
Disinilah Litha sekarang, di depan perusahaan... cabang? Kenapa sangat besar sekali? Gedungnya menjulang tinggi, ini jauh dari kata cabang! Ini seperti perusahaan utama. Terdapat papan nama yang sangat besar bertuliskan Adelard Group.
Perusahaan cabang saja sudah terlihat sangat megah, lalu bagaimana dengan perusahaan pusatnya?
Litha melangkah memasuki gedung tersebut, ini adalah pertama kalinya dia datang ke kantor yang Raka pimpin. Baru juga masuk, Litha sudah mendapat pemandangan yang tidak menyenangkan dari mereka semua yang menatap Litha dengan tatapan aneh. Mungkin karena Litha masih memakai seragam sekolahannya.
"Ada keperluan apa disini dek?" tanya seorang wanita dewasa yang menghampiri Litha.
Tunggu, dek? Dikira Litha masih kecil banget apa? Iya Litha tahu, Litha emang imut hehe plus umurnya emang belum genap 17 tahun. Tapi nggak harus manggil dek juga kali, abangnya aja gak pernah manggil Litha dengan sebutan dek.
"Mau ketemu sama kak Raka," jawab Litha tanpa menggunakan bahasa formal.
Litha tidak terbiasa berbicara dengan bahasa formal, dia sendiri selalu menolak saat diajak Ayah Kusuma untuk pergi ke perusahaan Ayahnya. So jangan salahkan Litha jika terlihat sangat polos dengan bahasa yang ia gunakan sehari-hari.
Sedangkan karyawan itu nampak berpikir, apakah gadis cantik SMA ini adalah adik dari pimpinannya? Tapi setahunya Raka Adelard Pangestu adalah pewaris tunggal dari keluarga Adelard.
"Kak Raka ada di dalem kan?" tanya Litha membuyarkan lamunan wanita yang berpenampilan sedikit seksi itu. Meskipun tidak terlalu terbuka, tetapi pakaiannya sangat ketat, sehingga memperlihatkan bentuk lekuk tubuhnya.
"Ada. Tapi Pak Raka sedang menemui tamunya," sahutnya.
"Memangnya adek ini siapanya Pak Raka?" tanya wanita itu yang menurut Litha lumayan kepo. Litha sudah dapat menebak jika wanita ini pasti menyukai manusia dingin itu.
"Hubungan saya dengan kak Raka itu privasi kami," senyum Litha yang sudah mulai mengerti bahasa yang digunakan saat berada dalam lingkungan kantor seperti ini.
"Bisa tunjukkan ruangan yang ditempati kak Raka?" tanya Litha saat mendapati wanita tersebut hanya terdiam.
"Maaf sebelumnya, tetapi sebaiknya jika ingin bertemu dengan Pak Raka harus membuat janji terlebih dahulu," ucap wanita itu dengan senyum yang cenderung meledek.
Litha memutar bola matanya, seribet inikah untuk bertemu dengan pacarnya sendiri? Kalau tahu begini lebih baik Litha menyuruh Raka untuk menemuinya di sekolah saja.
Litha mengambil ponselnya yang ada dalam tas punggungnya. Gadis itu hendak menghubungi Raka. Litha menempelkan benda pipih tersebut dengan menatap malas pada wanita yang tersenyum ke arahnya. Menyebalkan, begitu batin Litha karena merasa diawasi.
Cukup lama Litha menepuk-nepukan telapak kakinya pada lantai. Panggilannya sudah masuk pada ponsel Raka, tapi mengapa tidak diangkat oleh pemilik benda pipih itu?
Akhirnya Litha menyerah, dia menyimpan ponselnya ke dalam saku seragamnya. "Ini beneran saya gak dibolehin masuk?" tanya Litha yang sudah sangat kesal.
Wanita itu mengangguk dengan senyum yang menyebalkan bagi Litha. Senyumnya seakan-akan sedang meremehkan dan meledeknya.
__ADS_1
"Kalo ketemu sama sekretaris nya boleh nggak?" tanya Litha dengan nada tidak bersahabat. Ya siapa tau aja dengan melakukan tawar-menawar dengan sekretaris Raka, Litha bisa menemui beruang kutub menyebalkan itu, walau kemungkinannya kecil.
Wanita itu menuntun Litha yang mengekorinya dibelakang untuk menemui sekretaris Raka. Saat sudah berada dilantai yang dituju, mereka keluar dari lift.
Hampir semua pasang mata menatap ke arah Litha, seorang gadis SMA berada di dalam kantor? Tapi mereka juga tidak bisa menepiskan bahwa, dalam diri gadis SMA itu memiliki perpaduan antara cantik, manis dan imut dengan wajah naturalnya.
Sedangkan wanita disamping Litha merasa sedikit iri pada tatapan mereka semua yang hanya mengarah pada gadis SMA disampingnya. Wanita itu berhenti tepat di depan sebuah ruangan yang bertuliskan Direktur, mungkin itu adalah ruangan Raka. Dia menghadap pada seorang wanita yang tengah duduk santai ditampatnya.
"Apa Pak Raka masih menemui tamunya?" tanya wanita itu pada sekretaris Raka yang tak kalah seksi.
Bahkan pakaiannya tidak hanya ketat, tapi rok span nya berada di atas lutut dengan blouse yang memperlihatkan belahan dadanya. Ditambah pula dengan riasan diwajahnya yang terlalu berlebihan jika hanya untuk pergi bekerja ke kantor. Entah kenapa itu membuat Litha menjadi geram sendiri.
"Masih. Memangnya ada apa?" tanya sekretaris itu.
"Ada anak SMA yang ingin bertemu," jawab wanita itu yang terdengar meremehkan Litha.
Wanita itu tersenyum tipis, begitu juga dengan sekretaris itu yang malah tersenyum miring. Litha benar-benar merasa diejek terang-terangan oleh mereka berdua.
"Maaf ya dek. Sepertinya ini bukan tempat kamu. Jika pun kamu mengaku sebagai teman sekolah Pak Raka, sepertinya tipuan kamu tidak akan mempan," ujar sekretaris itu.
Yah sekretaris itu mengetahui jika atasannya masih duduk di bangku SMA. Dia berpikir Litha hanyalah fans Raka yang suka mengaku-ngaku, karena tak sedikit juga orang yang mengaku sebagai teman sekolah Raka, padahal mereka adalah fans berat Raka. Sungguh gila!
"Kamu masih terlalu manis untuk menjadi gadis SMA," ledeknya.
Hufffttt...
Litha membuang nafas panjangnya. Dia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Saat menoleh ke belakang Litha melihat seorang lelaki dengan setelan jas nya yang baru saja keluar dari ruangan yang Litha rasa itu adalah ruang kerja Raka.
Laki-laki paruh baya tersebut menatap Litha dengan tatapan gugup, membuat Litha menjadi penasaran. Lantas Litha membalikkan tubuhnya menghadap ke arah laki-laki itu, ingat Litha tadi hanya menoleh, belum membalikkan tubuhnya.
Wanita yang berada disamping Litha juga ikut menghadap ke arah lelaki itu, dan sekertaris seksi itu beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat di samping teman kantornya.
Mereka berdiri sejajar dengan Litha. Mereka tersenyum dengan menundukkan sedikit kepalanya, mungkin sebagai tanda penghormatan kepada tamu bos nya, pikir Litha.
Raut wajah laki-laki itu terlihat masih gugup, dia masih menatap lekat pada wajah ayu milik gadis SMA. Tidak hanya Litha yang merasa heran dengan kegugupan pria itu, dua wanita yang sejajar dengan Litha pun juga merasa heran. Litha menoleh ke sampingnya, dua wanita menyebalkan itu malah menatap Litha dengan tatapan menyelidik.
"Saya minta maaf," ucap pria itu setelah beberapa detik yang lalu membuat kebingungan tiga wanita dihadapannya. Dan permohonan maaf itu kini malah menambah kebingungan mereka bertiga.
__ADS_1
"E.. Maksud bap..." sahut sekretaris itu terpotong karena lelaki itu mengangkat tangannya, memperlihatkan telapak tangannya, yang mengartikan untuk menyuruh sekretaris itu diam.
"Litha maafkan anak saya!" sambung Pak Dika yang memang sudah mengetahui gadis SMA itu adalah Litha Kusuma Jaya Nagara.
"Hah..." Litha memasang ekspresi cengo nya. Bagaimana orang itu bisa mengetahui namanya? Litha saja tidak mengenalnya, dan ini pertama kalinya Litha melihat wajah orang tua itu.
Lagi-lagi tidak hanya Litha yang memperlihatkan ekspresi cengo, dua wanita disamping Litha juga sama seperti Litha. Seorang pengusahawan yang terbilang sukses dan selalu menjalin kerjasama dengan Adelard Group ternyata mengenal gadis SMA ini? Bahkan meminta maaf?
Tiba-tiba saja Raka sudah berada di belakang Pak Dika, tepatnya diambang pintu dengan menatap dingin ke arah tiga wanita itu.
"Pak Raka," ucap sekretaris itu setelah menyadari kehadiran dari pemimpinnya. Dua wanita itu menunduk sebagai rasa penghormatan.
Pak Dika menoleh ke belakang. Dilihatnya seorang pemuda tinggi dengan balutan jas hitamnya yang beberapa detik yang lalu, telah membuat dirinya hampir jantungan setengah mati.
Pak Dika melangkah ke samping karena merasa tidak enak hati telah membelakangi Raka. "Saya mohon... terima permintaan maaf saya atas nama anak saya," ucap Pak Dika dengan menatap Litha penuh harap.
"Jangan memaksanya!" tegas Raka yang sukses membuat tubuh Pak Dika bergetar.
Litha memperhatikan laki-laki di depannya dengan rasa iba. Dia merasakan ada rasa ketakutan dalam diri orang tua yang tidak dikenalnya itu.
Pak Dika menundukkan kepalanya, semakin membuat dua karyawan Raka semakin penasaran. Dika Tabitha merendahkan dirinya dihadapan gadis SMA ini? Ada apa dan siapa gadis itu? Pikir mereka.
"Kak..." panggil Litha dengan sorot mata tajam, seolah berkata 'Jangan membuatnya gugup, dan siapa dia?'
Raka menghelai nafasnya, "Dita," ucapnya dengan nada dingin.
Litha membulatkan matanya. Terkejut? Tentu saja. Jadi dia orang tua dari Dita.
Pak Dika menatap Litha lagi, kini gadis cantik itu merubah rajut wajahnya. Sama, yah sama persis seperti ekspresi pewaris tunggal keluarga Adelard, datar dan dingin.
Pemaksaan, pelecehan, martabat seorang wanita, masa depan hancur, kecewa, benci!!! Itulah beberapa kata yang mengudara dalam pikiran Litha ketika mendengar nama Dita, yang otomatis mengingatkannya pula dengan nama Fandy.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi," pamit Pak Dika dengan berlalu.
"Tunggu!" ucap Litha yang menghentikan langkah Pak Dika.
Pak Dika membalikkan tubuhnya menatap ke sumber suara yang menginterupsinya memberhentikan langkah kakinya.
__ADS_1
"Saya memaafkannya," ucap Litha dingin.
"Terimakasih banyak, saya permisi," senyum Pak Dika dengan melanjutkan langkahnya, takut-takut nanti malah ditahan Raka. Ya siapa tau aja Raka nggak terima kalau Litha sudah memaafkan Dita.