Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Jemputan


__ADS_3

Litha merenggangkan tangannya yang kaku. Sebenarnya udah waktunya jam pulang untuk yang mendapat jatah shift pagi, tapi lain halnya dengan gadis mungil itu yang malah duduk sendirian di salah satu lorong yang sepi dan gelap.


"Sendirian aja neng," seseorang menepuk pundak Litha membuat empunya terlonjak kaget.


"Nara!!!" Teriak Litha menatap sinis temannya.


Nara cekikikan puas mengerjai Litha. "Abisnya melamun sendirian di deket kamar mayat pula, gak takut kemasukan lo?"


Nara geleng-geleng kepala melihat Litha sudah berlari kencang sampai ujung koridor. Nara mengikuti Litha sampai disalah satu bangku panjang tak jauh dari lorong sepi tadi yang ternyata mengarah ke kamar mayat.


"Tadi bener kamar mayat?" Litha masih ngos-ngosan karena lari kencang.


Nara mengangguk sambil menahan tawa.


"Kalau mau ketawa, ketawa aja yang puas!!!" Ketus Litha.


"Kemaren lo di apain Danil?" Litha tersenyum jahil dan sukses membuat Nara merona.


"Di raba-raba...." tangannya meraba-raba sendiri badannya, mirip seperti seseorang yang haus akan belaian. Tidak, tidak, mana mungkin itu kelakuan Nara.


"Gue kirim Leon, seru nih kayaknya," Nara tersenyum melihat layar handphonenya.


Fika mengira jika Nara berhasil merekam aksinya yang seperti wanita kurang belaian. "Naraaaa....!" Oke kali ini Fika dikerjain sama anak polos modelan Nara?


"Tapi bo'ong," Nara tertawa puas setelah melihat ekspresi Fika yang hanya melihat foto bunga dari layar ponselnya.


"Kalian berdua ngapain gak pulang? Mau coba nginep di salah satu ruang rawat inap atau nginep di kamar mayat?" Celetuk Fika yang makin hari makin gak bener, efek terlalu sering bergaul dengan pacarnya yang absurd.


"Amit-amit," Litha dan Nara kompak mengepalkan tangannya yang digunakannya untuk mengetuk kepalanya sendiri lalu mengetukkannya di kursi.


"Mau pulang jalan kaki sampai depan parkiran, tapi capek," keluh Litha.


"Ya udah ngesot aja sampai parkiran sono!" Nara memasang ekspresi wajah datar.


"Gue tebak... Pasti karena calon suami lo mau lepas kerjaan dari rumah sakit ini kan?" Fika menoel dagu Litha yang langsung cemberut.


Hari ini Raka tidak masuk bekerja di rumah sakit, ia berada di perusahaan pusat untuk membantu Papa Baskara yang kini mendapat proyek besar. Dan sepertinya setelah proyek besar itu, Raka harus sering-sering mengurus perusahaan keluarganya karena bagaimanapun juga hanya Raka pewaris satu-satunya di keluarga Adelard.


Beberapa perawat melewati Litha dengan suara mencibirnya. Setelah mengetahui identitas asli Litha, banyak orang-orang yang tidak menyukai Litha dan ada pula yang sok kenal sok dekat dengannya. Litha cuek bebek tidak ingin meladeninya.


Diantara semuanya orang hanya Nara saja yang sikapnya tidak berubah setelah mengetahui latar belakang Litha.

__ADS_1


"Sirik aja Mbak. Inget umut deh, survei membuktikan bahwa makin buruk hati maka makin buruk mukanya," tatapan Fika sinis tidak menyukai suster sok cantik itu.


"Idih... Apaan sih main nyaut-nyaut aja," ucap salah satu perawat sebelum mengajak temannya yang lain benar-benar pergi meninggalkan tempat itu.


"Kenapa lo gak aduin mereka ke Kak Raka? Biar di pecat langsung," Fika heran dengan Litha yang tidak terpancing emosi sama sekali.


"Kasihan, kalau mereka dipecat keluarganya mau makan apa?" Litha berdiri tapi langsung duduk lagi, tauk deh ngapain coba maksudnya berdiri?


Nara dan Fika saling pandang, tidak menyangka Litha memiliki hati yang baik.


"Napa lo duduk lagi?" Nara menatap Litha yang sudah duduk manis lagi.


"Nunggu jemputan, males jalan," Litha menyandarkan kepalanya di sandaran bangku.


"Emang kalau anak orang kaya gitu ya, gak bisa capek dikit," seorang dokter wanita lewat didepan Litha bersama dua suster yang melirik Litha sekilas.


Ini Litha yang kena sindir, tapi malah Fika yang kepancing emosi. "Minta diplintir tuh bibirnya?" Teriak Fika.


"Cepetan pulang sana, makin lama lo disini makin banyak orang yang dosa karena sirik dan ghibahin lo," ujar Nara membuat Litha menatapnya sinis.


Entah mengapa Litha merasa temannya yang satu ini itu baik tapi menyebalkan. Yaa walaupun apa yang dikatakan Nara ada benarnya juga sih, lagian kalau Litha makin lama disini yang ada telinganya makin gatel.


"Bentar lagi gue pulang kok, lagi nunggu jemputan aja dari sopir kesayangan..." Senyuman Litha terlihat saat mendapat notifikasi pesan singkat dari calon suaminya.


Litha berteriak kencang agar semua orang-orang di rumah sakit tahu kalau Dokter Raka adalah kekasihnya, biar saja kalau para dokter dan suster genit itu kebakar jenggot, memang itu tujuan Litha.


Raka mengernyitkan keningnya, ia mengedarkan pandangannya ke kanan, kiri dan belakang. Dan semua orang yang mendengar suara cempreng itu menatap ke arah Litha lalu mengikuti arah pandang Litha yang melambaikan tangannya kepada Raka.


Raka melangkah mendekat dengan langkah panjang dan muka datarnya yang tetap tampan mempesona, apa lagi saat ini Raka memakai jas hitam yang menambah kharismanya.


Fika dan Nara saling pandang dengan wajah datar, mereka tahu pemikiran sahabatnya itu.


Raka menghentikan langkahnya tepat didepan Litha yang langsung memeluknya erat tanpa rasa canggung karena mereka menjadi pusat perhatian. Sedangkan Raka hanya diam tidak ada niatan untuk membalas pelukan calon istrinya itu.


Litha merenggangkan pelukannya dan mendongak menatap mata Raka yang dingin. "Kenapa gak bales pelukan aku?"


"Ayo pulang!" Ucapnya dingin, Raka tahu rencana licik gadis kecil itu.


"Kenapa buru-buru?" Tanya Litha dengan nada manja.


Raka tersenyum tipis, ini bukan Litha yang dia kenal.

__ADS_1


"Nanti malam kita akan makan bersama keluarga, seenggaknya sore ini kamu istirahat sebentar," Raka mengusap lembut rambut Litha membuat empunya tersenyum dengan pipi merah merona.


Hadeh Tha digituin aja langsung malu-malu kucing?


Litha merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. "Gendong...!" Litha menaikkan alisnya ke atas dengan senyum lebar.


Karena tidak ingin banyak drama Raka menurut saja. Dia membalikkan tubuhnya membelakangi Litha yang langsung loncat-loncat kesenangan bukan main.


"Kayak cacing ke siram air panas lu!" Cibir Fika yang tidak dipedulikan sama sekali oleh Litha.


Litha menatap punggung Raka yang tinggi, "Jongkok dulu dong Kak!"


"Oh iya lupa, tinggi kamu kan kurang," Raka berjongkok sedangkan mata Litha melotot mendengar penghinaan itu.


Fika dan Nara? Udah ngakak!


Dua detik tidak mendapat tanggapan dari Litha membuat Raka menoleh, "Jadi gendong gak?"


Litha langsung mengalungkan tangannya ke leher Raka. Dan Raka mengangkat kaki Litha bersamaan dengan tubuhnya yang berdiri tegap seolah tanpa merasakan beban tubuh Litha.


Baru satu langkah Raka berjalan, suara Litha berteriak kencang tepat di telinga Raka. "Tunggu! Stop!"


Teriakan itu melengking memekik telinga Raka. Untung sayang, kalau yang teriak-teriak itu Ken mungkin Raka langsung tinju mukanya.


Raka hanya bisa mengusap dada dan telinganya.


"Bye bye guys... Calon istrinya Dokter Raka pamit pulang dulu," Litha memberikan cium jauh kepada Fika dan Nara. Lagi-lagi suaranya dibesarkan, mau pamer ceritanya!!!


Raka tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala, lalu langsung melangkah tanpa izin dulu kepada tuan putrinya. Kalau izin dulu yang ada tambah lama dan tambah drama.


Seluruh pasang mata menatap iri kepada Dokter koas yang tersenyum lebar menyandarkan kepalanya di punggung lebar Dokter tampan tersebut.


Raka menggendong Litha sampai menuju parkiran. Raka menurunkan Litha tepat didepan pintu mobil.


"Are you happy?" Raka menatap Litha yang senyumannya sangat lebar dari awal berada di gendongan sampai turun di depan mobil.


"Verry-verry happy. Thank you," Litha berjinjit mengecup bibir Raka sekilas, setelah itu masuk ke dalam mobil.


Raka tersenyum menundukkan kepalanya cukup lama, hingga membuat Litha bosan. Gadis itu menurunkan kaca mobil, "Ayo Kak buruan, katanya nanti malem kita ada acara makan-makan,"


***

__ADS_1


huhuhu baru bisa upload, sorry guys


__ADS_2