
"Lo kenapa? Ada masalah apa? Coba cerita, siapa tahu gue bisa bantu," ujar Arkan yang hanya berdua saja dengan Raka di lorong menuju toilet.
"Setelah gue kasih tau ke Oma semua kebusukan Fani, Oma ngurung dirinya di kamar. Gue takut kalo Oma kenapa-kenapa," ungkap Raka.
Arkan menepuk pundak Raka, agar sahabatnya sedikit tenang dan tidak terlalu memikirkannya. "Mungkin Oma masih rada schok. Yaa bisa aja Oma lagi memikirkan langkah apa yang selanjutnya beliau lakukan,"
"Kasihan tuh Litha... Kayaknya tadi dia juga kepo tentang masalah ini, tapi doi gak berani nanya, lo nyeremin sih," Arkan tertawa dengan ucapannya yang menghina Raka, sedangkan Raka hanya tersenyum tipis.
"Oh ya bukan cuma Litha aja, gue kasihan juga lihat Sekar. Dia ngerasa bersalah sama lo sama Litha juga," belum selesai Arkan bercerita Raka sudah memotongnya.
"Kenapa?" Tanya Raka merasa tidak enak hati dengan Arkan, bagaimana pun juga Raka tahu bahwa sahabatnya ini sedang dekat dengan Sekar.
"Dari tadi kalian bertiga kan gak ada yang saling ngobrol. Dia rada canggung gitu sama lo berdua. Sekar mikirnya karena ulah kedua sepupunya, hubungan kalian berdua jadi banyak masalah," jelas Arkan panjang lebar.
Raka mengangguk mengerti.
"Nanti lo tanya apa gitu kek terserah mau tanya apa, yang penting lo ngajak Sekar bicara. Biar dikiranya lo sama Litha gak marah atau gimana-gimana gitu ke Sekar," bujuk Arkan.
Mata Raka melirik ke atas, ide jahil untuk menggoda si ceroboh ini melintas dalam otak Raka.
"Harus banget ya gue ngajak ngobrol Sekar?" Tanya Raka memulai aksinya.
"Harus banget lah, gue gak rela lihat dia sedih," sahut Arkan yang belum menyadari tujuan Raka.
"Cie udah ngerasain yang namanya cinta?" Ledek Raka. Namanya aja ice boy, terkenal akan sikap dinginnya, mana jago kalau coba-coba ngegodain orang yang lagi kasmaran.
Arkan hanya menggaruk kepalanya yang sejujurnya tidak gatal.
"Kenapa nggak lo aja yang hibur?" Raka menaikan sebelah alisnya.
"Iya! Bakal gue lakuin kalo dia langsung happy. Masalahnya dia sedih gara-gara lo sama Litha yang gak ngajak dia ngobrol, jadi dikiranya kalian sebel ke dia," sewot Arkan.
__ADS_1
"Ogah ah gak ada bayarannya," Raka menyandarkan tubuhnya didinding dengan santainya.
Arkan menatap Raka dengan datar, "Yeee malah nawar lo, gue bukan lo yang banyak duit,"
Raka tersenyum tipis sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Gue masih minta duit ke emak. Nanti habis lulus sekolah, gue langsung masuk seleksi tentara, kalo lolos kerja deh biar dapet cuan banyak," ungkap Arkan yang sudah membuat rencana matang untuk mengikuti jejak sang ayah dengan jabatan seorang jendral.
"Malah curhat," sahut Raka.
"Salah sendiri minta duit sama pengangguran gini, minta noh duit sama bule nyasar," sahut Arkan.
"Bayaran bukan semuanya tentang duit, gue minta lo kasih kepastian sama Sekar," Raka tahu bahwa sampai detik ini Arkan belum memberikan kepastian hubungan diantara keduanya.
Arkan menelan salivanya, jantungnya berdegup kencang, dia jadi salting sendiri. "Gue gak mau tau pokoknya lo harus ngajak Sekar ngobrol, tanya apa aja terserah," Arkan mengalihkan pandangannya ke atas, samping kanan, kiri, dan bawah. Arkan takut kalo jadi tambah salting jika terus menatap mata Raka yang berada dalam mode jahil.
"Bener nih terserah gue tanya apa aja?" Tanya Raka memastikan dengan senyum menggoda dan alis yang ia naik turunnya.
Arkan jadi ngeri sendiri kalau lihat alisnya si kulkas naik turun gitu. "Iyee kulkas. Terserah apa aja, yang penting TANYA. Asal jangan nanya hal-hal kotor, dia sama kayak Litha masih polos," ujar Arkan memperingati.
Arkan berlalu begitu saja meninggalkan Raka tanpa sepatah kata pun. Dia masih gugup karena permintaan Raka yang ngadi-ngadi menurutnya.
"Tunggu! Bukannya dia yang kemarin keceplosan ngasih tau hal kotor ke Litha?" gumam Raka mengingat kejadian di mobil saat Litha tidak mengerti ucapan Nick yang berkata 'keluar-keluar'.
***
"Kampr*t tu anak, untung aja gue kuat nahan diri biar ke saltingan gue gak kelihatan-kelihatan amat. Es batu kayak dia mana jago godain gue. Hhhh dasar kulkas berjalan!" Arkan mengumpat kesal dengan Raka, dari belakang sampai menuju ruangan private mulutnya tidak berhenti komat-kamit.
"Napa lo?" Heran Jordy. Danil, Litha, dan Sekar ikut penasaran dengan Arkan yang menunjukkan kekesalan. Sedangkan yang lainnya sudah sibuk uwuw-uwuwan dengan pasangannya masing-masing, kecuali Nick yang sedang sibuk makan brutal.
"Ituu... gue di pancing-pancing di godain sama Rak..." Ucapan Arkan terhenti kala menatap Sekar dan Litha. Arkan baru sadar jika dua gadis cantik itu ikut mendengarkan penuturannya.
__ADS_1
"Sama Kak Raka?" Tebak Litha.
"Ada apa Tha?" Raka duduk dan tersenyum kepada Arkan yang malah memalingkan wajahnya.
"Kalian kenapa? Berantem?" Tanya Sekar.
"Kalo kalian beneran berantem, pasti yang jadi pemenang Kak Raka, dan lo kalah," Litha mengejek Arkan.
"Enak aja. Nih rasain lo," Arkan melempar kulit kacang ke arah Litha.
"Dih... Marah, rasain balik nih..." Litha melempar balik kulit kacang kepada Arkan.
"Tadi Sarah Danil, sekarang Litha Arkan, semoga nanti kalo ada season ke tiga cafe gue gak hancur," Jordy mengusap dadanya melihat Litha dan Arkan yang sudah saling coret-coret saus di piring masing-masing yang masih ada makanan lezatnya. Namun sekarang sudah bukan lezat lagi, karena sudah bercampur dengan berbagai macam varian saus.
Mereka semua sudah terbiasa dengan dua pasangan bermusuhan, yang sering berdebat, mengejek dan berbeda opin itu. Walaupun seperti musuh bebuyutan tetapi tidak ada dendam diantara mereka. Musuh namun saling menjaga dan menyayangi, itulah deskripsi yang cocok untuk Sarah Danil maupun Litha Arkan.
"Emang siapa season ke tiga?" Tanya Nick yang baru saja menyudahi ritual makan brutalnya karena isi dalam perutnya rasanya ingin meledek.
"Yaaa... Siapa tau aja lo sama Leon ada niatan jambak-jambakan di cafe gue," jawab Jordy asal.
Leon yang lagi asyik pacaran merasa terganggu namanya disebut. "Gue yang dari tadi diem-diem bae, ada aja yang ngomongin. Gimana kalo gue beraksi? Emang gini nih suka dukanya jadi orang ganteng," ucapnya songong.
Ingin sekali rasanya Fika menjambak rambut Leon agar rontok semua, biar macam upin ipin sekalian! Tapi kasihan juga kalau gak ada rambut, nanti pacarnya Fika gak ganteng lagi dong.
Nanti kalah ganteng dong sama pacarnya Litha, dan calon pacarnya Sekar, serta sama tunangannya Sarah? NO!!! Fika tidak mau diledek teman-temannya karena pacarnya gagal ganteng karena ulahnya. Wkwk memang absurd sekali pemikiran Fika.
"Hhhh.... Mamam tuh saos," Arkan tertawa puas melihat isi piring Litha penuh dengan saos tomat.
Litha menatap tajam. Membuka satu botol saos yang masih tersegel, kemudian menumpahkan semua isi dalam botol saos tersebut ke gelas Arkan yang minumannya masih terbilang lumayan banyak.
"Hhhh.... Minum tuh saos," Litha balik menyerang.
__ADS_1
Tentu sang pemilik cafe menganga lebar melihat kelakuan kedua manusia lucknut yang kalau perang sausnya keterusan bisa membangkrutkan bisnis kuliner milik Jordy.
Pandangan Raka dan Sekar tak sengaja bertemu, setelah sebelumnya keduanya memperhatikan Arkan dan Litha yang masih saling perang saus.