
Hari yang di tunggu-tunggu telah tiba dimana ini adalah hari operasi wajah untuk Litha. Sebelum menit-menit terakhir memasuki ruang operasi Litha tersenyum menggenggam erat tangan Raka.
"Doain semoga lancar," pinta Litha.
"Pasti aku doain yang terbaik untuk kamu," senyuman Raka terlihat menatap kursi roda yang telah di dorong oleh perawat menuju ruang operasi.
"Litha yang dioperasi kenapa jadi gue yang deg-degan," Sarah mondar-mandir.
"Tenang aja, yakin kalau Litha akan baik-baik aja," Sekar meminta Sarah duduk dengan tenang.
Dua jam berlalu, Umran datang dengan senyum yang merekah. Sarah berdiri, keduanya langsung melepas rindu dengan berpelukan cukup lama.
"Ekhem..." Sarah dan Umran menoleh ke arah Jordy yang bersuara.
"Iri bilang bos," sungut Sarah merangkul pundak Umran, mengajak sang kekasih duduk. Wait! Sarah yang ngerangkul Umran? Bukannya kebalik? Oke suka-suka Sarah aja lahh ya...
Lampu di depan ruangan operasi tiba-tiba mati, menandakan bahwa operasi telah selesai. Tak lama kemudian Dokter keluar dari ruang operasi dengan memperlihatkan senyuman khas Dokter jika pekerjaannya membuahkan hasil yang cukup memuaskan.
Raka berdiri menghampiri sang Dokter, begitu pula dengan yang lainnya juga langsung mendekat.
"Bagaimana Dok? Apakah berhasil?" Tanya Raka dengan bahasa asing. Raka seolah mendadak pikun, tentu saja luka luar membutuhkan waktu agar lukanya kering.
"Berdoa saja semoga hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Untuk lebih pastinya kita akan membuka perbannya lima hari kedepan," jawab sang Dokter.
"Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang rawat, jika nantinya ada keluhan segera beritahu pihak medis. Saya permisi," tambah Dokter berpamitan.
Raut wajah cemas masih terlihat pada wajah Raka. Nick menepuk pundak Raka, "Keep calm bro!"
Raka membalasnya dengan menepuk-nepuk bahu Nick, setelahnya pergi menuju entah kemana?
**Ruang rawat Litha__
"Kemana si kulkas? Dari tadi gak nongol-nongol," ujar Jordy yang kini berada di dalam ruangan Litha yang masih belum sadar dari obat biusnya.
"Tumben-tumbenan dia betah di luar, biasanya lengket banget sama Litha," Arkan ikut menimpali.
Sarah tampak berpikir sejenak, "Jangan-jangan di jalan dia ketemu sama cewek Korea yang perutnya kecil ramping, wajahnya imut, pakaiannya ketat-ketat. Terus dia..."
"Ngomong apaan sih yang, jangan ngawur!" Umran memotong ocehan Sarah yang sangat halu menurutnya.
Sarah nyengir kuda sambil mengangkat dua jarinya berbentuk V.
Pintu terbuka, Raka masuk dengan membawa sebuah paper bag dan menyodorkannya kepada Umran.
"Apaan? Duit?" Umran mengernyitkan keningnya.
"Duit terosss pikirannya, dasar mata duitan!" Sahut Leon.
"Bukan, ini makanan," jawab Raka membuat semua pasang mata para teman-temannya berbinar seolah mengharapkan makanan yang dibawanya.
__ADS_1
Umran langsung menyambar paper bag putih tersebut dan duduk menyendiri di pojokan sofa yang lumayan jauh dari jangkauan para calon-calon pencuri makanannya.
"Kenapa yang dikasih anak curut itu doang? Kita gak dikasih?" Ucap Arkan mewakili yang lainnya.
Raka tidak segera menjawab, seperti biasa dia malas mengeluarkan suara dinginnya.
"Sirik aja lu pada. Jangan rakus jadi manusia, lo pikir gue gak tau kalian udah sarapan di hotel bintang 100. Gue belum sarapan dari pagi," sewot Umran, dia menjelaskan saat pekerjaannya di luar kota sana telah selesai dia langsung membeli tiket agar secepatnya bisa melakukan penerbangan menuju Korea.
Oke Umran sekarang tahu kemana Raka pergi meninggalkan Litha yang tadinya masih di ruangan operasi sampai sekarang dipindahkan ke ruang rawat. Mungkin saat membeli makanan Raka mengantri karena banyaknya orang, so lumayan lama Raka meninggalkan Litha.
Dengan lahap seperti belum makan tujuh hari tujuh malam, Umran menyelesaikan sarapan paginya yang tidak hanya gratis tapi juga lezat dan nikmat. "Adik ipar terbaek..." Umran mengunakan nada ala-ala kartun boboyboy seraya mengangkat jempolnya.
Raka tak menghiraukannya, dia tetap fokus melihat mata Litha yang masih terpejam. Beberapa menit kemudian jari-jari tangan Litha mulai bergerak, perlahan kelopak matanya membuka.
Raut wajah bahagia ditunjukkan oleh semua kawannya kala melihat kedua mata Litha yang berkedip-kedip menyesuaikan cahaya lampu yang mengenai netranya.
"Kak," lirih Litha pelan melihat senyuman Raka.
"Iya ini aku, apa yang kamu rasain? Ada yang sakit? Nanti biar aku panggil Dokter," ujar Raka.
Litha hanya menggeleng, tenaganya masih terlalu lemas walaupun hanya sekedar untuk berbicara.
"Giliran Litha aja suaranya di lembut-lembutin. Tadi gue nanya dicuekin. Boro-boro dijawab, nengok ke orangnya aja enggak," cerocos Arkan.
"Siape lu bambank?" Seru Nick.
***
Litha mengamati satu persatu sahabatnya yang tersenyum bahagia menatapnya, setelah perban terlepas semua. Netra indahnya berganti menatap Dokter yang tersenyum ke arahnya.
"Selamat, operasi lima hari yang lalu kini membuahkan hasil yang sesuai dengan harapan kita semua," ucap sang Dokter dengan bahasa asing. Karena tidak ada keluhan apapun dari pasiennya, Dokter tersebut segera pergi setelah sebelumnya pamit kepada mereka.
"Alhamdulillah," semua bersyukur atau keberhasilan operasi wajah Litha.
Senyuman Litha merekah menatap Raka dan tanpa babibu Litha memeluk erat tubuh Raka, gadis itu memejamkan matanya merasakan nyaman diposisinya kini. Pelukan hangat disusul oleh Sarah, Fika, dan Sekar, mereka berlima berpelukan seperti teletubbies.
Ralat, mereka berlima bukan saling berpelukan layaknya teletubbies. Hanya Raka yang dari ekspresinya seperti orang tersiksa karena berada ditengah-tengah pelukan tersebut, so Raka jadi sesak napas deh...
Mata Litha terbuka menyadari bahwa sahabatnya bukan memeluk dirinya, melainkan malah memeluk beruang kutub kesayangannya?
Litha melepaskan pelukannya, tuh kan ciwi-ciwi itu masih merem sambil senyum-senyum meluk Raka. "Ini kenapa jadi Kak Raka yang dipeluk?" Litha bersikedap menatap tajam tiga wanita yang mengambil kesempatan.
Kalau ada kesempatan emas mengapa tidak diambil? Bisa memeluk mantan idola sekolah mereka yang terkenal dingin dan tidak bisa disentuh oleh sembarang orang. Itu sebuah keuntungan bagi mereka bertiga.
Mereka bertiga langsung melepaskan pelukannya, membuat Raka bisa bernafas lega dan tidak merasakan sesak didada lagi.
"Malah nyengir, kalian gak merasa bersalah sama gue?" Sungut Litha merajuk.
"Enggak," tanpa rasa berdosa mereka kompak menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Litha mendengus kesal, "Kalau sama cowok kalian bertiga?"
Sontak mereka bertiga melihat pasangannya masing-masing yang menunjukkan muka-muka datar cenderung kesal.
"Mantan idola aku yang. Mohon dimaklumi yaa..." Fika garuk-garuk kepala melihat Leon.
Baru Leon akan angkat suara, Fika mendahuluinya. "Nggak inget? dulu kamu waktu masih playboy juga sering peluk-peluk banyak cewek. Nah ini aku cuma meluk sekali doang,"
"Apaaa mau marah?" Seru Fika jadi kesal sendiri. Alhasil Leon mengalah karena tidak ingin ribut karena masalah sepele.
Sementara itu, Sarah sudah berkedip-kedip lucu ke arah Umran agar membuatnya luluh.
"Sama adek ipar sendiri jangan cemburu dong Pah," ya begitulah keanehan pasangan Umran dan Sarah. Mereka sering mengganti-ngganti nama kesayangan, katanya biar beda dari yang lain dan tidak membosankan.
"Hm. Ini yang pertama dan terakhir. Papah gak suka kalau Mamah peluk-peluk cowok lain selain keluarga," jawab Umran rada bijak, tumben anaknya kadang bisa bener.
Yang lainnya menundukkan kepalanya, kecuali Litha yang masih kesal. Mereka menahan tawa mendengar panggilan sepasang kekasih terhebat yang terbilang lumayan alay dan lebay.
"Raka itu juga calon keluarga kita loh Pah," Sarah masih usaha juga.
"Enak aja!" Kesal Litha membuat Raka tersenyum sambil mengusap kepala Litha.
"Aku cuma punya kamu," Raka tersenyum merasa bahagia karena Raka yakin kini Litha sedang cemburu.
Litha menatap tajam Raka. "Nggak. Kamu punya kedua orang tua kamu dan urutan yang ketiga baru aku,"
Raka mengangguk mengusap pipi yang telah kembali putih mulus seperti sedia kala.
Lain halnya dengan Sekar dan Arkan yang hanya saling diam. Tapi diamnya Arkan seperti menahan rasa, entah rasa apa itu Litha tidak tahu menahu.
"Kenapa lo gak bujuk Arkan kayak mereka berdua?" Litha bertanya kepada Sekar dengan dagunya mengarah kepada kedua sahabat lucknut nya yang memeluk Raka tanpa izin darinya.
"Kenapa gue harus bujuk Arkan?" Sekar tersenyum manis melihat Arkan yang masih berwajah datar.
"Kalian...." Ucapan Litha menggantung menebak hubungan tanpa status yang mereka jalani.
"Jangan bilang Arkan gak ngasih kepastian hubungan diantara kalian?" Tebak Nick, seperti biasa dengan gaya santainya.
Sekar tidak menjawab. Dia masih tersenyum manis ke arah Arkan yang hanya diam membisu.
"Gue kira kalian ada hubungan spesial," Nick geleng-geleng kepala. Padahal dia mengira Arkan dan Sekar adalah sepasang kekasih karena kedekatan serta sikap perhatian dari masing-masing yang selalu mereka tunjukkan, namun faktanya hubungan mereka masih samar-samar tidak jelas.
"Kalo Arkan gak berani ngasih kepastian buat lo, mending sama gue aja," tanpa rasa bersalah Nick mendekat kepada Sekar.
Yang lainnya tidak terlalu perduli dengan Nick yang saat ini telah ada didepan mata Sekar, mereka semua menganggap Nick hanya bercanda dengan ucapannya.
Nick meraih kedua tangan Sekar, tatapan mata Nick menunjukkan keseriusan, dia tidak main-main dengan ucapannya.
"Lo baik dan cantik. Lo mau nggak jadi pacar gue? Kalau lo mau jadi pacar gue, gue akan tinggalin semua kelakuan buruk gue selama ini. Gue akan memperbaiki diri gue demi lo. Gue akan nurutin semua ucapan lo,"
__ADS_1
Eh???