Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Calon Istri?


__ADS_3

"Aku bete," ucap Litha dengan melirik ke arah Raka.


Raka mengambil benda pipih dari dalam jas hitamnya, dia mengecek handphone nya yang terdapat banyak sekali panggilan tak terjawab dari kontak yang tersimpan dengan tulisan Mine.


"Maaf tad..." ucap Raka terpotong. Litha tahu, Raka akan meminta maaf karena mengabaikan telepon darinya.


"Bukan cuma itu kak," sela Litha dengan cemberut.


Sepertinya ada yang tidak beres. Apa diantara pimpinannya dengan bocah SMA itu memiliki hubungan spesial? Begitu pikir dua wanita disamping Litha.


"Masak kalo ketemu kamu harus buat janji dulu sih? Kalo tau gitu aku gak akan mau kesini," adu Litha.


"Siapa yang nyuruh kesini?" ingin sekali Raka mengucapkan seperti itu, tapi tentu tak akan Raka ucapkan. Yah kalau diucapin paling-paling Raka gak bisa tidur tujuh hari tujuh malam, karena di ambekin Litha.


Raka menatap tajam ke arah karyawan nya yang sedang tertunduk itu. Sesekali mereka melirik sekilas, jujur ganteng sih, tapi nyeremin juga. Ngeri-ngeri sedap gitu lah..


"E... Maaf Pak, kami tidak tahu jika Bapak memiliki adik," ucap sekretaris itu yang berpikir bahwa Litha adalah salah satu adik keponakannya Raka, terbukti dari Litha yang memanggilnya kak, serta mengingat Raka yang memang pewaris tunggal, so tidak mungkin Raka memiliki adik kandung.


"Adik?" Raka mengernyitkan keningnya.


"E... Kam.. kami salah ya Pak?" tanya wanita yang diapit oleh Litha dan sekretaris itu.


"DIA CALON ISTRI SAYA!" tegas Raka yang sukses membuat tiga pasang mata itu melotot.


Hancur sudah harapan para karyawan Raka yang sudah menyukai Raka sejak dahulu. Ternyata pimpinannya ini sudah mempunyai tambatan hati. Bahkan calon istrinya itu masih sangat muda, jauh berbeda sekali dengan mereka yang sudah dewasa, kurang lebih mereka sudah berusia 24 tahun.


Sedangkan Litha malah menyiku pinggang Raka, "Ngaco kamu!" sahut Litha kurang terima. Disaat banyaknya para kaum hawa yang menginginkan dianggap sebagai calon istri Raka, tetapi Litha malah menolaknya.


Bukannya tidak senang, tetapi Litha ingin diakui sebagai kekasihnya saja bukan calon istrinya. Litha belum memikirkan sampai sejauh itu, karena keduanya masih sangat muda, terlebih Litha yang usianya belum genap 17 tahun.


"M.. mm.. maaf Pak, kami tidak tahu," ucap karyawan itu hampir bersamaan.


***


Litha sudah berada di dalam ruang kerja Raka. Mereka sedang duduk di sofa panjang. Wow... Begitu batin Litha saat memasuki ruangan luas yang mewah itu.


"Kamu kenapa kesini?" tanya Raka. Litha tidak menjawabnya.


"Kenapa cemberut gitu?" tanya Raka dengan merangkul pundak Litha.


"Tadi aku diejek terang-terangan sama karyawan kamu, mentang-mentang aku masih pake seragam sekolah," adu Litha.


"Diejek gimana hm..?" tanya Raka yang tiba-tiba berada dalam mode lembutnya.


"Mereka kayak ngetawain aku gitu, nggak ketawa sih, cuma senyum ngeremehin gitu. Dikiranya aku fans kamu," jelas Litha.


"Terus kamu maunya aku apain mereka?" tanya Raka lembut.


"Pecat mereka atau gajinya potong?" tanya Raka lagi karena tak mendapat respon dari Litha.

__ADS_1


"Aku nggak nyuruh kamu apa-apain mereka. Aku cuma pingin cerita aja," sahut Litha yang memang apa adanya begitu. Membuat Raka tersenyum melihat tingkah polosnya.


"Mereka kok ke kantor pake baju gitu sih? Tadi banyak juga karyawan cewek yang pake baju gitu," ujar Litha lebih ke arah cemburu menurut Raka.


"Bagus kan?" tanya Raka dengan mengangkat kedua alisnya bersamaan.


"Bagus apanya? Kayaknya cuma di kantor kamu doang deh yang karyawan ceweknya pada dandan berlebihan dan pake baju seksi gitu," tutur Litha.


Tiba-tiba saja sebuah pertanyaan terlintas dalam benak Litha, "Apa jangan-jangan kamu yang nyuruh mereka berpenampilan kayak gitu?" Litha memincingkan matanya.


"Kenapa? Kayaknya nggak terima banget sih," usil Raka. Litha hanya terdiam setelah sebelumnya melirik ke arah Raka dengan wajah cemberutnya.


"Kamu cemburu?" tanya Raka yang tanpa Litha menjawab pun, Raka sudah mengetahui jawabannya.


"Enggak," elak Litha membuat Raka tertawa renyah.


"Kenapa?" tanya Litha.


"Kamu gak bisa bohong sama aku," sahut Raka masih dengan tawanya.


"Sekarang cemburu, tadi diakui calon istri ga mau. Aneh kamu," sambung Raka membuat Litha semakin memancunkan bibirnya. Dan hal tersebut membuat Raka semakin gemas saja.


Cup


Satu kecupan singkat mendarat di bibir mungil yang sedang mengerucut itu. Seketika wajah Litha memerah, semerah tomat. Litha membulatkan matanya, terkejut? Pasti sangat terkejut.


Tapi kemudian Litha tersadar Raka telah mengambil ciuman pertamanya, ya walaupun cuma singkat, tapi tetep aja bibir ketemu bibir namanya ciuman.


Raka tersenyum tampan melihat wajah bodoh dari kekasihnya. Salah siapa Litha manyun-manyunin bibirnya? Kan bikin Raka jadi tambah gemes aja.


"Kak Raka!" protes Litha.


"Apa? Mau lagi?" goda Raka yang membuat wajah ayu Litha semakin memerah.


Hufffttt...


Litha membuang nafas dengan kasar. Lalu melipat kedua tangannya di dadanya. Litha menoleh saat merasakan Raka yang malah menyandarkan kepalanya di pundak Litha.


"Maaf ya.." Mohon Raka yang masih dengan posisi nyamannya.


Litha mengernyitkan keningnya, "Untuk?" herannya.


"Udah nyium kamu," jawab Raka.


Litha menyunggingkan senyumnya, jujur Litha sebenarnya juga happy bisa merasakan sentuhan singkat bibir yang jarang berbicara itu. Litha tidak menyadari bahwa Raka sempat melirik ke atas, melihat Litha yang sedang tersenyum.


"Kamu tenang aja, aku nggak akan tertarik sama karyawan aku sendiri," ujar Raka seraya mengarahkan wajahnya ke samping, melihat wajah cantik Litha dengan menopang dagunya di pundak Litha.


Litha menoleh, dia mencium lagi aroma mint yang sangat khas dari Raka. Jarak wajah keduanya sangat dekat, bahkan hidung mancung mereka sampai bersentuhan. Litha dapat merasakan deruan nafas dari Raka, akh... Raka, perlakuan mu membuat Litha semakin mencintai mu saja.

__ADS_1


Gadis itu masih terdiam, dia ingin mendengarkan kalimat selanjutnya yang diucapkan bibir Raka. Kalau boleh request sih Litha maunya, Aku sangat mencintai kamu, kalimat yang sederhana tapi dapat membuat siapapun yang mendengarnya bahagia, yah kalau yang ngucapin orang seganteng Raka hehe...


Cukup lama keduanya terdiam dengan senyum menghiasi wajah dua sejoli itu. "Kak, aku boleh minta sesuatu nggak?" tanya Litha memecah keheningan.


"Apa?" tanya Raka.


"Bilang I Love You dong ke aku!" pinta Litha dengan menunjukkan puppy eyes nya.


Terpampang jelas tepat didepan mata Raka, manik mata yang indah kini sungguh sangat terlihat imut sekali! Terlebih lagi jarak keduanya yang sangat amat dekat, hanya hidup mancung yang menjadi pembatas diantara wajah mereka.


"Kamu udah tau isi hati aku, jadi kenapa kamu minta itu?" tanya Raka dengan menggesek-gesekkan hidungnya dengan hidung gadis dihadapannya.


"Pingin bukti yang berupa ucapan," sahut Litha.


"Kayaknya kebanyakan cewek tu butuh buktinya berupa tindakan. Nah kamu malah minta ucapan," ucap Raka.


"Kamu kan ga pernah bilang itu ke aku, makanya aku pingin denger dari bibir kamu," ujar Litha yang memang kenyataannya begitu.


"Minta yang lain aja gih!" suruh Raka.


Litha mengalihkan pandangannya ke depan. Litha menghelai nafasnya sebelum berkata, "Apapun?" tanya Litha yang masih setia memandang lurus ke depan.


"Apapun, asal jangan yang mirip-mirip kayak permintaan yang pertama," jawab Raka dengan memberi pengecualian. Siapa tahu aja Litha minta Raka bilang Aku cinta kamu, itu mah sama aja kayak permintaan pertama, cuma beda bahasa doang.


Cantik adalah kata yang cocok untuk gadis bernama Litha Kusuma Jaya Nagara, begitu pikir Raka. Dilihat dari depan maupun samping masih sama saja, cantik.


"Kamu minta aku ngelamar dan nikahin kamu sekarang juga bakal aku lakuin," sambung Raka saat mendapati Litha yang masih terdiam bagai memikirkan sesuatu.


Litha tertawa kecil dengan melirik Raka yang sedang tersenyum tampan. "Kalo aku minta dunia jadi milik aku?" tanya Litha.


"Susah. Dunia ini bukan punya aku, aku gak bisa beli dan nyiptain nya," sahut Raka yang masih setia menaruh dagunya diatas pundak Litha.


"Jadi solusinya?" tanya Litha yang kini telah mengarahkan wajahnya dihadapan Raka lagi, sehingga hidung mancung keduanya bersentuhan kembali.


"Em..." Raka melirik ke atas seperti sedang berfikir. Tak lama kemudian netra nya menatap bola mata Litha lagi.


"Karena aku nggak bisa ngasih dunia ini ke kamu. Aku akan ngasih dunia aku ke kamu," tutur Raka membuat Litha menarik kedua sudut bibirnya.


"Ganteng banget sih pacar aku!" ucap Litha kagum.


Ucapannya sama sekali tidak nyambung dengan penuturan Raka. Tapi ya sudahlah yang penting Litha bisa senyum. Baru beberapa menit yang lalu Litha mengucapkan kata bete, sekarang udah senyum aja. Cowok dingin itu memang mood booster Litha yang sesungguhnya.


Litha memeluk tubuh besar Raka, lagi-lagi dia menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Raka. Pemuda tampan itu membalas pelukannya, terasa nyaman dan hangat menurut Litha. Sesekali Raka mengecup rambut Litha, yah gadis SMA itu mampu merasakannya.


Gimana? Udah uwuw belom nih?


Kenapa kecupan singkat? Karena Author belom pernah ngerasain yang lama gitu 🤭 plus Author juga ga mau nambah dosa karena nantinya kalau Author menulis, otomatis yang membaca pasti juga ikut membayangkan.


Membayangkan sesuatu hal yang kurang baik termasuk dalam zina hati.

__ADS_1


__ADS_2