
"Murni dari gue sendiri, tanpa ada campur tangan orang lain," jawab Litha tegas.
"Lo pikir ini sekolah punya nenek moyang lo?" tanya Dita ngegas. Dia kan gak terima dapat hukuman kayak gitu, ditambah lagi dengan pengakuan dari Raka yang sekarang menjadi pacarnya Litha. Ya pastinya jelas makin tambah emosi.
"Seharusnya kamu berterimakasih kepada Litha, sebenarnya hukuman yang kamu dan Tania dapatkan itu lebih berat dari ini," ujar salah satu guru Bk.
Bahkan sebenarnya kemarin malem waktu nge-game, Raka sama Litha hampir ribut cuman gara-gara debat masalah hukuman yang nantinya akan diberikan pada Dita dan Tania. Raka kurang setuju jika Litha memberi hukuman yang lebih ringan dari pihak sekolah.
Raka sangat amat marah dengan Dita dan Tania yang membuat Litha nyaris hampir menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya. Tetapi Litha tetap bersikeras terhadap pilihannya itu. Mungkin emang dari sananya Litha itu baik hati dan termasuk tipe manusia yang gak tegaan terhadap seseorang. Walaupun orang tersebut sudah berbuat yang tidak baik terhadap dirinya.
"Kalo kalian gak mau bilang makasih ke gue. Biar gue aja yang bilang makasih ke kalian atas jus buah naga yang busuk, yang udah kalian pesenin khusus buat gue. Seinget gue, kemarin kalian pernah nyuruh gue bilang makasih kan?" tutur Litha sangat lembut.
"Elo itu cuman anak miskin pengemis beasiswa, jadi lo jangan sok-sokan," sahut Dita.
Niatnya sih Dita mau mempermalukan Litha yang bisa bersekolah di sini karena mendapatkan beasiswa, dihadapan Raka yang berasal dari keluarga tajir melintir. Tapi Dita gak sadar, dengan dia menghina Litha, dia semakin menunjukkan sikap aslinya dihadapan Raka dan semua guru yang berada di ruangan tersebut.
Dita belum tahu aja, kalau Raka udah sayang sama seseorang, dia gak akan memandang materi dan fisiknya. Kan emang gitu, cinta yang tulus itu gak mandang harta, tahta dan fisik seseorang.
"Jaga mulut kamu Dita. Kamu itu masih anak sekolah, masih murid di SMA ini. Tetapi ucapan dan tindakan kamu tidak seperti orang terpelajar," ucap kepala sekolah tegas.
"Itu salah satu alesan kenapa gue gak nyuruh guru BK buat manggil orang tuanya lo dateng ke sini," tutur Litha pada Dita. Dita hanya menatap Litha dengan tatapan tajam, seperti seekor singa yang ingin menerkam mangsanya.
__ADS_1
"Karena gue kasihan sama orang tua lo, takut nantinya kalau mereka malu ngelihat kelakuan anaknya yang gak punya etika dan moral sama sekali," tambah Litha tegas. Sekali lagi Dita hanya bisa menatap Litha dengan sangat amat tajam.
"Lo tu yaaa!!!" seru Dita yang masih setia dengan menatap tajam ke arah Litha.
"Ohh ya bener juga tebakan lo tadi, sekolahan ini emang punya nenek moyang gue. Itu sebabnya pihak sekolah ngijinin gue buat ngasih hukuman langsung ke elo," tutur Litha sambil menaikkan salah satu sudut bibirnya ke atas.
"Jangan halu lo," Dita terkekeh, karena mengira kalau Litha sedang menipunya. Lagi pula Dita dan Tania jelas tidak akan percaya dengan ucapan Litha yang selalu tampil apa adanya, seperti orang yang berasal dari keluarga kurang mampu.
Litha mengode Raka agar segera beranjak dari tempat duduknya, setelah mereka berdua berdiri tanpa diduga tiba-tiba Litha menggandeng tangan Raka, bahkan Raka pun juga tidak menyangka.
"Kami permisi keluar pak, bu," ujar Litha sambil menarik tangan Raka.
Dita masih menatap tajam ke arah Litha bahkan sampai punggung Litha tidak terlihat pun, Dita masih menatap tajam ke arah luar pintu ruangan tersebut.
***
Di sepanjang koridor Raka berjalan sambil senyum-senyum sendiri tuh padahal gak ada yang lucu. Raka itu senyum bahagia karena tangannya dipegang oleh kekasihnya.
Untung aja gak ada seorang pun selain Litha yang ngelihat Raka lagi senyum-senyum sendiri, karena semua murid lagi ada didalam kelasnya masing-masing. Kalau murid lainnya pada lihat Raka senyum, bisa-bisa para kaum hawa pada pingsan semua karena jantungan setelah melihat keajaiban dunia tersebut.
"Kenapa senyum?" tanya Litha. Litha memberhentikan langkah kakinya dan lagi clingak-clinguk, entah melihat apa?
__ADS_1
"Perasaan di sini gak ada yang lucu," sekarang tatapan netra indah milik Litha, hanya fokus kepada kekasihnya.
"Emang gak ada yang lucu," jawab Raka.
"Terus kenapa senyum?" Litha pastinya kepo dong dengan Raka yang biasanya memasang ekspresi wajah datar, tapi tadi malah senyum-senyum sendiri gak jelas, padahal gak ada yang lucu disekitar sini.
"Karena ini," jawab Raka dengan antusias, sambil mengangkat tangannya yang sedari tadi digenggam oleh tangan Litha.
Seketika Litha menunjukkan ekspresi terkejut, dia gak sadar bahwa tangannya masih memegangi tangan kekasihnya. Dengan segera Litha melepaskan genggaman tangannya. Padahal niatnya sih tadi cuman buat manas-manasin Dita, tapi mungkin terlalu nyaman sampai akhirnya kelupaan deh...
**Kantin__
"Gokil sih tadi banyak anak-anak yang lain pada nyinyirin Dita sama Tania. Selama ini mereka kan terkenal ramah dan baik hati dihadapan guru. Akhirnya mereka ketahuan juga, kalo pernah bully anak orang," ujar Sarah bahagia. Sarah itu puas banget abis ngelihat Dita dan Tania lari-larian di lapangan, mana cuacanya lagi panas-panasnya.
"Sebenernya lo di apain kak Dita sama kak Tania, kok mereka sampai kena hukuman gitu, eh gue denger-denger yang milih hukuman itu elo ya?" tanya Fika.
Sebenarnya Fika masih tidak percaya dengan gosip yang beredar itu, mana mungkin seorang Litha yang dikenalnya, yang bisa bersekolah di sini karena mendapat beasiswa, bisa memilihkan hukuman yang diberikan pada Dita dan Tania. Memangnya Litha kenal dengan salah satu dari guru BK? Seharusnya yang memberi hukuman itu guru BK bukan?
"Ee... Itu... A.. anu, eee.. hukumannya terlalu jahat atau berat ya?" tanya Litha gugup. Litha lagi mencoba mengganti topik pembicaraannya, entah kenapa? Seharusnya kan Litha menjawab pertanyaan bukannya malah nanya balik.
"Menurut gue sih hukumannya emang gak berat, tapi malunya itu lhohh. Kasihan juga sih, tapi gue malah pengen ketawa waktu liat ekspresi mereka hhhhh," tutur Fika sambil tertawa.
__ADS_1
Fika masih ingat betul bagaimana ekspresi wajah Dita dan Tania saat tadi melaksanakan hukumannya. Terlihat jelas mereka sangat amat malu, buktinya saja mereka sampai tidak berani melihat murid-murid yang sedang menertawakannya.
Selama melaksanakan hukumannya, mereka selalu menundukkan kepalanya. Mungkin malu, atau takut kulit wajahnya terkena sinar matahari? Kan kasihan sama kulit wajahnya yang setiap hari dikasih skincare mahal, tapi malah nyaris gagal glowing karena terkena sinar UV.