Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Baik Hati


__ADS_3

Flashback On


Raka menghentikan langkahnya sesaat ketika menyadari ada Via di lobby, wanita itu terlihat duduk santai. Raka melanjutkan langkahnya lagi melewati Via seolah Raka tidak mengenalinya.


"Raka," seseorang menahan lengan Raka.


"Ada apa?" Raka menoleh dan melepas tangan yang memegang lengannya.


"Aku ke sini mau ketemu kamu," balas Via.


"Saya sibuk," jawab Raka dingin.


"Kenapa kamu batalin pemotretan gitu aja?" tanya Via pura-pura tidak tahu.


"Saya sibuk," jawab Raka lagi-lagi dingin.


"Bohong!" suara Via meninggi.


"Kata Oma kamu gak suka bohong, kenapa sekarang kamu bohong sama aku. Kamu lagi berduaan sama cewek kamu kan?" ujar Via dengan nada tinggi.


"Jika kamu sudah tahu lantas kenapa masih bertanya? Saya tidak bohong, saya sibuk berduaan dengan kekasih saya," jelas Raka dengan tersenyum sinis melihat wajah Via yang sudah merah padam karena menahan amarahnya.


"Kamu gak bisa giniin aku. Aku calon tunangan kamu," Via berteriak, sehingga membuat diri mereka menjadi pusat perhatian orang yang berada di sana.


Raka tidak menjawab, dia melangkah menuju pintu keluar. Sebelum sampai pintu, Via menahan lengan berotot itu lagi.


"Kamu mau kemana?" tanya Via pura-pura tidak tahu lagi.


"Ambil makan," jawab Raka seperlunya.


"Ini.." Via menyerahkan dua buah kantong plastik yang berukuran lumayan besar.


Raka mengerutkan keningnya, menuntut Via menjelaskan mengapa makanan yang ia pesan online bisa ada pada Via.


Via menjelaskan jika dia tidak sengaja bertemu dengan mbak-mbak yang memakai jaket delivery makanan yang seperti orang kebingungan. Lalu Via menawarkan bantuan kepada mbak tersebut, dan ternyata mbak itu mengatakan pesanan makanan tersebut atas nama Raka.


"Terimakasih," Raka mengangguk mengerti dengan penjelasan Via.


"Sama-sama," Via tersenyum.


Sejujurnya Via tidak akan menawarkan bantuan kepada mbak tersebut jika pesanan makanannya bukan atas nama Raka. Oh ralat, hal pertama yang Via tanyakan kepada mbak pengantar makanan adalah nama orang pemesan makanan itu, bukan menawarkan bantuan. Dan tebakan Via benar, Raka lah yang memesan makanan tersebut.


Via hanya ingin menarik simpati Raka. Dia berharap Raka memiliki pemikiran jika dirinya sangat baik hati dan suka menolong seseorang yang sedang kesusahan.


Raka hendak pergi, tapi sebelum itu terjadi Via segera menahan lengan Raka lagi.... "Aku kesini mau ketemu kamu, tapi setelah aku tahu kamu ke sini sama cewek kamu, aku jadi gak berani masuk apartemen kamu,"


Raka hanya diam, membuat Via mengumpat dalam hati. Bahkan Raka tidak menatap Via.


"Aku boleh ketemu dan kenalan sama cewek kamu? Aku janji nggak akan bilang kalau aku calon tunangan kamu," Via tersenyum penuh harap.


"Saya tidak bodoh! Jauhi Litha!" Tegas Raka menatap tajam Via dan menepis tangan Via dari lengannya.


Via menatap kepergian Raka, hingga punggung Raka tak terlihat. Via tersenyum miring, ternyata calon tunangannya tidak sebodoh yang ia kira.


"Jadi kamu tahu kalau aku sengaja deketin Litha karena dia pacar kamu. Raka-Raka... Kamu emang cocok sama aku, kita sama-sama pintar," gumam Via membanggakan diri.


Flashback Off


"Aaaaa....." Litha berteriak keras saat Nick menggigit telapak tangannya.


"Kak Raka..." seru Litha ketika melihat Raka baru datang di depan pintu dengan menenteng dua buah kantong plastik.

__ADS_1


"Nick!" Seru Raka berteriak keras.


Tatapan mata Raka amat tajam menatap Nick, rahangnya mengeras, kantong plastik dua-duanya sudah tergeletak dilantai, kedua tangannya mengepal kuat, dadanya sudah naik turun bersamaan dengan nafasnya yang sudah tak beraturan.


Nick menoleh mendengar namanya dipanggil. "Rakaa.." ucap Nick menyapa Raka dengan santai. Dia tidak tahu saja bagaimana nasibnya kedepannya.


"Brengsek!" Raka menjatuhkan pukulan keras pada wajah Nick sampai Nick jatuh tersungkur ke lantai.


Raka menginjakkan kaki sebelahnya pada dada bidang Nick dan meninju wajah Nick berkali-kali. Tidak perduli jika sahabatnya sendiri sudah tak sadarkan diri, darah mulai keluar dari sudut bibir dan mata Nick. Sama persis seperti kejadian saat Raka menghajar Fandy sampai masuk rumah sakit.


Tapi sepertinya Nick pingsan bukan karena pukulan dari Raka, melainkan karena Nick yang sudah mabuk berat.


"Kak stop," berkali-kali Litha teriak, tetapi tak dihiraukan oleh Raka. Seakan-akan telinga Raka tuli karena tertutupi oleh amarahnya.


Umran yang baru datang dibuat terkejut melihat pemandangan yang tidak menyenangkan itu. Nick, sahabat lamanya ada di Indonesia, di apartemen Raka? Dan apa sebabnya Raka menghajar Nick?


Litha tak sengaja menoleh melihat Umran yang tertegun menatap Raka yang asik memukuli orang. Membuat Litha kesal sendiri, ada orang berantem malah dilihatin doang, ingin rasanya dia memukul kepala abangnya.


"Bang Umran," panggil Litha membuyarkan lamunan Umran.


Umran menatap Litha dengan wajah cengo. "Pisahin!" ucap Litha kesal kepada Umran.


"Eh iya, lupa," sahutnya membela diri. Litha memutar bola matanya jengah. Umran menarik paksa pundak Raka agar menjauh dari Nick.


Nafas Raka masih tidak beraturan, dia menatap tajam Nick yang sudah pingsan.


"Lo kenapa? Kesambet?" Heran Umran.


Raka menoleh kepada Umran sekilas. Kemudian beralih menatap Litha dengan lekat namun tatapannya belum bisa dikondisikan. Tatapan mata Raka masih tajam melihat Litha yang juga balik menatapnya.


Hufhh... Raka menghembuskan nafasnya dengan memejamkan matanya sebentar. Menatap Litha kembali, Litha tersenyum ketika tatapan Raka sudah tak setajam tadi.


"Maaf," ucap Raka meminta maaf karena tidak bisa mengontrol emosinya.


Raka dan Umran menoleh kebelakang, dilihatnya Litha yang mengambil dua kantong plastik yang tergeletak di lantai. Umran menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Raka dan Umran membopong tubuh Nick menuju kamar Raka. Selanjutnya Raka menceritakan semuanya dari awal tentang kedatangan Nick ke Indonesia kepada Umran dan Litha, disaat itu pula Raka baru ingat kalau Nick lagi mabuk berat. So dia gak sengaja mau nyakitin Litha.


"Jadi Nick ini temen kalian?" tanya Litha menatap tajam dua manusia tampan dihadapannya. Iya tatapannya tajam gitu, kayak gak terima gitu kalau Raka melakukan kekerasan sama sahabat sendiri.


Keduanya mengangguk pasrah, pasti mode cerewet binti bawel yang ada dalam diri Litha akan muncul. Yah meskipun ocehan Litha itu bukan diperuntukkan bagi Umran, tetapi tetap saja Umran juga mendengarnya.


"Ada obat merah nggak?" Tanya Litha pada Raka.


'Lhah kok nanyain obat? Dia gak ngomel-ngomel?' Batin Raka dan Umran.


"Ada, di laci situ," jawab Raka menunjuk nakas didekat Umran.


"Ambilin!" Perintah Litha dengan menatap tajam Umran.


Umran mengambilnya tanpa protes, dari pada nanti malah kena semprot adeknya yang kelihatan lagi kesel banget.


Raka dan Umran saling pandang saat melihat Litha mengobati luka yang ada pada wajah blasteran milik Nick. Ternyata dugaan mereka salah, buktinya Litha hanya diam saja, mungkin sisi cerewetnya sudah hilang dalam diri seorang Litha Kusuma Jaya Nagara.


"Aku nggak suka kalau Kak Raka nyakitin sahabat sendiri," Litha memulai pembicaraan.


Raka dan Umran lagi-lagi saling pandang dengan menghembuskan nafasnya. Ternyata belum hilang, pikir mereka.


"Aku tahu dia salah. Tapi nonjoknya gak sampai pingsan juga kali, kalau dia kenapa-kenapa gimana?" tambah Litha masih dengan mengobati luka Nick.


Karena tidak mendapat sahutan dari Raka, Litha jadi jengkel sendiri. "Jawab dong Kak!" Tegas Litha.

__ADS_1


"Yaaa... dibawa ke rumah sakit," jawab Raka yang sejujurnya ragu untuk mengatakannya. Raka yakin jawabannya pasti salah, tapi kalau diem juga salah.


"Terus kalau orang tuanya minta pertanggungjawaban gimana? Kalau orang tuanya marah ke Kakak?" Suara Litha meninggi.


Whahaha.... Gelak tawa keluar dari mulut Umran. Litha menatap tajam abangnya yang tidak lihat-lihat kondisi, ceritanya Litha kan lagi marah, kok abangnya yang kampr*t itu malah ngakak. Raka menatap Umran dengan tatapan malas, dia tahu pemikiran Umran.


"Orang tuanya gak ada yang perduli sama dia Tha. Dia masih hidup atau udah mati aja orang tuanya bodo amat," ungkap Umran yang memang kenyataannya begitu.


Tapi gak gitu juga sih, kalau nanti mati juga pasti pemakamannya diurusin kok sama ortunya hehe... Tugas Papanya Nick hanya satu, yaitu tidak telat mengirim uang bulanan untuk Nick.


Orang tua Nick sudah muak dengan kelakuan Nick yang sering mabuk, sudah dinasehati tetapi Nick masih tetap pada pilihannya. Nick masih tidak rela jika Papanya yang asli orang Amerika menikah lagi dengan seorang janda asli Indonesia. Cantik sih, tapi Nick belum rela posisi mendiang Mamanya digantikan oleh janda tersebut.


"Aku mau setelah dia sadar, kamu minta maaf ke dia," sahut Litha kepada pelaku kekerasan. Siapa lagi kalau bukan Raka.


"Iya," Raka juga sadar, jika dalam masalah ini baik dirinya maupun Nick, kedua-duanya juga salah.


"Kak, aku gak mau kamu terlihat jahat sama temen sendiri. Aku tahu kamu kayak gini buat ngelindungin aku, aku berterimakasih akan hal itu. Tapi kamu harus kontrol emosi kamu, kamu harus bisa bedain mana orang yang sengaja atau gak sengaja yang mau nyakitin aku," Litha memberikan pengertian serta nasehat kepada Raka dengan volume suara yang rendah, tidak seperti tadi yang terkesan memarahi Raka.


"Iya," Raka tidak tahu lagi harus mengucapkan kata apa selain iya.


Raka merangkul pundak Litha, mendekatkan Litha pada dirinya. Cup, dikecupnya kening Litha cukup lama, menyalurkan perasaan cinta dan sayang kepada gadis yang berstatus sebagai kekasihnya.


Baik Hati. Dua kata yang cocok untuk Litha. Gadis cantik ini bahkan melupakan bahwa Nick hampir menyakitinya, ketika tahu Nick adalah sahabat dari saudaranya dan kekasihnya. Tidak ada rasa benci sedikit pun dalam diri Litha untuk Nick, Litha memaklumi Nick yang berada dalam pengaruh alkohol.


"Woi ada abangnya ini. Main sosor aja lo," sindir Umran.


Litha tersenyum tipis melihat Raka yang langsung memasang tampang kesal saat melepaskan ciumannya.


"Cuma cium kening juga," sahut Raka membela diri.


"Kalau kebawa nafsu gimana? Mata gue yang masih suci bisa kotor kalau lihat adegan live kalian," ujar Umran sok suci.


Raka tersenyum menatap Litha, begitupun dengan Litha yang juga tersenyum dengan mengangkat sebelah alisnya saat menatap Raka. Sepertinya mereka memiliki ide jail untuk mengerjai Umran.


"Mau lihat?" Tawar Raka kepada Umran.


"Ga ada akhlak lo," ketus Umran membuat Raka dan Litha terkekeh.


"Kita live didepan Umran yuk!" Raka tersenyum menaik turunkan kedua alisnya.


"Hayuk..." Litha tertawa melihat keterkejutan ekspresi Umran.


Umran segera membuang ekspresi yang terlihat bodoh itu, dia menatap tajam adiknya yang gampang sekali diajak begituan dengan Raka.


"Bercanda Bang," Litha tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya dan memperlihatkan dua jari yang membentuk huruf V.


"Serius Tha," sahut Raka dengan tampang serius.


Tatapan Umran beralih menatap Raka dengan tajam. Raka balik menatap Umran, tanpa ada rasa takut-takutnya. "Kenapa? Nggak boleh?"


"Ya nggak boleh lah," sewot Umran.


"Sayangnya kita udah pernah ngelakuin," santai Raka berlalu meninggalkan kamar. Litha melotot menatap kepergian Raka, habis sudah riwayatnya jika Umran membocorkan kepada Ayah dan Bunda.


"Brengsek lo," teriak Umran tidak terima. Masalahnya... Umran aja belum pernah ciuman bibir, masak diduluin adeknya yang masih bau kencur sih?


Litha tersenyum kikuk saat pandangannya bertemu dengan Umran.


"He he... Jangan bilang Ayah Bunda yaa...!" Litha memohon dengan mengatupkan kedua tangannya.


"Hm," hanya dehaman yang Litha dapat dari Umran.

__ADS_1


Double up nya kapan-kapan aja yah😁✌️ Di chapter ini udah terlalu panjang.


__ADS_2