
Dan tebakan Litha ternyata benar, Raka adalah satu-satunya manusia pemilik suara khas itu, yang juga memiliki ketampanan yang tidak manusiawi.
Untung aja perpustakaan lagi sepi banget, iya tumben banget cuman ada Litha sama penjaga perpustakaannya yang lagi sibuk mengarungi kehidupan mimpinya, alias lagi tidur nyenyak. Jadi Litha gak merasa terganggu karena selalu menjadi pusat perhatian jika bersama Raka. Dan Raka jadi bisa bawa makanan ke perpus deh.. sebenarnya di perpustakaan itu gak boleh bawa minuman dan makanan.
"Apaan?" tanya Litha penasaran.
"Sandwich, tadi pagi belom sarapan kan?" ujar Raka.
Litha memutarkan bola matanya, dia bingung dengan perlakuan Raka yang tiba-tiba menjadi perhatian dengannya. Padahal tadi didepan pintu kelasnya, Raka bersikap ketus padanya, seolah-olah Raka marah pada Litha.
Apa lagi sandwich adalah salah satu makanan favorit Litha, ralat Litha kalau sarapan itu selalu pengen sandwich, kalau gak ada sandwich dengan terpaksa Litha memakan makanan yang ada. Karena Litha itu punya maag, kan bahaya kalau maag-nya tiba-tiba kambuh pas lagi jam pelajaran.
"Beli kapan? Terus dimana belinya?" tanya Litha. Ini kan baru semenit yang lalu bel istirahat berbunyi, masak Raka udah dapet makanan aja sih? Apa dia bawa dari rumah? Tapi tadi pagi aja Raka sarapan di rumah Litha, gak mungkin dong kalau bawa bekal dari rumah.
"Tadi pagi di kantin," jawab Raka cuek.
Ohhh ya Litha baru menyadari kalau tujuan Raka ke kantin tadi pagi itu, untuk membelikannya sandwich. Tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan dari otak Litha.
"Emm... Biasanya kalo jam-jam pagi tadi itu, rotinya atau bahan yang lainnya udah abis, ini kok bisa dapet sandwich?" Litha itu kalau di rumahnya lagi kehabisan bahan buat sandwich, dia sengaja berangkat ke sekolah lebih pagi dari biasanya, untuk membeli sandwich dari kantin. Karena sandwich di kantin sekolahannya itu gak kalah enak sama sandwich di restoran mahal, jadi kalau udah agak siangan kayak tadi, sandwich-nya udah habis deh...
"Gue suruh mbak kantinnya beli dulu, terus sekalian nungguin sampai istirahat pertama," jawab Raka tanpa intonasi dan ekspresi.
Sepertinya Raka keceplosan, terbukti dari ekspresi wajahnya yang awalnya datar, sekarang menunjukkan ekspresi sedikit gugup. Raka tidak ingin terus terang, kalau dirinya rela menunggu sesuatu hanya demi sandwich yang akan diberikannya pada Litha.
"Berarti tadi pagi lo gak masuk kelas?" tanya Litha dengan ekspresi wajah terkejut. Litha gak sadar aja tuh, kalau Raka lagi keceplosan.
"Karena lagi jam kosong," ucap Raka.
__ADS_1
"Ohhh kirain..." Litha mengira kalau Raka itu memang benar-benar perhatian padanya, sampai rela bolos jam pelajaran demi menunggu sebuah sandwich untuk diberikan padanya. Ehh, ternyata emang pas banget, pas lagi jam kosong.
"Apa?" tanya Raka kebingungan, ya ya ya cuman Litha satu-satunya perempuan yang bisa membuat Raka menjadi kepo.
"Gak jadi," jawab Litha. Raka itu sangat cuek, jadi dia gak mau nanya hal yang menurutnya tidak terlalu penting.
"Sarapan dulu, baru baca buku lagi..! Emang mau sakit?" ujar Raka. Duh.. kok Raka tiba-tiba jadi perhatian gitu sih, kalau Litha jadi baper kan bahaya buat jantungnya, ya walaupun tetap setia dengan nada datar dan dinginnya.
"Tapi kan kalo di perpus gak boleh bawa makanan, apa lagi makan disini," ucap Litha.
"Penjaga perpus-nya lagi tidur. Kalo tiba-tiba bangun, telfon gue!" perintah Raka.
"Hah...?" Litha tercengang, dia masih bingung tuh dengan ucapan Raka, emang Raka mau kemana? Kok pake ditelfon segala. Lagi pula kalau penjaga perpustakaannya bangun, terus ngelarang Litha makan disini, Raka mau apain penjaga perpus itu?
"Selamat makan sayang!" ujar Raka dengan nada lembut, sambil manaruh sandwich-nya diatas meja, tepatnya dihadapan Litha dan berjalan meninggalkan Litha. Tak lupa, Raka juga sempat memperlihatkan samar-samar garis melengkung disudut bibirnya yang membentuk sebuah senyuman manis.
Tiba-tiba Litha kehilangan kesadarannya, matanya belum sepenuhnya percaya bahwa Raka memperlihatkan senyuman manisnya, walaupun masih terlihat samar-samar. Otaknya masih meloading perkataan yang dilontarkan Raka. Jantungnya terkejut setelah indera pendengarannya mendengarkan ucapan manis Raka.
Litha mengerjap matanya berkali-kali, dia masih tidak percaya bahwa ini adalah nyata.
"Tadi dia manggil gue sayang? Behhh... nada suaranya lembut banget lagi, bikin melting aja. Ehh tadi dia senyum beneran gak sih? Apa gue cuman halu ya..?" gumam Litha sambil senyum-senyum sendiri kayak orang gila.
**Kamar mandi__
Krek-krekkk...
Litha terkejut setelah mendengarkan suara yang mirip seperti pintu terkunci. Dengan segera Litha membalikkan tubuhnya menghadap ke arah pintu toilet. Dan dugaan Litha ternyata benar, seketika ekspresi wajahnya berubah menjadi panik dengan tanggan yang sedari tadi menggenggam dan menarik turun kan gagang pintu tersebut. Tetapi hasilnya nihil, sepertinya ada seseorang yang sengaja mengunci Litha dari luar toilet sekolahnya itu.
__ADS_1
"Tolong...!!!" teriak Litha sangat keras, namun Litha tidak menyangka teriakannya itu malah disambut dengan suara tertawa yang memperdengarkan suara tawa puas dan bahagia.
"Siapa pun yang diluar tolong bukain pintunya!!" teriak Litha sekali lagi. Namun teriakan tersebut kali ini hanya disambut oleh keheningan.
Byurrr...
Basah..! Kotor..! Berantakan..! Bau busuk..!
Itu adalah keadaan Litha saat ini, setelah sebuah cairan berbau tidak sedap yang berwarna merah jatuh dari atas menimpa dirinya.
"Hahahaha... tos, plakk...." ucap seseorang dengan tawa jahat.
"Berhasil juga rencana kita," sahut seseorang, sepertinya itu sahabatnya.
"Siapa kalian?" teriak Litha yang mulai menyadari bahwa ini semua adalah jebakan.
"Lo gak kenal sama suara kita hahaha," jawab seorang wanita dari luar toilet tersebut.
Tiba-tiba terlintas sebuah nama di dalam pikiran Litha. "Dita, Tania," ucap Litha sambil mengepalkan tangannya.
"Anak pintar," ucap Tania dengan senyuman licik.
"Itu rasa jus buah naga yang busuk, enak apa enggak? Upsss gue lupa, jus itu kan jatuhnya ke badan lo bukan ke mulut lo hahaha..." ujar Dita sambil tertawa bahagia, karena rencananya berhasil, yang bertujuan membuat Litha terkunci di dalam toilet dengan keadaan berantakan dan berbau busuk.
"Jus buah naga yang udah busuk itu, gue pesenin khusus buat lo. Jadi lo gak mau bilang makasih gitu, sama senior lo ini? Hahaha..." ledek Tania.
"Elo yang seharusnya bilang maaf ke gue, sebelum semuanya terlambat, karena kesabaran gue kali ini udah bener-bener habis," ucap Litha dengan tegas dan penuh amarah.
__ADS_1
"Hahaha emangnya cewek miskin kayak lo bisa apa? Lo mau nantangin gue yang terlahir dari keluarga Tabitha, salah satu keluarga yang terpandang, terhormat dan pastinya bergelimang harta," Dita itu memang selalu sombong dan membanggakan harta orang tuanya sendiri.