
Sontak ucapan bundanya tersebut membuat Litha dan Raka melihat ke arah tangannya masing-masing, setelah itu keduanya saling beradu tatapan canggung. Dan akhirnya dengan terpaksa mereka melepaskan genggaman tangannya masing-masing.
"I.. itu tadi dia duluan kok yang ngajak gandengan tangan," ucap Litha dengan polosnya sambil tangannya menunjuk ke arah sampingnya, ya tentunya itu adalah Raka.
Raka hanya tersenyum kikuk, 'Hadeh ni anak ya! untung sayang, kalo enggak...' batin Raka yang masih menunjukkan senyum palsu.
"Lain kali kalau masih ada di lingkungan sekolah jangan gitu lagi ya! Kalian harus memberi contoh yang baik untuk murid yang lainnya," ucap bunda Larissa.
"Berarti kalo di luar sekolah boleh tan?" tanya Raka.
Dengan segera Litha menyenggol lengan kanan Raka dan memelototi Raka. Pertanyaan apa itu? Padahal tadi baru aja dinasehatin sama camernya, tapi Raka malah nanya kayak gitu.
"Asal jangan sampai kelewat batas ya! Kamu itu ya, kan bunda pernah bilang, panggil bunda aja. Jangan panggil tante lagi!" pinta bunda Larissa kepada Raka.
Litha melongo dong mendengar ucapan bundanya yang sangat ramah kepada Raka. Litha berpikir kalau bundanya akan memarahi Raka, setelah Raka melontarkan pertanyaan yang ambigu tadi. Litha tidak percaya bahwa Raka dan bundanya ternyata sudah sedekat ini, padahal Litha berpikir bahwa mereka baru sekali bertemu. Dan ini pertemuan untuk yang kedua kalinya, tetapi dengan sangat mulus Raka sudah berhasil mendapatkan lampu hijau dari bundanya.
'Pake cara apa ni es batu, kok dia bisa deket banget sama bunda. Perasaan bunda itu orangnya susah banget buat akrab sama orang lain, tapi kok bisa gitu ya? Apa lagi es batu ini sosialisasinya kan juga kurang bagus, alias pelit ngomong,' Litha terkekeh kecil dengan ucapannya tadi yang tanpa mengeluarkan suara.
"Kenapa Tha? Ada yang lucu?" tanya bunda penasaran dengan sikap Litha yang tiba-tiba senyum-senyum sendiri, padahal tidak ada suatu kejadian yang bernilai lucu.
"Ehh enggak kok bun, bunda ngapain ke sini?" Litha sedang mengalihkan topik pembicaraan.
"Katanya kamu punya masalah sama anak kelas 2, sampai mau ngeluarin anak itu dari sekolah ini. Katanya kamu nyuruh guru BK buat manggil orang tuanya segala ya? Bunda khawatir sama kamu, makanya bunda ke sini. Emang ada masalah apa?" tanya bunda Larissa.
"Udah selesai kok bun masalahnya. Tatha gak jadi ngeluarin Dita dari sekolah ini, gak tega ngeliat orang tuanya ngemis-ngemis minta maaf ke Tatha, karena takut masa depan anaknya jadi gak jelas," ujar Tatha. Eh maksudnya Litha, ayah dan bundanya Litha itu lebih suka manggil Litha pake nama kesayangannya itu.
__ADS_1
Oh ya karena Litha itu tipe orang yang gak tegaan terhadap seseorang. Jadi Litha memutuskan untuk memaafkan kesalahan Dita, walaupun yang minta maaf itu orang tuanya Dita, bukan Dita nya sendiri. Litha tu gak tega lihat orang lain ngemis-ngemis minta maaf gitu ke dirinya, apa lagi yang mereka itu lebih tua dari Litha.
"Awal masalahnya itu apa sih? Kamu jangan buat macem-macem ya, jangan nakal..!" ujar bunda pada anak bungsunya.
"Bukan Tatha, tapi Dita duluan yang cari gara-gara," jawab Litha.
"Bener nih, jangan bohong lhoh ya!" ucap bunda memastikan bahwa Litha memang tidak nakal.
"Tatha gak nakal kok bun. Selama di sekolah Raka bakal awasin Tatha, bunda tenang aja," ucap Raka.
"Kalo Tatha nakal cubit aja pipinya, yang keras juga gpp kok ka," jelas bunda pada Raka.
"Ihh bunda kok gitu sih," Litha cemburu tuh dengan Raka, karena bundanya terlihat lebih sayang dan percaya terhadap Raka dibanding dengan anaknya sendiri. Padahal tadi bunda Larissa cuman becanda, tapi Litha malah jadi baper.
"Dita itu cari masalah sama Tatha karena kak Raka," ucap Litha dengan memberi penekanan pada nama kekasihnya, Litha ngomongnya sambil menatap tajam ke arah Raka.
Sebenarnya sih Litha gak mau ngasih tau penyebab masalah Dita terhadap dirinya, ke bundanya. Tetapi tadi karena Litha terlalu cemburu oleh sikap bunda kepada Raka, jadi Litha sedikit kebawa emosi deh...
"Karena Raka? Kok bisa?" tanya bunda penasaran.
"I.. itu bun, e.. sebenarnya Dita.." jawab Raka terpotong, ya salah sendiri Raka ngomongnya lelet, kayak siput yang lagi jalan.
"Dita naksir sama kak Raka," celetuk Litha.
"Jadi karena itu," tutur bunda Larissa.
__ADS_1
"Tapi Raka gak suka sama Dita bun. Bunda jangan khawatir, Raka bakal jagain Tatha dari siapa pun yang punya niat buruk sama Tatha," ucap Raka. Ya Raka waspada aja, kalau bunda Larissa marah kan bahaya juga buat hubungannya dengan Litha untuk kedepannya.
"Iya bunda percaya kok sama kamu Ka," ucap bunda pada Raka.
"Bunda sih gak heran kalau banyak yang suka sama Raka, walaupun Raka orangnya dingin kayak salju. Tapi mungkin kalau bunda masih semuda kalian, bunda juga akan bersikap buruk bahkan benci sama kamu Tha, hhhh..." gurau bunda pada Litha.
"Pffttrr..." itu Raka lagi nahan ketawa. Hehe...
Bunda aja ketawa dengan gurauannya sendiri, apa lagi Raka? Tapi kalau Litha? Udah lahh Litha gak habis pikir kenapa bunda begitu menyayangi Raka, sudah seperti anak kandungnya sendiri.
"Hahhh?" Litha melongo dengan ucapan bundanya. Awalnya Litha berpikir kalau bundanya akan memarahi Raka, karena Raka adalah penyebab utama masalah Dita ke Litha. Tapi kokkk gak sesuai ekspektasi, bunda malah ngajak becanda? Bunda sama sekali gak marah sama Raka?
**Kelas X MIPA 3__
"Gimana si cabai?" tanya Sarah pada Litha yang baru masuk ke dalam kelas.
"Cabai?" tanya Litha kebingungan dan masih berdiri di samping meja Sarah. Emang Sarah punya masalah apa sama cabai?
"Si menor itu lhohh.." jawab Sarah.
"Ohh.. Dita? Gue pikir lo bermasalah bukan cuman sama Dita doang, tapi sama cabai merah juga, hhh.." Litha terkekeh dengan pemikiran absurd nya. Litha langsung paham dengan ucapan Sarah, karena Dita itu kalau dandan emang menor.
"Itu orang kan kalo ngomong pedes banget kayak cabai setan, yaa tu cabai cuman bisa manis kalo sama beruang kutub lo," jelas Sarah.
Lhoh kok Sarah bisa tahu panggilan itu? Perasaan Litha gak pernah nyebut-nyebut beruang kutub deh..?
__ADS_1
"Beruang kutub?" Litha mengerutkan keningnya.