
"Terus-terus gimana?" tanya Sarah.
"Terus-terus mulu lo," protes Litha pada Sarah yang sangat kepo dengan pertemuan Litha tadi malam.
"Jadi Omanya kak Raka belum ngasih lampu hijau ke elo?" tanya Fika.
"Ya gitu," Litha menjawab ragu.
"Lo Fik?" tanya Sarah ambigu.
Fika menoleh, "Apa?" tanyanya.
"Udah ketemu keluarganya Leon?" tanya Sarah dengan senyum jahil. Dia memang tidak suka menyebutkan embel-embel kak, Sarah memanggil kak hanya kepada Raka saja.
"Belom diajak," jawab Fika acuh.
"Kasihan juga ya idup lu. Kesannya kayak digantungin gitu, belom ada kepastian," ledek Sarah.
"Gak sadar diri banget. Elo sendiri gimana? Udah ada pacar?" tanya Fika.
"Belom kan?" sambungnya lagi.
"Gue emang belom punya pacar, tapi bukan berarti gue gak laku," bela Sarah.
"Kalian siapin aja kado buat gue. Bentar lagi gue nyebarin undangan pertunangan gue," sahut Sarah dengan santai bagai sedang berhalusinasi.
"Serius?" tanya Litha dan Fika nyaris bersamaan.
"Emang gue kelihatan lagi bercanda?" tanya Sarah.
"Enggak. Lebih kelihatan ke halusinasi sih," ledek Litha yang disambut oleh tawa renyah dari Fika.
***
Arkan berjalan melewati lorong-lorong kelas yang sepi karena ini memang sedang jam pelajaran terakhir, sebentar lagi semua murid akan berhamburan keluar dari kelas menuju ke parkiran, bagi murid yang membawa kendaraan. Arkan tak sengaja melihat gadis berjalan dengan sedikit pincang, lantas Arkan menghampirinya.
"Lo kenapa?" tanya Arkan.
Arkan mulai panik sendiri saat mendekat ke arah gadis itu. Ternyata wajahnya sangat pucat dan terlihat bahwa ada darah di kaus kakinya, mungkin kakinya terluka.
__ADS_1
Gadis itu tak bergeming sama sekali, pikirannya seperti kosong. Arkan mengamati wajah gadis tersebut, sepertinya Arkan tak asing dengan wajah cantik itu. Arkan mencoba mengingat kembali, namun hasilnya nihil. Lalu sekelebat bayangan tentang kejadian beberapa hari yang lalu di kelas Raka, memutari isi kepalanya. Yah itu adalah dia, Arkan yakin.
"Lo cewek yang ada di kelas Raka kan? Dan waktu itu lo baca buku tapi bukunya kebalik?" tanya Arkan memastikan.
Arkan tak mendapat jawaban. Gadis itu tiba-tiba saja terjatuh, Brukkk... Untung saja Arkan dengan sigapnya menangkap tubuh gadis tersebut.
Arkan membalikkan tubuhnya dan hendak membawa gadis itu ke UKS dengan menggendongnya, tapi tak sengaja dia melihat seperti ada seseorang dibalik tembok ujung sana.
Orang tersebut seperti seorang perempuan, ya karena orang itu punya rambut panjang, tapi Arkan tidak bisa mengenalinya karena jarak yang lumayan jauh. Perempuan misterius itu hanya memperlihatkan kepalanya saja, lalu saat Arkan melihatnya, kepalanya tiba-tiba saja menghilang.
Apakah orang itu yang membuat gadis digendongan Arkan menjadi tak sadarkan diri?
Apakah dia orang jahat yang sedang mengawasi gadis ini?
Tetapi jika dia adalah orang jahat, mengapa dia melakukan aksinya di lingkungan sekolah?
Mengapa tidak diluar sekolah saja?
Begitu banyak pertanyaan yang dalam ada benak Arkan, namun Arkan tak mampu untuk mendapatkan jawabannya.
***
Dokter yang berada di UKS menyarankan agar segera membawa gadis itu ke rumah sakit, karena luka dikakinya cukup dalam dan darah segar terus mengalir. Dokter memperkirakan jika luka tersebut seperti diakibatkan oleh benda tajam yang menusuk di pergelangan kakinya.
Dokter yang juga menjabat sebagai guru di SMA Nagara tersebut sungguh baik. Dia menyuruh Arkan agar segera membawa gadis itu ke rumah sakit, dan dokter tersebut yang akan mengurus surat izin Arkan dan gadis tersebut kepada guru BK.
Padahal Arkan sedang mengendarai mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi. Tapi tak henti-hentinya Arkan sering kali menoleh sekilas ke arah gadis disampingnya yang masih tak sadarkan diri. Tujuannya? hanya sekedar untuk mengecek keadaan gadis itu.
"Eh lo udah sadar?" tanya Arkan saat gadis tersebut mulai membuka kedua matanya.
Gadis tersebut menoleh dengan sisa tenaga yang ia punya serta dengan wajah yang masih pucat.
"Lo tahan ya, bentar lagi kita sampai ke rumah sakit," ujar Arkan.
"Ell..lo Arr..kan kan?" tanya gadis tersebut. Tubuhnya terlihat sangat lemah, bahkan untuk mengeluarkan suaranya pun ia seperti tak sanggup. Entahlah apa yang membuatnya menjadi seperti ini?
Arkan menoleh sekilas ke arah gadis itu, lalu menghadap ke arah depan lagi. Jujur Arkan sangat bersyukur, ternyata gadis itu masih bisa membuka matanya.
"Iya gue Arkan. Gue tau gue emang populer, dan hampir seisi SMA Nagara kenal sama gue. Dan banyak juga cewek yang naksir sama gue. Tapi lo tenang aja, lo gak akan diamuk massa karena satu mobil sama gue," cerocos Arkan songong plus kepedean, pake banget!
__ADS_1
Baru saja gadis itu akan menyahut, tapi Arkan udah mau nyerocos lagi. Untung ganteng!
"Udah, simpen aja sisa tenaga yang lo punya. Kalau mau kenalan nanti aja, itu mah soal gampang. Kalau mau bilang makasih dan bilang kalo gue ganteng nanti aja. Gue tau kalo gue ganteng, udah banyak yang bilang gitu," cerocos Arkan tak kalah songong dengan perkataan sebelumnya dan itu sangat menyebalkan.
Jika saja gadis itu mempunyai banyak tenaga dan energi, mungkin dia akan memaki-maki Arkan yang kelewat songong itu. Bisa-bisanya keadaan lagi kayak gini, dia malah kepedean banget.
"Bbb bu kan," ucap gadis tersebut.
Arkan mengernyitkan keningnya. "Maksud lo?" tanya Arkan penasaran.
"Lll Lii Thaa dd da lamm bb ba haya," jawab gadis tersebut terbata-bata.
Arkan terkejut, gadis ini kenal dengan Litha? "Maksud lo apa? Lith... Litha dalam bahaya gimana?" tanya Arkan yang sudah mulai tak karuan. Tetapi Arkan juga harus tetap fokus pada jalanan, ia harus cepat membawa gadis ini ke rumah sakit.
"Mm.. me re ka aak akan ber ak si sete lah pu lang sss se ko lah," sahut gadis tersebut.
Mereka? Arkan sungguh tidak mengerti dengan ucapan gadis itu. Arkan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, pukul 13.40.
20 menit lagi bel pulang sekolah akan dibunyikan untuk murid kelas 10. Dan 50 menit lagi untuk murid kelas 11. Serta 80 menit lagi untuk murid kelas 12.
Arkan tidak tahu harus berbuat apa? Dia tidak mungkin tega meninggalkan gadis ini sendiri, dengan mencari taksi lalu menyuruh sopir tersebut untuk mengantarkannya ke rumah sakit.
Menghubungi Raka, yah itu adalah jalan satu-satunya. Arkan menggapai benda pipih yang berada di dashboard mobil nya, tapi Arkan masih ragu dengan ucapan gadis yang tidak ia kenal.
"Hub bu ngin ss seka rang, sebb be lum sss sem muanya ter lam bat," ucapannya meyakinkan Arkan.
Suaranya mulai terasa berat dan serak, tubuhnya lemas, wajahnya pucat, darah terus mengalir dari kakinya yang terluka, bahkan perban yang meliliti lukanya saja sudah basah dipenuhi oleh darah segarnya.
"Fff Fan ndiy,," sambungnya yang sukses membuat Arkan sangat terkejut, sehingga membuat Arkan menginjak rem secara mendadak.
Tentu saja itu membuat gadis disampingnya hampir tersungkur kedepan, dengan cekatan tangan gadis tersebut memegang cover dashboard mobil, agar kepalanya tidak terbentur oleh benda keras.
"Sss sorry," ujar Arkan gugup.
"Tadi lo nyebut nama Fandy?" tanya Arkan memastikan apakah indera pendengarannya tidak salah dengar?
Gadis tersebut mengangguk. Arkan segera menghubungi Raka, tapi Raka tidak mengangkat telepon darinya. Arkan mencoba menghubungi Litha, hasilnya sama halnya dengan Raka. Arkan mencoba menghubungi Leon, Jordy, dan Danil, namun hasilnya nihil. Mungkin mereka sedang sibuk dengan pelajaran di kelasnya masing-masing.
Arkan mengacak rambutnya frustasi, bingung harus berbuat apa? Tidak mungkin dia berbalik arah menuju sekolah. Jaraknya saat ini dengan sekolah sudah lumayan jauh. Percuma saja jika berbalik arah, itu hanya akan membuang waktu saja.
__ADS_1
Jika pun sampai ke sekolah, Arkan pasti sudah telat karena sebentar lagi bel pulang sekolah akan berbunyi untuk kelas 10. Toh juga Arkan harus membawa gadis disampingnya ini ke rumah sakit, keadaan gadis itu semakin tidak membaik.