Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Konsep Bunuh Diri


__ADS_3

Setelah hampir subuh pintu apartemen Dita terbuka, Ken geleng-geleng kepala melihat kepala Litha dan Raka saling bersandar. Sedangkan Nick malah ikut-ikutan bersandar dipundak Litha, fiks Nick menganggu keromantisan mereka berdua.


"Woi bangun!" Seru Ken membuat tiga manusia tersebut langsung berdiri.


"Masih hidup lo?" Raka mengucek matanya yang masih ingin terpejam.


"Gimana mungkin gue mau bunuh diri, sedangkan gue belum ketemu calon keluarga gue yang lain," ucap Ken merujuk kepada anggota The Perfect yang lainnya.


"Kalo lo masih hidup, berarti Dita juga masih hidup kan?" Tanya Nick.


"Gue yakin lo berhasil gagalin rencana Dita untuk minum racun itu," Litha tersenyum memberikan jempolnya kepada Ken.


Mimik wajah Ken berubah menjadi sedih. "Kalau soal Dita... Dia udah tenang saat ini,"


Mata Nick terbuka lebar, air matanya langsung menetes. Nick mendorong tubuh Ken dan masuk menaik turunkan gagang pintu kamar Dita yang terkunci dari dalam.


Litha ikut masuk air matanya ikut menetes melihat Nick yang menggedor-gedor pintu kamar dengan isak tangisnya.


Nick duduk didepan pintu kamar Dita dengan memeluk lututnya. Hatinya hancur, Nick tidak dapat membayangkan bagaimana kehidupannya tanpa seseorang yang selama tiga tahun ini menemaninya.


Raka yang melihat drama tersebut hanya melirik sinis Ken yang mengusap pipinya padahal tidak ada air mata yang menetes.


Ken menoleh ke Raka, senyuman lebar terukir di wajah Ken mengingat Raka yang tidak mudah ia bohongi. "Pak bos ku ini emang yang paling the best,"


Pintu kamar terbuka menampilkan sosok wanita yang bermuka bantal dengan rambut acak-acakan. "Nick?"


Litha terkejut mendengar suara itu, ia mendongakkan kepalanya menatap mata Dita yang bengkak karena kebanyakan menangis.


Hal yang sama Nick juga mendongakkan kepalanya dan langsung berdiri memeluk tubuh Dita dengan begitu erat seolah Dita adalah sesuatu yang sangat berharga yang tidak boleh hilang dalam hidupnya.


"Ini beneran kamu kan sayang? Aku nggak lagi mimpi kan?" Nick menumpahkan air matanya dengan memeluk erat pujaan hatinya.


"Lo masih hidup Dit?" Tanya Litha tanpa rasa berdosa, membuat Raka menggeleng dan memegang kepalanya yang tertunduk.


Dita melepas pelukan Nick, ekspresi sedihnya kembali terlihat. "Lo pengen gue meninggal Tha?" Lirih Dita membuat Litha menjadi tak enak hati.


Litha segera menggelengkan kepalanya. "Eh bukan gitu maksud gue," niat Litha hanya untuk bergurau mencairkan suasana. Tapi Dita yang masih merasa salah dan malu terhadap Litha menjadikannya salah menanggapi gurauan Litha.


Dita mendekat kepada Litha, matanya menatap Litha lalu beralih kepada Raka. "Kata Ken, kalian berdua udah maafin gue. Apa itu benar?"

__ADS_1


Raka dan Litha saling menatap. "Iya. Kita udah maafin lo, iya kan Kak?" Litha tersenyum manis menatap Raka yang wajahnya tetap datar.


Raka mengangguk membenarkan penuturan Litha. "Tentang janji antara gue dan bokap lo, gak usah dipikirin. Janji itu akan tetap berlaku kalau sikap lo masih sama seperti enam tahun yang lalu," ujar Raka seperti biasa masih dingin jika dengan orang lain selain dengan Litha dan keluarganya.


"So?" Dita tersenyum tetapi air matanya menetes. Dia terharu dengan kebaikan Litha dan Raka yang masih mau memaafkan kesalahannya di masa lalu.


"Kita percaya kalo lo udah berubah," Litha tersenyum melihat Nick yang bahagia karena hubungannya dengan Dita dipastikan akan membaik.


Dita menghambur memeluk Litha, gadis yang dulu sangat amat dibencinya dan sering ia sakiti ternyata memiliki hati baik seluas samudera.


"Maaf Tha, dulu gue jahat banget sama lo," Dita menangis sejadi-jadinya mengingat rencana paling jahatnya dulu saat bersekongkol bersama Fandy.


"It's oke. Kita lupain itu dan mulai hidup dengan jalan cerita baru," Litha mengusap punggung Dita.


Sedangkan Nick kini menatap tajam Ken yang menipunya mentah-mentah. Ken yang menyadari tatapan tersebut tentu saja merasa tidak nyaman.


"He he he... soal yang tadi, gue gak nipu lo. Lo nya aja yang salah mengartikan tangisan haru bahagia gue," Ken mengucapkan jika Dita sudah tenang, bukan berarti meninggal. Orang Dita emang lagi tidur, otomatis dia udah tenang dalam mimpi indahnya dong?


"Alesan aja lu!" Ketus Nick. Dalam hati Nick membenarkan ucapan Litha jika Ken 11 12 dengan dirinya yang sama-sama jahil dan tengil.


"So... Gimana ceritanya lo gagal bunuh diri?" Litha dan Dita mengurangi pelukannya.


"Tunggu-tunggu, biar gue tebak. Pasti karena Ken berhasil bujuk lo?" Ucap Litha.


"Boro-boro bujuk, dia aja juga mau ikut minum racun tikus" Dita tertawa bersama Ken mengingat kebodohan keduanya.


"What?" Pekik Nick. "Ternyata kegilaan lo lebih parah dari gue," dalam hati kali Nick membenarkan penuturan Raka jika Ken lebih parah dari pada dirinya.


Yaa Nick akui Ken itu manusia aneh bin ajaib yang secara tidak langsung menyelamatkan kehidupannya yang nyaris hancur karena kehilangan Dita.


"Ken akan jadi sahabat kita, yang artinya dia akan masuk dalam The Perfect," ucap Litha tersenyum manis.


"What?" Nick menatap Raka yang menganggukkan kepalanya.


"Jadi gimana ceritanya kalian berdua gagal bunuh diri?" Litha sudah tidak sabaran meminta jawaban.


Ken tertawa sambil garuk-garuk kepalanya. "Kita takut rasa racunnya pahit, terus tiba-tiba otak gue kumat warasnya," biasanya Ken akan kumat kewarasannya jika berada di rumah sakit saja. Ken sendiri bingung kenapa dia mendadak kumat jadi waras?


Dita tersenyum kikuk menatap tiga orang yang terkejut di tempatnya. Ini semua karena Ken yang telah mencuci otak Dita agar ikut-ikutan tidak merelakan jika lidahnya merasakan pahitnya racun tikus.

__ADS_1


Flashback On


Dita dan Ken saling tatap setelah melihat kemasan racun tikus yang berada di telapak tangan Dita. Sebelumnya mereka telah saling mengenalkan diri sendiri masing-masing.


"Rasanya kek gimana ya?" Tanya Ken dengan ekspresi bodohnya.


"Kalo gue tau rasanya berarti antara gue langsung mati atau gue masuk rumah sakit dengan keadaan koma," Dita menatap kesal Ken yang cengengesan.


"Masak kita mau mati tapi harus ngerasain pahitnya racun tikus dulu sih? Mendingan kita menghabiskan sisa hidup kita yang gak tau kapan matinya, dengan kulineran makan-makan enak," ujar Ken.


"Kalau gitu ngapain lo ada niat rencana bunuh diri bego?" Bentak Dita.


"Gue cuma gak rela aja kalau lidah gue merasakan pahitnya racun tikus," Ken menjulurkan lidahnya lalu jari telunjuknya mengusap lidahnya. Dita yang melihat itu jadi jijik sendiri.


Dita duduk di sofa dengan pandangan yang tak terlepas menatap tajam Ken yang tadinya memamerkan jabatannya sebagai dokter, tapi kok blo'on?


Ken nampak berpikir sejenak mencari ide untuk menemukan solusi dalam masalah yang mereka hadapi. "Ahaa...! Lo punya jeruk nggak?" Tanya Ken yang baru saja mendapatkan ide cemerlang menurutnya.


Dita mengangguk, meskipun ia mulai curiga dengan dokter aneh itu.


"Gimana kalo kita taruh racun itu dalam orange juice? Yaa biar lidah kita gak ngerasain pahit," usul Ken.


"Emang bisa gitu ya?" Dita menaikkan sebelah alisnya.


"Konsep bunuh diri mah bebas gak ada aturannya," Ken langsung membuat dua gelas orange juice.


Tak lama kemudian orange juice buatan ala dokter Ken sudah disajikan di atas meja. Ken menaburkan racun dalam dua gelas tersebut.


"Silahkan diminum...!" Ken tersenyum lebar menatap Dita yang menatapnya balik dengan tatapan percampuran antara takut dan jijik.


"Ken, kok gue ngerasa lo agak gila ya?" Dita mengusap lehernya yang merinding melihat senyuman Ken.


Ken tidak menggubris perkataan Dita, ia tersenyum menyodorkan gelas kepada Dita.


Dita mengambil dengan ragu, kini minuman berwarna oranye tersebut sudah ada ditangannya dan tangan Ken. Bulu kuduk Dita langsung berdiri saat melihat Ken yang tersenyum-senyum sendiri melihat gelas yang ada ditangan berototnya.


"Lo minum duluan gih! Gue lihat reaksinya gimana dulu," ujar Ken tanpa rasa beban.


"Kok gitu sih? Gak adil, harus minum bareng-bareng dong," protes Dita.

__ADS_1


__ADS_2