
Kelompok koas Litha berlari karena semua dokter dan perawat yang bertugas melaksanakan operasi sudah bersiap di ruang operasi. Mereka berlima agak telat karena baru saja menyelesaikan tugasnya saat bersama dokter pembimbing lain.
"Mati kita! Waktunya tinggal sisa satu menit doang. Kalau kita sampai telat satu detik doang siap-siap nama kita ditandaiin sama Dokter Raka," ucap salah satu dari mereka sambil terus berlari menuju lift untuk naik lantai dua.
"Dokter Raka?" Tanya Litha dengan ekspresi bodohnya.
"Iya, denger-denger operasinya nanti ada Dokter Ken juga yang kemarin jadi dokter pembimbing kita," sahut Nara.
Didalam lift Litha mengecek pesan dari Raka dua jam lalu, dia mengatakan akan melakukan operasi kanker hati.
"Operasi kanker hati?" Tatapan Litha kosong, melihat pesan itu, dia jadi ketar-ketir takut melakukan kesalahan saat operasi berjalan.
"What? Serius?"
Litha mengangguk sambil memegang dadanya.
"Itu operasi besar guys, nyawa taruhannya. Mana kita gak ada persiapan apa-apa lagi? Ini pengalaman pertama kita ikut operasi. Kalau tiba-tiba gue pingsan disana gimana?" Ucap teman Litha yang paling heboh diantara yang lain.
"Kalo lo pingsan gue langsung bawa lo ke ruang mayat!" Balas Litha karena terlalu malas mendengar ocehan temannya yang tidak bermutu. Teman kelompoknya yang lain langsung memberikan jempol untuk Litha.
"Gimana lo bisa tau operasi itu Tha?" Tanya Nara.
Litha gelagapan ditatap semua temannya. "Ee.. itu anu,"
Pintu lift terbuka dan mereka segera berlari tidak memperdulikan jawaban Litha lagi. Nara menarik tangan Litha.
Litha berlari mengikuti Nara yang menarik tangannya. "Aduh kok tiba-tiba gue jadi ngantuk ya Nar?" Ucap Litha melihat pergelangan jam ditangannya yang menunjukkan angka sembilan.
Plak!
Nara berhenti sebentar dan menampar pipi Litha agar rasa kantuknya lenyap. Lalu Nara kembali menarik tangan Litha agar berlari lebih cepat.
__ADS_1
"Tega lo sama gue," Litha memegang pipinya yang terasa panas.
Lima anak koas berhenti setelah lari maraton, mereka memegang lututnya yang terasa ingin patah dengan keringat bercucuran didahi dan nafasnya yang ngos-ngosan.
"Ekhem," Raka berdeham yang mana membuat mereka berlima mendongakkan kepalanya dan tersenyum lebar melihat dokter dan perawat yang telah siap memakai baju steril operasi warna hijau.
Disana sudah ada empat dokter dan dua perawat yang akan membantu dokter dan membimbing anak koas agar ikut membantu dokter yang bertugas melaksanakan operasi.
"Maaf Dok kita gak ikut briefing karena baru aja selesai tugas dari dokter pembimbing departemen Unit Medis," ucap salah satu dari mereka.
"Saya tidak butuh alasan kalian. Cepat bersiap! Saya beri waktu 20 detik!" Tegas Raka langsung meninggalkan mereka.
"What?" Pekik mereka berlima.
"Udah, cepetan kalian siap-siap, gak usah banyak protes. Dokter Raka itu galak," ucap salah satu suster disana.
Semua dokter dan perawat telah pergi, hanya meninggalkan dokter muda yang matanya fokus kepada Litha.
"Ciee Litha..." Seru keempat teman Litha. Gadis itu hanya menghelai nafasnya saja.
Mereka berlima masuk dalam ruangan operasi, lampu sudah dihidupkan tanda akan dilaksanakannya operasi yang dipimpin oleh Dokter Raka. Ruangan operasi itu tampak mencekam apa lagi semua dokter dan perawat di sana tampak fokus, hanya ada kata-kata perintah yang keluar dari mulut sang dokter dan perawat yang membimbing anak koas.
Sesekali Litha mencuri pandang kepada Raka yang begitu fokus dengan pekerjaannya. Untuk pertama kalinya Litha melihat sendiri bagaimana seorang Raka melaksanakan pekerjaannya sebagai seorang Dokter bedah spesialis tumor. Keringat mengalir didahi Raka, salah satu perawat mendekat dan menggusap keringat dikening Raka mengunakan tisu.
"Ekhem," Litha berdeham yang tentu saja membuatnya kini menjadi pusat perhatian semua orang yang ada disana, terkecuali Raka yang sibuk dengan pasiennya.
Litha jadi gugup sendiri ditatap oleh mereka. "Ee.. Serak, tenggorokan rasanya kering, belum minum dari tadi," Litha memegang lehernya dan tersenyum kikuk dibalik masker steril nya.
Semuanya kembali fokus kepada pekerjaan masing-masing. Tangan Litha menggenggam kuat gunting yang dipegangnya, tatapannya tajam melihat Raka yang tidak meliriknya sama sekali.
Di akhir-akhir waktu berjalannya operasi mata Raka dan Litha tak sengaja bertemu. Tatapan Raka yang sedari awal tajam, seketika menjadi teduh saat matanya berpapasan dengan mata Litha.
__ADS_1
Deg. Litha merasakan jantungnya berdegup keras. Padahal mereka juga udah sering saling tatap, tapi Litha merasakan sensasi baru kala ditatap oleh Raka dalam ruangan operasi yang mencekam ini.
Bersamaan dengan itu Litha langsung menundukkan pandangannya, matanya melirik ke arah Dokter Ken yang sedari tadi mengawasi mereka berdua.
"Alhamdulillah," seru keempat dokter tersebut setelah itu lampu operasi dimatikan. Pasien berhasil diselamatkan meskipun operasi kali ini memiliki resiko tinggi.
Lima anak koas bernafas lega setelah suasana yang menegangkan dalam ruangan operasi.
Seperti biasa Raka keluar lebih dulu, dia yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan operasi dan dia yang akan menjelaskan keadaan pasien kepada pihak keluarga.
"Kalian berlima bantu para suster untuk membersihkan alat-alat ini!" titah Dokter Ken kepada peserta koas yang mengangguk patuh.
"Malam ini yang jadi dokter pembimbing kita, Dokter Ken lagi?" Tanya Nara.
"Iya, saya harap kalian tidak bosan. Litha, setelah ini saya tunggu kamu di ruangan saya," ucap Dokter Ken.
"Kita berempat enggak Dok?" Tanya salah satu dari mereka.
"Saya hanya membutuhkan Litha. Kalian berempat jaga di Unit rawat inap bersama suster yang bertugas malam ini, disana juga terdapat beberapa kelompok peserta koas yang lain," jelas Dokter Ken setelah itu berlalu dari sana.
Setelah kelompok Litha selesai membantu perawat membereskan alat-alat yang tadi digunakan operasi. Mereka berlima berjalan menuju lift untuk naik lantai tiga, dimana itu adalah tempat untuk ruangan pasien rawat inap.
"Kayaknya Dokter Ken naksir deh sama lo," ucap salah satu dari mereka kepada Litha.
"Gak mungkin, orang kayak gue apanya yang disukain?" Litha merasa ada wanita yang lebih cantik dari dirinya, toh selama ini juga Litha tidak memakai make-up. Dia hanya memakai pelembab wajah dan lipgos tipis, bulu mata Litha sudah lentik alami jadi dia tidak perlu repot-repot menjepit bulu matanya dan memakai maskara.
"Kalo lo ladenin juga gpp kali Tha. Dokter Ken itu kan ganteng, kaya lagi. Jadi lo bisa numpang hidup sama dia," Nara tertawa geli dengan ucapannya.
"Ngawur lo udah sono masuk!" Litha mendorong tubuh Nara agar segera masuk lift mengikuti teman kelompoknya yang lebih dulu masuk lift.
Sedangkan Litha akan berjalan lurus mencari ruangan Dokter bedah umum yang masih berada dilantai dua ini.
__ADS_1