Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Disembunyikan


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Mama Kania sudah memakai jas putihnya, ia melangkah bersama Dokter yang menangani Litha kemarin. Mama Kania tersenyum simpul melihat putranya dan teman-teman Litha tertidur semalaman di kursi.


"Silahkan Dokter Kania," Dokter yang bersamanya meminta Mama Kania masuk lebih dulu.


Mama Kania tersenyum sambil mengangguk. Ia ingin mengecek langsung kondisi Litha. Di dalam sudah ada beberapa suster yang bertugas memantau perkembangan setiap pasien di rumah sakit.


"Terimakasih Dok sudah mengizinkan saya memantau langsung kondisi Litha," ucap Mama Kania diangguki sang Dokter.


Saat mengecek detak jantung dan beberapa luka yang belum mengering, Mama Kania mendapati jari-jari tangan Litha yang mulai bergerak.


"Dokter..." Mama Kania menunjukkan kepada sang Dokter jika Litha sepertinya akan siuman.


Dokter tersebut tersenyum sambil mengangguk.


Perlahan Litha membuka matanya yang masih berkedip-kedip menyesuaikan cahaya lampu yang mengenai netranya.


"Sayang kamu sudah sadar?" Mama Kania mengusap kepala Litha.


"Mm.. ma ma..." lirih Litha dengan suara yang terdengar sangat lemah.


"Iya sayang ini Mama. Apa yang kamu rasakan hm...?" Tanya Mama Kania dengan suara amat lembut, beliau menahan air matanya melihat luka-luka yang belum kering.


"Sakit semua," jawabnya membuat Mama Kania tidak dapat lagi membendung air matanya.


"Iya sabar ya sayang," Mama Kania mencium kening Litha.


Setelah sadar Litha langsung dipindahkan ke ruang rawat tanpa sepengetahuan Raka, Umran dan yang lainnya. Hanya para orang tua saja yang tahu. Mama Kania sengaja ingin mengerjai putranya. Salah sendiri sudah jam 7 pagi belum ada yang bangun diantara sepuluh anak muda tersebut.


"Maafkan Oma Tha, karena Oma kondisi kamu jadi seperti ini. Dan Maafkan atas sikap Oma selama ini ke kamu, Oma sangat menyesal," Oma menangis menggenggam tangan Litha.


"Udah Oma, Litha gak papa kok. Litha udah maafin Oma juga, jadi Oma jangan sedih lagi oke!" Sudah berkali-kali Litha menerima permintaan maaf Oma, tapi Oma masih saja memohon kepada Litha.


Para orang tua hanya bisa terdiam mendengarkan Oma yang masih memohon. Mereka mengerti pasti Oma merasa sangat bersalah, tapi Litha sepertinya mulai bosan dengan sikap Oma. Ayah dan Bunda mau menegur Oma rasanya tidak enak.


"Ma sudah ya... Litha kan sudah memaafkan Mama, lebih baik Mama kembali istirahat di ruangan Mama lagi yaa..." Bujuk Papa Baskara hendak mendorong kursi roda Oma.


"Tidak. Tunggu dulu! Mama ingin memastikan bahwa Litha benar-benar memaafkan Mama," kekeh Oma Rahma.


"Oma, Litha bener kok udah maafin Oma," tutur Litha meyakinkan.


"Sebagai rasa terimakasih, Oma akan menanggung semua biaya pengobatan kamu. Walaupun apa yang Oma lakukan tidak akan sebanding dengan pengorbanan yang kamu lakukan demi Oma," ungkap Oma tidak tahu jika mereka saat ini di rawat di rumah sakit Adelard.


Papa Baskara memutar bola matanya jengah. "Ma ini rumah sakit punya keluarga kita. Dan aku tidak akan membiarkan Kusuma membayar biaya perawatan Litha, sekalipun jika Litha terluka bukan karena menyelamatkan Mama,"


"Bas, kenapa kamu mengungkit itu lagi? Mama semakin merasa bersalah kepada Litha dan kedua orang tuanya," Oma kembali menangis.


Bunda Larissa mendekat dan memegang kedua bahu Oma, mau tidak mau Bunda harus turun tangan. "Oma, sedari tadi saya diam bukan berarti saya marah dengan Oma. Saya hanya masih tidak tega melihat kondisi Litha. Percayalah saya dan suami saya tidak menyalahkan siapapun atas musibah yang menimpa putri saya,"


"Saya selalu mengajarkan Litha untuk saling tolong menolong dengan syarat Litha sanggup menolongnya tanpa membahayakan dirinya sendiri. Namun dia melanggar syarat itu. Tapi apa boleh buat? Nasi sudah menjadi bubur," ucap Ayah Kusuma. Meskipun Litha melanggar syarat tersebut, tidak ada amarah sedikit pun dalam diri Ayah untuk Litha.

__ADS_1


"Kalian berdua memang orang tua yang baik. Kalian berhasil mendidik anak-anak kalian," Oma tersenyum meneteskan air mata haru.


"Oma akan membiayai operasi wajah kamu di Korea," Oma mengusap luka di pipi Litha.


"Litha gak mau operasi plastik," mimik wajah sedih terlihat di wajah Litha yang masih membiru di pipi kanan kiri dan dagunya.


***


Di sisi lain gerombolan anak remaja sudah heboh teriak-teriak tidak jelas, mereka panik setelah mengetahui Litha tidak lagi di rawat di ruangannya.


"Gimana Ka?" Tanya Umran setelah Raka menanyakan kepada beberapa suster yang bertugas di bagian administrasi.


"Belum pulang dan katanya gak dipindah ke rumah sakit manapun," Raka mengacak rambutnya frustasi.


Tiga gadis sudah mondar-mandir tidak jelas menanyakan kepada semua suster yang lewat di depan mereka.


"Tadi jelasnya gimana? Kok lo tau Litha bisa ilang?" Tanya Fika kepada Jordy yang bangun tidur lebih awal dari mereka semua.


"Udah gue jelasin berada kali sih?" Jordy menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.


Jordy yang baru bangun dan masih mengumpulkan semua nyawanya melihat suster keluar dari ruangan Litha. Karena Jordy penasaran apakah Litha sudah siuman atau belum, Jordy bertanya kepada suster tersebut.


Suster itu mengatakan jika di dalam sudah tidak ada pasien. Suster itu tidak bertanggungjawab atas pasien bernama Litha karena dia hanya ditugaskan untuk merapikan alat-alat medis.


"Terus susternya nyuruh buat nanya ke suster yang lain atau nanya ke dokter yang menangani Litha kemarin," Jordy mengulang ceritanya. Setelah mendapat kabar dari sang suster, Jordy langsung panik, heboh sendiri dan koar-koar membangunkan semua temannya.


Disaat semuanya sedang panik berusaha berpikir keras dan berusaha mencari keberadaan Litha, berbeda dengan Nick yang terlihat santai-santai saja.


"Lo tau nggak siapa Dokternya kemarin?" Sarah bertanya kepada Raka yang mengangkat bahunya.


"Masak gak tau sih, keluarga lo kan yang punya rumah sakit," sewot Sarah.


Pletak...


Sentilan ringan mendarat di kening Sarah yang langsung mengusap keningnya. "Lo kira Raka kepala rumah sakit yang harus tau semua nama Dokter yang kerja disini?" Sewot Fika tidak habis pikir dengan sahabatnya ini.


"Gimana kalo kita lapor aja ke scurity kalo ada pasien yang hilang," tutur Sekar memberi saran.


"Kalo lapor, pasti beritanya langsung menyebar dan nyokap pasti langsung denger," ujar Raka menghembuskan nafas kasarnya.


"Masak iya sih Litha kabur?" Celetuk Leon beropini sendiri.


"Nggak mungkin," Fika menjawab cepat.


"Atau jangan-jangan diculik si curut," ucap Danil membuat semua pasang mata mengarah kepadanya.


Whahaha...


Tawa tiga gadis pecah memenuhi koridor tersebut, orang-orang yang lewat disekitarnya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat gadis-gadis cantik itu.

__ADS_1


Sekar menutup mulutnya saat melihat suster yang melintas di koridor tersebut. Pukulan kuat dari Sekar menghantam pinggang Fika dan Sarah agar menyadarkan keduanya untuk berhenti tertawa.


"Kenapa pada ketawa, lagi serius nih. Ucapan Danil bisa aja bener," sahut Leon.


"Emang curut yang kecil gitu bisa gendong Litha?" Sarah, Fika, dan Sekar menahan tawanya.


Leon menepuk jidatnya sendiri. "Curut yang kita maksud itu Fandy, bukan curut beneran!"


Ponsel Raka berbunyi, tertera nama Mark di layarnya. Raka menerima panggilan dan sedikit menjauh dari kawannya.


"Bukan curut pelakunya. Dia dan adeknya udah positif akan masuk penjara. Sementara mereka masih ditahan polisi sambil menunggu hasil sidang keluar," jelas Raka setelah mendapat info dari Mark.


"Kalian berdua tenang aja. Gue yakin Litha pasti masih disekitar rumah sakit ini," tutur Sekar menenangkan Raka dan Umran yang terlihat sangat khawatir.


Fika mengangguk setuju dengan perkataan Sekar. "Mungkin aja Litha udah sadar, dan dia lagi ke kamar mandi. Terus karena saking besarnya rumah sakit, dia lupa deh arah jalan ke sini?"


Apa yang dikatakan para orang tua jika ucapan Fika benar-benar terjadi, bagaimana kalau Litha beneran nyasar?


Disuruh jaga satu orang yang sedang sakit saja tidak bisa, apa lagi nanti kalo udah nikah jaga istri dan anak?


Siapa yang nyuruh tidur? Disuruh jaga malah molor kayak kebo!


Jika Litha tidak ketemu hari ini juga, jangan salahkan kami para orang tua yang mencoret kalian dari daftar ahli waris!


Raka dan Umran saling pandang memikirkan berbagai ocehan yang akan dilontarkan oleh orang tua mereka masing-masing.


"Mau kemana lo?" Tanya Danil melihat Nick yang melangkah pergi.


"Cuci muka, belek gue kemana-kemana nih," Nick membuka lebar kelopak matanya dengan tangannya.


"Dih... Ada ya orang kayak gitu," Sarah kesal sendiri melihat Nick yang tidak beraksi apa-apa sedangkan yang lainnya sibuk mencari Litha.


"Udah biarin aja Beb," Umran hendak mengusap bahu Sarah, namun Sarah langsung menepisnya.


"Jangan pegang-pegang! Aku masih marah sama kamu dan Raka!" Sarah menatap tajam kedua pemuda tersebut.


Nick berjalan dengan menguap lebar tanpa rasa malu, matanya melotot melihat Papa Baskara dan Ayah Kusuma sedang mengobrol didepan ruang rawat inap VVIP yang pintunya sedikit terbuka. Tak lama kemudian dua orang tua tersebut berlalu pergi entah kemana.


Nick mengucek matanya beberapa kali, ia menyipitkan matanya mengintip dicelah pintu yang terbuka sedikit. Benar saja dugaan Nick sejak awal dia bangun tidur Nick sudah menebaknya. Ternyata benar Litha disembunyikan oleh para orang tua.


"Napa lo senyum-senyum? Obat lo abis?" Sewot Leon melihat Nick yang baru muncul setelah lima menit.


"Litha masih ilang?" Tanya Nick masih senyum-senyum tidak jelas.


"Iyeee.... Ruangan CCTV dijaga ketat, gak boleh ada yang masuk sekalipun itu anggota keluarga Adelard," sewot Umran kesal dengan Nick yang tidak menunjukkan tanda-tanda keprihatinan sama sekali.


"Oh," ucap Nick masih senyum lebar, membuat kesabaran Umran habis.


Umran langsung melempar kedua sepatunya sekaligus mengenai kepala Nick yang detik itu juga langsung terjatuh.

__ADS_1


"Aduh... Parah lo sama temen sendiri. Noh Litha di sembunyiin orang tua kalian sendiri!" Nick mengusap-usap kepalanya yang mungkin sedikit benjol.


"APA???" Teriakan terdengar dari semua bibir mereka, membuat kuping Nick serasa hampir tuli.


__ADS_2