
"Ada apa ya Dok?" Tanya Litha setelah mondar-mandir mencari ruangan Dokter Ken.
"Saya ingin membahas urusan pribadi. Jadi lebih baik kita bicara tanpa bahasa formal," ujar Ken to the point.
"Urusan pribadi?" Litha mengerutkan keningnya, dia merasa tidak pernah membuat masalah pribadi dengan Dokter muda tersebut.
Dokter Ken melepas jas putihnya yang mana membuat Litha was-was. Gadis itu berdiri dari tempat duduknya, kakinya perlahan melangkah mundur.
"Jangan mikir macem-macem!" Ujar Ken membuat Litha menghentikan langkahnya.
"Gue buka jas supaya suasananya lebih mendukung," lagi-lagi Ken membuat Litha semakin bingung.
"Mendukung gimana Dok?" Tanya Litha.
"Supaya di pembicaraan kita kali ini lo gak anggep gue sebagai dokter pembimbing lo. Gue pengen tahu sesuatu dari lo," Ken menyuruh Litha kembali duduk didepannya.
"Lo tau di rumah sakit ini cuma gue yang bisa temenan sama Raka?" Litha mengangguk dengan pertanyaan Ken.
"Sebenernya lo punya hubungan apa sama Raka? Tadi sore gue ditonjok karena gue bilang ke Raka kalo gue suka sama lo," tutur Ken.
"Hah?" Tentu saja Litha terkejut.
"Tadinya gue sempet mikir kalo Fika itu pacarnya Raka, tapi semenjak kejadian tadi sore gue jadi ragu sama kesimpulan yang gue buat sendiri tentang hubungan Raka dan Fika," sambungnya.
"Hah?" Litha melotot mendengar itu.
"Tuh kan lo kaget. Berarti feeling gue kali ini bener. Ternyata elo yang ada apa-apa sama Raka," dengan santainya Ken mengambil botol mineral di mejanya lalu meminumnya.
"Apaa... Ternyata elo yang buat badan Raka remuk enam hari yang lalu?" Ken berdiri dan mengamati postur tubuh kecil Litha yang juga langsung berdiri.
Litha yang merasa tidak nyaman ditatap seperti itu menatap tajam dokter muda didepannya. "Kalau iya kenapa? Minta kena bogem mentah dari gue?" Sungut Litha.
Ken terkekeh mendengar itu.
"Benar ya kata Kak Raka. Dokter Ken itu rada-rada," Litha membalikkan badannya hendak pergi, namun Ken lebih dulu menahan tangan Litha.
Litha langsung menepis tangan Ken. "Apa lagi sih Dok?"
"Lo belom jawab pertanyaan gue. Ada hubungan apa lo sama Raka?" Tanya Ken, ia benar-benar penasaran akan hal itu.
"Apa untungnya buat gue kalo gue jawab?" Tatapan Litha tajam.
"Lo lupa? Tadi gue bilang suka sama lo. Kalo lo emang ada hubungan spesial sama Raka, gue akan segera hapus perasaan ini," tutur Ken.
Seketika Litha mematung sesaat, ia mencerna setiap kata dari bibir Ken. Kemudian Litha tertawa membuat Ken bertanya-tanya.
"Gue gak lagi ngelawak, kenapa lo ketawa?" Heran Ken.
"Pantesan lo jomblo bertahun-tahun. Nyatain perasaan itu harus ada momen romantis," jawab Litha disela tawanya.
__ADS_1
"Emang waktu Raka nembak lo, dia buat suasana romantis? Kok dalam lubuk hati terdalam gue gak yakin kalo kulkas berjalan itu nembak lo pake suasana romantis," ujar Ken yang langsung membuat Litha berhenti tertawa.
Litha masih ingat jelas bagaimana Raka memintanya menjadi kekasihnya enam tahun yang lalu. Bahkan sampai saat ini Litha belum pernah mendengar ungkapan cinta dari beruang kutub nya tersebut.
Ponsel Litha berdering, Ken mengintip layar ponsel yang mana tertulis Beruang Kutub 🤍. Ken menyambar ponsel Litha dari empunya, Ken menggeser ikon hijau pada layar tersebut. Ken sangat yakin jika itu adalah Raka.
"Halo sayang... Kangen ya? Padahal baru aja tadi diruang operasi kita ketemu sebagai tim yang solid," Ken menghindar setiap Litha ingin mengambil handphonenya.
Litha cemberut menghentakkan kakinya, dia menyerah mencoba meraih ponselnya dari tangan Ken. Kalau terjadi sesuatu yang buruk kepada Ken, Litha tidak ingin tanggung jawab.
"Cari mati lo!" Terdengar suara mengerikan dari ponsel Litha yang sambungan teleponnya langsung terputus.
Ken tertawa terpingkal-pingkal, tidak menyangka jika Raka langsung mengenali suaranya.
"Kak Raka kalau udah marah itu dunia bisa hancur. Gue gak ikut campur kalau terjadi sesuatu sama hidup lo!" Litha merebut kembali ponselnya.
"Kalau lo pikir gue gak pernah tahu gimana marahnya Raka, lo salah," Ken tersenyum mengingat kejadian satu bulan yang lalu dimana Raka begitu mengerikan membuat seluruh tenaga medis di rumah sakit ini diam mematung, tidak berani bertanya penyebab Raka yang langsung memecat dan menjebloskan seorang perawat wanita itu ke penjara.
"Suster itu buat masalah apa?" Tanya Litha penasaran.
"Dia ingin menjebak Raka dengan tujuan tidak baik," Ken tersenyum mengingat ekspresi Raka yang sangat mengerikan kala itu. Saat itu Ken memberitahu Raka, jika Ken tidak sengaja melihat salah satu suster memberikan serbuk digelas air putih yang terdapat diruang kerja Raka.
"Kok Kak Raka gak pernah cerita itu ke aku?" Litha bergumam.
"Satu bulan yang lalu lo sibuk sendiri sama kuliah lo. Mana mungkin Raka tega ganggu lo dengan cerita gak pentingnya," sahut Ken.
Gedoran pintu terdengar begitu keras di ruangan Ken. Litha sudah panik bukan main, berbeda dengan Ken yang tubuhnya terancam babak belur tapi ia malah asik tertawa tanpa beban.
"Buka pintunya atau gue dobrak!" Ancam Raka yang terdengar dari dalam.
"Diluar pasti Kak Raka udah siap nonjok lo. Lo beneran rada-rada ya?" Litha mondar-mandir didepan Ken yang masih tertawa.
"Keadaan gue akan tetap aman. Karena gue yakin Raka akan nurut sama pawangnya," Ken tersenyum mengerlingkan matanya kepada Litha.
Brak...
Pintu didobrak Raka.
Mata Raka tajam melihat Ken merangkul Litha. Raka menarik kerah kemeja Ken dengan tangannya yang siap meninju dokter gadungan itu.
Litha segera memegang gempalan tangan Raka. Keduanya sejoli itu saling menatap.
"Kak jangan kepancing emosi. Dokter Ken cuma ngerjain kamu doang," ucap Litha meyakinkan Raka yang nafasnya memburu karena sehabis lari dari ruangannya menuju ke ruangan Ken, dia langsung mendobrak pintu.
Tatapan Raka beralih kepada Ken yang cengengesan sambil mengangkat dua tangannya.
"Jangan panggil dia dengan jabatannya!" Tegas Raka teruntuk Litha, meskipun tatapannya masih fokus kepada Ken yang seperti orang tidak waras tertawa sesuka hatinya.
Litha berdiri ditengah-tengah Raka dan Ken, gadis itu memeluk Raka. Cekalan tangan Raka terlepas dari kerah kemeja Ken membuat empunya tertawa ringan.
__ADS_1
"Percaya sama aku gak terjadi apa-apa diantara aku dan Kak Ken," Litha mengeratkan pelukannya, telinganya yang menempel didada Raka dapat merasakan detak jantung Raka yang berdegup kencang.
"Jangan panggil dia dengan tingkat ketuaannya!" Tegas Raka membuat Litha menghelai nafasnya.
Sedangkan Ken semakin tertawa keras disana. "Es batu bisa posesif juga rupanya,"
"Aku percaya sama kamu, tapi aku gak percaya sama dokter gadungan itu," Raka membalas pelukan Litha, tapi matanya tajam melihat Ken yang cekikikan duduk dimeja kerjanya.
"Ken cuma penasaran tentang hubungan kita," sahut Litha.
"Jadi monyet ini udah tau hubungan kita?" Raka memang dalam mode suara lembutnya, tapi ia semakin menajamkan matanya kearah Ken yang semakin tertawa. Ken tidak menyangka jika direkturnya yang dingin itu bisa berada di dua kepribadian yang berbeda dalam waktu bersamaan.
"Bahkan tadi gue sempet bilang suka ke Litha," sahut Ken membuat Raka naik pitam.
Raka melepas pelukannya dengan Litha. Pemuda itu menarik kerah kemeja Ken membuat Ken berdiri dari mejanya.
"Kak Raka stop! Aku rasa Ken itu cuma merasa kesepian, Ken butuh sahabat tapi rasa keluarga. Kamu paham kan maksud aku?" Litha mengarahkan kepala Raka agar menatapnya. Cara Ken menghibur dirinya sendiri yaaa dengan membuat orang-orang disekitarnya jadi jengkel dengan dirinya.
Raka melepas kerah kemeja Ken yang tiba-tiba jadi diam, tidak seperti di awal yang seperti kemasukan setan ketawa.
"Kenapa lo diem?" Tanya Raka melihat mimik wajah Ken yang berubah sendu.
Ken kembali tertawa renyah untuk menutupi kesedihannya. "Lo lebih cocok jadi psikolog Tha, dari pada jadi calon dokter umum,"
Secara tidak langsung Ken membenarkan perkataan Litha. Dan itu membuat Raka merasa sedikit bersalah kepada Ken karena sudah dua bulan mereka menjadi teman, tetapi Raka tidak mengetahui keadaan Ken yang sesungguhnya.
"Lo kalo ada masalah cerita ke gue," ucap Raka meninju pelan dada kanan Ken.
Mata Ken tiba-tiba berkaca-kaca. "Gue gak ada masalah. Ucapan Litha bener. Gue cuma kesepian. Selama ini gue cuma hidup sebatang kara. Untung aja orang tua gue kecelakaan waktu gue udah jadi dokter, jadi gue gak perlu pusing mikirin biaya kuliah," Ken tertawa namun air matanya mengalir tanpa diperintah.
"Gak ada akhlak lo!" Raka menepuk-nepuk pundak Ken.
"Lo harus masuk dalam The Perfect. Sifat tengil lo mirip sama dua sahabat kita," Litha menghapus air matanya menatap Ken yang berusaha tegar tidak ingin mengeluarkan air mata. Tapi Ken tetaplah Ken, dia juga manusia yang bisa merasakan kehilangan.
Raka hanya diam tersenyum. Dia tidak marah dengan keputusan yang diambil oleh Litha tanpa persetujuan member The Perfect yang lain.
Raka yakin, pasti enam sahabatnya itu akan menyambut dengan baik member baru yang sifat tidak warasnya itu akan membuat suasana menjadi tambah heboh dan seru.
Litha jadi mengingat Nick dan Leon. Salah satu dari mereka sedang menghadapi ujian percintaannya. "Sifat Ken 11 12 sama kayak Nick dan Leon?" Litha meminta pendapat kepada Raka.
"Dokter gadungan ini lebih parah dari mereka berdua," Raka memeluk anggota baru The Perfect.
Ken membalas pelukan Raka, berharap semoga sahabat Raka yang lain mau menerimanya bergabung dalam circle persahabatan mereka dengan suka rela.
"Mereka itu sama gilanya kayak lo. Jadi gak ada alasan buat mereka nolak lo," sahut Raka.
"Boleh ikut peluk?" Celetuk Litha.
"Boleh," sahut Ken. Bersamaan dengan Raka yang mengucapkan... "Nggak!"
__ADS_1
Litha cemberut menjadi obat nyamuk dan hanya bisa melihat keromantisan mereka berdua.