
Seharian ini Litha tidak bisa berhenti memikirkan obrolannya bersama Mama Kania dan Oma Rahma saat hari Minggu kemarin ia datang berkunjung ke sana.
Jujur dari pagi sampai menjelang sore ini dia tidak dapat fokus, bahkan tadi Litha sempat memasukkan pasien dikamar yang salah dan tentu saja dia langsung mendapat teguran dari dokter pembimbingnya.
Flashback On
"Hai calon mantu," sapa Mama Kania yang melihat kedatangan gadis cantik itu.
Karena baru saja mendapat jatah libur dari rumah sakit, Litha sengaja menghabiskan waktu liburnya bersama Mama Kania dan Oma Rahma. Sedangkan tunangannya itu disibukan dengan urusan direstoran Tata Tuta nya.
Litha berpelukan dengan Mama Kania dan Oma Rahma. "Berdua aja? Papa kemana Ma?"
"Papa di luar kota. Biasa bisnis," Mama Kania mengajak Litha duduk santai di gazebo taman belakang.
Di sana Litha bercanda ria dengan dua wanita di keluarga Adelard, cuaca begitu panas sehingga tiga wanita disana memilih rujak untuk menemani obrolan random mereka.
Oma Rahma tersenyum simpul mengamati Litha yang seperti gadis ABG. Badannya yang mungil serta tubuhnya yang tidak terlalu tinggi dan didukung pula oleh baby face nya membuatnya seperti anak SMP.
"Kenapa Oma? Ada yang aneh sama penampilan Litha?" Tanya Litha sambil memakan rujaknya.
"Kamu kayak anak yang masih dibawah umur," Oma tertawa renyah melihat gaya berpakaian Litha yang tidak seperti kebanyakan wanita seusianya yang akan berpenampilan modis atau bahkan seksi. Litha masih menjadi gadis remaja seperti saat pertama kali Oma mengenal Litha.
Mama Kania tersenyum mengusap punggung Litha. "Kamu jarang ngikutin trend fashion ya?" Tanya Mama Kania.
"Kenapa? Baju Litha jelek Ma?" Litha mengamati penampilannya yang menggunakan kaos oversize putih tanpa lengan yang ia masukkan dalam rok pendeknya diatas lutut berwarna peach agar terlihat lebih rapi. Dan jangan lupakan rompi jeans tanpa lengan sebagai luarannya.
Mama Kania segera menggeleng. "Bagus kok. Mama lebih suka kamu yang seperti ini, jadi diri sendiri tanpa harus mengikuti tren fashion jaman sekarang,"
"Terakhir Litha beli baju sekitar tiga tahun yang lalu Ma, waktu Kak Raka habis pulang dari Inggris," Litha nyengir kuda. Dulu dia membeli baju baru karena kepulauan Raka dari Inggris, jadi Litha ingin tampil cantik memakai baju baru.
"Mengenai itu, bukannya hubungan kalian berdua udah lumayan lama? Kapan kamu mau diajak Raka nikah?" Celetuk Oma Rahma yang sukses membuat Litha terkejut hingga tersedak rujak.
Uhuk! Uhuk!
Mama Kania segera memberi air minum kepada Litha yang wajahnya seketika langsung merah.
Litha meminumnya hingga gelas itu kosong. "Haduh sakit Ma," Litha memegang tenggorokannya yang masih membutuhkan cairan.
Oma Rahma dan Mama Kania memberikan minumannya untuk Litha. Setelah minum tiga gelas baru Litha dapat bernafas lega.
"Gimana?" Mama Kania khawatir melihat Litha memegang dadanya yang naik turun.
"Masih sedikit sakit," tenggorokan Litha masih terasa panas karena tersedak rujak yang sambalnya begitu pedas.
__ADS_1
"Dada kamu sakit?" Tanya Oma Rahma.
Litha menghelai nafasnya. Bukan dadanya yang sakit, yang sakit itu tenggorokannya. Litha memegang dadanya karena jantungnya masih shock karena perkataan Oma.
Flashback Off
Nara menepuk pundak Litha membuat empunya terlonjak kaget. Litha mengusap dadanya dengan menatap sinis Nara yang tertawa puas.
Nara tertawa sampai memegang perutnya yang sakit. "Lo ada masalah apa Tha?" Nara ikut duduk di bangku besi tersebut.
Nara memberikan minuman kaleng kepada Litha. Nara merasa aneh dengan Litha yang selama ini melakukan tugasnya dengan fokus dan baik, malah membuat kesalahan kecil seperti tadi. Litha menerima minuman dari Nara, tapi ia enggan membukanya.
"Lo ada masalah sama anak koas lain?" Tanya Nara lagi, karena Litha masih diam saja.
Gadis cantik itu menggelengkan kepalanya. "Kalo misalnya lo diajak nikah di usia kita yang masih muda gini, lo mau apa enggak?"
"Jadi lo abis dilamar cowok terus lo tolak? Gak baik tauk Tha, pamali," sahut Nara heboh sendiri.
"Bukan gitu," sahut Litha lesu.
Nara memegang pundak Litha agar duduk tegak menatapnya. "Sekarang gue tanya sama lo, cowok itu udah kerja?"
"Udah,"
"Dia orang yang bisa dipercaya,"
"Orang tua udah saling merestui apa belom?"
"Iya,"
"Dia baik?"
"Banget!"
"Dia kaya?"
"Banget!"
"Dia dewasa?"
"Iya,"
Nara menyipitkan matanya menelisik wajah Litha yang lesu. "Jangan-jangan lo dilamar aki-aki juragan angkot ya!?"
__ADS_1
"What? Gila lo!" Pekik Litha sambil menepis tangan Nara dari pundaknya.
"Ya katanya tadi dewasa, kaya banget pula," Nara nyengir sambil garuk-garuk kepala.
"Gak gitu juga kali. Dewasa bukan berarti tua Nara! Umur boleh muda tapi pemikiran dewasa. Gak kayak lo udah gede juga pemikirannya kayak bocil TK!" sahut Litha menyindir kepolosan Nara.
Nara mengerucutkan bibirnya, sedetik kemudian ia teringat topik pembicaraan mereka diawal. "Kalau menurut gue sih kalau udah saling suka dan yakin bisa menjalani rumah tangga, kenapa enggak?"
Litha hanya diam saja mencerna setiap kata-kata dari Nara. Sungguh hatinya begitu galau, pertanyaan Oma Rahma kemarin selalu terngiang-ngiang di kepalanya. Pasti Oma Rahma dan Mama Kania sudah tahu kalau Raka dulu pernah mengajaknya untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius.
"Kenapa lo gak mau nikah sama dia? Loo mandang fisik yaaa?" Goda Nara.
Litha menghelai nafas panjangnya. Tatapannya menatap lantai, ia ingin berniat jujur kepada Nara mengenai identitas aslinya. "Bukan. Dia tu ganteng. Sebenernya gue gak seperti yang lo kita. Gue itu anak dari orang berada, dan cowok ganteng itu Dokter Raka,"
Karena Nara tidak menjawab, Litha berfikir jika temannya itu pasti kesal dengannya. "Lo marah sama gue Nar? Maaf ya gue gak maksud nipu lo,"
Litha mendongakkan kepalanya melihat Nara yang berdiri menjauh dari bangku besi tersebut. Litha menghembuskan nafasnya, syukurlah kalau Nara melupakan obrolannya dan tidak mendengar pengakuan Litha.
Nara kembali duduk disebelah Litha dengan ekspresi antusiasnya. Nara mengguncang punggung Litha yang sedang meneguk minuman bersoda dari Nara sebelumnya, sehingga membuat Litha keselek.
Uhuk Uhuk
"Eh sorry sorry," Nara tersenyum lebar mengusap punggung Litha yang menatapnya sinis.
"Di ujung sana ada Dokter Raka sama Dokter Ken sama Umran juga. Banyak suster-suster dan dokter-dokter cewek muda yang diem-diem curi pandang ke mereka," ujar Nara.
Litha hanya ber oh ria saja. Litha kembali meminum air dalam kaleng tersebut, kemudian menyenderkan kepalanya pada sandaran kursi dibelakang.
"Lo tau Umran kan? Salah satu The Perfect yang nikah muda dan udah punya anak," sambung Nara yang hanya diangguki oleh Litha yang masih leyeh-leyeh senderan.
Nara kembali berdiri dan mengintip apa yang dilakukan tiga cogan disana.
Litha melirik Nara yang geleng-geleng kepala. "Kenapa?" Tanya Litha acuh tak acuh.
Nara melihat tiba-tiba Fika sudah muncul diantara mereka bertiga. "Wah wah wah, emang ya orang kaya itu temenannya sama orang kaya. Dokter Raka yang pewaris Adelard Group berteman dengan Umran yang pewaris Nagara Group. Gosip-gosipnya sih Dokter Ken akan masuk dalam gerombolan sultan The Perfect. Mana bisa dibandingkan dengan kita yang orang biasa ini?"
Nara menoleh kepada Litha yang malah memejamkan matanya, tapi Nara tahu jika gadis itu tidak benar-benar tidur. "Kadang gue suka mikir kenapa lo bisa akrab sama Fika?"
Litha membuka sebelah matanya dan hanya menanggapinya dengan senyuman biasa. Bukannya apa-apa, tubuh dan pikiran Litha itu begitu lelah setelah menjalani hari-hari yang sibuk di rumah sakit. Dan batinnya yang akan langsung kena mental setiap mengingat pertanyaan Oma Rahma.
"Dan sepertinya ada aja semut yang ngejar anak orang kaya seperti mereka," Nara kembali melihat ada seorang dokter wanita muda yang ikut berbincang-bincang dengan para sultan disana.
***
__ADS_1
Karya ini akan segera tamat, tinggal beberapa chapter aja. Semoga Author gak terlalu sibuk di dunia real. Salam sayang😻