
"Nanti kalau lo kenapa-kenapa lo teriak yang keras ya, biar kuping gue bisa denger," sambung Sarah.
"Kalo inget," sahut Litha dengan santainya. Gadis itu tidak tahu saja, jika ada predator yang sudah menunggu mangsanya, yang mengincar dan siap melahapnya.
"Dih..." decak Sarah membuat Litha terkekeh geli.
Litha memegang gagang pintu, tapi sepertinya ada keraguan dalam dirinya.
"Tuh kan lo juga ragu," tebak Sarah.
"Ya udah balik aja yuk!" ajak Litha.
Sarah hendak meraih tangan Litha, niat hati ingin menggandeng. Tapi tiba-tiba ada seseorang dari dalam ruangan yang lebih dulu menarik paksa Litha.
Karena sifatnya yang tiba-tiba, so Litha tidak mempersiapkan untuk pertahanan diri. Jadilah Litha terseret masuk ke dalam ruangan tersebut. Orang yang tidak dikenal oleh Sarah tersebut langsung menutup pintunya dengan keras.
"Litha..." teriak Sarah sembari membuka pintu tersebut, tapi tak bisa terbuka karena dikunci.
"Woi pengecut..." seru Sarah dengan mencoba mendobrak pintu namun hasilnya nihil.
Durtd... Durtd...
Handphone Sarah berbunyi, Sarah mengambil sebuah benda pipih dari dalam tas. Tertulis dilayar ponselnya kak Raka.
"Hallo kak cepet kesini. Litha dibawa orang," ucap Sarah panik.
"Dimana?" Terdengar juga dari seberang sana bahwa Raka sangat cemas.
"Ddd di ruang ganti," jawab Sarah agak gugup.
"Khusus untuk tim inti basket?" tanya Raka memperjelas penuturan Sarah.
"Ii.. iya," jawabnya dan Raka langsung memutuskan panggilannya.
***
Di suatu ruangan terdapat tiga orang, hanya saja yang satunya sedang menyembunyikan dirinya.
"Kak Fandy," lirih Litha.
"Maaf," ucap Fandy.
"Untuk apa?" heran Litha.
Gadis itu mulai paham maksud dari permintaan maaf dari Fandy. "Apa kak Fandy yang nyuruh gue kesini?" tebak Litha tepat pada sasaran.
Fandy hanya terdiam dengan tatapan yang tidak bisa Litha artikan. Tatapannya seperti ada sebuah rasa takut, sedih, marah, dan kasih sayang yang bercampur aduk menjadi satu. Entahlah itu benar atau tidak, atau mungkin hanya perasaan Litha saja.
"Kak," panggil Litha membuyarkan lamunan Fandy.
"Gue sayang dan cinta sama lo Tha sejak kita berteman di tempat latihan tinju itu," akhirnya Fandy mengungkapkan perasaannya setelah sekian lama ia pendam. Karena dari dulu sampai sekarang Fandy tahu bahwa Litha tidak memiliki perasaan yang sama terhadap dirinya.
Baru Litha akan bicara, tapi Fandy menyela karena apa? Karena Fandy sudah dapat memperkirakan kata-kata yang akan keluar dari bibir mungil itu.
__ADS_1
"Lebih dari sekedar seorang sahabat dan seorang kakak kepada adiknya," jelas Fandy.
Litha tersentak terkejut, dia bingung harus membalas seperti apa? Bagaimana? Matanya menyapu seluruh isi ruangan tersebut, otaknya bertraveling mencari jawaban yang sekiranya tidak akan menyakiti hati pemuda tampan itu.
"Gue tau hati lo cuma buat Raka. Tapi gue juga gak bisa hilangin perasaan ini Tha, gue udah coba hilangin tapi tetep gak bisa. Bahkan rasa ini semakin tumbuh seiring berjalannya waktu," ujar Fandy tulus, dan Litha mampu merasakannya.
Jujur, iya itu Fandy tulus. Ya kali aja Litha luluh dan mau menerima Fandy, meskipun rasanya mustahil. Tapi gpp, usaha aja dulu, siapa tau dapet. Kalau pun gak dapet, Fandy akan melancarkan rencana gilanya.
"Nggak bisa kak. Gue yakin akan ada wanita yang lebih baik dari gue yang akan mencintai lo suatu saat nanti," tutur Litha lembut, agar tidak menyakiti perasaan Fandy. Tapi tetap saja hati Fandy terasa sakit karena cintanya tak terbalaskan.
"Nggak akan ada, cuma elo satu-satunya wanita itu Tha. Kenapa kita nggak jalanin dulu aja? Siapa tahu kita cocok, toh juga kita udah saling kenal lama. Bahkan lebih banyak kenangan kita dibanding kenangan lo dan Raka yang baru beberapa bulan saling kenal dan jatuh cinta," ujar Fandy panjang lebar.
"Jangan pernah bandingin diri lo dan kak Raka. Kalian punya posisi dan tempat masing-masing dihati gue," ucap Litha dengan tegas namun juga lembut.
Sedangkan disisi lain, Dita yang bersembunyi dibalik loker dengan ukuran yang lumayan besar, dia sangat jengkel dengan tingkah Fandy. Ini jauh dari rencana awal, Fandy tidak meminta persetujuan dari Dita jika Fandy akan membujuk Litha terlebih dahulu. Jangankan meminta persetujuan, memberitahu saja tidak!
Usaha Fandy untuk membujuk Litha agar mau dengannya gagal! Baiklah ini saatnya Fandy melancarkan rencananya. Sebelumnya Fandy telah melirik ke arah Dita, dimana posisi Dita berada sejajar dengan Litha. Fandy sudah menebak jika Dita kesal dengan dirinya.
Fandy mulai mendekat ke arah Litha, tentu saja gadis itu mundur hingga tubuhnya menempel pada dinding. Fandy semakin mendekat hingga jarak wajah diantara keduanya semakin dekat dan sangat dekat. Namun dengan segera Litha menahan pergerakan Fandy, dengan kedua tangannya yang menyentuh dada bidang Fandy.
"Kak!" Tegas Litha.
"Lo cantik lo harus jadi milik gue seutuhnya," lirih Fandy lembut, tetapi juga mengerikan bagi Litha.
Litha melotot mendengar ucapan Fandy, yaps gadis cantik itu cukup mengerti arti dari kata tersebut. Litha masih dengan lamunannya, apakah Fandy akan berbuat yang tidak sopan terhadap dirinya? Tapi Litha rasa tidak mungkin.
Disaat itu juga, Fandy dengan lembut mengarahkan kedua tangan Litha agar tangan tersebut melingkari dilehernya. Selanjutnya kedua tangan Fandy memeluk pinggang Litha.
Sampai kemudian Litha tersadar jika tangan yang tadinya berada di dada bidang Fandy dengan tujuan untuk menahan pergerakan Fandy, kini sudah berpindah tempat pada leher Fandy. Ditambah pula dengan jarak dirinya dengan Fandy yang hampir terkikis habis, Fandy juga sudah mulai memiringkan kepalanya, serta sorot mata yang mengarah pada bibir mungilnya. Sungguh Litha benar-benar merasa jijik dengan tingkah Fandy.
Plak...
Satu tamparan keras mendarat dipipi sebelah kanan milik Fandy. Lalu Litha mendorong tubuh pemuda gila itu dengan sekuat tenaga, karena Litha sedang emosi. Hingga tubuh Fandy terbentur ke tembok.
"Jaga sikap lo!!!" tegas Litha dengan volume tinggi.
Gadis tersebut hendak berlalu meninggalkan tempat itu. Dia menaik turunkan gagang pintu berulang kali, namun pintu tersebut tak kunjung terbuka.
Dita yang mengintip dari balik loker hanya tersenyum miring, dengan ponsel yang sedari tadi mengawasi pergerakan dua manusia tampan dan cantik itu. Sama halnya dengan Dita, laki-laki gila itu tersenyum miring dengan tangan yang memegang pipi kanannya yang terasa sedikit nyeri.
Litha masih memegang gagang pintu tersebut, dia menarik nafas panjang, lalu membuangnya dengan mata yang terpejam. Setelah dirasa cukup untuk mengatur emosinya, lantas gadis tersebut membalikkan tubuhnya menghadap ke Fandy dan berniat untuk menasehatinya.
Tetapi siapa sangka? Kini Fandy berada tepat dibelakang Litha dengan jarak yang lumayan dekat, sehingga saat Litha membalikkan tubuhnya, gadis itu dapat langsung mendapati sosok pemuda tampan tersebut.
Belum juga Litha bersuara, Fandy lebih dulu membawa tubuh Litha agar terpentok ke tembok yang tadi, dengan memegang kedua pundak Litha. Tindakan tersebut tentu saja membuat Litha sangat terkejut.
"Lepas!" Perintah Litha yang sama sekali tak dihiraukan oleh Fandy.
"Lepas atau gue akan teriak?" ancam Litha.
"Silahkan teriak," jawab Fandy dengan senyum yang mengerikan menurut Litha.
Fandy mulai mendekatkan wajahnya lagi ke arah Litha, tapi Litha tidak bisa bergerak. Tubuhnya terkunci karena kedua tangan Fandy menahan pundak Litha agar terus menempel pada tembok, serta kedua kakinya yang menginjak kaki Litha. Fandy sudah belajar dari pengalaman, jika tangan sudah dapat ia kunci, tapi masih ada kaki yang selalu bisa menjadi penolong, maka dari itulah Fandy menginjak kedua kaki Litha.
__ADS_1
Tidak! Nyatanya tangan Litha belum terkunci. Catat, Fandy hanya menahan pundak Litha, bukan lengan Litha. Tangan Litha meraih tangan Fandy, lalu setelah dapat, ia menghempaskannya ke sembarang arah. Karena tubuh Fandy yang bertumpu pada kedua tangannya, jadi saat salah satu tangannya tidak seimbang dengan tangan sebelahnya, tubuh Fandy akan kehilangan keseimbangan.
Litha mencoba melangkahkan kakinya, tapi ia lupa bahwa Fandy masih menginjak kakinya. Fandy memeluk Litha secara mendadak membuat Litha tersentak. Litha memberontak hebat, namun tetap saja kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan seorang lelaki.
"Lepas!" seru Litha disela-sela ia memberontak.
"Kak Fandy berubah, gue benci elo!" teriak Litha dengan mata berkaca-kaca.
"Gue gak berubah, gue tetep sayang sama lo," sahut Fandy yang masih memeluk erat tubuh mungil gadis yang dicintainya.
"Sayang? Bukan! Lo hanya terobsesi untuk dapetin gue," bantah Litha.
"Lepass!!!" teriak Litha sekencang mungkin.
Gadis tersebut sudah mulai lelah menghadapi sikap Fandy, tenaganya sudah ia gunakan untuk memberontak dan berteriak. Hingga akhirnya Litha memilih untuk menangis, karena hanya itu yang mampu ia lakukan, sebagai rasa kekecewaannya terhadap sikap Fandy.
Hiks... Hiks... Hiks...
Itu adalah suara tangisan Litha, tidak! Itu adalah suara tangisan dalam hatinya. Litha tidak mengeluarkan suara sedikitpun, meski air matanya mengalir deras membasahi pipinya.
Fandy pikir, Litha sudah mulai tenang dan gadis itu mau menerima perlakuan apapun darinya. Tetapi Fandy merasakan ada cairan yang membasahi kaos dibagian dadanya, dimana disitu Litha menenggelamkan wajahnya didada bidangnya.
Ralat, Litha tidak menenggelamkannya, tetapi memang tubuh Fandy yang tinggi, dan tinggi Litha hanya mencapai bahu Fandy. Raka dan Fandy memang memiliki tubuh semampai yang tingginya hampir sama, tapi tetap lebih tinggi Raka sedikit. Jika kalian menganggap Litha itu pendek, kalian salah besar. Nyatanya memang Raka dan Fandy itu mempunyai tubuh yang tinggi semampai.
Fandy merenggangkan pelukannya, dan itulah kesempatan untuk Litha lepas dari Fandy. Tapi Litha lupa bahwa kakinya masih terinjak oleh kaki pemuda gila itu.
Kali ini Fandy tidak menahan pundak Litha, melainkan lengan Litha. Sehingga dapat dipastikan jika gadis itu benar-benar tidak bisa bergerak.
Fandy sedikit terkejut melihat pipi Litha yang sudah basah "Jangan nangis. Gue gak bisa lihat orang yang gue sayang nangis kayak gini," tutur Fandy.
"Lepasin kak!" Litha memohon kepada Fandy.
"Nggak Tha. Gue harus balas dendam ke Raka dan Umran," balas Fandy.
Litha sempat membuka mulutnya, jadi ternyata dirinya hanya dijadikan sebagai alat untuk balas dendam? Apakah itu yang dinamakan cinta dan sayang? Tidak! Fandy tidak tulus mencintai Litha. Jika Fandy tulus, Fandy tidak akan mempunyai niatan buruk untuk merenggut kesucian gadis yang ia cintai.
Air mata Litha semakin deras mengalir di pipinya. Gadis itu bahkan sampai menangis sesenggukan. Litha tidak dapat membayangkan bagaimana penyesalan dan kesedihan yang ada pada orang-orang yang ia sayangi, jika Fandy akan melakukan hal menjijikkan untuk dirinya.
Masih dengan air matanya, Litha memalingkan wajahnya ke samping, dia tidak ingin melihat wajah tampan dari laki-laki brengs*k itu. Rasanya Fandy tidak tega telah membuat gadis cantik tersebut menangis.
Fandy melirik ke arah Dita yang sedang tersenyum puas. Dilihatnya Dita yang mengode untuk tetap melancarkan aksinya, seolah-olah Dita mengatakan, 'Jangan lemah hanya karena air matanya, wanita akan mengeluarkan jurus andalannya untuk membuat lelaki lemah tak berdaya karena air yang keluar dari matanya,'
Fandy kembali fokus ke tujuan utamanya untuk balas dendam sekaligus mendapatkan Litha serta melepaskan hasratnya. Sekali dayung dua pulau terlampaui..!!!
"Tha..." panggil Fandy, agar Litha menghadapkan wajahnya ke arah Fandy.
"Kak Fandy jahat," lirih Litha disela tangisannya, yang sukses membuat hati Fandy terenyuh. Namun Fandy akan tetap melakukan sesuai dengan rencananya.
Fandy Aditya Bakti
Sebagai rasa bersalahnya Author karena sering ngegantungin para readers, Author kasih tau nih visualnya pemuda tampan yang tergila-gila pada Litha hehe...
__ADS_1
Mon maap ya Author gantungin lagi dipart ini😁