Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Sekalian Nungguin


__ADS_3

Emang dulu, setiap gerak-geriknya Litha selalu jadi bahan gosip satu sekolahan. Tapi gak sampai jadi pusat perhatian kayak gini, yang terang-terangan menatap Litha dengan tatapan tajam, siswi-siswi itu seperti macan yang sedang kelaparan saja.


Litha sama Raka kan, gak jadi pemeran yang lagi akting adegan romantis di sinetron-sinetron, tapi masih ajaaa dilihatin dari tadi. Duhh... Litha jadi pengen nampol mukanya satu per satu.


"Ngapain ngikutin gue?" tanya Litha.


"Kepedean banget lu," jawab Raka dingin.


"Eh.. dasar plagiat, itu kan kata-kata gue tadi waktu di rumah," seru Litha.


"Gue mau ke kantin, bukan ngikutin lo," ketus Raka sambil melangkahkan kakinya meneruskan perjalanannya ke kantin. Raka gak terima dong dikatain plagiat gitu ajaaa. Untuk menuju ke kantin memang harus melewati ruang kelas X MIPA 3, kelasnya Litha. Karena jalannya memang searah.


'Bukannya tadi di rumah, dia udah sarapan? Ngapain masih ke kantin?' batin Litha.


Siswi yang mendengarkan ucapan Raka yang ketus itu pun langsung tertawa terbahak-bahak.


"Jangan sok kepedean deh lo, emang lo siapa? Pede banget kalo kak Raka ngikutin elo, hahahaha..." itulah hinaan dari salah satu siswi yang tertawa setelah mendengarkan perkataan Raka yang ketus. Hinaan tersebut pun disambut bahagia oleh suara tertawa dari beberapa siswi yang lainnya. Mereka tidak tahu saja, kalau Litha itu kekasihnya Raka.


Litha sih cuek, dia sama sekali tidak tertarik untuk meladeninya. Kalau mau ngeladenin hujatan dari netizen tadi mah Litha pasti udah telepon pacarnya, supaya mereka langsung masuk ruang BK. Lebih baik Litha memutuskan untuk langsung capcuss masuk ke dalam kelasnya.


**Kantin__


Istirahat pertama


Leon, Danil, Arkan, dan Jordy sedang menuju ke kantin. Wait!! Personilnya kok kurang satu? Lalu Raka dimana? Entahlahh mereka pun juga tidak tahu. Karena tadi pagi Raka tidak masuk kelas, jadi mereka berempat belum melihat Raka.

__ADS_1


"Dari tadi lo disini?" tanya Arkan pada seseorang yang sedang duduk santai sambil mengotak-atik handphonenya, sambil sesekali meminum air putih yang berada didepannya.


"Hm," datar, dingin tanpa intonasi apalagi ekspresi. Pastinya itu adalah manusia tampan yang sedingin es balok, siapa lagi kalau bukan Raka Adelard Pangestu.


"Tumben lo bolos jam pelajaran, biasanya gak pernah," sahut Jordy.


"Untung aja tadi jam kosong," ujar Leon.


"Gue udah tau," seru Raka.


Wajah Leon menunjukkan ekspresi terkejut, bagaimana mungkin Raka mengetahui kalau tadi jam kosong? Jangan-jangan Raka yang menyuruh agar guru yang seharusnya tadi memberi pelajaran di jam pagi, untuk tidak masuk, dan sengaja mengosongkan jam pagi. Itulah pemikiran absurd seorang Leon Leonard.


Ya, emang Raka itu lahir dari keluarga Adelard yang sangat terpandang dan terhormat, dan apapun perkataannya pasti akan dipertimbangkan oleh pihak sekolah, tetapi hanya untuk perkataan yang baik dan benar. Tidak nyeleneh seperti pemikiran Leon yang absurd banget, masak nyuruh guru supaya sengaja tidak masuk, agar menjadi jam kosong. Tentunya itu tidak akan disetujui oleh pihak sekolah. Raka juga masih waras kali, tidak mungkin dia menyuruh-nyuruh guru seenak jidatnya aja.


Danil pun angkat bicara, karena sepertinya Leon membutuhkan penjelasannya, dari pada Leon mikirnya makin ngawur, kan gak baik juga.


"Nanya ke gue? Pantesan gak ada angin gak ada hujan, tiba-tiba nanya guru di kelas gue. Gue kira lo mau gebet guru di kelas gue," ucap Leon. Emang gak bisa dipungkiri, kalau Leon itu paling absurd diantara anggota The Perfect yang lainnya.


Guru yang mengajar di kelas XI MIPA 1 itu kebanyakan pada galak-galak. Lagi pula guru yang dimaksud Leon itu, beliau galak banget dan udah punya suami yang galak juga. Ya enggak mungkin lahhh Danil mau deketin guru galak apalagi yang punya juga galak. Auto dibikin inalillahi sama suaminya dong...


"Gi*a lo nyet, gue masih sayang nyawa," jawab Danil.


"Lhahh.. kenapa lo gak nanya langsung ke gue?" tanya Leon sambil mengarahkan pandangannya kepada Raka dan mengangkat dagunya ke arah Raka.


Raka hanya menghembuskan nafas beratnya, itu adalah kode kalau Raka malas untuk mengeluarkan suara khasnya yang dingin dan datar.

__ADS_1


"Gue tau nih, soalnya elo itu gak bisa dipercaya dan pastinya Raka khawatir kalo penyakit kepo lu jadi kumat lagi," ujar Arkan pada Leon.


Leon itu selain absurd banget, dia juga kepo banget sama urusan orang lain. Kalau Danil itu yang paling dipercaya sama Raka, diantara anggota The Perfect yang lainnya. Karena Danil gak se-absurd Leon, Jordy dan Arkan. Lagi pula Danil itu masih punya etika, yang cuman berani nanya sekali, kalau pun pertanyaannya gak dijawab, Danil sih bodo amat.


Beda cerita sama Leon yang penyakit keponya udah stadium lanjut, tadi aja waktu Danil nanya ke Leon soal guru yang ada di kelasnya. Leon penasaran banget, kenapa Danil menanyakan hal tersebut, sampai Leon nge-chat Danil terus menerus. Karena Danil tidak mau ambil pusing dengan sikap Leon, akhirnya Danil memutuskan untuk mematikan handphonenya saja.


"Terus ngapain lo disini? biasanya juga kalo lo lagi males masuk kelas, lo ke basecamp," tanya Jordy pada Raka.


"Mau beli sandwich, tapi roti tawarnya lagi kosong. Lagi dibeli sama mbaknya, ya udah sekalian nungguin," sebenarnya Raka males banget untuk bicara panjang lebar. Tapi kali ini, hanya Raka yang bisa menjelaskannya, mau tidak mau Raka harus mengeluarkan suara khasnya. Kan kasihan juga temen-temennya, kalau rasa penasarannya belum terjawabkan.


"Kelaperan lu ya..?" tanya Leon.


"Belum sarapan?" tanya Arkan.


"Tumben rela ngabisin waktu buat nungguin sandwich doang?" ujar Jordy. Bukan tanpa alasan Jordy menanyakan hal tersebut, Raka itu bukan tipe yang betah nungguin sesuatu, apa lagi cuman nungguin sandwich doang.


Tetapi pertanyaan dari tiga manusia yang mengidap penyakit kepo stadium lanjut itu, tidak dijawab. Raka segera mengambil pesanan sandwich yang sedari tadi ditunggunya.


"Gue duluan," seru Raka sambil berjalan meninggalkan empat manusia tampan itu.


**Perpustakaan__


"Ambil..!" perintah seseorang dengan nada datar dan dingin, sambil mengulurkan tangannya yang kini membawa sebuah kantong plastik ditangannya.


Konsentrasi Litha seketika buyar, setelah mendengarkan suara yang sangat familiar ditelinga-nya. Litha yang awalnya membaca buku dengan menatap ke bawah, langsung mengganti pemandangannya, melihat ke arah sumber suara tersebut dengan mengangkat dagunya ke atas.

__ADS_1


Dan tebakan Litha ternyata benar, Raka adalah satu-satunya manusia pemilik suara khas itu, yang juga memiliki ketampanan yang tidak manusiawi.


__ADS_2