
"Bukannya begitu yaa..?" tanya Umran, yang mencoba, ingin membuat Litha menjadi kesal. Alhasil tujuan Umran yang unfaedah itu berhasil membuat Litha sangat kesal, bahkan saat ini Litha sangat jengkel.
"Aukkk lah... males gue ngomong sama lu, mending ke kamar sambil berlayar ke pulau kapuk yang empuk banget," jawab Litha. Sepertinya gadis berusia 16 tahun itu sedang sangat kelelahan, mungkin karena habis jalan-jalan dengan sahabatnya.
"Eh.. tunggu bentar!" perintah Umran. Dan perintah tersebut pun berhasil memberhentikan langkah kaki Litha.
"Apa lagi?" tanya Litha dengan nada kesal.
"Minggu depan ikut gue jalan-jalan yuk!" ajak Umran, sangat antusias.
"Kemana? Dan kenapa harus minggu depan?" tanya Litha penasaran.
"Ya... karena acaranya bukan diadain hari ini be*o," jawab Umran asal ngomong dan pastinya dengan nada kesal. Didalam pikirannya, yang penting pertanyaan dari adeknya itu, bisa ke jawab. Walaupun jawabannya sangat konyol.
"Santai aja dong ngomongnya, oh... ya gue pernah meraih peringkat 1 diangkatan gue, jadi lo gak bisa ngatain gue bego," ujar Litha, dengan memperjelas kemampuan otak yang dimilikinya.
"Sombong amat," ucap Umran.
"Bodo amat, wek..." ucap Litha sambil menjulurkan lidahnya, tepat dihadapan wajah abangnya, sungguh perbuatan yang tidak beradab.
"Serah, sebahagia-bahagia lo aja deh.., Oh.. ya.. soal tempatnya gue juga belom tau sih kemana-nya," ujar Umran.
"Gimana sih.. mau pergi tapi gak tau tempatnya, aneh banget lu," ujar Litha.
"Aneh-aneh gini, gue punya banyak fans. Nah.. elu? Udah bawel, sombong, bar-bar, ya.. walaupun dikit, tapi tetep aja bar-bar, banyak hatersnya pula," ucap Umran yang habis-habisan menghujat adiknya.
Semua yang diucapkan Umran memang benar. Tetapi Litha itu hanya bawel dengan orang terdekatnya saja. Dan sombong? Sebenarnya Litha tidak mempunyai niatan untuk sombong seperti tadi. Didalam hatinya, Litha hanya berniat menjadikan itu sebagai bahan candaan saja. Litha bersikap seolah-olah sombong itupun hanya pada orang terdekatnya juga.
Sifat bar-bar, walaupun sedikit? Itu Litha ketularan sama sahabatnya yang sejak kecil selalu bersamanya sampai sekarang, siapa lagi kalau bukan Sarah. Dan banyak haters, itu karena banyak sesama kaum hawa yang iri dengan paras cantik yang dimiliki oleh Litha. Buktinya semua hatersnya Litha, itu berkelamin perempuan.
"Nyebelin lu," ucap Litha. Setelah itu segera meninggalkan kolam renang.
__ADS_1
***
Sepulang dari sekolah Litha langsung mandi dan memakai kaos putih tanpa motif dan model. Ya... itu adalah kaos oblong polos berwarna putih, yang dipadukan dengan celana jeans pendek, diatas lutut. Litha memang lebih sering berpenampilan seperti ini, saat di rumahnya.
Setelah selesai mandi, Litha segera merebahkan tubuhnya diatas kasur empuknya, sambil menyalakan AC di kamarnya. Karena diluar sana cuacanya memang lumayan panas, siang ini mataharinya sangat terik.
"Tumben tadi, tu beruang kutub gak nyuruh gue ke basecamp-nya, apa dia lupa mau ya? Kan hari ini, harusnya dia ngajuin permintaan ke gue," gumam Litha.
Tok... Tok... Tok...
Tiba-tiba Litha mendengar suara orang mengetok pintu kamarnya. Dengan terpaksa Litha membangunkan tubuhnya dari kasurnya dan membukakan pintu. Karena sebenarnya Litha masih ingin mengistirahatkan tubuh mungilnya.
"Ada apa?" tanya Litha kepada pelayanannya yang tadi mengganggu acara rebahannya.
"Anu... E... Itu..." pelayan Litha yang satu ini, sepertinya sudah sangat mengenal Litha. Terbukti saat ini pelayan itu sangat gugup, karena melihat ekspresi wajah Litha yang tidak semangat dan lesu. Mungkin siang ini Litha sangat kelelahan dan masih terlihat sedih, karena ditinggal oleh salah seorang sahabatnya, Tiara.
"Udah, langsung bilang aja gpp, ada apa?" tanya Litha dengan nada halus, karena Litha memahami, kalau pelayannya saat ini sedang gugup.
Namanya juga manusia, pastinya tidak luput dari kesalahan bukan? Itulah yang ada didalam pikiran gadis baik nan cantik bernama Litha.
"Di... didepan ada tamu, katanya ada perlu sama non Litha. Saya suruh dia masuk dan nunggu di ruang tamu, tapi gak mau," ujar pelayan Litha.
"Sarah? tumben sok jadi tamu segala, biasanya juga main nyelonong masuk gitu aja," tanya Litha.
"Bukan non," jawab pelayannya.
"Emm... Apa Fika ya? Tapi dia kan gak tau kalo gue tinggal di rumah ini. Mungkin dikasih tau sama Sarah kali ya..? Secara sahabat gue kan cuman tinggal Fika doang, yang belom tau identitas asli gue," gumam Litha.
"Pasti cewek kan?" tanya Litha sambil berjalan menuju pintu depan. Padahal pertanyaannya belum sempat dijawab oleh pelayannya, terus gunanya buat nanya apa dong? Pastinya hanya Litha dan Allah SWT yang mengetahui jawabannya.
***
__ADS_1
Litha membuka pintu rumahnya yang besar itu. Sontak Litha sangat terkejut, setelah melihat siapa yang bertamu siang-siang bolong begini.
"Ngapain kesini?" tanya Litha.
"Lo lupa? Hari ini harusnya gue ngajuin permintaan ke elo," ujar Raka.
"Inget. Ya... seenggaknya lo kan bisa bilang dulu ke gue, kalo mau ke rumah, jadi gue gak kaget," ujar Litha.
"Kenapa? Malu? Cuman pake kaos oblong sama celana jeans pendek?" tanya Raka.
"E... enggak biasa aja kok," jawab Litha agak ragu.
Sebenarnya Litha memang sedikit malu dengan penampilannya saat ini yang memperlihatkan paha mulusnya. Kalau dengan abangnya dan sesama kaum hawa sih.. Litha gak akan malu.
"Tadi gue udah chat, kalo gue mau kesini, tapi elo gak bales," ucap Raka.
"Oh... Iya lupa, HP-nya mati. Soalnya kehabisan baterai, hehehe..." ujar Litha sambil tertawa polos.
"Kenapa juga harus ke rumah? Biasanya juga lo nyuruh gue ke basecamp," tanya Litha.
"Gue gak pengen mereka tau," jawab Raka. Yang dimaksud Raka dari kata mereka, itu adalah para sahabatnya, anggota The Perfect. Yang tak lain adalah si ceroboh Arkan, si bule nyasar Jordy, si kalem Danil, dan si playboy Leon.
'Kok gue curiga ya.. sama kulkas berjalan ini. Jangan-jangan...? Eh... enggak-enggak, gak mungkin kan kalo dia nyuruh gue buat bunuh diri di rumah gue sendiri?' batin Litha. Sekali lagi Litha mempunyai pikiran negatif terhadap Raka.
"Emang apa sih permintaannya? Awas kalo susah, apalagi aneh-aneh!" tanya Litha. Tak lupa juga memperingatkan Raka, agar tidak meminta sesuatu yang sulit dilaksanakan, apalagi sampai meminta sesuatu yang nyeleneh.
"Gue suka sama lo," ucap Raka dingin, tanpa intonasi dan ekspresi.
Deg.... Deg.... Deg....
Itu adalah detak jantung Litha yang hanya bisa didengarnya sendiri.
__ADS_1
Tentunya ucapan yang tiba-tiba dilontarkan oleh Raka itu, membuat Litha terkejut, ralat sangat sangat terkejut. Seketika jantung Litha yang awalnya masih normal, langsung berubah. Detak jantungnya menjadi lebih kencang dari biasanya.