
"Kenapa Raka gak boleh masuk Ma?" Tanya Raka memaksa ingin masuk menemui Litha.
"Ya orang Litha nya gak mau ketemu kamu," Mama Kania bersikedap.
"Kenapa gak mau?" Raka clingak-clinguk melihat ruangan yang pintunya sedikit terbuka.
"Mana Mama tau, tanya aja sendiri sama Litha," Mama Kania menghalang-halangi mata Raka yang ingin melihat isi ruangan, akhirnya Raka mengalah dan memilih diam.
"Gimana mau nanya, orang gak boleh masuk," kesal Raka.
"Jaman udah canggih, jangan kayak orang purba deh Ka," Mama Kania juga ikut kesal sendiri dengan anaknya.
"Litha bawa HP?" tanya Raka.
"Bawa, tapi mati..!" ketus Mama Kania.
"Sarah, Fika, Sekar ayo masuk!" Ajak Mama Kania tersenyum ramah.
"Iya Tante," jawab mereka kompak dan langsung masuk.
"Umran juga gak boleh ikut masuk Tant?" Tanya Umran tersenyum lebar.
"Adik kamu gak nyuruh Tante ngajak kamu masuk," ujar Mama langsung menutup pintu.
"Judes juga nyokap lo kalo lagi marah," Nick tertawa mengejek Raka dan Umran. Bertahun-tahun Nick berteman dengan Raka, baru kali ini Nick melihat Mama Kania bersikap seperti itu, bisanya Mama Kania bersikap ramah dan sangat manis.
***
Sarah, Fika, dan Sekar pulang saat menjelang sore, Bunda Larissa mengantarkan mereka sampai didepan pintu.
"Nanti Sekar akan bujuk Litha supaya mau operasi plastik," senyuman Sekar terlihat mencium punggung tangan Bunda Larissa.
"Iya, bantu Tante ya!" Bunda sudah mau bicara banyak setelah kondisi Litha semakin membaik.
"Sarah pasti akan paksa Litha Bun," dengan bangganya Sarah menepuk dadanya.
Fika menyenggol lengan Sarah, "Nggak baik tauk maksa-maksa anak orang,"
"Iya jangan dipaksa juga kali Sar," Bunda mengusap bahu Sarah yang tersenyum kikuk.
"Bye Bunda..." Sarah melangkah bersama Fika dan Sekar sambil tangannya melambai pada Bunda.
Senyuman terukir di wajah Bunda kala mendapati Raka yang masih duduk di depan ruangan Litha, sedangkan Umran sudah tidur pulas membaringkan tubuhnya di kursi yang kosong.
"Kamu nggak pulang? Udah sore lhoh..." Bunda ikut duduk di samping Raka.
__ADS_1
Bukannya menjawab pertanyaan, Raka malah bertanya hal lain. "Kenapa Litha gak mau ketemu Raka Bun? Apa Litha marah sama Raka?"
Bunda menggeleng seraya tertawa ringan, kenapa Raka sampai mempunyai pikiran seperti itu? "Tatha gak marah. Kamu bisa ngertiin kan kondisi Litha sekarang?"
"Maksud Bunda?" Raka mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Mungkin Tatha malu dengan kondisi wajahnya saat ini, tapi anehnya dia gak mau wajahnya di operasi plastik," jelas Bunda Larissa.
"Kenapa harus malu?" Raka masih tidak mengerti.
Mama Kania yang sedari tadi menguping di balik pintu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya yang memiliki tingkat kepekaan sedikit.
Pletak... Mama Kania menyentil kening putranya. "Gitu aja gak paham-paham,"
Raka hanya diam mengusap keningnya yang terasa sakit.
"Kalo mau ngomong sama ni anak harus jelas sejelas-jelasnya Sa," ucap Mama Kania menyindir Raka.
Bunda Larissa hanya membalasnya dengan tersenyum tipis.
"Jadi kenapa Litha harus malu sama Raka? Litha masih pake baju kan?" Tanya Raka ngawur.
Pletak... Dua sentilan Raka dapatkan dari Mamanya hari ini.
"Lama-lama kamu jadi ketularan Nick, kalo ngomong suka ngasal," ketus Mama Kania.
"Mungkin Litha takut kamu kecewa melihat wajahnya," ucap Mama Kania merendahkan volume bicaranya menjadi mode lembut.
"Kenapa gitu? Harusnya Raka yang takut kalo Litha kecewa dan marah karena kemarin Raka gak bisa melindunginya Ma," ujar Raka dengan polosnya.
Pletak... Genap sudah tiga sentilan sekaligus Raka dapatkan dari Mamanya sendiri.
"Kenapa lagi sih Ma?" Raka mengusap dahinya lagi...
"Katanya pintar, tapi gitu aja gak paham dari tadi. Heran Mama sama kamu," Mama Kania jadi kesal lagi.
Bunda Larissa tersenyum simpul melihat tingkah laku antara ibu dan anak itu.
"Apa yang kamu bilang tadi emang gak salah Ka. Mungkin Tatha takut kalo kamu gak akan mencintainya lagi seperti dulu saat wajahnya belum ada luka," jelas Bunda Larissa membuat Raka termenung.
"Yaaa meskipun Litha gak ngomong secara langsung tentang itu, tapi kita cukup PEKA," lagi-lagi Mama Kania menyindir putranya.
"Raka sama sekali gak ada pikiran sampai ke sana. Yang ada dipikiran Raka cuma tentang kesehatan Litha, rasa cinta dan sayang Raka untuk Litha itu tulus. Bagaimana pun kondisi Litha sekarang, itu gak akan merubah rasa cinta ini untuk Litha," ungkap Raka jujur dari hatinya yang terdalam.
"Itu mah wajib," ketus Mama Kania menyahut cepat. Berbeda dengan Bunda Larissa yang tersenyum manis mengusap bahu Raka.
__ADS_1
"Kalo kamu malah menjauh dari Litha hanya karena kondisi wajahnya, Mama akan pastikan nama kamu tercoret dari daftar ahli waris," ujar Mama Kania.
Bunda Larissa menggeleng seraya tersenyum, "Udah Kania, jangan judes-judes gitu sama anak sendiri. Aku yakin Raka bukan tipe laki-laki seperti itu," Bunda tersenyum menatap Raka yang juga tersenyum.
"Kamu boleh masuk, di dalem gak ada siapa-siapa. Kalo Tatha marah ke kamu, bilang sama Bunda," ujar Bunda diangguki oleh Raka.
"Terimakasih banyak Bun," balas Raka langsung bergegas masuk.
***
Mata Litha melotot sempurna melihat Raka masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Raka juga sama terkejutnya melihat Litha duduk di banker sambil memegang sebuah salep.
"Kamu ngapain?" Raka langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Kamu yang ngapain ke sini? Aku kan belum mau ketemu kamu," Litha cemberut, mau menutup mukanya juga sudah tidak guna, Raka terlanjur melihat wajahnya yang terluka.
"Bunda dan Mama udah izinin aku buat lihat kamu," Raka masih didepan pintu yang sudah tertutup. Mata Raka melirik ke arah Litha, baru satu detik Raka langsung membalik tubuhnya menghadap pintu.
Litha yang melihat itu jadi kesal sendiri. "Kamu kenapa sih? Gak suka lihat muka jelek aku? Kalo gak mau lihat muka aku ya udah keluar! Ngapain masih jadi patung di situ?" Ucap Litha dengan volume tinggi.
"Astaga... Gak diluar gak di dalam yang dibahas itu-itu terus," Raka mengusap dadanya, untung saja stok kesabarannya masih banyak untuk Litha.
"Apaaaa? Kamu mau putus? Malu punya pacar mukanya kayak gini? Ya udah putus aja gpp! AKU IKHLAS!" Litha berteriak keras, mengarang sendiri ucapan Raka yang tidak terdengar jelas di telinganya.
Mendengar kata putus membuat Raka terkejut, ia menoleh ke arah Litha lagi. "Astaghfirullah," Raka kembali menghadap ke arah pintu.
"Kenapa istighfar? Emang aku setan? Mentang-mentang muka ku gini, tapi bentukannya masih kelihatan kayak manusia kok," sahut Litha kesal.
"Bukan itu Tha! Lihat baju kamu!" Raka berteriak keras tidak menoleh sedikit pun kepada Litha.
Litha melihat tubuhnya, matanya terbelalak lebar melihat pakaiannya yang kancingnya terbuka, tali tanktop bagian kanan ia turunkan sampai siku, sehingga terlihat belahan dada dan sedikit terlihat bulatan kenyal atas dibagian kanan.
Gadis itu refleks menutupnya dengan menyilangkan kedua tangannya di tubuhnya tersebut. Wajah Litha sudah semerah tomat menahan malu.
Litha baru ingat kalau dia tadi mau mengobati luka lebam di punggungnya bagian atas mengunakan salep yang masih digenggaman tangannya. Saking paniknya karena takut Raka melihat kondisi wajahnya Litha jadi lupa deh mau ngasih salep ke punggungnya.
Karena tidak mendengar suara yang keluar dari mulut Litha, membuat Raka menghadap lagi kepada Litha.
"Kenapa gak bilang dari tadi?" Sungut Litha.
"Astaga..." Raka mengusap kepalanya menunduk ke bawah menatap lantai.
"Kenapa lagi?" Teriak Litha kesal.
Raka mendongakkan kepalanya, "Kenapa dari tadi belum dibenerin bajunya?" Raka menghelai nafasnya.
__ADS_1
"Biar aku lihatin terus?" Tambah Raka dengan wajah datar. Tidak! Raka memang tidak berniat sedikit pun untuk menggoda Litha, keadaan sedang tidak enak seperti ini tidak mungkin Raka berani menggodanya.
"Enak aja!" Litha mengeratkan silangan tangan yang menutupi dadanya.