
Sudah beberapa hari semua murid kelas 12 berperang dengan soal-soal ujian kelulusan mereka, sungguh menguras pikiran dan tenaga mereka untuk melaksanakan ujian, dan ini adalah hari terakhir mereka melaksanakan ujian.
Setelah itu mereka akan bebas dari masa SMA dan mempersiapkan segala sesuatunya entah itu untuk memasuki perguruan tinggi yang mereka pilih, atau untuk mencari pekerjaan.
Terlihat sebuah mobil sport mewah berwarna hitam baru saja terparkir rapi di parkiran sekolah. Sekar menyunggingkan senyumnya, dia sudah dapat menebak siapa orang didalam mobil tersebut.
Melihat mobil Raka, yang pastinya juga ada Litha didalamnya, membuat Sekar mengingat kembali kata-kata yang Fandy ucapkan tadi pagi. Sungguh Sekar merasa kasihan dengan keadaan Fandy saat ini.
Selama tinggal di rumah Sekar, Fandy tidak pernah keluar dari kamarnya, dia mengurung diri didalam kamar. Saat Sekar masuk kamar Fandy, dia selalu melihat Fandy hanya berdiam diri. Fandy seperti orang yang depresi, tidak memiliki arah tujuan hidup, raganya masih hidup, dia masih mampu bernafas, tetapi batinnya seperti mati.
Senyuman seketika hilang, wajah Sekar menjadi sendu. Kata-kata yang Fandy ucapkan tadi pagi menari-nari dalam pikiran gadis cantik yang memandang ke arah mobil sport mewah hitam tersebut.
"Gue lihat Fani. Sekar, Fani ada disini, dia masih hidup,"
Hati Sekar seakan tersayat mendengar kalimat pertama yang Fandy lontarkan selama tinggal di rumah Sekar. Sekar dapat melihat ekspresi wajah Fandy yang kembali memiliki semangat hidup setelah Fandy berhalusinasi jika Fani datang ke rumah Sekar.
Berhalusinasi! Yah kenyataannya Fani sudah meninggal satu tahun yang lalu akibat bunuh diri yang ia lakukan di sekolah tempatnya menimba ilmu.
Tak terasa satu tetes air mata mengalir di pipinya. Seseorang datang dengan menyeka air mata Sekar, membuat Sekar sedikit kaget.
"Arkan," ucap Sekar melihat pemuda tampan tersenyum ke arahnya.
"Kenapa? Ada masalah?" tanya Arkan dengan nada terendah.
Sekar menggelengkan kepalanya lalu tersenyum untuk menutupi rasa kesedihannya. Arkan mengajak Sekar masuk ke dalam gedung sekolah yang menjulang tinggi tersebut.
***
"Kak Raka, semangat," senyum manis terukir dibibir Litha dengan mengangkat dan mengepalkan kedua tangannya, memberi semangat untuk pemuda tinggi itu. Raka tersenyum, baginya Litha adalah support sistem terbaik.
Dari hari pertama ujian sampai sekarang, hari terakhir ujian Litha selalu mengucapkan kalimat tersebut sebelum mereka melangkah ke kelas masing-masing.
"Kalau nilai aku tertinggi kamu mau minta apa?" tawar Raka.
"Kok gitu? Kebalik dong Kak," Litha menjeda kalimatnya.
"Harusnya aku yang nanya itu ke kamu," tambah Litha. Bukannya seseorang yang sudah berjuang dan mencapai tujuan terbaiknya, dia lah yang harus diberi hadiah atau seharusnya dia yang membuat request?
"Atauu kamu ngode aku nih? Nyindir aku? Karena aku belum ngucapin sesuatu yang kamu harapkan yang ada sangkut pautnya sama nilai kamu? Ya udah... Kalau nilai kamu tertinggi, kamu boleh minta apapun dari aku," ujar Litha.
Raka menggeleng-geleng dengan senyum tampannya, dia sama sekali tidak ada niat untuk mengode atau menyindir Litha atau semacam itu.
__ADS_1
"Aku serius Tha," sahut Raka.
"Kebalik dong Kak," ucap Litha, Raka menggelengkan kepalanya dengan seulas senyuman.
"Kak Raka aja ya yang request, aku yang mengabulkan permintaan Kak Raka. Oke?" Litha merasa tidak enak, ya masa kebalik gitu? Raka yang berjuang belajar keras, Litha yang meminta sesuatu dari Raka. Kan nggak lucu!
Raka diam seribu bahasa. Baiklah Litha tahu, Raka tidak setuju dengan perkataannya. Litha akan mengeluarkan jurus andalannya.
"Yah... Mau yah... Kak Raka aja yang request!" Litha memohon dengan mengatupkan kedua tangannya dan jurus andalannya, memperlihatkan puppy eyes nya. Sangat lucu sekali, bagaikan seorang putri kecil yang meminta sesuatu kepada ayahnya.
Lucu, manis, cantik, membuat Raka menjadi gemas dengan tingkah Litha. Ingin sekali Raka mencubit pipi putih bersih yang bak bayi tersebut.
"Oke," ucap Raka setelah cukup lama berpikir. Sontak membuat wajah cantik tersebut memperlihatkan senyum kemenangan.
"Aku mintaaa..." Raka sengaja mengantungkan ucapnya.
"Apa...?" Litha menaikkan volume nya, jengkel sendiri dengan Raka.
"Janji dulu harus diturutin!" Raka memberikan jari kelingkingnya.
"Jangan yang aneh-aneh!" Litha memperingatkan Raka.
Raka tersenyum lalu mengangguk, tidak mungkin Raka menjerumuskan Litha dalam hal yang tidak baik. Litha membalas jari kelingking Raka, jari mereka sudah bersatu.
"Iya. Janji," ogah-ogahan Litha berkata seperti itu.
"Aku minta kamu yang request ke aku," ucap Raka langsung membuat bibir Litha manyun.
"Oke. Aku juga minta kamu yang request ke aku," sahut Litha tersenyum puas.
"Plagiat," cibir Raka.
"Biarin," ucap Litha bodoamat.
"Aku nggak suka punya cewek plagiat," sahut Raka.
Enggak-enggak..! Itu Raka cuma bercanda. Tapi Litha nganggep nya serius.
"Putusin aja!" Litha bersekedap dengan pandangan lurus ke depan, tanpa mau menatap ke arah si pengemudi mobil.
"Yakin?" Tanya Raka.
__ADS_1
"Hm," Litha masih ngambek.
"Serius?" Tanya Raka lagi.
"Hm," lagi-lagi hanya dehaman yang didapat oleh Raka.
Litha mendengar helaian nafas panjang dari pemuda tampan disampingnya. Litha menoleh, matanya bertemu dengan tatapan dingin Raka.
"Aku sayang Kak Raka," Litha memeluk Raka. Dia hanya terlalu emosi dengan Raka, sampai tidak berfikir dulu sebelum berkata. Dan sekarang Litha menyesal dengan ucapannya beberapa detik yang lalu.
Litha merenggangkan pelukannya, mengangkat dagunya ke atas, melihat wajah Raka yang tidak membalas pelukannya.
"Kak Raka marah?" Tanya Litha, Raka hanya diam tanpa mau menatap Litha.
Litha kembali mengeratkan pelukannya, meletakkan wajahnya pada dada bidang Raka sambil mengoceh meminta maaf kepada Raka, karena ucapannya yang asal bicara.
"Kak, aku minta maaf," tutur Litha.
"Aku nggak serius sama ucapan aku yang tadi," sambung Litha.
"Janji, aku nggak akan asal ngomong lagi. Aku nggak akan ngucapin kata putus untuk hubungan kita. Aku sayang Kak Raka," Litha masih memeluk Raka.
Susah payah Raka menahan tawanya, lucu mendengarkan Litha memohon seperti ini, tapi ada rasa kasihan juga, disisi lain ada rasa kesal juga karena dengan mudahnya Litha mengucapkan kata putus.
Raka harus memberi Litha sedikit pelajaran agar gadis mungil itu tidak asal bicara tentang putusnya hubungan yang mereka jalin. Iya ini Raka ceritanya lagi ngerjain Litha, hehe gpp lah ya sekali-kali.
"Ekhem," Raka sok-sokan batuk formal. Dia mendorong pelan Litha, agar Litha tidak memeluknya dengan erat, bisa-bisa Raka gak bisa nafas.
Raka membuka pintu mobil dan melangkah pergi begitu saja meninggalkan Litha yang masih termenung di dalam mobil.
"Dia marah beneran?"
"Tapi kita belom putus kan?"
"Ya udah deh gpp marah, yang penting belom putus,"
Dengan percaya dirinya Litha melangkah keluar mobil. Biarkan saja Raka puas dengan marahnya, tidak masalah, yang penting statusnya masih menjadi pacar Litha. Toh juga ini salah Litha yang gampang terpancing emosi and ending nya asal bicara tanpa pikir panjang. Sekarang baru menyesal deh...
Hufhh...
Litha berjalan dengan membuang nafas secara kasar. Dipikir-pikir, tadi mereka marahan hanya karena berdebat membahas soal request apa dan siapa yang ber request? setelah nilai Raka yang kemungkinan besar nilai tertinggi itu keluar.
__ADS_1
Menyebalkan sekali!