Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Sedikit Kecewa


__ADS_3

"Mau?" Raka menawarkan jajanan kepada Litha.


"Aaakk..." Mulut Litha terbuka lebar meminta disuap takoyaki yang baru dibeli Raka.


Sore ini mereka habiskan dengan kuliner jajanan tak jauh dari hotel tempat menginap. Tadi siang mereka hanya main-main air di pantai.


Sesuai janji Raka yang akan menanggung semua biaya hidup mereka selama tiga hari berlibur, acara berburu kuliner ini disponsori oleh Raka. Semuanya berpencar menikmati berbagai macam jenis kuliner dengan pasangannya masing-masing, kecuali trio jones yang selalu bertiga tidak ingin terpisahkan.


Raka mengarahkan tusuk takoyaki ke arah mulut Litha yang langsung sekali dilahapnya. Padahal mulut Litha terlihat kecil, namun takoyaki yang ukurannya lumayan lebar dari mulutnya mampu sekali langsung di hap makan.


Raka tersenyum geleng-geleng kepala melihat pipi Litha menggembung sampai mulutnya monyong karena volume makanan didalam mulutnya terlalu banyak.


"Enak?" Tanya Raka yang mendapat anggukan kepala plus acungan jempol dari Litha untuk menilai makanan yang terbuat dari tepung dan seafood ini.


Setelah mendapat tanggapan dari Litha, barulah Raka memakannya. Tatapan Litha sinis melihat Raka yang menggigit makanan bentuk bulat tersebut.


"Maksudnya Kak Raka apa?" Sungut Litha membuat Raka bingung tidak mengerti.


"Apa yang kenapa?" Raka melahap lagi makanannya tidak ingin ambil pusing dengan Litha.


"Tadi aku disuruh makan duluan. Sebelum makan kamu nanya dulu ke aku enak enggaknya. Setelah aku bilang enak, baru dimakan. Maksudnya kamu jadiin aku testimoni gitu?" Ocehan Litha terdengar. Namun Raka memilih mengabaikannya, ia tetap mengunyah makanannya.


"Habis...!" Raka mengangkat kemasan takoyaki yang sudah kosong.


Tentu saja Litha kesal jika ocehannya diabaikan begitu saja. "Kak Raka...!" Teriak Litha meminta Raka menanggapi ocehannya tadi.


"Jangan suudzon sama calon suami sendiri," tegur Raka.


"Sejak kapan Kak Raka lamar aku?" Litha bersikedap dengan tatapan seolah menantang apakah Raka berani melamarnya dalam waktu dekat ini? Sehingga mereka berdua bisa membuat acara pernikahan bebarengan dengan Umran dan Sarah yang akan segera naik pelaminan.


"Setelah kita pulang dari liburan, aku lamar kamu. Kamu siap menjadi seorang istri?" Senyuman Raka terukir, dia tidak main-main dengan ucapannya.


Litha gelagapan ditatap serius oleh mata Raka. "A.. a.. paan sih Kak. Aa.. aku cuma bercanda kali," Litha jadi gugup sendiri.

__ADS_1


"Kenapa harus bercanda kalau sudah sanggup serius?" Tatapan Raka fokus kepada bola mata Litha yang bergerak ke kanan kiri. Entah memandang apa, tapi Raka tahu jika Litha menghindari tatapannya.


Litha berjalan diikuti oleh Raka dibelakangnya. Langkah Litha pelan karena begitu banyak orang yang berlalu lalang mencari jajanan disekitar sini.


"Kak, yang namanya menikah itu harus siap dalam segala hal," ucap Litha sambil memilih jalan yang agak longgar agar mereka bisa lewat.


"Aku tahu itu," Raka membenarkan penuturan Litha.


Lama Litha hanya diam berjalan didepan Raka. Hingga Raka tidak tahan ingin meminta persetujuan dari Litha, apakah gadis kecil ini siap menjadi istrinya?


"Tha... Kamu..." Belum juga kesebut udah dipotong Litha. Gadis tersebut sudah tahu kemana arah pembicaraan kulkas berjalan itu.


Litha langsung balik badan menatap Raka. "Kak stop! Aku gak mau bahas ini lagi. Kita masih terlalu muda Kak. Kamu mah enak, pulang-pulang dari luar negeri tau-tau udah dapet gelar Doktor! Nah aku?"


"Aku masih pingin kuliah Kak, aku mau menggapai mimpi aku. Setidaknya tunggu aku sampai mendapat gelar Sarjana," sambung Litha.


Tak disangka candaannya adalah boomerang baginya sendiri. Litha dapat melihat keseriusan dari Raka yang berniat sungguh-sungguh. Namun Litha masih terlalu pengecut untuk menerima niat baik dari Raka.


2 detik,


3 detik,


Raka masih diam mematung. Raka tahu jika Litha hanya bercanda, tapi entah mendapat dorongan dari mana ia ingin menanggapi serius candaan tersebut.


Litha menjadi merasa sedikit bersalah kepada Raka. Bagaimana pun juga dirinya yang awalnya memancing-mancing Raka. Setelah Raka menanggapi dengan serius, Litha malah seakan-akan memberikan harapan palsu.


"Maaf," Litha menundukkan kepalanya.


"Ceritanya aku baru ditolak nih? Didada kok rasanya agak sesak ya..?" Raka tersenyum melihat Litha yang mendongakkan kepalanya.


Tangan Raka mengusap rambut Litha. "Anggap aja obrolan kita tadi gak pernah ada,"


Raka mengecup pucuk kepala Litha, memeluknya erat ditengah hiruk pikuk keramaian tempat kuliner.

__ADS_1


Litha menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Raka. "Sekali lagi aku minta maaf Kak,"


Litha sungguh merasa bersalah, dan tidak enak hati kepada Raka yang Litha yakini pasti ada rasa sedikit kekecewaan dalam diri Raka.


"It's oke. Aku gak akan pernah bahas tentang itu lagi, sampai kamu sendiri yang akan memintanya langsung kepada ku," Raka memeluk tubuh Litha, mengusap rambutnya, dan mengecup pucuk kepalanya.


Siapa yang perduli jika mereka sedang berada ditempat umum yang ramai seperti ini? Kalau Litha sih tiba-tiba aja dia lupa kondisi dan tempat. But lain cerita dengan Raka yang sadar sepenuhnya dengan tatapan orang-orang yang melewati mereka. Raka bodo amat! Toh mereka juga tidak saling mengenal.


"Woi..." Tepukan dipundak Raka membuatnya melepaskan pelukannya dengan Litha.


"Kenapa kalian kayak habis melow gitu?" Umran mengamati mimik wajah adiknya yang sangat kentara sekali jika lagi galau atau sehabis bersedih.


Litha dan Raka saling pandang. Kalau Raka langsung bisa merubah ekspresi wajahnya dan tingkah lakunya 180°, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Sedangkan Litha, walaupun suka drakor, dia tidak pandai berakting.


"Ada asap sama debu bikin mata perih," Litha mengibas-ngibas matanya yang memerah berkaca-kaca.


Umran dan Sarah yang mengetahui jika mata Litha sedikit bermasalah sejak kecil, hanya mengangguk percaya begitu saja dengan akting Litha yang jauh dari kata meyakinkan.


Umran mengecek handphonenya yang berbunyi mendapatkan pesan dari seseorang. Sarah menghelai nafasnya. Sejak menginjakkan kaki di pantai, tidak ada momen romantis dan kebersamaan yang terasa tentram, selalu ada saja pengganggu dari perusahaan.


Semenjak Umran berhasil meraih gelar sarjana, ia tidak melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Umran diminta Ayah Kusuma untuk fokus pada Nagara Groups, bagaimana pun juga hanya Umran harapan satu-satunya kedua orang tuanya untuk melanjutkan bisnis mereka. Mengingat Litha yang yang tidak menyukai hal-hal yang berbau perusahaan.


"Kelihatannya dari kemaren lo sibuk terus," celetuk Raka.


Umran memasukkan ponselnya kembali ke dalam sakunya. "Gue?" Tanyanya yang dibalas anggukan oleh Raka.


"Ada sedikit masalah di perusahaan," jujur Umran. Karena itulah Umran harus ekstra bekerja agar masalah yang ada tidak semakin besar dan dapat cepat teratasi.


Raka menatap Litha yang sama sekali tidak perduli dengan perusahaan keluarganya. Memikirkan nasib Kakaknya saja tidak! Yaaa pandai-pandai Umran saja lah yang harus membagi waktu untuk mengurus sebagian perusahaan yang sudah menjadi tanggung jawabnya dan mengurus acara pernikahannya yang tinggal hitungan minggu.


"So acara pernikahan kalian?" Tanya Raka sedikit kasihan kepada calon iparnya.


"Biar diurus WO aja," Sarah tersenyum dipaksakan. Kedua orang tua mereka juga sama-sama sibuk, sehingga semuanya diurus oleh wedding organizer.

__ADS_1


__ADS_2