Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Si Pelit


__ADS_3

Sebuah mobil sport mewah berwarna hitam berhenti di salah satu hotel bintang lima. Suasana cukup sepi, tidak banyak orang yang berlalu lalang di sekitar area hotel, mungkin karena hujan turun dengan deras. Tidak ada yang tahu jika didalam mobil mewah yang baru terparkir tersebut, ada sedikit kericuhan.


"Kita beneran ke hotel?" tanya Litha.


"Kak, yang bener aja dong, ngapain malem-malem ke hotel?"


"Kalo Ayah sama Bunda tau gimana?"


"Oke enggak... Itu kecil kemungkinannya kalau mereka tau. Tapi kalo Bang Umran tau gimana kak?"


"Pasti Bang Umran udah mikir yang macem-macem,"


"Kalau misalnya Bang Umran punya pemikiran kamu ada niat jelek sama aku gimana?"


"Atauu... Bisa aja Bang Umran ngira kalau kamu nyulik aku,"


"Terus Bang Umran bilang ke Ayah Bunda. Terus mereka lapor polisi gimana? Bisa panjang urusannya Kak..."


Ya begitulah Litha kalau udah parno, nyerocos terus nggak ada rem nya. Raka aja sampai pusing mau bilang apa?


"Aku ada urusan sebentar," tutur Raka.


"Oh... Kirain," kini Litha dapat bernafas lega.


"Kirain apa? Kamu mikir aku ngajak kamu tidur bare..." tebak Raka belum terucap sepenuhnya, karena Litha memotong.


"Enggak," dusta Litha. Padahal pemikirannya emang udah traveling kemana-mana.


"Ada urusan apa disini?" Litha beralibi.


"Urusan penting," jawabnya.


Baiklah Litha tahu bahwa Raka tidak ingin memberitahu apa urusan penting tersebut. Toh juga Litha menanyakan hal tersebut hanya untuk mencari topik pembicaraan lainnya, agar Raka tidak membahas tentang pemikirannya yang tadi rada nyeleneh.


"Kamu mau nunggu di restoran hotel atau di lobby atau di mobil?" tawar Raka.


"Di restoran aja, sekalian mau makan hehe..." ucap Litha.


"Ada payung nggak?" tanya Litha saat hendak keluar, namun saat melihat rintik-rintik air hujan yang membasahi bumi membuat Litha mengurungkan niatnya. Ya gitu, dia nggak sadar kalau dari tadi udah turun hujan, kebanyakan ngomong sih!


"Tuh ada ojek payung," Raka menunjuk seorang laki-laki bersetelan jas rapi yang sedang setengah berlari menuju mobil Raka, dengan satu tangan menenteng payung dan tangan sebelahnya ia gunakan untuk memegang gagang payung untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Litha memutar bola matanya malas, "Ya kali ojek payung pakai jas gitu," sahut Litha membuat Raka terkekeh.


Mungkin orang itu adalah manajer di hotel ini, pelayanan hotel bintang lima memang top. Mereka bahkan tidak rela jika ada tamu yang kehujanan.


Di lobby hotel ternyata sangat ramai, berbeda jauh dengan suasana diluar hotel yang sepi. Semua pasang mata menatap ke arah sosok pemuda tampan berjas yang memberikan lengannya kepada gadis disampingnya. Litha menerima lengan Raka, tangan kecilnya merangkul lengan berotot yang ditutupi oleh kain hitam tersebut.


Heran, tentu saja para pengunjung hotel lainnya heran. Bukan karena Raka yang punya ketampanan diatas rata-rata, tapi karena gadis yang berada disamping pemuda itu memakai pakaian kasual.


Litha memakai kemeja polos tanpa lengan yang dipadukan dengan rompi jeans tanpa lengan serta celana jeans panjang, jangan lupakan juga sepatu sneaker putih polos. Sedangkan Raka memakai pakaian formal ditambah pula dengan sepatu pantofel yang mengkilap hitam itu. Pakaian mereka sungguh tidak cocok sekali jika berdampingan seperti itu.


Kini mereka berdua telah berada di salah satu meja restoran mewah. Litha sudah memesan makanan terlebih dahulu.


"Kamu beneran nggak makan dulu?" tanya Litha.


"Enggak, kamu aja," jawabnya.


Tak lama handphone Raka menyala, tertera di layar ponselnya ada notifikasi chat, entah dari siapa Litha tidak tahu. Raka menunduk mengecek ponselnya, dia melirik sekilas ke depan, dimana Litha berada. Lalu netranya kembali ke arah ponsel.


Litha hanya cuek-cuek saja. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling restoran mewah tersebut.


"Aku tinggal sebentar yaa. Kamu nunggu aku sambil makan aja, nggak lama kok. Paling aku udah kesini lagi sebelum kamu ngabisin makanannya," ujar Raka yang malah membuat Litha tertawa renyah.


"Kenapa? Ada yang lucu?" heran Raka, karena menurutnya tidak ada suatu hal yang bernilai lelucon.


"Biar kamu nggak ngerasa kalau aku nyuekin kamu," balas Raka.


"Ekhem..." Litha berdeham, nggak tau kenapa tiba-tiba tenggorokannya terasa kering. Sedetik kemudian Litha tersenyum membuat Raka heran dengan sikap gadis cantik itu.


"Kenapa?" heran Raka.


"Kamu ganteng," Litha terkekeh geli dengan ucapannya yang blak-blakan, plus tidak nyambung dengan pembicaraan diawal tadi.


Raka mulai menarik sudut bibirnya, namun segera dicegah oleh Litha. Si pelit yang nggak ikhlas kalau ketampanan Raka yang ganteng kuadrat dilihat banyak orang.


"Jangan senyum!" perintah Litha.


Raka mengerutkan dahinya, "Kenapa?"


"Aku nggak rela kalau ada yang lihat kamu lagi senyum," jujur Litha.


"Jangan jadi orang pelit," sahut Raka.

__ADS_1


"Kamu sih, punya muka gitu amat," Lhah... ini kok si pelit malah nyalahin muka yang gantengnya gak manusiawi itu?


"Ini ciptaan dari yang maha pencipta lhoh... Kamu nyalahin yang nyiptain muka aku?" sahut Raka.


"Enggak," jawabnya membela diri.


"Terus?" tanya Raka meminta penjelasan.


"Kamu berpenampilan terlalu bagus, jadi menambah pesona kamu deh... Harusnya kamu pake baju yang jelek jangan pake kemeja sama jas gitu," terang Litha, membuat Raka tersenyum.


"Ikh... Kok malah senyum sih Kak," protes Litha saat melihat Raka yang tidak menuruti perintahnya, Raka malah tersenyum lebar.


Litha melihat ke sekeliling, mengecek apakah ada kaum hawa yang melihat pemandangan yang menyegarkan indera penglihatan itu atau tidak?


Benar saja, siapa yang bisa menolak pesona seorang Raka Adelard Pangestu? Ada salah satu meja yang ditempati oleh beberapa gadis yang sedang berbisik-bisik dengan pandangan mengarah pada Raka.


"Tuh kan dilihatin cewek," Litha memberengutkan wajahnya.


"Mana?" tanya Raka.


Litha menunjuk empat gadis itu dengan mengangkat dagunya ke arah samping kiri. Pandangan Raka mengikuti arah dagu Litha.


Mereka tersenyum manis saat mata mereka bertemu dengan Raka yang hanya datar-datar saja. Di saat itu pula makanan dan minuman yang Litha pesan diantar oleh pelayan.


"Tuh kan mereka senyum," ucap Litha.


Raka menoleh ke arah Litha, tak sengaja pandangan Raka bertemu dengan pelayan resto itu.


"Ganteng banget," gumam pelayan itu setengah sadar, dengan senyum mengembang memandang wajah rupawan milik Raka. Sebuah gumaman tetapi masih terdengar oleh telinga Raka dan Litha.


"Cepet pergi gih, katanya ada urusan penting," sahut Litha.


Alasan doang itu, aslinya mah Litha masih nggak ikhlas kalau ada yang memuji ketampanan Raka. Bukan memuji, tetapi berbagi pemandangan yang dapat mencuci mata mereka. Pelit banget kan? Banget....


"Iya. Selamat makan sayang," setelah itu Raka langsung pergi begitu saja.


Sekelebat bayangan tentang masa awal-awal memiliki hubungan spesial dengan Raka, berputar dipikiran Litha.


Yups, selamat makan sayang, kalimat yang pernah diucapkan Raka saat Litha berada di perpustakaan sekolah. Seingat Litha waktu itu adalah pertama kalinya Raka mengucapkan kata sayang untuk Litha.


Maafkan Author yang baru bisa upload sekarang. Karena selama beberapa hari belakangan ini ada salah satu anggota keluarga Author yang lagi dirawat di RS, semoga beliau cepat sembuh, Aamiin.

__ADS_1


Maklumin aja ya kalau feel nya kurang dapet. Ini aja Author maksain buat berpikir, biar bisa upload.


__ADS_2