masuk ke kamar orang tu ketok pintunya dulu, kamar itu salah satu ruangan yang privasi banget," ujar Litha dengan tegas.


Baru bangun dari pingsannya aja, tapi udah bisa ngomel-ngomel gak jelas gitu. Gimana kalo udah beneran sehat? Bisa-bisa orang yang masuk tanpa permisi itu, diomelin Litha sampai adzan subuh berkumandang.

__ADS_1


Pemuda itu tidak menjawab pertanyaan Litha, yang menanyakan apa tujuannya datang ke sini. Tetapi dia malah seolah-olah memberitahu Litha, bahwa ini bukanlah kamar perempuan yang saat ini sedang duduk diatas kasur besar itu.


__ADS_2