
Raka tersenyum melihat Litha melambaikan tangannya sebelum memasuki gerbang yang menjulang tinggi. Setelahnya Raka menancapkan gas mobil, meninggalkan SMA Nagara.
Karena Raka sudah melaksanakan ujian kelulusan dia tidak pernah berangkat sekolah. Berbeda dengan sebagian teman seangkatannya yang tetap masuk sekolah dengan tujuan agar mendapat uang jajan dari orang tuanya, dan mengejek adik kelas yang sedang berperang dengan soal-soal ujian kenaikan kelas.
Nilai ujian kelulusan akan diumumkan bersamaan dengan nilai ujian kenaikan kelas. Sudah menjadi tradisi antara nilai kelulusan dan kenaikan kelas diumumkan secara bersamaan.
Disinilah Raka sekarang, siang ini Raka berada di cafe The Perfect untuk menemui seseorang yang akan menjalin kerjasama untuk produk kecantikan terbaru yang dikeluarkan Adelard Group. Adelard Group tidak hanya bergerak di bidang properti dan elektronik teknologi, serta masih banyak lagi bidang bisnis yang Adelard Group geluti.
Entah kenapa Raka yang dimintai rapat bersama manajer model tersebut, Raka juga tidak tahu? Padahal Raka tidak pernah ikut campur dalam urusan bisnis Adelard Group yang menggeluti bidang kecantikan, kecuali jika soal dana investasi, mengingat Raka yang menjadi manajer investasi dalam semua perusahaan Adelard Group.
"Hai Raka," seorang wanita cantik berpakaian ketat dan terbuka yang mengekspos belahan dada dan paha putihnya, tersenyum manis kepada Raka.
Raka mengernyitkan keningnya, Via? Owh... Raka tahu kenapa Papanya menyuruhnya untuk ikut campur dalam bisnis kecantikan Adelard Group, ini pasti perintah dari Oma Rahma.
Papa Baskara meminta Raka untuk mengurus pengeluaran produk kecantikan itu. Mulai dari menemui manajer model yang sudah dipilih Oma Rahma siapa modelnya, lalu pemotretannya, sampai launching produk kecantikan tersebut, serta jangan lupakan Raka juga harus mengurus iklan produk kecantikan tersebut.
Jadi Noviana Cantika Geraldy yang menjadi model produk kecantikan Adelard Group?
"Gue boleh duduk?" tanya Via membuyarkan lamunan Raka.
Belum juga Raka menjawab, Via sudah angkat suara lagi. "Ehh... Tidak! Aku boleh duduk?" Via tersenyum manis.
Raka mengernyitkan keningnya heran dengan Via yang memakai bahasa aku. Via mengerti maksud Raka mengerutkan dahinya, tapi dia tidak ingin bicara sebelum dipersilahkan duduk.
"Aku boleh duduk?" Via mengulang kalimatnya.
Raka hanya mengangguk. Via duduk dengan tersenyum kecut karena Raka hanya membalasnya dengan anggukan kepala, tanpa mengeluarkan suara.
"Karena kita akan menjalin kerjasama, jadi aku rasa bahasa elo-gue itu kurang cocok untuk kita," jelas Via yang hanya diangguki oleh Raka lagi.
Raka setuju dengan Via. Raka akan bekerja secara profesional, tanpa memandang jika Via adalah wanita pilihan Oma untuk menjadi pendamping hidupnya.
"Lagi pula kita bukan abg yang usianya baru 17 tahun, sebentar lagi usia kamu 18 bukan?" tanya Via.
Raka mengernyitkan keningnya lagi, menuntut Via dari mana ia tahu mengenai usia dan tanggal lahir Raka. Via menarik nafas panjang karena sedari tadi Raka hanya diam saja tidak mau mengeluarkan suaranya.
"Oma Rahma yang kasih tau aku tentang calon tunangan aku," sahut Via yang mengerti arti Raka mengerutkan keningnya tersebut.
"Calon tunangan?" Dua kata pertama yang keluar dari bibir Raka.
"Lhoh.. kamu gak tau? Sebentar lagi kita akan tunangan, mungkin setelah hasil nilai ujian kelulusan kamu keluar atau mungkin setelah usia kamu genap 18 tahun," terang Via.
__ADS_1
Raka mengalihkan pandangannya ke arah lain. Omanya tidak memberitahu soal apapun kepadanya, Oma juga tidak meminta persetujuan dari Raka dulu.
"Jangan membahas masalah pribadi!" tegas Raka.
Via tersenyum, dia tahu pasti Raka sangat tertekan dengan rencana pertunangan ini.
"Bukannya seharusnya saya bertemu dengan manajer kamu?" Tanya Raka dengan profesional, jujur Raka males ngomong panjang lebar sama orang ini. Kenapa? Karena Raka masih curiga, kenapa Via mendekati Litha? Raka sering melihat Litha mendapat chat dari Via.
Saya? Oke tidak masalah. Via memaklumi Raka yang sangat profesional dalam pekerjaan.
"Manajer ku lagi sakit," dusta Via.
Nyatanya manajer Via sedang liburan, dia menyuruh manajernya tidak ikut campur dalam job nya kali ini dengan Adelard Group.
Karena Via akan mengurus semuanya sendiri, dengan tujuan agar sering bertemu dengan Raka dan mendapat simpati dari Raka bahwa dirinya amat mandiri tanpa bantuan manajernya yang sekaligus menjadi asistennya jika diadakan pemotretan.
Setelahnya mereka berdua benar-benar membahas tentang kerjasamanya. Setelah keduanya setuju dengan hasil kesepakatan, Via pamit lebih dulu karena ada urusan lain yang harus ia kerjakan.
"Aku duluan ya, kamu nanti pulangnya hati-hati," Via tersenyum sambil melambaikan tangan, Raka tetap pada ekspresi datarnya.
Via melangkah keluar cafe dengan tersenyum miring. Dia akan bermain secara halus dan rapi, walaupun lambat tapi Via pastikan rencananya untuk bersama dengan Raka dan menyingkirkan Litha, pasti berhasil.
Raka memijit pelipisnya, sepertinya Papa dan Mamanya terpaksa menyetujui keinginan Oma. Raka ingin memberitahu hal ini kepada Litha, tapi tidak bisa.
Flashback On
"Kenapa semangat gitu?" tanya Raka pada gadis yang duduk disampingnya yang terlihat sangat bersemangat.
"Hari ini harus semangat karena hari pertama ujian kenaikan kelas," jawab Litha yang sesuai dengan tebakan Raka.
"Oh ya.. kamu nggak boleh ganggu aku!" Tegas Litha, menatap tajam dan menunjuk Raka dengan jari telunjuknya.
"Emang aku pernah ganggu jam belajar kamu?" Seingat Raka, dia tidak pernah menelepon pacarnya saat malam. Jangankan menghubungi Litha, mengirim pesan saja jarang.
"Enggak sih. Cuma ngasih peringatan aja jangan ganggu aku selama masih ujian. Jangan ngajak aku jalan, jangan main ke rumah, dan jangan ngasih tau hal yang bikin konsentrasi belajar aku buyar," jelas Litha.
What? Main ke rumahnya aja gak boleh? Litha melaksanakan ujian selama dua minggu, berarti selama dua minggu Raka mendadak jadi jomblo dan jadi supir Litha nih?
Raka menepikan mobilnya sebelum memulai aksi protesnya kepada gadis disebelahnya. "Masak main ke rumah nggak boleh?"
"Big no, aku mau fokus belajar," sahut Litha.
__ADS_1
"MAIN doang Tha. Kalau aku kangen gimana?" tanya Raka menekan kata pertama, tapi di ending kalimat masang tampang memelas gitu.
"Tiap pagi juga ketemu Kak. Siangnya, kalau jemput aku juga ketemu lagi," balas Litha.
"Hari Sabtu Minggu libur. Kalau libur aku boleh main ke rumah ya..?" Raka tersenyum lebar, mencoba membujuk Litha agar diizinkan datang kerumahnya.
"Enggak ada kata libur sebelum ujian ku selesai. Aku mau ngabisin hari libur untuk belajar," ujar Litha.
"Aku bantu belajar deh, aku yakin nilai kamu pasti tertinggi kalau aku jadi guru kamu," Raka menaik turunkan kedua alisnya dengan tersenyum manis.
"Big no, aku mau fokus belajar Kak," Litha tetap pada pendiriannya meskipun pertahanannya hampir goyah karena senyuman Raka yang membuat hati Litha melting.
Kalau Raka ikut Litha belajar, yang ada Litha malah gagal fokus. Litha yakin kalau ada Raka, pasti perhatiannya akan selalu tertuju pada manusia yang gantengnya gak manusiawi itu.
"Oke. Hari libur aku ke sana gak akan ganggu kamu, aku cuma ngelihatin kamu aja dari jauh," ucap Raka masih mencoba membujuk.
"Kita gak ketemu cuma dua hari aja Kak," tutur Litha tidak habis pikir dengan Raka yang tetap memaksa.
Suara helaian nafas Raka terdengar, baiklah Raka tidak bisa membujuk Litha yang pertahanannya sangatlah kokoh. Membujuk dengan senyuman mautnya pun, Litha tetap pada pendiriannya.
"Kak, aku mau waktu pengumuman nilai ujian nanti, kita maju bareng ke depan sebagai murid dengan nilai tertinggi," Litha memberikan alasannya kenapa tidak ingin diganggu oleh Raka. Litha tersenyum membayangkan dirinya akan berdampingan dengan Raka, maju ke depan dihadapan seluruh murid SMA Nagara.
Litha ingin membuktikan bahwa dirinya pantas bersanding dengan Raka, yang mendapat julukan pemuda sempurna yang tidak hanya tampan dan kaya, tetapi juga memiliki otak yang cerdas karena selalu mendapat nilai tertinggi dalam setiap ujian.
"Tugas kamu cuma satu," ucap Litha.
"Apa?" Raka penasaran.
"Jadi supir kesayangan aku, yang selalu on time antar jemput aku. Oke?" tutur Litha tersenyum lebar.
"Apapun untuk tuan putri," Raka tersenyum melihat Litha yang sangat bersemangat. Raka akan menuruti perintah tuan putrinya yang tidak ingin diganggu selama pelaksanaan ujian kenaikan kelas.
Flashback Off
Siapa nih yang kemaren pada mau lihat senyumannya si ganteng beruang kutub kesayangannya Litha?
Big love untuk Raka Adelard Pangestu ❤️
Asli ganteng no kaleng-kaleng, Author juga mau kalau bentukannya kayak gini😭 Sisain satu dong yang kayak gini khusus hanya untuk Author seorang 😄
__ADS_1