Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Gila


__ADS_3

Bel istirahat berbunyi nyaring, Litha beranjak dari duduknya langsung berlari. Membuat Sarah dan Fika terheran-heran.


"Napa tu bocah?" tanya Sarah.


"Mana gue tau. Kebelet kali," sahut Fika.


***


Dari kejauhan Raka yang akan pulang karena telah menyelesaikan ujian terakhirnya, tersenyum miring melihat seorang gadis sedang bersandar di bodi mobil nya. Angin semilir menerpa wajah serta rambutnya yang tergerai, membuat beberapa rambut panjangnya menutupi wajah cantik gadis tersebut.


Raka hendak mendekat namun langkahnya terhenti karena melihat salah satu siswi mendekat ke arah gadis tersebut. Pemuda ini memperhatikan kedua gadis tersebut, dia mengernyitkan keningnya saat Sekar tiba-tiba menarik tangan Litha secara paksa, Litha seperti menolak, tetapi akhirnya Litha ikut bersama Sekar juga.


Raka mengikuti mereka berdua yang setengah berlari menuju ruang BK. Kenapa mereka ke sana? Raka bingung sendiri.


Tak lama kemudian mereka keluar menuju parkiran lagi. Litha dan Sekar memasuki mobil Sekar, menancapkan gas dan berhenti sejenak di depan gerbang untuk menyerahkan sebuah kertas kepada satpam sekolah.


Mungkin kertas itu adalah surat izin, mengingat jam yang belum menunjukkan waktu pulang sekolah. Tetapi mereka akan pergi, entah kemana Raka tidak tahu. Raka langsung mengikuti arah mobil milik Sekar.


Kenapa mereka ke sini? Satu pertanyaan terlintas dalam benak Raka ketika mobil yang ia ikuti berhenti di rumah Sekar.


Disisi lain didalam mobil, Sekar meyakinkan Litha yang masih ragu untuk masuk ke dalam rumah dan menemui Fandy untuk yang terakhir kalinya, kecuali jika kondisi Fandy sudah membaik.


Setelah Sekar mengatakan kepada orang tuanya bahwa Fandy berhalusinasi tentang Fani, orang tua Sekar menghampiri Fandy. Dan benar saja saat orang tua Sekar memberitahu kebenaran tentang Fani yang sudah tiada, Fandy semakin tidak terkontrol. Fandy mirip sekali dengan orang yang sakit jiwa.


Hati Sekar remuk melihat Fandy berteriak tentang kembarannya yang sudah meninggal. Orang tua Sekar memutuskan untuk membawa Fandy ke rumah sakit jiwa, berharap semoga Fandy mendapat penanganan terbaik dan mendapat obat-obatan untuk memulihkan kondisinya agar kembali normal.


Mendengar cerita dari Sekar, membuat rasa benci Litha terhadap Fandy sirna seketika. Litha sedih mendengar kenyataan pahit yang dialami oleh keluarga Sekar.


"Jadi satu jam lagi pihak RSJ akan jemput Kak Fandy?" Raut wajah Litha terlihat sendu mendengar cerita dari Sekar soal bagaimana keadaan Fandy.


Sekar mengangguk lemah. "Semoga aja dengan kedatangan lo sebagai orang yang dicintai Fandy. Keadaan Fandy bisa lebih membaik," tak terasa air mata Sekar sudah membentuk anak sungai di pipinya.


"Apa gue bisa? Gue bukan dokter atau ahli psikolog," sahut Litha.


"Nggak ada yang tahu Tha sebelum kita coba," tutur Sekar.


"Gue mohon Tha. Elo satu-satunya orang yang Fandy cintai, siapa tau aja dia lebih membaik setelah ngelihat lo. Dan mungkin kalau lo yang ngasih tau kenyataan soal Fani, Fandy bisa dengerin elo," Sekar menggenggam tangan Litha.


"Gue nggak rela kalau sepupu gue di bawa ke rumah sakit," tangis Sekar pecah di dalam mobil.


Litha merasa iba melihat Sekar yang sesenggukan. Litha mampu merasakan betapa besarnya rasa sayang yang tulus dalam diri Sekar untuk Fandy. Bahkan Sekar melupakan jika orang yang ia tangisi pernah hampir membunuhnya dengan cara mencekiknya.


Senyuman bahagia terbit pada bibir Sekar saat Litha menyetujui keinginannya. Mereka berdua keluar dari mobil dan masuk ke rumah setelah sebelumnya Sekar mengelap air mata yang membasahi pipinya.


"Pa, Ma," Sekar menyapa kedua orang tuanya yang berada di ruang keluarga.

__ADS_1


Mama Sekar menoleh, merasa tidak asing dengan sosok gadis cantik yang berdiri disamping putrinya. Litha dan Sekar mencium punggung tangan kedua orang itu.


"Litha, kamu Litha?" tanya Mama Sekar menebak.


"Iya Tante. Litha ke sini mau lihat keadaan Kak Fandy. Apa boleh Om Tante?" Tanya Litha to the point.


Keduanya saling menatap, bingung apakah nantinya Fandy dapat mengontrol dirinya atau tidak saat bertemu lagi dengan gadis tambatan hatinya, yang sudah memiliki kekasih.


"Boleh yah Pa Ma. Litha kesini karena Sekar yang minta," Sekar membujuk orang tuanya.


"Jadi kamu yang memaksa Litha ke sini?" Tuduh Papa Sekar yang memang benar.


"Enggak kok Om, Sekar nggak maksa Litha," senyum Litha, tidak ingin jika Sekar dimarahi orang tuanya.


"Siapa tau aja kalau Litha nemuin Fandy, Fandy jadi lebih membaik Pa," ungkap Sekar.


Mama Sekar menggenggam tangan suaminya dengan tersenyum, berharap keinginan anaknya dituruti oleh Papanya. Mama Sekar sangat mengerti perasaan Sekar yang ingin mempertahankan Fandy untuk tetap tinggal di rumah dan tidak dibawa ke rumah sakit jiwa.


Akhirnya Papa Sekar memberi izin agar Litha masuk ke dalam kamar Fandy yang sengaja ia kunci. Karena Fandy berteriak histeris dan memberontak ingin keluar untuk mencari Fani, jadilah dengan terpaksa Papa Sekar harus mengunci Fandy di dalam kamar.


Kini Litha dan Sekar sudah ada di lantai dua, tepatnya didepan kamar Fandy. Namun Litha ragu untuk masuk ke dalam.


"Gue masuk sendiri nih?" Jujur Litha takut kalau sendiri.


"Ya udah gue temenin masuk sebentar," ucap Sekar.


"Kak Fandy aja yang dulu mentalnya masih normal bisa nyekik leher lo dan mau ngelahap gue. Apa lagi sekarang?" Jelas Litha.


"Iya. Sorry gue lupa," Sekar tersenyum kikuk mengingat kejadian yang tidak menyenangkan itu.


Sekar membuka pintu dengan kunci yang diberikan Papanya tadi. Perlahan ia membuka pintunya. Mereka terkejut bukan main saat mendapati Fandy berdiri tepat didepan pintu.


Bukan hanya terkejut, tapi mereka juga sedikit takut karena Fandy yang hanya diam mematung menatap Litha dengan tatapan kosong, keadaan Fandy pun begitu berantakan. Kantung mata hitam seperti panda, mata merah dan sembab seperti habis menangis ditambah lagi dengan rambutnya yang acak-acakan.


"Kak," panggil Litha memecah keheningan.


Detik berikutnya Fandy langsung memeluk Litha, membuat Litha tersentak kaget, begitupun dengan Sekar.


Fandy menumpahkan kesedihannya pada Litha. Litha hanya diam, tidak ingin membalas pelukan Fandy.


"Gue lihat dia Tha, dia ada. Dia masih hidup, walaupun penampilannya udah berubah tapi gue yakin itu dia Tha," ungkap Fandy menangis memeluk Litha.


"Gue ada di balkon, dia berdiri di pinggir jalan. Dia ngelihat gue sambil nangis. Gue mau turun ke bawah nemuin dia, tapi tiba-tiba ada Sekar. Gue bilang ke Sekar, tapi Sekar gak percaya dan nahan gue di sini. Terus gue balik lagi ke balkon, dia udah gak ada Tha," jelas Fandy menceritakan kejadian tersebut.


Litha melirik Sekar yang sudah meneteskan air matanya. Litha juga ikut merasakan kesedihan yang Sekar dan Fandy alami. Merindukan seseorang yang tidak bisa dijumpai secara langsung di dunia ini, terkadang memang sampai membuat berhalusinasi.

__ADS_1


Litha menepuk pundak Fandy dan mengusapnya juga beberapa kali. Setelah cukup puas memeluk gadis yang dicintainya, Fandy melepaskan pelukannya.


"Ke dalem yuk Kak!" Litha masuk ke dalam kamar bersama Fandy, dikuti Sekar.


Mereka duduk ditepi ranjang, Fandy dan Litha saling berhadap-hadapan. Sedangkan Sekar berada dibelakang Litha, Sekar hanya ingin menemani Litha dan hanya ingin menjadi pendengar.


"Seseorang yang udah meninggal kadang masih ada yang bisa hidup lagi," Litha tersenyum ke arah Fandy.


"Tapi nggak semua orang Kak! Fani udah meninggal satu tahun yang lalu, Fani udah tenang di sana Kak," Litha mengusap kedua pundak Fandy, agar Fandy mau mendengarkan dan mencerna kalimat yang diucapkannya.


"Lo nggak percaya sama gue Tha?" Tatapan Fandy tajam. Tapi bukan keseraman yang Litha lihat, ada sebuah rasa ketakutan dalam diri Fandy dan ada pula kesedihan yang mendalam.


"Percaya. Gue percaya Kak Fandy lihat Fani," Litha meneteskan air matanya.


"Tapi mungkin yang Kak Fandy lihat itu bukan kenyataan, itu cuma bayangan aja," Litha menjeda kalimatnya.


"Karena Kak Fandy kangen berat sama saudara Kakak, tapi Kak Fandy gak bisa ketemu secara langsung, jadi Kak Fandy lihat bayangan Fani yang seolah-olah nyata," jelas Litha.


Fandy mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Lo sama kayak yang lain Tha," Fandy kecewa terhadap Litha yang tidak mempercayainya.


Fandy menatap Sekar dan Litha bergantian. Fandy tahu, mereka juga merasakan rindu dan kesedihan yang Fandy rasakan, tapi mereka tidak percaya dengan ucapan Fandy.


Pemuda yang dalam keadaan berantakan tersebut perlahan menarik kedua sudut bibirnya, membuat Litha dan Sekar terkejut, lalu keduanya saling pandang.


"Kalian pasti ngira kalo gue frustasi, depresi, stres, gila. Hhh..." Fandy tertawa keras bagai tanpa beban.


"Kalian bener. Gue gila, gue gak waras hhhh...." Dengan tertawa Fandy bisa menutupi kesedihan dan kekecewaannya karena tidak ada satu orang pun yang percaya dengannya.


Dengan cepat Litha menggeleng-gelengkan kepalanya dengan rasa cemas menyelimuti hatinya. Sedangkan Sekar mulai ragu dengan kepercayaannya yang menganggap Fandy masih sehat.


Awalnya Sekar tidak percaya dengan ucapan orang tuanya yang menganggap Fandy sudah tidak normal. Tapi melihat fakta saat Fandy menangis lalu tiba-tiba tertawa keras, membuat kepercayaan yang telah Sekar bangun runtuh seketika.


"Pergi!" Fandy berteriak keras dengan menunjuk arah pintu keluar.


"Kak Fandy ngusir kita?" Litha tetap menggunakan nada rendah. Dia tidak membalas bentakan Fandy, karena Litha tahu Fandy dalam kondisi paling rapuh.


"Gue pingin sendiri, tapi gue gak boleh keluar dari tempat terkutuk ini, gue dikunci di sini," Fandy menatap tajam Sekar yang sedari tadi hanya diam saja.


"Kak Fandy tenang. Kontrol emosi Kakak," pupil mata Litha bergetar. Dia mulai takut melihat Fandy yang seperti ingin membunuh semua orang yang tinggal di rumah ini, termasuk Sekar.


"Kenapa?" Fandy masih menatap tajam.


"Apa karena gue akan dijemput mobil dari Rumah Sakit Jiwa?" Fandy tersenyum sinis menatap Sekar yang sesekali mengintip ke arahnya, memperlihatkan sebelah matanya. Yah Sekar menyembunyikan diri dibelakang Litha, karena terlalu takut untuk melihat Fandy.


Deg

__ADS_1


Litha dan Sekar sama-sama terkejutnya. Ternyata Fandy mengetahui rencana orang tua Sekar.


Cuma mau ngasih tau aja, ini Author gak punya kuota lhoh... Upload nya, minta tethering dari ortu 😆


__ADS_2