
Seorang gadis cantik berseragam SMA berdiri di depan gerbang rumahnya. Ia melihat arlojinya sambil menghentakkan kakinya karena kesal dengan seseorang yang entah kemana belum berada di depan matanya.
Seharusnya orang tersebut sudah menjemputnya sejak dua puluh menit yang lalu, dan sekarang hanya tersisa waktu sepuluh menit saja untuk sampai ke sekolahannya.
Mata Litha memincing melihat mobil sport warna hitam mengerem mendadak tepat di depan Litha. Setelah menunggu beberapa detik akhirnya Raka turun dari mobil karena Litha tak kunjung masuk mobil.
"Ayo masuk tinggal sembilan menit loh ini," Raka memperlihatkan layar handphonenya kepada Litha.
"Siapa yang telat jemput?" Litha melipat kedua tangannya di dada.
"Siapa yang nyuruh beli bunga mawar dulu?" Raka menaikan sebelah alisnya.
Flashdisk On
"Pokoknya aku gak mau tau Kak Raka harus dapet bunga mawar!" Pagi-pagi sekali Litha menelfon Raka, karena ia lupa dengan perintah dari Pak Gio kemarin sebagai tambahan hukuman.
"Buat apa ke sekolah bawa bunga?" Heran Raka sambil menguap, karena demi apapun dia sangat mengantuk sekali.
"Buat tugas Kak, pokoknya harus dapet!" Kekeh Litha memaksa Raka.
"Mau cari dimana Tha? Mana ada toko bunga yang udah buka jam segini?" Raka mengacak rambutnya pusing sendiri.
"Di perempatan lampu merah atau dimana kek," sahut Litha.
"Tapi Tha..." Ucapan Raka terpotong.
"Udah ya Kak, aku mau mandi siap-siap sekolah. Jangan lupa bunganya sama tugasnya!" Litha langsung mematikan sambungan telepon.
Flashback Off
"Terus dapet nggak bunganya?" Litha menurunkan lipatan tangannya, menandakan bahwa emosinya sudah mereda.
"Tuh..." Raka mengangkat dagunya ke arah mobil engkel dibelakang mobil sport miliknya.
Litha melongo melihat banyaknya berbagai jenis bunga mawar memenuhi isi mobil engkel tersebut. Ada berbagai warna bunga mawar di sana dengan berbagai macam ukuran berbeda, ada beberapa pot besar dan kecil, ada juga beberapa kuntum bunga mawar dengan bermacam-macam warna dengan ukuran yang berbeda. Lengkap semuanya!
"Aku gak minta sebanyak itu," Entah apa yang dipikirkan oleh Raka, Litha sudah tidak paham.
"Kamu gak bilang butuhnya berapa, jadi dari pada kebanyakan ngomong aku borong aja semua bunga mawarnya," tutur Raka.
Enak banget ya kalau ngomong 'borong' berasa kayak membalikkan telapak tangan doang.
"Terus buat apa sebanyak itu? Mau dibagi ke orang-orang? Kalau dua tahun yang lalu kita bagi-bagi lipgos itu masih ada manfaatnya. Nah ini bagi-bagi bunga? Apa manfaatnya untuk mereka?" Ocehan Litha terdengar.
Tanpa mempermasalahkan ocehan unfaedah tersebut, Raka langsung menarik tangan Litha agar cepat berangkat ke sekolah. Jika tidak mereka akan terlambat, bisa-bisa Litha kena hukuman dari pihak sekolah, mau ditaruh mana muka Bunda Larissa? Tidak ada yang diistimewakan di SMA Nagara meskipun siswi tersebut adalah anak dari sang pemilik yayasan.
Di dalam mobil Litha menutup matanya, jantungnya berasa ingin keluar, kepalanya sungguh pusing, perutnya mual. Raka benar-benar gila, dia mengendarai mobil dengan kecepatan lebih dari kata tinggi. Diperjalanan mulut Litha komat-kamit mengucap istighfar dan berharap agar selamat sampai tujuan.
Srit....
Mobil berhenti didepan gerbang sekolah. Litha langsung turun dan memuntahkan isi dalam perutnya yang memberontak sejak Raka menancapkan gas mobilnya.
__ADS_1
Uwek... Uwek...
Raka mengikuti Litha yang sudah memegang perutnya dan mengelap sisa kotoran dari mulutnya.
"Tha kamu mabok?" Raka menahan tawa melihat wajah Litha yang awalnya cantik kini sudah kusut.
"Tauk ah Kak Raka rese banget!" Semprot nya membuat Raka tertawa terbahak-bahak.
"Ini yang pertama dan terakhir kalinya," Litha menunjuk wajah Raka.
"Iya maaf ya sayang," Raka mengusap rambut Litha.
Mereka berdua buru-buru masuk sebelum gerbang ditutup. Kalau bel sekolah sih masih ada waktu sekitar sepuluh menitan lagi.
"Itu engkelnya masuk sampai parkiran gak papa?" Litha melihat Raka menyuruh sopir engkel untuk parkir di dalam parkiran sekolah.
"Gak papa. Yang punya sekolah ini calon mertua saya sendiri jadi mbaknya santai aja," Raka menaik turunkan alisnya dengan senyuman mempesona.
"Dih apaan sih," Litha jadi tersipu malu, ia memalingkan wajahnya yang tersenyum-senyum.
Litha menghembuskan nafasnya untuk mengontrol detak jantungnya serta menetralkan wajahnya agar tidak mudah tersipu oleh kata-kata manis Raka.
"Tugas aku mana? Udah selesai? Awas aja kalau bilang lupa!" Litha menatap tajam Raka.
"Tenang Bu Bos," Raka mengambil buku yang ia simpan di kantong jaket bagian dalam, "Taraaa..." Raka menunjukkan isi buku yang sudah penuh dengan coretan dari tangannya.
"Wih... Keren," gadis itu bertepuk tangan dengan senyuman merekah.
"Ekhem," Litha dan Raka menoleh ke sumber suara.
"Selamat pagi. Maaf mengganggu, saya tadi kebetulan lewat dan tidak sengaja melihat kalian berdua. Saya hanya ingin menagih tugas yang kemarin," jelas Pak Gio dengan senyuman.
"Selamat pagi juga Pak. Ini tugasnya," Raka memberikan buku tulis kepada Pak Gio yang sama sekali tidak curiga jika yang mengerjakan tugas adalah Raka dan bukan Litha.
"Oh iya kalau bunga mawarnya ada di mo..." Ucapan Litha terpotong.
"Eee... Untuk itu saya minta maaf, kemarin saya tidak sungguh-sungguh untuk memberikan hukuman tambahan. Bunga mawarnya bisa kamu berikan kepada tunangan kamu saja, sekali lagi saya minta maaf," kalau kejadian tadi malam tidak terjadi mungkin Pak Gio akan merasa bahagia menerima bunga mawar merah dari gadis yang dicintainya. Namun sejak kejadian semalam Pak Gio telah bertekad untuk menghilangkan rasa cintanya untuk muridnya itu.
"Pak Gio ngerjain saya?" Litha sudah cemberut, dia langsung menyimpulkan bahwa Pak Gio telah mengerjainya.
Litha bertambah kesal saat melihat Raka yang malah menahan tawa. Sesama lelaki membuat Raka paham maksud terselubung tentang bunga mawar tersebut.
"Saya minta maaf Litha, saya tidak bermaksud mengerjai kamu," raut wajah Pak Gio memelas memohon maaf.
"Kalau gak ngerjain, apa namanya?" Sungut Litha.
"Saya tidak bisa menjelaskannya, tapi sungguh saya tidak bermaksud mengerjai kamu Tha," ujar Pak Gio merendahkan martabatnya sebagai seorang guru yang memohon maaf kepada anak didiknya. Ya gimana ya namanya orang baik ya gitu, kalo belum dimaafin belum lega hatinya.
Untung saja hanya ada beberapa murid yang berlalu lalang, sesekali ada yang berhenti sebentar pura-pura inilah itulah padahal aslinya kepo. Tapi kok lama kelamaan jadi tambah banyak ya muridnya?
"Iya Pak udah dimaafin Litha kok," sahut Raka yang mengerti kondisi Pak Gio yang pasti malu jika mengatakan bahwa bunga mawar merah tersebut hanya modus belaka.
__ADS_1
"Enak aja," Litha menatap tajam Raka.
"Kamu gak malu dilihatin banyak orang?" Raka melihat sekelilingnya yang mulai ramai.
Tatapan Litha tajam tidak suka dengan murid-murid yang memiliki tingkat rasa penasaran tinggi dengan urusan guru dan murid senior di sekolah ini. Mereka nggak ada urusan lain apa?
"Apa lihat-lihat? Pada punya utang sama gue? Bubar sana! Pada belajar yang bener! Jangan kepo sama urusan para orang tua," suara keras tersebut terlontarkan dari bibir Litha.
Kening Raka berkerut, ini jauh dari Litha yang Raka kenal tiga tahun yang lalu saat pertama kali berjumpa dengan gadis cantik yang pendiam dengan orang asing.
"Sejak kapan kamu jadi orang tua?" Tanya Raka.
"Sejak tunangan sama kamu!" Litha menjawab asal.
"Emang kita punya anak?"
"Punya!"
"Mana?"
"Sedang diusahakan untuk segara memprosesnya!"
Jawaban ngawur binti ngelantur tersebut membuat telapak tangan Raka menempel di dahi Litha. Bersamaan dengan itu Raka juga menarik dahi Litha kebelakang sampai terpentok dada bidang miliknya.
"Sadar Tha!" Ucap Raka masih menempelkan tangannya di dahi Litha agar kepala Litha tetap menempel didadanya.
Pak Gio menatap seluruh murid yang berkerumun didekat mereka bertiga. "Apa yang kalian lihat? Bubar sekarang!" Suara Pak Gio terdengar tegas dan dingin. Intinya lebih berwibawa dari pada suara Litha yang cempreng teriak-teriak tadi. Semua murid langsung menurut membubarkan diri masing-masing.
Senyuman Pak Gio terlihat setelah Litha mengucapkan.
"Ya udah saya maafin, tapi jangan ngerjain saya lagi. Dan kalau bisa nilai ujian Biologi saya dikasih nilai paling bagus ya Pak diantara murid lainnya," Litha tersenyum lebar menunjukkan giginya.
"Kalau begitu saya permisi," Pak Gio tidak memperdulikan keinginan Litha tentang nilai ujian biologinya.
Raka menundukkan sedikit kepalanya saat Pak Gio juga melakukan hal yang serupa sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu.
Mata Raka memincing mengamati wajah Litha. "Kenapa?" Tanya Litha.
"Sejak kapan kamu suka bentak-bentak anak orang kayak tadi?" Heran Raka.
Mata Litha melirik ke atas memikirkan jawaban untuk cogannya itu. "Sejak kapan ya? Mungkin sejak aku jadi senior di SMA ini,"
"Dih sombong," balas Raka.
"Biarin," Litha menjulurkan lidahnya.
"Kalau aku pendiam terusss aku gak bakal bisa mengusir calon-calon bibit pelakor yang coba-coba deketin cogannya Tatha," dengan centil Litha mengedipkan sebelah matanya sambil menoel dagu Raka.
Seketika bulu kuduk Raka berdiri, ia mengusap-usap dagunya dan mundur satu langkah ke belakang.
Litha tertawa puas, "Bercanda kali Kak,"
__ADS_1
"Serius juga gak papa. Om jadi suka," kali ini gantian Raka melakukan hal yang sama seperti Litha tadi, ia berlagak genit seperti Om-om hidung belang.
"Aku tampol mau?" Litha menatap tajam dengan tangan terangkat siap menampol wajah tampan Raka.