
"Iya," Litha mengusap air matanya sendiri. Dipikir-pikir nangis gini, juga malu kalau dilihatin banyak orang.
"Yang lain udah nungguin, tapi masih sibuk pacaran terosss... Udah lanjutin aja lagi pacarannya, anggep aja kita lagi di hotel bintang lima bukan di hutan kayak gini," sindir Leon saat Raka sudah berada didekat gerombolan orang-orang yang menunggunya. Memang rumah kayu tua tersebut berada diantara banyaknya pepohonan rindang, jadi tempat ini mirip seperti hutan.
Dan sindiran Leon tersebut langsung dihadiahi toyoran dari Fika. Leon hanya membalasnya dengan senyuman lebar hingga gigi putihnya terlihat sambil mengangkat tangannya dengan memberi simbol perdamaian, yaitu menekuk ketiga jarinya, yang berdiri hanya jari telunjuk dan jari tengah.
Entahlah mengapa Fika berani menegur Leon secara fisik? Padahal setelah putus dari Leon, Fika tidak bertegur sapa dengan Leon saat berpapasan, dan saat Leon menghubunginya Fika tidak menjawabnya. Mungkin dari sinilah... kedepannya hubungan mereka berdua akan lebih membaik dari sebelumnya.
"Lo gak diapa-apain kan, sama tuh Curut?" tanya Umran pada Litha yang masih setia berada di punggung Raka.
"Curut?" Litha keheranan dengan sebutan itu.
"Maksudnya si Fandy, eh sorry maksudnya tadi yang bawa lo kabur," jelas Leon. Leon mengira kalau Litha tidak mengenal Fandy.
***
Setelah drama antara Leon dan Arkan akhirnya Fika diantar oleh pengawal pribadi Raka mengunakan mobil. Tadi Leon ingin meminjam motor Arkan untuk mengantarkan Fika pulang, tetapi Arkan menolak permintaan Leon.
Dan selanjutnya terjadilah sedikit perdebatan diantara dua manusia good looking tersebut, lalu Umran menengahi perdebatan mereka. Ya dengan berat hati Leon pulang naik mobil Raka bersama dengan Umran, Litha dan pemilik mobil tersebut tentunya.
Di dalam Umran dan Leon berada di depan, dengan Umran sebagai supirnya. Sedangkan Raka dan Litha berada di belakang. Raka merangkul pundak Litha, kepala Litha bersandar di pundak Raka.
Litha masih memikirkan mengapa Fandy bisa berubah seperti itu? Dan pastinya Litha juga merasa bersalah terhadap Raka yang sekarang mukanya bonyok gara-gara nolongin Litha. Untung aja meskipun mukanya bonyok tapi ketampanannya gak berkurang hehe...
"Tha," panggil Raka tapi tak ada sahutan dari Litha. Umran dan Leon hanya melirik dari kaca depan mobil.
"Tatha!" panggil Raka lagi dengan volume sedikit keras.
"Iya bun," jawab Litha refleks. Matanya membulat setelah menyadari bahwa Raka yang memanggil bukan bundanya. Ya gimana ya... Yang sering manggil nama Tatha sih bundanya, jadi Litha refleks dong.
Raka hanya tersenyum tipis. Sedangkan Umran dan Leon menahan tawanya, sejujurnya malah mau ngakak tapi kasihan kalau Litha jadi malu.
Litha yang mengerti situasi saat ini, dia langsung menurunkan tangan Raka dari bahunya. "Nyebelin," ketus Litha sambil menonjok pelan lengan Raka.
"Aww... Sakit Tha," ucap Raka bokis.
__ADS_1
"Ehh... Sorry gue lupa, udah deh mending ke rumah sakit aja ya..!" Alhasil Litha yang polos begitu jadi tertipu oleh pacarnya sendiri.
Rasanya Raka ingin tertawa saat melihat ekspresi Litha yang terlihat sangat mengkhawatirkan dirinya. Buktinya aja Litha mengelus lengan Raka yang tadi ditonjoknya, padahal yang lagi parah kan dibagian mukanya Raka bukan lengannya.
Pffttrr...
Itu Raka udah gak kuat nahan ketawanya. Litha yang mendengar suara tersebut, langsung melihat sedikit ke atas agar dapat melihat sumber suara tersebut yang seperti berasal dari mulut Raka. Dan benar saja tidak hanya Raka yang menahan tawanya, tetapi dua manusia di depannya juga.
"Mau kena tinju satu-satu?" ancam Litha dengan mata melotot pada mereka bertiga. Rasanya Litha seperti dipermainkan dan ditipu oleh mereka bertiga, padahal yang berulah cuman Raka doang, tapi abangnya dan Leon jadi ikut kena juga.
"Pisss..." ucap ketiga manusia tampan tersebut dengan menunjukkan lambang perdamaian, yah apa lagi kalau bukan memperlihatkan dua jari telunjuk dan jari tengah mereka.
"Gue tau tentang cewek yang bunuh diri 2 tahun yang lalu di sekolahan kita," celetuk Litha.
Deg...
Tentunya Leon, Umran, dan Raka sangat terkejut mendengar penuturan gadis cantik itu. Dan hal tersebut membuat Umran menghentikan laju mobilnya.
"Kenapa berhenti?" tanya Litha kepada si pengemudi mobil.
"Jalanin dulu mobilnya!" perintah Litha.
"Gue mau fokus dengerin cerita lo," ucap Umran menghadap ke belakang, Leon juga ikut-ikutan niru posenya Umran.
"Sambil jalan aja," sahut Litha tak mau kalah dari abangnya. Dengan terpaksa, Umran menuruti perintah adiknya. Umran menginjak gas mobil sport tersebut, tak lama kemudian Litha mulai mengeluarkan suaranya.
"Namanya Fani kan? Dan gue kenal sama kembarannya," sambung Litha.
"Jadi lo kenal sama si Curut Fandy?" tanya Leon sangat terkejut, yang diangguki oleh Litha.
Selanjutnya Litha menceritakan tentang persahabatannya dulu dengan Fandy, tak lupa Litha juga menjelaskan bagaimana sifat Fandy dulu.
Awalnya Leon tidak percaya jika seorang Fandy adalah pemuda yang baik nan berhati lembut, karena itu jauh dari Fandy yang sekarang. Tetapi Leon juga percaya bahwa Litha tidak akan berbohong, jadi mau tidak mau Leon harus percaya jika Fandy pernah menjadi manusia yang sangat diinginkan oleh para kaum hawa.
Ohh... Ya, saat Leon mengetahui kalau ada yang memukuli Raka saat di sekolah dulu, Leon sangat dendam dengan Fandy. Namun saat Leon akan mendirikan sebuah geng mafia Hariamu Putih, tiba-tiba Fandy dengan beraninya mencalonkan diri untuk ikut bergabung dengan geng mafia milik Leon.
__ADS_1
Sebelum mencalonkan diri untuk bergabung dengan mafia milik Leon, Fandy meminta maaf terlebih dahulu kepada The Perfect dan Umran atas perbuatannya dulu. Saat itu Leon juga masih dendam dengan Fandy, tapi dipikir-pikir Fandy juga sangat cocok sebagai seorang mafia.
Mengingat saat Fandy memukuli Raka, jurus-jurus bela dirinya lumayan bagus juga. Terlebih lagi Fandy pernah mengikuti latihan tinju, meskipun Leon tidak tahu, tetapi Leon tahu jika pukulan dari Fandy itu tidak bisa diremehkan dan tidak usah diragukan lagi.
Leon menanyakan hal tersebut pada Raka dan Umran terlebih dahulu, Raka tidak mempermasalahkan jika Fandy bergabung dengan mafia milik Leon. Berbeda dengan Umran yang mengajukan persyaratan agar Fandy berjanji untuk tidak akan ikut campur dalam urusan persahabatannya dengan Raka dan Leon, serta anggota The Perfect yang lainnya.
Fandy pun mengiyakan persyaratan tersebut, toh itu hanya sebuah janji bukan? Menurutnya janji itu hanya sekedar ucapan yang tidak harus ditepati.
Dulu saat dengan Litha, Fandy memang sangat memegang kata-katanya. Terlebih lagi dengan ucapan yang termasuk dalam kategori janji, pastinya harus ditepati. Namun sekarang saking bencinya Fandy terhadap Raka dan Umran, dia sudah tidak peduli dengan kata janji.
Tujuan awal Fandy bergabung dengan Harimau Putih adalah ingin membalaskan dendamnya terhadap Raka dan Umran melalui Leon sebagai perantaranya. Fandy hanya butuh waktu yang tepat untuk melakukan aksinya, dan penantiannya selama dua tahun ternyata tidak sia-sia.
Litha menatap ke arah Raka dengan tatapan yang aneh menurut Raka. "Gue gak tau apa-apa tentang kejadian bunuh diri itu," ujar Raka datar. Ya begitulah Raka, dia sudah memulai pembelaan untuk dirinya sendiri, padahal Litha belum ngomong apa-apa tapi doi udah bela dirinya sendiri.
"Gue percaya," ujar Litha sangat lembut dengan senyum yang amat manis.
Dan pastinya Raka membalas senyuman tersebut dengan senyuman yang tak kalah manisnya, ralat bukan hanya manis tetapi juga tampan, sungguh sangat menawan.
Mereka berdua saling menatap mata, entah apa yang sedang keduanya pikirkan, keduanya larut dalam tatapannya masing-masing. Tapi sungguh itu adalah tatapan yang sangat hangat, sebuah tatapan mata yang dibumbui dengan rasa cinta, kasih sayang, dan ketulusan hati.
"Ehemmm..." si pengganggu berdeham, siapa lagi kalau bukan Leon.
Raka dan Litha merubah tatapan masing-masing ke arah kaca depan mobil, melirik Leon dengan tatapan datar. Leon juga menatap dua anak Adam itu lewat kaca depan mobil.
"Awas kebawa napsu. Bahaya!!! situasi belum aman. Soalnya ada abangnya!!! kalo udah kejadian, nyawa lo bisa melayang," ucap Leon kepada Raka.
"Nyindir gue lu?" selah Umran. Leon cuman menanggapinya dengan nyengir tanpa dosa.
"Asal lo tau Tha, Raka itu orang tercuek yang pernah gue kenal," ujar Umran jujur dari dalam hatinya.
"Alesannya?" tanya Litha.
Holla para readers!!! ada yang kangen ceritanya Raka sama Litha apa enggak? Karena PTS nya udah selesai, jadi Author bisa upload Sabtu weekend ini 🥳
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, and vote ya!!! Dukungan dalam bentuk apapun itu sangat berharga bagi Author 🥰
__ADS_1