Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Bersiklus


__ADS_3

Raka mengandeng tangan Litha, mendadak Litha jadi menghentikan langkah kakinya. Dan keduanya saling berhadap-hadapan serta bertatapan.


1 detik


2 detik


3 detik


4 detik


Dan 5 detik


Akhirnya Litha menyerah, dia malah jadi salah tingkah sendiri karena ditatap Raka secara intens gitu.


"Awas kalo aneh-aneh kayak kemaren!!!" acam Litha. Tetapi yang diancam hanya menyunggingkan senyumnya sekilas dan terlihat sangat santai-santai saja.


Yang dimaksud Litha ialah seperti tempo hari, saat kejadian Raka memeluk Litha secara tiba-tiba di lapangan sekolah.


"Nggak akan," jawab Raka yang memang tidak ada niatan untuk berbuat seperti apa yang dipikirkan oleh Litha.


Lagi pun Raka itu pemuda yang selalu memegang perkataannya. Bukankah tadi pagi ia baru saja mengatakan pada bunda Larissa agar tidak berbuat seperti tempo hari, yang memeluk Litha secara tiba-tiba? Sepertinya Litha mendadak jadi amnesia, sampai melupakan ucapan Raka beberapa jam yang lalu.


"Ke basecamp mau?" Raka menawarkan Litha untuk ikut dengan dirinya ke basecamp The Perfect.


Litha nampak berpikir sejenak, "Ngapain?" tanya Litha.


"Mau nggak?" tanya Raka tanpa menjawab pertanyaan Litha terlebih dahulu.


"Ya udah deh..." sahut Litha.


"Apa?" tanya Raka memperjelas penuturan Litha.


"Ya udah ke basecamp. Ayo..." jawab Litha sembari menarik tangan Raka tanpa meminta persetujuan dari empunya. Ya meskipun begitu, Raka tidak akan mungkin menolak gandengan dari tangan Litha.


Siswi yang melihatnya merasa iri dengan Litha yang dengan beraninya menggandeng tangan si ganteng es batu itu. Udah cantik, tajir, anak pemilik sekolah ini, dapet pacar ganteng yang sama tajirnya pula.


**Basecamp__


Litha memasuki ruangan dengan casing gudang itu terlebih dahulu, Raka hanya mengekorinya setelah tadi Litha melepaskan gandengan tangannya.

__ADS_1


"Sepi," ungkap Litha.


Raka yang akan menutup pintu ruangan tersebut hanya menoleh sekilas, lalu kembali lagi ke aktivitas yang belom ia selesaikan.


"Kok ditutup?" tanya Litha setelah Raka selesai menutup pintu ruangan tersebut.


"Kenapa?" tanya Raka balik sembari berjalan melewati Litha.


"Kita kan cuma berdua doang," jelas Litha.


"Kamu takut sama aku?" tanya Raka sambil membuka pintu kulkas.


Bukan tanpa alasan Raka menanyakan hal tersebut, pasalnya mengingat yang sudah-sudah, Litha pernah berburuk sangka terhadap Raka. Kalau seinget Raka ada tiga kali Litha berpikir yang macam-macam tentang Raka.


Tapi sekarang Litha sudah yakin 100% bahwa Raka ialah pemuda tampan yang sopan dan tidak akan neko-neko dengan seorang gadis.


"Bukan itu, aku mah percaya sama kamu. Tapi kalo ada orang lain yang ngelihat kita masuk berdua ke sini, terus jadi gosip yang enggak-enggak gimana?" ungkap Litha panjang lebar.


Raka hanya tersenyum tipis, lalu menyodorkan tangannya ke Litha. Tangan yang kini sedang memegang cokelat yang tadi ia ambil dari kulkas.


"Buat aku?" tanya Litha sambil menunjuk dirinya sendiri, Raka menganggukkan kepalanya. Dengan senang hati Litha mengambilnya.


Raka tersenyum melihat Litha yang dengan lahapnya memakan cokelat tersebut, sambil sesekali Litha terlihat senyum-senyum sendiri. Entahlah Raka tidak tahu apa yang sedang ada dipikiran gadis cantik itu? Yang Raka tahu, sekarang mood Litha sudah kembali membaik dari beberapa menit yang lalu.


"Senyawa kimia yang terkandung dalam cokelat katanya bisa membuat perasaan bahagia," tutur Raka dengan senyum tipisnya.


Litha yang sedang menikmati cokelat manis itu pun akhirnya menghentikan aktivitasnya. Litha menoleh ke samping kanannya, melihat pemuda tampan yang sekarang sedang tersenyum. Ya walaupun samar-samar gitu senyumnya gpp lah...


"Asam amino yang dikandung cokelat digunakan oleh otak untuk memproduksi serotonin. Serotonin adalah neurotransmitter alami yang mampu menghasilkan perasaan bahagia seseorang," jelas Raka panjang lebar.


Sekali lagi tanpa Litha harus menyuruh Raka untuk bicara panjang lebar, Raka pun sudah melakukannya. Yah mungkin emang cuma Litha aja yang bisa mengubah sifat cuek dan irit ngomong tu cogan jadi banyak ngomong.


Malah sekarang Raka terlihat seperti seorang guru kimia, yang sedang menjelaskan salah satu senyawa kimia yang ada di dalam makanan berwarna cokelat yang terasa manis jika tersentuh oleh lidah, yang juga digandrungi oleh para anak-anak dan gadis remaja.


Litha jadi kagum dan bangga sendiri dengan kecerdasan yang dimiliki kekasihnya. Padahal yang pandai itu Raka, tapi Litha yang bangga dengan dirinya sendiri. Yah Litha bangga memiliki pacar yang tidak hanya tampan, tetapi juga pandai.


"Oh ya? Walaupun aku anak MIPA dan belajar kimia. Tapi selama ini yang aku tau itu cuma cokelat manis dan enak dimakan," ungkap Litha yang memang apa adanya begitu.


"Memang menurut ilmiah cokelat bisa membuat bahagia, tapi menurutku kebahagiaan seseorang itu tergantung dari dirinya sendiri. Apakah dia mau bahagia apa tetap dalam kesedihannya atau bahkan kekesalannya," jelas Raka tak kalah panjang dari penjelasannya yang pertama.

__ADS_1


"Nyindir nih?" tanya Litha dengan menyipitkan kedua matanya. Raka hanya menyunggingkan senyumannya.


"Tapi bener sih kata kamu. Aku senyum-senyum sendiri tadi bukan karena makan cokelat," tambah Litha.


Litha yang tak kunjung mendapat sahutan dari Raka, jadi kesal sendiri. "Ihh... Tanya dong kak, masak diem aja sih,"


Raka menaikkan sebelah alisnya, Litha jadi gregetan sendiri karena Raka cuma diem aja. Tanya nya pakai bahasa muka lagi, kan nyebelin banget. Tinggal bicara, tanya apa? doang susahnya minta ampun.


"Ya tanya apa alesan aku senyum-senyum sendiri tadi pas makan cokelat," ucap Litha dengan volume sedikit tinggi.


"Iya aku tanya itu. Jadi jawabannya apa?" tanya Raka yang tanpa ia sadari, penuturannya itu sudah membuat Litha jengkel.


"Karena kamu yang ngasih cokelat itu," jawab Litha sedikit ketus, lalu matanya menatap lurus ke depan.


Lagi-lagi Raka tersenyum karena Litha, ahh gadis cantik ini memang selalu bisa membuat Raka tersenyum. Ya meskipun Litha tidak ada niatan sedikit pun untuk membuat Raka tersenyum.


What dikasih cokelat aja udah seneng? Ya iya dong happy, kan yang ngasih orang terkasih, ditambah ganteng pula. Hehe...


Dikasih cokelat aja udah bikin Litha jadi senyum-senyum sendiri, apa lagi suatu saat nanti kalau Raka ngasih mahar mobil mewah, rumah macam istana, dan uang miliaran? Bisa-bisa Litha jadi senyum-senyum sendiri sampai 7 hari 7 malem, kesannya kayak orang rada-rada dong? Wkwk bercanda Litha cantik.


"Marah lagi?" tanya Raka seraya mengacak rambut Litha.


"Kak Raka gitu sih," jawab Litha.


Tak ada respon dari Raka, Litha menoleh lagi ke arah Raka yang sedang tersenyum. Aishh... rasanya Litha tidak tahan jika harus marah kepada Raka. Hanya dengan Raka tersenyum saja sudah mampu meluluhkan hati gadis cantik ini.


"Kak Raka itu my mood booster, tapi juga kadang bikin jengkel, terus aku jadi kesel sendiri. Terus balik lagi ke awal, you are my mood booster," ungkap Litha jujur dan menekankan lima kata di kalimat terakhirnya.


"Jadi gitu siklusnya?" Raka hanya tersenyum mendengar penuturan jujur dari kekasihnya.


"Pengennya sih gak bersiklus," jawab Litha.


"Pengennya tu moodnya bagus terus, tapi kamu gitu sih," sambung Litha.


Gitu yang dimaksud Litha itu sikap Raka yang dingin kek es batu. Kenapa sikap cuek, datar, dan dinginnya harus kesemua orang? Ke Litha juga, yang berstatus sebagai pacarnya?


Holla para readers.


Lagi-lagi Author upload nya kurang rajin, ya kalian pasti udah bisa nebak karena tugas sekolah yang nyerang Author😭 nyerangnya keroyokan, sedangkan Author melawannya seorang diri. Wkwk sorry Author lebay...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, and vote 🙏🥰


__ADS_2