Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Hati Beku


__ADS_3

"Alesannya?" tanya Litha.


"Waktu Fani mau bunuh diri karena Raka, eh... Raka malah cuek banget. Padahal murid yang lain udah ngumpul di bawah gedung yang dipake Fani buat bunuh diri. Para guru juga ada dibawah teriak-teriak bujuk Fani, dan gue malah ada di atas gedung bareng Fani buat bujuk Fani supaya gak nekat ngelakuin hal gi*a," jelas Umran panjang lebar.


"Lo mau tau gak kemana Raka, waktu detik-detik kejadian itu?" jelas Umran panjang lebar. Lalu memancing Litha untuk menanyakan keberadaan Raka saat detik-detik kejadian Fani yang ingin bunuh diri.


"Emang Raka kemana? Pulang?" tanya Litha lalu mencoba menebak.


"Lebih parah. Kalo lebih milih pulang ke rumah sih masih mending. Nah dia malah ke kan..." jawab Umran dipotong oleh si ganteng beruang kutub.


"Udah gak usah dilanjutin," ketus Raka kesal saat mengingat kejadian tersebut.


Raka sangat tidak nyaman berada di situasi saat itu, Fani bunuh diri karena ingin mendapatkan hatinya Raka. Otomatis secara tidak langsung Raka adalah penyebab kejadian itu.


"Lanjutin!!!" tegas Litha kepada Umran, tetapi matanya melotot ke arah Raka. Tentunya Raka hanya diam seribu bahasa dan tetap memasang ekspresi datar.


Sedangkan Umran dan Leon sedang bersusah payah untuk menahan tawanya. Mereka berdua tahu kalau Raka pasti tidak akan menang melawan keinginan Litha.


Yups Umran dan Leon lagi ngeledekin Raka nih ceritanya. Seorang Raka Adelard Pangestu yang disegani oleh banyak orang, tapi takut sama gadis kecil nan cantik bernama Litha. Wkwkwk... Cinta mah gitu, kalau gak mau bubar harus nurut sama doi nya.


"Ehem," Litha berdeham singkat.


Litha tahu kalau abangnya dan manusia disamping abangnya itu sedang menertawakan Raka didalam hatinya masing-masing. Lagi pula memang terlihat jelas bahwa mereka sedang menahan tawanya.


"Eh... sorry jadi lupa gue, sampai mana ya tadi ceritanya?" tanya Umran. Belum dijawab tapi Umran sudah berucap lagi.


"Oh.. iya waktu suasana udah kacau balau dan ricuh, pokoknya murid sama gurunya udah teriak-teriak gitu. Eh tu es balok malah jalan santui kayak orang gak punya dosa ngelewatin gedung yang diatasnya ada gue ma Fani dan dibawahnya ada banyak orang. Dan parahnya lagi tu es balok malah ngomong..." jelas Umran panjang kali lebar kali tinggi. Dan lanjutan ceritanya, diceritakan oleh Leon, karena Leon ikut berperan untuk angkat suara dalam cerita tersebut.


Flashback On


"Ayo ke kantin!" ajak Raka dengan nada datar kepada The Perfect, yang berada diantara kerumunan murid yang sangat histeris melihat aksi Fani yang berniat bunuh diri dengan melompat dari atas gedung yang amat tinggi.


"Masih sehat?" tanya Danil.


"Rada-rada lu ya? Situasi lagi kayak gini malah mikirin isi perut," sewot Jordy.


"Otak lo masih berfungsi normal gak sih? Heran gue ma lo," ujar Arkan.


"Parah lu Rak, lo gak mikir apa? Si Fani lagi diatas gedung noh... dan dia ngelakuin itu karena elo," jelas Leon.


"Gue tau," sahut Raka singkat dan datar.


"Terus kenapa lo malah ngajak ke kantin?" tanya Arkan.


"Haus, mau beli minum. Kalo kalian gak mau, yaudah gue sendiri," jawab Raka.

__ADS_1


Menurut keempat sahabatnya, Raka itu sungguh sangat menyebalkan saat itu. Keempat sahabatnya tidak habis pikir dengan kelakuan Raka yang sangat tidak peduli dengan situasi sekitarnya.


"Kalo tu cewek beneran mau lompat dari atas gedung itu gimana?" tanya Jordy.


"Bukan urusan gue," jawab Raka lagi-lagi singkat.


"Denger-denger dia termasuk salah satu murid yang pintar di sekolah ini. Kasihan kalo dia beneran lompat, nanti dia bisa masuk rumah sakit atau mungkin malah langsung ke kubur*n," jelas Jordy berdegit ngeri. Pasalnya gedung itu memang sangat tinggi sekali.


Mengingat Jordy itu yang paling update tentang berita-berita gituan dari pada anggota The Perfect yang lainnya, jadi dia tahu kalau Fani lumayan pintar dalam pelajaran.


'Bod*h,' batin Raka dengan menatap ke atas gedung itu sekilas, hanya tatapan dengan durasi 1 detik. Saat itu pun Fani juga menatap Raka, Fani sangat amat berharap jika Raka akan mencegahnya lompat dari gedung tersebut.


"Kalo dia cewek berpendidikan dan pintar. Dia gak akan ngelakuin hal bod*h kayak gitu, yang nantinya akan merugikan banyak pihak," sahut Raka lalu melangkahkan kakinya, pastinya menuju kantin dong.


Raka sih males kalau bujuk kakak kelasnya yang mau bunuh diri gitu, cuman karena masalah sepele? karena gak dapet perhatiannya Raka, terus Fani mau lompat dari atas gedung? Aishh... Sungguh hal tergi*a, terbod*h, dan terkonyol yang pernah Raka lihat.


Dan beberapa detik kemudian semua warga sekolah di sekolahan tersebut menjerit histeris, karena melihat Fani yang sudah tergeletak di atas tanah. Fani tak sadarkan diri, banyak pendarahan di bagian kepalanya yang terbentur oleh batu dengan ukuran lumayan besar.


Flashback Off


Litha tersenyum jail kepada Raka, senyuman meledek menurut Raka. "Kenapa?" tanya Raka.


"Aneh, kok ada ya orang kayak lo. Dan lebih anehnya lagi... masih banyak cewek yang suka sama lo," ungkap Litha.


Raka tidak menanggapi ucapan Litha, alias tetep setia sama ekspresi wajah datar. Sedangkan Umran dan Leon hanya tersenyum tipis.


Ya mungkin Litha belum sadar aja kalau dibalik sikapnya yang dingin, Raka sebenarnya orang yang baik, pintar plus ganteng bingits.


Dan jangan lupakan juga bahwa Raka yang masih remaja, sudah mampu mengurus salah satu cabang perusahaan keluarganya. Jadi gak heran kalau banyak kaum hawa yang menginginkan Raka menjadi kekasihnya.


**Kediaman Keluarga Nagara__


Malam Minggu ini tumben-tumbenan bunda sama ayahnya Litha bisa menyempatkan waktu bersama keluarganya, biasanya tu sibuk sama urusannya masing-masing.


So malam ini Litha memilih menghabiskan waktu bersama ayah dan bundanya. Mereka sedang menonton TV di ruang keluarga, tetapi formasi anggota keluarganya kurang lengkap, yups gak ada Umran. Umran ada di taman depan rumah, tu anak kan hobby banget sama udara luar.


Litha terlihat seperti biasanya, dia tidak menceritakan tentang penculikannya tadi siang. Umran pun menyetujui permintaan adiknya agar tidak memberitahu hal tersebut kepada kedua orang tuanya.


"Bun tadi pagi Rak, eh maksudnya kak Ra..." ucap Litha terpotong.


"Oo... Jadi kamu manggil orang yang lebih tua dari kamu itu cuman namanya doang?" tanya bunda seperti mengintrogasi saja. Ya gimana ya bunda Larissa itu orangnya sopan dan pastinya hal tersebut harus wajib menular ke anak-anaknya.


Litha masih terdiam tak mengeluarkan suara apa pun. Sedangkan Pak Kusuma, ayahnya Litha belum mengetahui kalau anak bungsunya sudah memiliki kekasih.


"Kok diem? Coba deh kamu pikir-pikir kalo kamu manggil kak, pasti kelihatan lebih romantis," saran bunda.

__ADS_1


"Gitu ya bun?" tanya Litha yang diangguki oleh bunda.


Litha memutar bola matanya, seperti sedang berkhayal alias membayangkan sesuatu wkwk... "Iya juga ya," gumam Litha sambil senyum-senyum sendiri.


"Romantis?" gumam Litha lagi, tetapi masih terdengar oleh kedua orang tuanya.


Jangan lupakan jika Litha masih senyum-senyum juga. Maklumlah namanya juga orang lagi kasmaran, apa lagi jatuh cintanya sama cowok yang digilai oleh banyak para kaum hawa.


"Romantis apa Tha? Tadi bunda juga bilang romantis, maksudnya apa sih bun?" tanya ayah kepada dua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya. Pastinya setelah mendengarkan pertanyaan itu, Litha langsung tersadar dari lamunannya.


Sebelum keduanya menjawab, pak Kusuma sudah angkat suara lagi. "Jangan-jangan kamu punya pacar?" tanya ayah pada putrinya. Tapi yang ditanyai hanya tersenyum kikuk, mungkin Litha masih malu-malu hehe...


"Oh... Iya bunda sampai lupa mau ngasih tau ke ayah kalo anak kita yang cantik ini sekarang udah gede, udah ngerasain yang namanya cinta," jelas bunda dengan senyum jahil dan pastinya hal itu sukses membuat pipi Litha menjadi semerah tomat.


"Udah gede sekarang," tutur ayah sambil mengacak gemas rambut panjang Litha.


"Tapi kamu harus inget sama batasan-batasan pacaran. Kalo udah punya pacar jangan sampai males belajar, justru pacar itu harus dijadikan sebagai penyemangat untuk belajar. Oke!!!" ujar ayah memberi nasihat untuk putrinya.


"Siap yah," sahut Litha sangat semangat, sambil hormat serta tersenyum lebar sampai memperlihatkan gigi putihnya.


"Dan ayah tau nggak siapa pacarnya Tatha?" bunda kayaknya mau main tebak-tebakan nih sama ayah plus ngegodain Litha dong, kan emang itu tujuan utamanya. Diem-diem ternyata bunda Larissa jahil juga ya hehe...


"Siapa bun?" tanya ayah penasaran.


"Tebak dulu dong! Nggak seru kalo bunda langsung kasih tau ke ayah," tuh kan bunda ternyata jahil.


Litha? Ya pastinya mau tidak mau Litha harus mengikuti permainan ibunda tercintanya. Litha cuman diem aja menyimak kedua orang tuanya, mukanya masih merah-merah gitu karena saking malunya.


"Emm... Yaudah deh ayah ngikutin bunda aja. Tadi bunda bilang Tatha harus manggil kak, pasti kakak kelasnya ya..?" tebak ayah.


"Ketua OSIS," ucap bunda sangat bangga wkwk...


"Wihhh... Keren, tapi seorang ketua OSIS kok mau sih sama Tatha?" ayah lagi meremehkan Tatha tuh. Ayah kayaknya lupa, kalau manja-manja gini, Litha juga pernah meraih peringkat pertama di angkatan kelas 10.


"Ikh... Ayah nyebelin," Litha mengerucutkan bibirnya sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya.


"Namanya Raka Adelard Pangestu anak dari sahabat kamu Pak Baskara Adelard," jelas bunda kepada ayah.


"Apa? Jadi Tatha bener sama anaknya Baskara?" tanya ayah antara percaya dan tidak percaya.


"IYA," jawab bunda dengan memutar bola matanya jengah karena suaminya ini seperti kurang percaya dengan ucapan istrinya.


"Oh.. ya tadi pagi kak Raka bilang kalo omanya sama papanya mau pulang ke Indonesia," jelas Litha.


"Jadi rencananya kamu mau nemuin keluarganya Raka?" tanya bunda pada Litha dengan tersenyum jahil.

__ADS_1


"Itu rencananya kak Raka bukan rencana Tatha," jawab Litha jujur.


__ADS_2