Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Partner


__ADS_3

Bruk...


Litha menubruk seseorang sampai buku-buku yang dibawa mahasiswa tersebut jatuh berceceran dimana-mana.


"Sorry gue jalan gak lihat depan," Litha membantu memungut buku-buku yang berserakan dilantai.


"It's oke. Lain kali kalau jalan jangan sambil main HP," pemuda itu memberikan handphone Litha yang terjatuh dilantai.


Litha menerimanya, "Kak Aldi?" Ucap Litha tanpa sadar.


Aldi tersenyum, "Iya gue," Aldi berdiri mengangkat tumpukan bukunya.


"Gue gak nyangka ternyata cewek kayak lo bisa kenal gue," Aldi tersenyum hangat.


"Kayak gue gimana maksudnya?" Litha tidak paham dengan perkataan Aldi.


"Cewek tajir, anak pemilik kampus ini," jawab Aldi.


"Kenapa lo bisa kenal gue. Jangan bilang lo naksir gue?" Ujar Aldi yang terdengar narsis, tapi sebenarnya itu hanyalah candaan saja.


Litha gelagapan sendiri. "Eh enggak kok Kak," Litha langsung menggeleng membuat Aldi tertawa renyah.


"Terus?" Aldi meminta jawaban Litha.


"Siapa sih yang gak kenal Kak Aldi hehehe..." Litha garuk-garuk kepala. Kalau bukan karena Sekar dan Fika yang sering bergosip tentang Aldi, Litha juga tidak akan tahu Aldi.


Siapa yang tidak mengenal Aldi? Senior ganteng yang terkenal akan keramahtamahannya, dia pandai dalam pembelajaran dan jago basket. Meskipun Aldi berasal dari keluarga menengah ke atas banyak mahasiswi kampus yang sangat mengidolakan sosok seperti Aldi yang walaupun murah senyum dan ramah, ia sangat sulit didekati oleh wanita. Sikap ramahnya hanya sebagai rasa tanda hormatnya untuk menghargai setiap orang.


"Oh iya, lo anak fakultas kedokteran kan?" Tanya Aldi.


Litha mengangguk, Litha tahu dari Sekar jika dirinya dan Aldi satu fakultas ilmu kedokteran.


"Kenapa Kak?" Tanya Litha.


"Lo mau dapet nilai tambahan nggak? Gue ada tugas penelitian langsung ke salah satu rumah sakit. Dosen nyuruh cari partner junior yang satu fakultas ilmu kedokteran," jelas Aldi.


Litha mengangguk paham kemana arah pembicaraan Aldi. "Gue mau jadi partner lo," siapa yang menolak jika ada yang menawarkan nilai tambahan dengan cara mudah?


Tawa Aldi terdengar, Litha langsung menawarkan diri sebelum Aldi memintanya menjadi partnernya. "Thanks,"


***


Keesokannya, siang ini Aldi dan Litha menuju ke rumah sakit Utama untuk mengerjakan tugas Aldi. Sampai diparkiran, dua pemuda-pemudi turun dengan setelan khas anak perkuliahan. Apa lagi kalau bukan memakai almamater kampus.


Setelah sampai mata Litha terbelalak melihat rumah sakit yang sangat familiar baginya. "Ini bukannya rumah sakit Adelard?" Litha melihat dinding besar bertuliskan Rumah Sakit Utama.

__ADS_1


Ternyata rencana Raka untuk mengganti nama rumah sakit Adelard sudah terlaksana tanpa Litha ketahui sejak kapan Raka mengganti namanya.


"Iya. Tadi gue kan udah bilang kalau rumah sakit Utama itu salah satu rumah sakit terkenal yang berani ganti nama ditengah-tengah kesuksesannya. Tapi meskipun namanya diganti, rumah sakit ini tetap ramai, bahkan tambah ramai karena alat-alat medisnya semakin canggih," ungkap Aldi.


"Sebelum penelitian, nanti kita ketemu dulu sama kepala rumah sakit ini," ujar Aldi menatap kagum rumah sakit yang begitu besar.


"Kenapa gitu?" Sela Litha memotong ucapan Aldi yang sebenarnya belum selesai.


"Harus izin dulu dong Tha," jawabnya.


"Ayo masuk!" Aldi menggenggam tangan Litha yang pasrah-pasrah saja.


Litha bingung bagaimana nanti cara menjelaskannya kepada Raka yang pasti marah. Sebelumnya Litha tidak berbicara dulu kepada Raka jika akan melakukan penelitian dengan seniornya. Terlebih lagi seniornya ini cowok, ganteng pula. Tapi masih gantengan Raka kok hehe...


"Litha, lo kenapa?" Tangan Aldi bergerak-gerak didepan wajah Litha yang melamun.


"Eh?" Litha tersadar dari lamunannya, ia melihat tangannya yang ternyata dipegang oleh Aldi. 'Ternyata?' iya guys tadi tu Litha gak sadar kalau Aldi gandeng tangannya.


Secara perlahan Litha melepaskan genggaman tangan Aldi dari tangannya. "Maaf Kak. Gak enak kalau ada yang lihat, takut ada yang salah paham,"


Litha tersenyum canggung, dalam hati merasa tidak enak terhadap Aldi. Namun ia tidak ingin membuat Raka marah besar jika sampai si kulkas itu melihatnya.


"Sorry ya kalau udah buat lo gak nyaman," ucap Aldi kurang peka dengan penuturan Litha yang secara tidak langsung telah mengungkapkan bahwa ada hati yang harus Litha jaga perasaannya.


Aldi menanyakan ruangan kepala rumah sakit kepada perawat yang berjaga didepan. Setelah mengatakan tujuannya datang kemari, perawat yang berjaga meminta mahasiswa itu tetap menunggu disini. Karena Raka tidak ingin ada orang asing yang masuk ke ruangan pribadinya.


Aldi dan Litha menunggu dengan obrolan random mereka. Tidak ada henti-hentinya Litha tertawa, begitu pula dengan Aldi. Sampai tawa Litha berhenti saat Aldi membahas tentang...


"Kepala rumah sakit ini katanya Dokter bedah. Temen gue juga ada yang bilang kalau Dokter Raka itu masih muda sesuai kita. Keren banget kan?" Ujar Aldi yang tiba-tiba menganti topik obrolan.


"Iya," Litha tersenyum sekilas. Sebenarnya Litha mau jujur cerita kalau Raka itu tunangannya, tapi takut nanti kesannya pamer atau dikiranya sombong gitu. Akh... Pending aja ceritanya.


"Gue berharap bisa kayak Dokter Raka. Tapi apa gue mampu?" Aldi tertawa menggelengkan kepalanya.


Kondisi perekonomiannya tidak sanggup untuk membayar pendidikan yang lebih tinggi dari pendidikannya saat ini. Beasiswa ilmu kedokteran tingkat atas juga tidak ada, karena biaya pendidikannya memang sangat mahal.


"Calon Dokter Umum seperti kita juga sangat dibutuhkan oleh masyarakat luas. Gak semua penyakit harus dioperasi. Kalau sakitnya cuma flu ringan, apa perlu saluran pernapasannya dibedah?" Litha tertawa dengan leluconnya, berharap semoga Aldi sedikit terhibur dengan lelucon recehnya.


Aldi tertawa, ia merasa bahagia bisa mengenal Litha. Gadis anak konglomerat yang tidak suka pamer dengan kekayaannya dan bisa berbaur dengan siapa saja.


Setelah sekian lama, kini hati Aldi terasa menghangat berada didekat seorang wanita. Aldi sadar jika benih-benih cinta mulai tumbuh dalam hatinya untuk Litha.


"Tatha," akhir-akhir ini Raka sering memanggil Litha dengan nama tersebut. Katanya biar terlihat lebih dekat dibanding dengan orang lain. Halah palingan juga cemburu, ngomong aja kalau cemburu sama cogan-cogan kampus yang deketin Litha!


Litha langsung berdiri, ia terkejut dengan suara dingin yang sangat familiar ditelinganya.

__ADS_1


Aldi berdiri dengan senyum mengembang, ia belum menyadari tatapan mata elang Raka dan kegugupan dalam diri Litha.


"Dokter Raka?" Aldi tersenyum melihat pemuda seusianya yang menggunakan jas putih dengan bercak darah merah segar. Di jas nya tertera name tag yang bertuliskan Dr. dr. Raka Adelard P, Sp.B.(K).Onk. Yang berarti Dokter Spesialis Bedah Onkologi.


Onkologi merupakan ilmu kedokteran yang khusus membahas penanganan atau pengobatan serta pencegahan kanker.


Raka mengangguk, tatapannya masih fokus ke arah Litha.


"Jadi begini Dok, kami mahasiswa dan mahasiswi dari Universitas Negara izin melakukan penelitian tentang alat-alat medis beserta kondisi kesehatan pasien inap di rumah sakit Utama," jelas Aldi yang hanya dibalas anggukan kecil dari Raka.


Akh... sikap Dokter Raka memang berbanding terbalik dengan Aldi yang terkenal dengan keramahtamahannya.


"Oh iya, perkenalkan nama saya Aldi Alfiansyah, dan partner junior saya di kampus..." Aldi menyenggol lengan Litha yang masih diam dengan wajah sedikit menunduk.


Setelah mendapat kode Litha langsung mengangkat kepalanya, tersenyum kikuk menatap Raka.


"Partner junior Anda?" Raka bertanya kepada Aldi yang menganggukkan kepalanya.


"Iya Dok," ucap Aldi.


Karena Litha masih diam saja, Aldi kembali menyenggol lengan Litha. "Perkenalan woi...! Aldi berbisik tetapi pendengaran Raka yang tajam mampu mendengarnya.


"Tidak perlu! Saya sudah mengenalnya," ucap Raka terdengar begitu dingin.


Netra Litha baru menyadari jika ada noda merah di jas putih Raka bagian dada. Litha refleks ingin membersihkannya, tangannya menggantung dan perlahan mengepal di udara ketika menyadari ada Aldi diantara mereka.


Litha menatap Aldi yang mengerutkan keningnya, Litha langsung menurunkan tangannya dan menyembunyikannya dalam saku almamaternya.


"Kenapa gak jadi?" Raka tahu niat Litha untuk membersihkan noda darah di jas kerjanya.


"Aku gak bawa tisu. Kalau aku bersihin pake tangan doang, mana bisa jas kamu langsung bersih. Bukannya bersih, yang ada tangan aku kotor!" Gerutu Litha.


"Di ruangan aku ada," Raka menarik tangan Litha.


Baru dua langkah, Litha menahan tangan Raka. "E e eh... Tunggu Kak,"


Tatapan Raka mengikuti arah pandang Litha yang melihat ke arah Aldi yang sedang bingung dengan tingkah mereka berdua.


"Saya pinjam partner junior Anda. Silakan Anda bisa sesuka hati Anda melakukan penelitian di rumah sakit ini TANPA ISTRI SAYA! Setelah Anda menyelesaikan pekerjaan Anda, titipkan makalah penelitian tersebut kepada perawat. Saya akan merevisinya, saya jamin nilai Anda yang paling teratas diantara mahasiswa lainnya," tutur Raka panjang lebar dengan menekankan tiga kata berhuruf besar membuat Aldi begitu terkejut.


"Ngacok kamu!" Litha memukul lengan Raka.


"Gue sama Dokter Raka cuma tunangan doang, belum nikah," setelah mengucapkan itu Litha langsung ditarik oleh Raka menuju ruang kepala rumah sakit.


Aldi menghelai nafasnya, ia harus menghapus benih-benih cinta dalam hatinya yang baru tumbuh dalam hitungan menit terakhir ini.

__ADS_1


***


Kasih komen and like nya. Mohon memaklumi ya kalau ada penulisan gelar yang menurut para readers salah.


__ADS_2