
From: Mine
Lagi di kantin sama temen. Kamu nyusul ke sini aja.
Raka menancapkan gas mobilnya menuju parkiran sekolah. Hari ini adalah hari terakhir para murid melaksanakan ujian kenaikan kelas. Yaps sudah berhari-hari Raka menyimpan rahasia tentang Via, dia tidak mau masalah Via nantinya akan mengganggu pikiran Litha yang hanya ingin fokus pada soal-soal ujian.
Tidak hanya itu, Raka juga memikirkan keselamatan Litha yang pasti akan terancam karena ulah Via yang nekad. Raka tidak ingin mengambil tindakan yang akan berimbas kepada orang yang ia sayangi.
From: Mine
Eh temen kamu juga ikut gabung ke sini. Kamu cepetan ke sini gih!
Raka membuka pintu dari mobilnya, hendak melangkah namun lagi-lagi ada notifikasi chat dari Litha.
From: Mine
Lama banget sih, dikerumuni cewek? Atau kamu lihat cewek cantik? Awas aja yaa... Nanti aku tusuk mata kamu yang melotot itu kalo kamu berani lihat yang bening-bening!!!
Raka tersenyum dengan menggelengkan kepalanya. Akhir-akhir ini, sekitar tujuh hari yang lalu sikap Litha mulai berubah, entah kenapa Raka tidak tahu penyebabnya? Tapi tak apa, Raka suka jika Litha posesif begini. Lebih berasa punya pacar beneran dari pada kemaren-kemaren Litha gak ada cemburunya sama sekali.
Raka berjalan dengan gaya cool nya melewati koridor. Banyak pasang mata yang melihatnya tanpa berkedip sekali pun, mereka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa melihat wajah tampan Raka lagi, mengingat Raka yang sebentar lagi akan meninggalkan status siswa.
Murid yang akan berpapasan dengan Raka, langsung menyingkir ke pinggir. Raka seperti orang nomor satu di Indonesia, bagaimana tidak? Para murid berjajar rapi di kanan dan kiri koridor, seolah-olah mereka menjadi pagar betis untuk menyambut kehadiran seorang presiden. Awalnya Raka heran dengan mereka semua, tapi ya sudahlah terserah mereka, bodoamat!
Raka menyunggingkan senyumannya sekilas ketika melihat Litha sedang bercanda ria bersama teman-temannya. Dan hal tersebut tentu saja tak lepas dari pengawasan para kaum hawa yang mengidolakan sosok pemuda dingin itu.
Mereka berteriak keras, membuat Litha and the gang menatap sumber suara. Pandangan Litha mengikuti arah pandang para murid yang matanya tidak berkedip sama sekali menatap Raka dengan sorot mata berbinar.
"Pantesan matanya pada melotot, udah kena sihir sama si kulkas," celetuk Arkan lalu melegut minumannya.
Raka berjalan acuh melewati beberapa siswa yang menunjukkan tampang bahagianya. Mata mereka berbinar karena dapat melihat pemandangan yang telah lama menghilang.
"Aku ga nyaman di sini, kita pulang aja ya?" Bujuk Raka kepada Litha.
"Sombong amat lo," ketus Leon, namun tidak digubris oleh Raka.
"Duduk bentar. Sini!" Litha mendorong pundak Arkan yang duduk disebelahnya, lalu menepuk tempat duduk yang tadinya diduduki Arkan.
"Gini amat nasib," Arkan terpaksa menggeser posisi duduknya.
"Aku ga suka bekas orang," sahut Raka dingin dan tanpa rasa berdosa. Dia kurang terima gitu waktu diawal tadi Arkan manggil dia kulkas, hhh dasar Raka mulai baperan.
"Punya temen gini amat," sindir Arkan membuat Jordy dan Danil tersenyum miring karena sedari tadi Raka hanya membalas ucapan Litha.
"Terus gimana?" Litha tidak habis pikir dengan Raka, semua tempat duduk di kantin pasti bekas diduduki orang lain juga.
"Aku duduk ditempat kamu aja, kamu geseran dikit!" jawab Raka.
Litha menyipitkan matanya, membuat Raka heran, apa dirinya telah mengatakan sesuatu yang salah? "Kenapa?" Tanya Raka.
"Katanya tadi ga suka bekas orang. Berarti aku bukan orang gitu?" jelas Litha membuat Leon menahan tawanya.
Leon sudah meramal di menit berikutnya, pasti Raka akan kehilangan julukannya yang telah bertahun-tahun melekat dalam dirinya sebagai pemuda dingin, setelah mohon-mohon supaya Litha gak ngambek lagi karena merasa tidak dianggap sebagai orang wkwk. Permasalah kecil bisa menjadi besar, pikir Leon.
__ADS_1
"Bukan," ucap Raka santai.
"Kalau bukan orang apa? Kayak mbak kunti di seberang jalan sana?" tanya Litha sedikit ngegas.
"Kamu kayak bidadari," jawab Raka datar, tapi sukses membuat semua murid disana baper bukan main. Padahal yang dibilang kayak bidadari Litha, lhah yang baper kok hampir semuanya?
"Aaaa baper gue,"
"Kok gue yang jadi salting gini sih,"
"Uuu manisnya, ternyata ganteng ku bisa ngegombal juga,"
Dan yaaa masih banyak lagi dari mereka yang menjadi korban kebaperan Raka.
Litha? Jangan ditanya, udah pasti dia yang paling baper diantara yang lain.
"Ekhem..." Litha salting sendiri itu hahaha. Dia menggeser posisi duduknya didekat Arkan, Raka segera ambil posisi duduk di tempat bekasnya bidadari katanya hhh.
Arkan menoleh tersenyum melihat Sekar sedang berjalan mendekat ke arah mejanya. Mereka berdua memang dekat tetapi belum memiliki status hubungan yang pasti.
"Hai.." sapa Arkan dengan tersenyum tampan. Uhhh bukan hanya ganteng, tapi manis juga.
"Hai juga," balas Sekar dengan senyum tak kalah manis dari Arkan.
Sekar duduk disamping Arkan, "Ada apa nyuruh aku ke sini?" Tanya Sekar. Sekedar informasi, keluarga Sekar belum mengetahui jika Fandy sudah tidak berada di rumah sakit jiwa. Mereka sangat sibuk, sehingga belum ada waktu untuk menjenguk Fandy.
Sebelum dijawab oleh Arkan, Sarah sudah lebih dulu menimpalinya.
"Wohohoho manggilnya udah aku-kamu guys..." Seru Sarah membuat Sekar tersipu malu karena banyak orang yang mendengarnya. Sedangkan Arkan terlihat santai-santai saja.
Semua yang mendengar langsung patah hati. Sekali lagi Arkan itu pemuda yang tampan, so tidak heran jika banyak yang sakit hati ketika mendengar kabar bahwa Arkan sudah memiliki kekasih. Hanya saja ketampanan Arkan akan tertelan saat Raka berada didekatnya.
"Eh belum kok," ucap Sekar.
Sontak saja suara Sekar tersebut langsung membuat kericuhan para ciwi-ciwi yang mengagumi sosok Arkan. Mereka bersyukur karena Sekar sendiri lah yang mengakui jika tidak memiliki hubungan spesial dengan Arkan.
"Woii diem!" Sarah berdiri di kursi yang sebelumnya ia duduki. Satu kakinya berada diatas kursi, kaki satunya lagi ada diatas meja.
"Kerasukan apa tu anak?" heran Raka melihat kelakuan Sarah yang makin hari tingkat bar-bar nya selalu berkembang.
"Syut... Ngaco kamu," sungut Litha tidak terima Sarah dihina Raka.
"Gue ada pengumuman penting," Sarah merendahkan volume bicaranya, lalu nyengir kuda dengan garuk-garuk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Pengumuman apa? Cepetan!" ujar Jordy tidak sabaran.
"Yeee... Ngegas lo ma gue?" Tantang Sarah tidak terima dengan nada suara Jordy.
"He he pis.." Jordy menunjukkan dua jarinya membentuk huruf V sebagai lambang perdamaian.
"Gue bentar lagi tunangan... Semua gue undang, pada dateng ya!" ungkap Sarah.
Semuanya membulatkan matanya terkejut, kecuali Litha. Pasalnya Sarah itu terkenal dengan sifat tomboy dan bar-bar nya. Mana mungkin mereka dengan mudahnya percaya dengan ucapan Sarah yang sering ngelantur, ditambah lagi mereka tidak pernah melihat Sarah dekat dengan satu lelaki manapun.
__ADS_1
"Malah pada bengong," ucap Sarah gregetan kepada semuanya.
"Emang ada yang mau sama lo?" Heran salah satu siswi yang kesannya malah mengejek Sarah.
"Eh bakwan gosong, tunangan gue lebih segala-galanya dibanding cowok lu," ketus Sarah membuat siswi tersebut memanyunkan bibirnya.
"Serius lo mau tunangan?" Tanya Fika tidak percaya.
"Serius dong," senyum Sarah yang dibuat seimut mungkin.
"Jijik gue," Danil angkat suara melihat tingkah Sarah yang sok imut, padahal aslinya amit-amit.
Sarah langsung memasang tampang datar menatap sang aktor sekaligus musisi itu. "Gue gak butuh komen lo,"
"Pada kepo kan... calon tunangan gue setajir dan sekeren apaaa..?" sombong Sarah dengan tersenyum bangga.
Sarah yang masih diatas diantara kursi dan meja, berjongkok untuk mengambil tasnya yang didalamnya sudah terdapat ratusan undangan pertunangannya. Dia sengaja membuat undangan banyak, karena ingin mengundang seluruh warga sekolah termasuk para guru untuk ikut memeriahkan acaranya tersebut.
Sarah mengambil sebagian undangan pertunangannya itu, lalu dia berdiri lagi diatas diantara kursi dan meja lagi. Oh salah, ternyata dia malah menaiki meja. Sarah berdiri sempurna diatas meja yang masih terdapat beberapa makanan dan minuman disana, sungguh kelakuan yang biadab.
"Gue akan sebar undangannya, jangan pada rebutan yaaa!!! Gue jamin semua pasti kebagian kok," dengan percaya dirinya Sarah menebak mereka akan berebutan untuk undangan pertunangannya.
"Dih..." Arkan mengalihkan pandangannya. Lebih baik dia melihat wajah manis milik Sekar dari pada ngelihat Sarah yang entah kena angin apa sampai-sampai tingkat ke PD an nya bertambah berkali-kali lipat.
"Siap-siap yaa... Jangan pada kaget kalo ternyata gue yang akhirnya jadi pendamping hidupnya," ucap Sarah dengan senyum yang menghiasi bibirnya.
"Ck.. pendamping hidup. Inget woi baru tunangan, belum nikah," cibir Leon.
"Iri bilang bos. Eh Fika, lo suruh tuh Leon supaya cepet ngasih kepastian buat lo," sahut Sarah.
Sarah berganti menatap Litha dan Raka. "Lo juga Tha, cepet suruh Kak Raka ngasih kepastian yang jelas,"
Sarah mengikuti arus menatap Sekar dan Arkan. "Apa lagi lo... Sekar, lo minta tuh kepastian yang sejelas-jelasnya. Kalo gue jadi lo, mending gue tinggalin tuh si Arkan jelek," ucap Sarah sangat berbanding terbalik dengan Arkan yang faktanya ganteng banget.
Litha memutar bola matanya jengah. "Punya dosa sebesar apa bang Umran sampai dapet tunangan kek dia,"
"What??!!!" The Perfect dan Fika, termasuk Sekar terkejut mendengar penuturan Litha yang terlihat santai itu.
Sarah menyebar kertas yang terdapat wajahnya dan wajah calon tunangannya ke sembarang arah, undangan pertunangannya tersebut terlihat elegan dengan warna merah dan kuning keemasan.
Dan benar saja tebakan Sarah, mereka yang ada disana berebut kertas tersebut. Mereka hanya penasaran dengan siapa Sarah akan bertunangan, dan seperti apa wajah tunangan Sarah tersebut?
Setelah mendapatkan undangan tersebut, mereka membukanya dan melihat isinya. Tertulis jelas pada kertas tersebut bahwa Umran Kusuma Jaya Nagara dan Sarah Fitriani Admaja akan melangsungkan acara pertunangan pada minggu depan.
Glek...
Mereka sama terkejutnya dengan The Perfect. Siapa yang tidak mengenal Umran? Tanpa melihat wajah Umran pada kertas tersebut, mereka sudah mengetahui identitas calon tunangan Sarah.
Umran Kusuma Jaya Nagara, alumni SMA Nagara yang terkenal tampan dan populer. Dia juga anak pertama dari Ibu Larissa pemilik sekolah ini, dan jangan lupakan adiknya yang mampu meluluhkan hati manusia dingin setampan Raka, serta ayahnya yang sangat terkenal dalam dunia bisnis.
Litha sudah mengetahui hubungan antara kakaknya dengan sahabatnya beberapa minggu yang lalu. Tepatnya pada chapter Putus? Disaat Litha berada di kamarnya, Umran memberitahu undangan pertunangannya dengan Sarah.
Umran dan Sarah telah membuat undangan pertunangan sejak lama. Mereka telah menyiapkan semuanya dengan diam-diam tanpa sepengetahuan sahabatnya, kecuali dengan pihak keluarga masing-masing.
__ADS_1
Baru bisa upload😶 Selain karena banyak tugas sekolah, Author baru sembuh dari demam, batuk, dan flu.
Dukungan dalam bentuk apapun, akan sangat berharga bagi Author. Jangan lupa like, komen, and vote, tambahkan karya ini dalam favorit juga❤️ dan follow akun Author juga hehe...