Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Tutu


__ADS_3

"Kenapa ngadain makan bersama keluarga? Makan malem sendiri gak bisa? Tatha capek Bun," Litha memeluk Bunda Larissa. Semua keluarga sudah siap menuju restoran Tata Tuta.


"Meeting buat acara lu kawin!" Umran mengandeng istri dan anaknya melewati Litha yang sedang bermanja-manja dengan Bundanya.


"Bukannya semuanya bakal di urus WO?" Litha menatap Bunda Larissa yang tersenyum mengusap kepala putrinya yang tak lama lagi akan memiliki suami.


Air mata Bunda tiba-tiba menetes. "Bunda kenapa?" Litha mengusap air mata di pipi Bundanya.


"Nggak, Bunda cuma nggak nyangka aja kalau anak Bunda yang manja ini sebentar lagi akan menjadi seorang istri," Bunda Larissa memeluk erat tubuh Litha.


Tin...


Klakson mobil dibunyikan oleh Umran membuat Litha dan Bunda dengan terpaksa menyudahi drama mereka.


"Kita nggak nunggu Ayah sekalian?" Tanya Litha setelah mobil dijalankan oleh Umran.


"Ayah udah sampai disana duluan. Udah makan brutal duluan dia disana," sahut Umran yang dipameri foto makanan dari Ayah Kusuma yang pulang-pulang dari kantor langsung disuguhi makanan lezat dari restoran milik Raka. Eh ralat, Ayah lupa kalau owner restoran Tata Tuta sudah dipindah alihkan ke tangan Litha, hanya saja yang mengelola tetap Raka.


"Ran, yang sopan sama orang tua!" Tegur Bunda Larissa dengan mata tajamnya.


"Pipi malu-maluin Eran aja!" Sahut bocil yang berada dipangkuan Sarah.


"Kok kebalik ya?" Litha tersenyum melihat Sarah mengusap kepala anaknya yang sangat pandai.


***


Sampai di restoran langkah Litha terhenti saat mendengar...


"Jadi Litha belum tahu semuanya?" Tanya Papa Baskara kepada siapa lagi kalau bukan anak semata wayangnya yang langsung menggeleng.


Litha berdiri didepan Raka. "Apa yang kamu sembunyiin dari aku?"


"Kita gagal nikah?" Raut wajah Litha datar. Entah mengapa ia terpikirkan hal tersebut.

__ADS_1


Semua keluarga saling pandang, mereka tidak ingin ikut campur mengenai masalah ini. Oke sebenarnya ini gak akan jadi masalah kalau Litha gak marah.


"Bukan itu Tha," jawab Raka.


Ayah Kusuma menepuk pundak Raka. "Kalian berdua bicara baik-baik. Kita semua mau makan dulu, kalau nungguin drama kalian, gak akan kelar-kelar,"


"Bukannya tadi Ayah udah makan duluan?" Heran Umran. Masak iya Ayahnya ini mau makan lagi, mentang-mentang gratis gak gitu juga kali Yah, harga diri dong Yah!


"Itu mah cuma foto makanan doang, sengaja Ayah pamerin ke kamu," Ayah Kusuma tertawa renyah melihat ekspresi kesal anaknya.


"Kamu mau kita bicara dimana?" Tanya Raka setelah seluruh keluarga meninggalkan mereka berdua.


"Di Kanada!" Ketus Litha lalu melangkah keluar restoran dengan Raka yang mengekorinya dibelakangnya.


Litha duduk di depan air pancuran, tepatnya di pagar pembatas air pancuran yang besar di depan restoran. Oke saat ini mereka berdua persis seperti orang pacaran yang gagal makan ke tempat mewah karena uangnya kurang.


Raka tersenyum melihat parkiran yang penuh dan banyak orang berlalu lalang keluar dan masuk Restorannya.


"Restoran ini sengaja aku kasih nama Tata Tuta dengan harapan semoga kita berdua bisa menjalankan bisnis ini bareng-bareng," ujar Raka memulai obrolannya.


"Tata itu aku ambil dari nama kamu, dan Tuta itu gabungan dari nama..." Ucapan Raka menggantung.


"Kamu pernah punya temen masa kecil yang sering kamu panggil Tutu?" Bukannya melanjutkan ucapan yang tadi, Raka malah membahas topik lain.


Litha tampak berpikir sejenak setelah akhirnya berkata, "Oh iya... Aku inget, dia orangnya usil banget dan banyak ngatur, pokoknya tu orangnya cerewet banget. Waktu itu kita cuma temenan satu tahun doang karena katanya dia mau pindah jauh,"


Litha berteman dengan orang itu karena rumah mereka sebelahan so dua bocil TK itu sering bermain bersama saat keduanya sudah pulang dari aktivitas belajarnya.


"Tutu itu aku Tha," Raka menatap Litha yang malah tertawa.


"Nggak mungkin," ucap Litha disela tawanya.


"Why not?" Tanya Raka.

__ADS_1


"Tutu tuh anaknya cerewet suka ngatur, nah kamu? Modelan kulkas begini?" Sahut Litha.


Litha mencoba mengingat wajah Tutu, lalu ia mendelik ke arah cogan di sampingnya yang selalu berwajah datar. Seingat Litha, Tutu itu emang banyak ngomong dan aturan tapi Litha gak pernah lihat senyuman dari seorang Tutu.


"Tunggu-tunggu. Tutu? Pangestu?" Litha menutup mulutnya yang terbuka lebar saat menyadari nama asli Tutu teman kecilnya.


"Raka Adelard Pangestu, jadi kamu cowok cerewet itu?" Litha semakin shock saat Raka mengangguk.


"Well aku udah kenal kamu sebelum kejadian si culun SD ngelawan preman," Raka tertawa renyah melihat Litha yang langsung cemberut.


"Aku udah SMP Kak, cuma salah seragam aja. Dan inget culun-culun gitu juga kamu pernah ngikutin sampai ke rumahnya," balas Litha.


"Iya deh kesayangannya Tutu," Raka tersenyum mengusap gemas kepala Litha.


Litha? Jangan ditanya, doi udah melting bukan main itu loh...


Raka merangkul pundak Litha dan empunya hanya diam saja, tandanya udah gak ngambek lagi kan? "Jadi udah gak marah nih?" Raka memiringkan kepalanya menatap Litha yang menahan senyumnya.


"Kalau mau senyum, senyum aja. Kalau bisa yang lebar biar tambah manis," sahut Raka.


"Pabrik gula bisa tutup dong? Kasihan nanti kalau bangkrut," Balas Litha tak mau kalah.


"Nggak akan, kamu cuma boleh senyum kalau lagi sama aku doang," Raka mengedipkan sebelah matanya, auto Litha klepek-klepek ini mah wkwk.


"Sejak kapan tuh matanya suka kedip-kedip sebelah?" Litha memajukan wajahnya menatap Raka yang tersenyum. Dalam hati Litha mau karungin Raka dan langsung bawa pulang ke kamarnya, ets.. mau diapain Rakanya? Jangan negatif thinking, orang cuma buat pajangan aja kok.


"Sejak detik ini dan akan seterusnya sampai kita menua bersama," jadi niat hati itu Raka mau gombal, tapi kok kurang uwuw gitu ya...


"Maksudnya kamu mau narsis sama cewek-cewek lain gitu? Ohhh atau setelah nikah, kamu ada niatan buat godain janda-janda cantik?" Litha menatap tajam Raka yang langsung kicep.


Aduh udah deh Raka, kamu tu emang gak jago gombal!


Kalau gak niat gombal, malah di sangka gombal. Kalau niatnya gombal malah di sangka yang enggak-enggak. Cewek emang aneh bin ajaib!

__ADS_1


***


Author sangat berterimakasih kepada readers yang masih setia dengan karya ini


__ADS_2