
Persiapan huru hara acara lamaran nanti malam di kediaman keluarga Nagara begitu ramai, para pelayan sibuk mempersiapkan hidangan dalam jumlah banyak karena The Perfect juga akan hadir mendampingi keluarga Raka nanti malam.
Hari ini Litha izin cuti koas untuk mempersiapkan acara lamarannya, padahal sebenarnya dia cuti agar bisa tiduran sepuasnya hari ini.
Hari sudah menjelang sore, namun Litha masih enggan membuka matanya, kesadarannya mulai muncul tapi matanya menolak untuk terbuka.
"Tatha," bisikan lembut tersebut sukses membuat Litha langsung membuka matanya, dia ingat betul suara khas itu milik siapa.
"Kak Raka?" Saat Litha membuka matanya tidak ada siapapun didepannya.
Litha membalikkan badannya dan refleks langsung menarik selimut menutupi tubuhnya. "Kak Raka kenapa bisa ada disini?"
Raka terkekeh melihat ekspresi panik dari Litha. "Kamu masih inget waktu pertama kali aku ke kamar ini? Itu enam tahun yang lalu Tha, dan kamu masih nunjukin kepanikan itu lagi?"
Litha berpikir sejenak, Litha tersenyum masih mengingat jelas kejadian itu.
Raka maju naik ke ranjang dan mendekatkan wajahnya didepan Litha yang asik melamun. "Kamu takut sama calon suami sendiri?"
Bisikan lembut itu lagi-lagi mengejutkan Litha yang langsung terlonjak kaget. "Uwaa.... Kak Raka bikin kaget aja!"
"Maaf," Raka tertawa, baginya Litha sangat lucu jika mode kaget seperti itu.
Litha berlalu menuju kamar mandi untuk sekedar cuci muka dan gosok gigi. Keluar dari kamar mandi dilihatnya Raka yang sedang membaca salah satu komik koleksinya.
"Masih suka baca komik?" Raka melihat Litha yang sedang sibuk mencepol rambutnya asal.
"Jarang, malah kayaknya gak pernah semenjak aku koas. Kalau pulang dari rumah sakit, badan rasanya capek, pengen langsung tidur," Litha mendekat naik ke atas kasur dan ikut melihat buku komik yang dipegang Raka.
Aroma permen candy terasa di indra penciuman Raka, ia menoleh ke samping melihat leher jenjang Litha yang terpampang jelas karena rambut panjang yang biasanya terurai kini di sanggul acak menyisakan beberapa helai rambut yang berjatuhan.
Raka menelan ludahnya melihat gadis itu dari sisi samping. Ayolah bagaimana pun juga Raka adalah laki-laki dewasa yang normal.
Kalau boleh jujur Raka mau bilang kalau Litha jadi terlihat sangat seksi dimatanya saat ini, tapi sepertinya kata-kata itu tidak pantas terucap dari mulutnya.
"Kamu mancung juga ya ternyata," akhirnya malah kalimat itu yang terucap.
Sontak membuat Litha menoleh menatap tajam Raka yang tersenyum tipis. Tolong deh Raka sayang... Dari lahir Litha juga udah mancung!
Raka tertawa renyah melihat tatapan tajam Litha, bukannya terlihat lebih menyeramkan tapi malah terlihat lucu dimata Raka.
Raka meraih tangan kanan Litha agar melingkar di pundaknya, lalu ia menyandarkan kepalanya di bahu Litha.
Litha tersenyum, ini ceritanya Raka lagi pengen di manja-manja? Enam tahun lebih menjalin hubungan dengan Raka, baru kali ini Raka memperlihatkan sisi menggemaskannya.
"Aku capek, tadi siang habis ada operasi," Raka menghelai nafasnya berat.
Tangan kiri Litha melingkar didepan dada lebar Raka sehingga saat ini Litha memeluk Raka dari samping. Litha mengecup kepala Raka. "Operasinya gagal?" Litha langsung paham gerak-gerik Raka yang tidak terlalu bersemangat.
"Iya, keluarga pasien nangis. Aku cuma bisa menunduk saat semua keluarga almarhum menyalahkan aku," ujar Raka memeluk pinggang Litha.
"Rezeki, jodoh dan maut itu udah diatur Allah. Dokter itu hanya manusia biasa yang tugasnya hanya sebagai perantara atas kesembuhan pasiennya. Kalaupun pasiennya tidak kunjung sembuh dan berakhir meninggal, itu sudah menjadi garis takdir yang diberikan Allah kepada hambanya," Litha menempelkan hidungnya di kepala Raka.
__ADS_1
"Kak Raka udah jadi dokter empat tahun lebih. Apa selama empat tahun ini operasi Kakak selalu berhasil?" Litha dapat merasakan kekecewaan yang sangat dalam pada diri Raka.
"Ini pertama kalinya aku gagal Tha," Raka semakin erat memeluk pinggang Litha.
"Dan itu bukan sesuatu yang akan terjadi untuk terakhir kalinya dalam kehidupan seorang Dokter bedah, kegagalan operasi bukan kesalahan dari pihak medis ataupun alat-alat medis yang kurang canggih," sahut Litha.
Raka menatap Litha yang tersenyum manis. "Maksud kamu?"
"Tanpa aku jawab aku yakin Kak Raka tahu maksud aku," Litha tersenyum meminta Raka melupakan kejadian itu.
"Kenapa Kakak ke sini?" Litha mengalihkan topik pembicaraan agar Raka tidak larut dalam kekecewaannya.
"Kangen calon istri," masih diposisi yang sama, Raka menyenderkan kepalanya kembali di bahu Litha.
"Aku kira, hari ini kamu libur kerja," sahut Litha tanpa sadar mengingatkan Raka tentang operasinya yang gagal.
"Eh?" Litha baru sadar setelah mengucapkan itu. Biasalah dari dulu dia selalu berpikir setelah mengucapkan kalimatnya.
Raka tertawa. Sekeras apapun Litha mencoba bersikap dewasa, pasti sisi kekanakannya selalu muncul tiba-tiba.
"Kak Raka jangan ngetawain aku," ucap Litha.
Raka menatap Litha, tuh kan bener tebakan Raka pasti sekarang Litha lagi cemberut lucu ala-ala.
"Jangan manyun terus nanti aku cium," Raka menatap bibi mungil tersebut. Perasaan tadi waktu Litha belum masuk kamar mandi bibirnya gak semerah ini.
"Kamu sengaja buat bibir kamu jadi merah?" Tebak Raka.
"Kamu cocok pakai warna apapun," Raka mengusap bibir Litha.
Pandangan Raka fokus mengamati bibir mungil tersebut. "Boleh aku coba-coba buat acara malem pertama kita nanti?"
"Eh? Mana ada kayak gitu?" Litha menatap sinis Raka yang tersenyum jahil dengan tangan besarnya meraih selimut menutupi tubuh bagian bawahnya. Entah apa alasan Raka menyelimuti kaki mereka berdua, Litha tidak mengerti?
Raka melingkarkan tangannya diperut Litha, perlahan ia mulai memiringkan dan memajukan kepalanya. Karena terbuai oleh pesona Raka, Litha juga memiringkan kepalanya dengan tangan masih diposisi melingkar dibahu Raka. Yaaa secara siapa sih yang menolak pesona seorang Raka Adelard Pangestu?
Ohh apakah mereka akan berciuman lagi setelah sekian lama tidak melakukannya? Terakhir mereka berciuman saat di mobil sekitar lima tahun yang lalu sebelum Raka pergi ke Inggris.
Jantung Litha berdegup kencang tapi wait! Litha melupakan sesuatu. "Tunggu! Kenapa Kakak gak pegang leher aku kayak dulu?" Celetuk Litha membuat Raka tersenyum kecut karena tidak jadi melancarkan aksinya, padahal hidung mancung mereka sudah saling menempel.
"Kenapa? Kamu butuh dorongan dari belakang?" Tanya Raka.
"Enggak, kita udah pernah ngelakuin ini sebelumnya. Kayaknya aku gak lupa caranya, jadi aku bisa tanpa dorongan dari tangan kamu," jelas Litha panjang lebar, yaa itu sih menurut Raka, padahal kalimat itu gak panjang-panjang amat kok. Emang Raka nya aja yang udah gak sabar pengen cepet-cepet menyesap bibir mungil yang menggodanya.
"Jadi? Ayo kita terusin lagi!" Ucap Raka lembut, walaupun sebenarnya dalam hati rada jengkel.
"Ayok," sahut Litha.
Raka kembali memiringkan kepalanya begitu juga dengan Litha, hanya tinggal beberapa centi dan Cup! Bersamaan dengan suara pintu terbuka Krek...
"Astagfirullah!" Tiga wanita yang berada diambang pintu sangat shock melihat dua sejoli yang tengah bermesraan diatas tempat tidur.
__ADS_1
Bagaimana tidak terkejut? Posisi Raka dan Litha meresahkan pandangan, mereka saling pelukan dengan selimut menutupi tubuh bagian bawahnya dan mereka akan berciuman? Akh.. tidak, bahkan bibir mereka sudah menempel.
Raka dan Litha langsung menoleh ke sumber suara. Oke intinya mereka gagal ciuman mesra. Mereka menelan ludahnya bulat-bulat melihat sang ratu yang didampingi oleh dayang-dayangnya di sisi kanan dan kiri.
"Mampus lu berdua!" Sarah menutup mulutnya. "Astagfirullah, kok jiwa bar-bar gue kumat lagi?"
"Uhhh sosweet..." Fika tersenyum mengingat kejadian yang tidak seharusnya ia lihat tadi.
Mama Kania yang berada di tengah-tengah Sarah dan Fika, menoleh ke samping kiri dimana Fika masih tersenyum-senyum sendiri.
Fika yang merasa terancam, menatap balik Mama Kania yang menatapnya tajam. Fika nyengir kuda kepada Mama Kania, lalu ia melihat Raka dan Litha yang masih pada posisi ternyaman mereka.
"Astagfirullah... Tobat lo berdua, eling woi... eling," suara Fika menggema di kamar Litha dengan tangan menunjuk dua manusia itu.
"Astagfirullahaladzim, astagfirullahaladzim, astagfirullahaladzim," Fika mengelus dadanya sambil geleng-geleng kepala.
"Setelah kegep sama Mama, kalian masih santai-santai pelukan kayak gitu?" Suara Mama Kania menggema dalam ruangan itu.
Raka dan Litha saling pandang lalu melepaskan pelukannya masing-masing.
"Kalian habis berzina atau baru mulai berzina?" Bentak Mama Kania dengan sorot mata elangnya.
"Ee.. enggak Ma, kita masih pake celana kok," dengan polosnya Litha langsung menyibakkan selimut yang menutupi kaki mereka. Tuh kan Ma pakaian mereka berdua masih komplit, jadi masih aman kok wkwk.
Sarah hanya tersenyum simpul karena dia yang sudah berpengalaman dalam hal begituan.
Mama Kania membuang nafasnya kasar dengan tangan memijat pelipisnya yang berdenyut. Oke Litha masih agak polos, pasti ini ajaran dari putranya sendiri.
"Raka?" Mama Kania melangkah mendekat dengan sorot mata tajam kepada Raka.
"Baru akan Ma," sahut Raka tidak menunjukkan ketakutan sama sekali, melainkan hanya wajah datar yang ia perlihatkan.
"Baru akan atau baru mulai?" Tegas Mama Kania.
Akan artinya hanyalah sebuah niat atau rencana dalam pikiran kita. Sedangkan jika mulai, itu tandanya sudah sedikit melaksanakan sesuatu dari niat tersebut.
"Baru mulai Ma," jawab Raka yang tadinya mencerna lebih dulu pertanyaan Mamanya.
"Ayo pulang!" Mama Kania langsung menarik telinga Raka sangat kuat sampai Litha dapat melihat ekspresi Raka kesakitan. Padahal dulu kalau Raka kena pukul Fandy, ekspresi wajah gantengnya selalu datar-datar aja. Dapat Litha tebak jika jeweran Mama Kania adalah jeweran maut.
"Kenapa Mama ke sini?"
"Karena Mama punya insting kalau kamu akan berzina!"
Litha menghelai nafasnya mendengar sedikit percakapan itu saat Mama Kania baru beberapa langkah menyeret Raka keluar dari kamarnya.
Mau ditaruh mana muka Litha nanti saat berhadapan dengan calon mertuanya di acara lamaran nanti malam.
"Muka lo gak punya kaki, jadi gak bisa lari kemana-mana!" Sahut Fika.
Litha menatap tajam kedua sahabatnya yang sudah ngakak mengguling-gulingkan tubuhnya di kasur king size miliknya.
__ADS_1