
Entah kenapa Litha sangat emosi saat ini, sampai-sampai dia memborong semua komik yang ada di toko itu. Padahal rencananya Litha hanya ingin membeli buku pelajaran dan beberapa komik kesukaannya saja.
Tetapi dia malah kelupaan membeli buku yang membuat dia datang ke toko ini. Iya.. tujuan utamanya datang ke toko buku itu yaitu ingin membeli buku pelajaran, tujuan utama kok malah lupa ya? Apa karena saking marah banget kali ya...
Litha sedang kesusahan membawa komik yang diborongnya, terbukti dari wajah Litha yang tertutupi tumpukan komik yang dibawanya. Dan tentunya hal tersebut membuat Litha tidak bisa melihat kedepan.
Langkah kaki Litha tiba-tiba terhenti, saat dia melihat kaki yang memakai sepatu sneakers berhenti tepat didepannya. Tetapi Litha tidak bisa melihat siapa pemilik sepatu itu, karena terhalang oleh tumpukan komik yang dibawanya.
"Yakin mau beli komik sebanyak itu?" tanya seseorang didepannya dengan nada dingin dan datarnya. Tentunya Litha sudah sangat hafal dari pemilik suara itu. Jika kalian menebak itu adalah Raka, maka tebakan kalian benar.
Litha tidak merespon ucapan Raka, sebenarnya Litha terkejut dengan kedatangan Raka yang tiba-tiba 'bukannya tadi dia udah pulang?' tanya Litha dalam hatinya.
Raka sudah merasa ada hal yang aneh pada gadis bernama Litha ini, tidak biasanya Litha bersikap dingin padanya. Raka melangkahkan kakinya menuju samping kanan Litha, agar dia bisa melihat wajah Litha yang sekarang memasang ekspresi cemberut.
"Marah?" tanya Raka, sekali lagi Litha berhasil membuat salah satu sudut bibir Raka naik. Bagi Raka melihat ekspresi Litha yang sedang cemberut itu adalah hal yang lucu.
Dan Litha tidak menyadari akan hal langka tersebut, seorang Raka bisa tersenyum? Itu sebuah keajaiban. Litha masih saja pada pendiriannya, yaitu memasang ekspresi cemberut, sok ngambek gitulah. Seperti perempuan yang sedang marah-marah manja pada pacarnya, karena ditinggal pergi tanpa pamitan begitu saja.
"Tadi gue cari parkir, bukan pulang be*o," ujar Raka tanpa intonasi apalagi ekspresi, lebih tepatnya kembali pada muka datarnya.
Litha tidak meresponnya lagi, dia malahan melanjutkan langkah kakinya lagi yang tadi sempat terhenti, karena kedatangan kulkas berjalan itu. Tidak ada petir, tidak ada hujan angin, tiba-tiba Litha hampir terjatuh. Kakinya tersandung tali sepatunya sendiri yang tidak terikat.
"Aaa..." teriak Litha yang sedang kehilangan keseimbangannya.
Untung saja tubuh mungil Litha segera ditangkap oleh tangan berototnya Raka, jadi Litha gak jatoh dilantai deh. Tapi tumpukan komik yang sedari tadi dibawanya, jadi jatuh berceceran dimana-mana.
Mereka berdua saling menatap satu sama lain tanpa berkedip sekalipun, Litha tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pemuda tampan ini, memang tidak bisa dipungkiri bahwa Raka memiliki pesona yang dapat membuat hati dan jantung seorang wanita menjadi meleleh dan berdetak dua kali lebih kencang dari biasanya. 'Ini jantung gue kenapa gini ya?' tanya Litha dalam hatinya.
__ADS_1
Tentunya saat ini, mereka memasang gaya dan ekspresi seperti adegan romantis di sinetron-sinetron gitulah. Tidak sengaja penjaga toko buku itu memergoki Litha dan Raka yang seperti dua orang sedang berpelukan.
"Ehemm..." penjaga toko buku yang berpura-pura batuk dan pastinya mengganggu adegan romantis antara Raka dan Litha.
Alhasil suara itu membuat mereka sadar, bahwa mereka sedang saling memandang satu sama lain. Tunggu... berarti mereka dari tadi gak saling sadar dong? Emang iya, mungkin karena terlalu menikmati pemandangan indah dari ciptaan Allah SWT. Akhirnya mereka pun membenarkan posisi berdiri masing-masing.
"Ulah siapa ini? Tolong diberesin ya..!" ujar mbak-mbak penjaga toko buku.
"Sorry ya mbak, nanti saya beresin secepatnya," ucap Litha.
***
"Ini semua gara-gara lo, kalo lo gak tiba-tiba nongol depan gue, gak akan jadi kayak gini," ucap Litha mendecak kesal. Pastinya sambil memungut komik yang berceceran tadi.
"Kalo lo ngiket bener tali sepatu lo, gak bakal kejadian kayak gini," ujar Raka yang membantu Litha mengambil satu persatu komik yang belum sempat dibeli oleh Litha.
Setelah selesai memungut semua komik yang berceceran tadi, Litha berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kasir. Sebelum kaki Litha melangkah, dia dikejutkan oleh tangan manusia tampan ini, yang mengikatkan tali sepatutnya tanpa permisi.
"Gak tertarik sama buku pelajaran?" tanya Raka sambil mengikat tali sepatu Litha.
'Oh.. iya kok bisa lupa ya..?' tanya Litha dalam hatinya.
"Enggak," jawab Litha dengan ketus, sepertinya Litha masih marah pada Raka.
Sebelum Raka mengekori Litha berjalan menuju kasir, Raka mengambil sebuah pulpen berwarna putih dengan ukiran berbentuk hati, sungguh pulpen yang sangat indah dan menarik.
"Totalnya jadi 560 ribu," ujar penjaga toko buku setelah selesai monotal semua buku komik yang ditaruh dimeja kasir, termasuk pulpen yang tadi diambil Raka.
__ADS_1
"Ini bukan punya say..." ucap Litha yang lagi dan lagi terpotong karena kelakuan kulkas berjalan disampingnya.
Raka mengandeng tangan Litha agar segera keluar dari toko buku itu, karena kalau tidak digandeng pasti Litha masih didalam toko sambil ngoceh-ngoceh gak jelas. Alasannya? Ya.. pasti karena Raka yang tadi membayar semua buku komik Litha dan tentunya pulpen putih berukiran bentuk hati.
***
"Ngapain ini sih?" tanya Litha sambil mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Raka.
"Lo ngapain bayarin barang gue?" tanya Litha lagi...
"Siapa yang bayarin punya lo? Gue bayar punya gue sendiri. Ya.. salah lo sendiri naroh barang dikasir barengan sama punya gue." ujar Raka
Litha tidak menanggapi ucapan Raka, sepertinya Litha tambah marah pada Raka. Terbukti dari ekspresi wajahnya saat ini, kali ini Litha benar-benar marah. Litha itu paling gak suka sama orang yang ikut campur dengan urusan barangnya, apalagi tanpa seizinnya.
"Nih.. komik lo," ucap Raka yang dari tadi memegang kantong plastik besar yang berisi tumpukan komik.
"Gak mau," ucap Litha dingin.
"Yakin?" tanya Raka.
"Hmm..." Litha masih saja bersikap dingin pada Raka. Mungkin kalau perempuan lain yang barangnya dibayar oleh Raka yang cogan banget, pasti akan sangat bahagia. Tapi itu tidak berlaku bagi seorang wanita cantik bernama Litha.
Raka sangat bingung dengan sikap dinginnya Litha. Dia tidak biasa menghadapi perempuan yang sedang marah. Karena biasanya Raka yang bersikap dingin pada perempuan. Entah mengapa Raka ingin membuat gadis ini menjadi cerewet lagi dengan segala ocehannya.
"Tunggu sebentar," ucap Raka, setelah itu dia kembali masuk ke dalam toko buku.
"Ngapain lagi sih? Apa dia mau balikin semua komiknya lagi? Tapi masak iya sih..?" pikiran Litha sekarang sedang dipenuhi oleh banyaknya pertanyaan.
__ADS_1