Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Sengaja


__ADS_3

"Jangan lihat ke samping terus!" perintah Litha kepada Raka yang sedari tadi pandangan hanya terfokus pada Litha saja. Padahal Raka sedang mengendarai mobil, yah dia hanya beberapa kali melirik sekilas ke arah jalanan.


"Kak Raka dengerin aku nggak sih?" Litha sangat jengkel, juga kesal dengan Raka yang masih setia menatap gadis disampingnya.


"Denger," jawab Raka.


"Stop!!!" seru Litha. Raka langsung menuruti perintah Litha bersamaan dengan suara dari gadis itu. Dia menginjak rem secara mendadak sampai membuat Litha hampir tersungkur kedepan, untung aja Litha pakai seatbelt.


"Kak Rakaaa..." rengeknya.


"Bukannya kamu yang nyuruh berhenti mendadak?" tanya Raka tanpa rasa dosa.


"Ya kamu sih nyetir mobil tapi ngelihat ke samping terus. Aku gak mau celaka ya, gara-gara kamu yang aneh gini," jelas Litha.


"Nggak akan," sahut Raka dengan gaya santainya.


"Abisnya kamu," tambah Raka. Enggak! Itu sebenarnya masih ada lanjutannya lagi, tapi Litha udah mulai emosi.


"Aku kenapa?" tanya Litha bagai mengancam dengan mata melotot.


"Berubah jadi bidadari," jawab Raka.


Seketika emosi yang ada dalam diri Litha yang akan tumbuh dan mulai berkembang, tiba-tiba saja sirna begitu saja.


"Gak mempan gombalan kamu," dusta Litha lalu melipat kedua tangannya di dadanya. Jujur Litha happy banget, tapi dia gak mau sepenuhnya percaya sama Raka. Bisa aja itu cuma taktik Raka supaya Litha gak marah.


"Siapa yang gombal?" tanya Raka.


"Kamu,"


"Kapan?"


"Tadi,"


"Yang mana?"


"Barusan,"


"Iya yang mana?"


Litha menghelai nafasnya. "Kamu bilang kalau aku berubah jadi bidadari," ucap Litha ogah-ogahan.


"Terus harus bilang apa? Berubah jadi zombie?" gurau Raka tetapi tetap pada ekspresi datar.


"Ikhhh tega banget. Masak sama pacar sendiri dikatain gitu," gerutu Litha.


"Ya udah ayo jalan!" perintah Litha.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota yang saat ini lumayan sepi dan jalanan yang bernaung pada langit mendung. Mungkin karena bukan malam Minggu jadi rada sepi. Yah ini malam Senin hehe...

__ADS_1


***


Mobil berhenti di pelataran rumah mewah milik keluarga Adelard, dan saat itu pula air-air dari langit mulai jatuh membasahi bumi. Halaman rumah keluarga Adelard sangat luas sekali, rumahnya berdesain super mewah bergaya Eropa.


"Hujan," ucap Raka. Litha hanya menoleh, dia tidak ingin menyahut.


"Eh kak Raka mau ngapain?" tanya Litha sedikit panik. Karena melihat Raka yang sedang membuka jas hitamnya.


Cocok banget kan? Yang cewek pakai dress warna yang didominasi warna hitam. Yang cowok pakai jas warna hitam dengan sweater warna putih sebagai bagian dalamnya. Padahal mereka gak janjian pakai warna hitam, tapi bisa samaan gitu. Jodoh kali? Semoga saja.


"Jangan mikir kejauhan! Di luar hujan, aku gak mau kamu basah," jelas Raka. Lalu Litha hanya nyengir tanpa rasa berdosa. Di luar memang lagi gak ada satpam, jadi pas banget Raka gak bisa minta bantuan untuk ambilin payung di rumah.


Selanjutnya Raka keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk tuan putri, dengan jas hitam sebagai payung untuk Litha. Mereka berjalan sampai teras rumah. Tidak! Tidak sesingkat itu mereka sampai di teras rumah.


"Kenapa kak Raka cuma payungin aku doang?" protes Litha dengan mendongakkan kepalanya, melihat jas yang kini beralih fungsi sebagai payung. Baru juga satu langkah keluar dari mobil, tiba-tiba saja gadis itu memberhentikan langkahnya, mau tidak mau Raka juga harus berhenti.


"Aku juga gak mau kak Raka basah," tambah Litha.


"Buat kamu aja, kalo dipakai berdua nanti lengan kanan kamu malah basah," ujar Raka.


"Gpp kali kak," sahut Litha tidak mau kalah.


"Udah ayo cepet masuk. Yang ada aku tambah basah nih," sahut Raka.


Ups... Litha baru sadar kalau dia malah membuang waktu saja serta membuat tubuh Raka semakin lama diguyur hujan.


Litha menarik jas hitam yang ada di atas kepalanya, menariknya dengan erat hingga Raka yang tidak mengetahui rencana Litha itu, sedikit terkejut. Kini jas hitam tersebut sudah berada di tangan Litha, Raka tidak mempermasalahkan tindakan Litha yang sempat membuatnya sedikit kaget. Keduanya saling menatap, mereka tidak perduli dengan titik-titik air hujan yang membasahi keduanya.


***


Raka heran dengan Litha yang tiba-tiba saja berhenti di ruang tamu. "Kenapa?" tanya Raka.


Raka mengerti dengan apa yang ada dalam pikiran gadis cantik dengan rambut yang setengah basah itu. "Percaya sama aku, mereka akan bersikap baik sama kamu,"


Litha tersenyum, jujur Litha bukan takut dengan keluarga Adelard. Tapi gadis itu hanya gugup.


"Iya nggak kayak kamu," Litha menjeda kalimatnya.


"Dingin, cuek, nyebelin," sambungnya membuat Raka tersenyum miring. Raka tau jika perkiraannya tentang Litha tadi salah.


"Dingin?" ucap Raka dengan nada aneh, membuat Litha sedikit curiga. Gadis itu mengerutkan keningnya.


"Ngode minta di angetin?" goda Raka ambigu.


Litha melotot tidak percaya. "Jangan mesum deh," ketus Litha.


"Kamu tuh yang mikir aneh-aneh. Maksudnya minta dibikinin minuman anget nggak?" jelas Raka yang sukses membuat Litha antara malu dan salting.


"Atau jangan-jangan..." ucap Raka menggantung.

__ADS_1


"Jangan-jangan apa?" ancam Litha.


"Kamu," enggak. Kalo ini nggak menggantung, tapi Litha pengen nyahut lagi.


"Aku kenapa?" ancam Litha lagi...


"Sini peluk biar anget," sahut Raka lalu menarik tubuh mungil Litha dalam dekapannya.


Hangat, nyaman, bahagia, tentram, itulah yang Litha rasakan saat ini. Litha memang tidak membalas pelukan Raka, namun dia sama sekali tidak merasa terganggu dengan perlakuan Raka. Cukup lama mereka tetap berada diposisi macam itu, mungkin karena saking nyamannya, so waktu yang lumayan lama itu jadi tidak terasa lama.


"Ekhem..." suara dehaman dari arah belakang Litha.


Litha sangat terkejut, awal pertemuan yang tidak baik jika peristiwa berpelukan ini dilihat oleh calon mertuanya, pikir Litha.


Sedangkan Raka yang memejamkan matanya sejak awal memeluk Litha, perlahan mulai membuka matanya. Raka sama sekali tidak terkejut atau merasa canggung atau pun sebagainya. Ya karena ini memang rumahnya, jadi wajar-wajar saja jika dia terlihat santai. Raka melepaskan pelukannya, lalu Litha membalikkan tubuhnya.


"Jadi ini yang namanya Litha? Anaknya Kusuma?" tanya laki-laki paruh baya tersebut.


"Iya om," Litha menjawab agak canggung.


"Bukannya disuruh masuk malah ditahan di sini. Mama kamu tuh.. gak sabar pengen ketemu calon mantunya," ucap papa Baskara teruntuk anak semata wayangnya.


Litha hanya tersenyum kikuk saat mendengar kata calon mantu yang keluar dari bibir pak Baskara? Terlihat jelas bahwa papa Baskara seperti tidak mempermasalahkan kejadian tadi. Oke Litha beruntung mempunyai calon mertua yang pengertian seperti papa Baskara.


"Ini kenapa basah gitu?" tanya papa Baskara.


"Kehujanan," jawab Raka datar.


"Bukannya kalian naik mobil? Kalo keluar dari mobil kan bisa di depan teras," ucap papa Baskara.


Litha baru teringat, iya bener yang dikatakan papa Baskara. Kenapa beruang kutub itu memberhentikan mobil sport nya tidak tepat didepan teras? Malah hanya didekat teras? Ah... Litha pun juga baru menyadarinya.


Litha menoleh ke arah Raka dengan tatapan tidak bersahabat. Lalu Raka hanya mengangkat kedua bahunya. Maksudnya apa coba? Membuat Litha semakin jengkel saja.


"Ekhem..." Papa Baskara berdeham lagi karena tak kunjung mendapat respon dari siapapun.


"Sengaja," jujur Raka memang sengaja. Karena kemarin dia nggak sengaja lihat adegan romantis dalam film yang ditonton oleh Leon.


Terus Leon mergokin Raka yang lagi serius lihatin filmnya. Ya kalian pasti sudah menebaknya kalau Leon yang menghasut Raka untuk melakukan adegan romantis seperti di film itu. Kebetulan sekali malam ini sedang hujan, dan entah mendapat bujukan dari makhluk seperti apa? Raka melancarkan aksinya seperti adegan di film itu. Ceritanya Raka mau sok romantis nih ye wkwk...


Litha melongo, "kok sengaja?"


"Kenapa? Nggak terima?" tanya Raka tanpa rasa bersalah.


"Udah terlanjur," ketus Litha. Saking jengkelnya dengan Raka, Litha sampai lupa kalau disini masih ada papa Baskara.


"Biar apa?" tanya Litha kesal.


"Biar bisa romantis sama kamu Tha," jawab papa Baskara dengan senyum jahil.

__ADS_1


Litha jadi kikuk sendiri, bingung harus bagaimana dihadapan pengusaha sukses itu? Tapi senang juga karena ternyata papa Baskara itu tidak seperti anaknya yang kaku banget.


__ADS_2