
"Tha..." panggil Fandy, agar Litha menghadapkan wajahnya ke arah Fandy.
"Kak Fandy jahat," lirih Litha disela tangisannya, yang sukses membuat hati Fandy terenyuh. Namun Fandy akan tetap melakukan sesuai dengan rencananya.
Fandy hendak mencium bibir mungil Litha. Walau wajah Litha menghadap ke samping, itu tak membuat Fandy kesusahan untuk menggapainya, mengingat Fandy yang lebih tinggi dari Litha.
Litha mulai risau dan gelisah, sebelumnya Litha tidak pernah berciuman dengan laki-laki manapun. Kecuali ayah kandungnya sendiri, itu pun waktu Litha masih kanak-kanak. Saat Litha sudah memasuki sekolah dasar, ayah Kusuma tidak pernah mencium bibir Litha.
Fandy memiringkan kepalanya, jarak wajah keduanya hampir habis. Dengan segera Litha merubah posisi kepalanya dan arah wajahnya, dia mengarahkan wajahnya lurus ke depan lalu menundukkan kepalanya kebawah, dengan air mata yang terus mengalir.
"Ck.. Sial," Fandy berdecak kesal. Jika sudah begini, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Dita tersenyum miring, dia keluar dari tempat persembunyiannya dengan mengarahkan ponselnya pada Litha dan Fandy.
"Ekhem," Dita berdeham.
Litha mendongakkan kepalanya, terkejut, itulah Litha sekarang. Jadi mereka berkerja sama?
Dita mendekat ke arah Litha, ponselnya mengarah tepat ke wajah ayu milik Litha. "Kalau lo nolak ciuman dari Fandy, itu artinya lo ingin video ini kesebar," ancam Dita.
"Silahkan karena gue gak ngelakuin apa-apa sama dia," ucap Litha tanpa mau menyebutkan nama Fandy.
"Ohh.. ya gue lupa kalian kan belum ciuman. Tapi akan ciuman!! video itu bisa gue potong. Dimana nanti yang gue post di sosmed pas adegan kalian seolah-olah akan ciuman," ucap Dita dengan senyum yang sedari tadi tidak luntur dari bibir merahnya.
"Emang belum kecium beneran sih, tapi gue yakin video itu cukup membuat orang tua lo kecewa," sambungnya.
"Apa mau lo?" pasrah Litha kemudian. Dia mengerti dan cukup peka terhadap ancaman dari Dita.
Dita mematikan ponsel yang dibawanya dan menyimpannya didalam saku seragamnya. "Jangan nolak ciuman dari Fandy,"
"Kalian..." geram Litha.
Mata Litha terpejam, tapi air mata terus mengalir membasahi pipinya, keringat dingin mulai bercucuran membasahi pelipisnya. Tenaganya sudah terkuras habis akibat tadi ia yang sempat memberontak karena dipeluk oleh Fandy.
__ADS_1
"Tenang aja gue gak ngerekam aktivitas kalian. Tujuan gue cuma satu. Gue ingin jadi saksi mata perselingkuhan yang kalian buat," dusta Dita. Faktanya Dita masih menyimpan salah satu ponsel yang merekam kejadian tersebut. Licik bukan?
"Ups... Salah. Cuma elo doang yang selingkuh," ucap Dita dengan menunjuk bahu Litha.
Brak....
Pintu terdobrak hingga menimbulkan suara yang keras, tak lama kemudian muncullah beberapa orang dengan amarah yang berapi-api.
Dita terkejut saat melihat sosok pemuda tersebut, detik selanjutnya Dita tersenyum miring. Rencananya memang gagal, tapi masih ada hal baik juga. Yaitu pemuda itu datang diwaktu yang tepat dimana posisi Fandy saat ini, pasti semakin memicu amarahnya.
Fandy tidak menghiraukannya, karena dia sudah memiringkan kepalanya mendekat ke wajah Litha yang nampak pasrah dan tidak perduli juga dengan suara itu. Tidak, bukan tidak perduli, tapi Litha terlalu muak untuk melihat wajah tampan Fandy yang sudah mendekat ke wajahnya.
Brugh...
Suara selanjutnya ialah Fandy yang jatuh ke lantai akibat pukulan yang sangat keras dari Raka, yang didukung pula oleh amarahnya, tentunya itu semakin menambah tenaga untuk memukul Fandy.
Perlahan Litha mulai membuka matanya, dia masih menangis. Dia tidak tahu harus bagaimana saat melihat The Perfect dan Sarah yang nampak ikut sedih juga karena melihat dirinya yang sedang menangis.
"Anji*g," maki Raka.
Bugh... Bugh...
Belum juga Fandy berdiri dan masih memegang rahangnya yang terasa sakit, Raka sudah memukulinya lagi. Raka membungkuk dengan satu kaki yang menginjak dada Fandy, lalu kedua tangannya sibuk menonjok wajah Fandy.
Sarah mendekat ke arah Litha yang masih sesenggukan, dia merangkul dan mengusap-usap bahu Litha. Saat ritual tonjok menonjok yang Raka lakukan, disaat itu juga The Perfect dan Sarah yang tengah menenangkan Litha, menatap tajam ke arah Dita.
Dita yang merasa dirinya tidak aman lantas segera melarikan diri. Dita berlari ke arah pintu samping, pintu yang menghubungkan ruang ganti tersebut dengan ruang yang digunakan untuk menyimpan keperluan alat basket dan seragam khusus tim inti basket saat akan melakukan pertandingan.
"Woi jangan kabur," teriak Leon. Tapi percuma saja, Dita sudah berada di ruang sebelah, dan bisa dipastikan detik berikutnya dia sudah keluar dari ruangan sebelah.
"Udah biarin aja, kita urus dia nanti," sahut Jordy.
"Udah Ka, stop," Danil ngeri sendiri ngelihatin Raka yang kelihatan masih nafsu banget nonjokin muka Fandy, padahal muka Fandy udah babak belur.
__ADS_1
Agh... Fandy menahan rasa sakitnya.
Bugh.. Bugh.. Raka tidak menghiraukan ucapan Danil, dia sangat marah.
Entahlah kenapa amarahnya tak mereda sedari tadi. Apa mungkin Raka mengira Fandy telah mencium Litha? Tidak ada yang tahu, kecuali Fandy dan Litha sendiri serta sang maha pencipta. Karena posisi keduanya tadi memang sangat dekat, serta bibir Fandy terlihat basah, ditambah pula dengan Litha yang masih menangis. Akh... Sial rasanya Raka ingin menghabisi nyawa Fandy saja.
"Tha, lo udah ci..." tutur Sarah menggantung. Sarah tidak berani melanjutkan perkataannya saat mata Litha yang sembab itu menatapnya.
"Stop Ka. Dia udah pingsan!" seru Leon. Yups Fandy bahkan sampai tak sadarkan diri karena Raka terus saja memukuli wajahnya. Wajah tampan Fandy kini sudah berlumur darah, matanya membengkak.
Leon yang diacuhkan oleh Raka, menjadi jengkel sendiri. Dia mencoba menarik tubuh Raka, tapi tetap saja kekuatannya tidak cukup untuk merobohkan pertahanan Raka.
"Tha," panggil Leon yang mengartikan bahwa hanya Litha yang mampu menghentikan aktivitas Raka saat ini.
Gadis yang berada dirangkulan Sarah, menoleh. Dia mengerti maksud Leon, namun Litha masih enggan untuk melakukan apa yang Leon suruh, mengingat bagaimana sikap Fandy yang tidak sopan terhadap dirinya. Tapi akhirnya Litha tidak tega juga melihat kondisi Fandy saat ini, bagaimana pun juga Fandy dulu pernah berteman baik dengannya.
"Kak Raka stop," tutur Litha dengan volume pelan, tetapi berhasil memberhentikan tangan Raka yang hendak menonjok Fandy. Entah tonjokan yang keberapa, yang pastinya Raka telah menonjok Fandy hingga puluhan pukulan.
Raka berdiri dengan nafas yang memburu. Kaki yang awalnya berada diatas dada bidang milik Fandy, kini sudah pindah ke tempat yang semestinya, diatas lantai.
Namun anehnya Raka sama sekali tidak menunjukkan ekspresi puas, mengingat Raka yang sedari tadi melampiaskan amarahnya dengan menonjok Fandy. Raka masih menatap tajam ke arah Fandy yang sudah tidak sadarkan diri.
Sekelebat bayangan tentang pemandangan pertama yang tidak menyenangkan yang dilihat oleh Raka kembali memenuhi otaknya. Raka membungkukkan badannya lagi, dan menonjok wajah Fandy lagi. Sepertinya Raka benar-benar mempunyai niatan untuk memisahkan nyawa Fandy dari tubuh Fandy.
"Stop Kak!!" Seru Litha sembari menarik Raka dengan merangkul dada bidang Raka dari samping.
Sejujurnya Litha hanya memegang dada Raka saja, dia menarik Raka dengan tenaga yang sangat sedikit. Namun tarikan yang bagai tanpa tenaga itu justru mampu membuat Raka luluh.
Raka kembali berdiri tegak, lalu memeluk Litha dengan perasaan yang campur aduk, mungkin Raka berpikir diantara Litha dan Fandy sudah bersentuhan bibir. Gadis itu membalas pelukan Raka, Litha memeluk pinggang Raka dengan sangat erat, seolah-olah Raka adalah benda berharga yang baru ia temukan dan tidak boleh lepas dari genggaman.
Raka tidak tega melihat Litha yang menangis sesenggukan seperti ini. Raka juga dapat merasakan rasa ketakutan yang ada pada diri kekasihnya, terbukti dari Litha yang memeluknya dengan erat sekali.
Semoga kalian tetap setia menunggu Up dari Author🥰 Jangan marah atau ngambek atau kecewa karena Author jarang Up ya✌️ Author baru bisa upload sekarang, dikarenakan Author sibuk.
__ADS_1