Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Nikah Sirih


__ADS_3

Langit bertabur bintang menghiasi langit gelap, senyuman terukir dibibir Litha saat menatap ke arah Raka yang sedang sibuk memanggang bersama dengan Leon dan Nick.


Malam ini semuanya berkumpul dipinggir pantai. Rencananya, malam ini mereka akan melakukan acara barbeque party yang dimeriahkan oleh chef Leon Leonard. Eh? Ceilah... gayanya sok-sokan ngaku chef.


Yang pasti diantara mereka hanya masakan Leon lah yang lumayan cocok dlidah dibanding dengan yang lainnya. Dan karena itu, jadi lah dia sebagai head chef di acara masak-memasak ini yang masih disponsori oleh Raka.


"Lhoh... Kok dagingnya tinggal segitu?" Tanya Danil sambil menghampiri Leon yang sedang asik memanggang sosis.


Leon mengangkat bahunya acuh, dia tidak terlalu perduli. Karena perutnya sudah kenyang, sambil memanggang mulutnya juga sibuk mengunyah seperempat dari setiap makanan yang baru diangkat dari panggangan.


Umran menunjuk Arkan yang terlihat seperti tupai yang mengunyah makanannya. Selesai ditelan langsung ambil daging lagi hingga mulutnya penuh barulah mengunyah dan telan. Begitu terus tanpa jeda.


"Kayak orang yang gak pernah makan daging aja," Danil berjalan melewati Arkan yang masih tetap lanjut makan tidak memperdulikan sekitarnya.


Danil akhirnya kembali duduk dan mengambil makanan dari piring Raka yang dianggurkan sedari tadi, hingga makanannya terasa dingin.


Sekar jadi gemas sendiri melihat pipi Arkan seperti bola kasti. Terlintas ide jahil dalam otak Sekar, ia menekan kedua pipi Arkan menggunakan jari telunjuknya.


Arkan yang terkejut karena tiba-tiba pipinya ditusuk, langsung menelan makanannya dengan segera. Dan sialnya dia hampir tersedak karena menelan makanan secara mendadak ditambah pula dengan makanan yang ia telan belum halus sempurna.


"Uhuk..." Arkan terbatuk dan Sekar tertawa terbahak-bahak. Namun Sekar tetap membantu mengambilkan Arkan minuman. Sekar menepuk pelan punggung Arkan disela tawanya yang puas mengerjai Arkan.


Jordy yang melihat tingkah dua manusia itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Jujur sama kita?"


Arkan dan Sekar saling pandang tidak mengerti maksud dari si bule nyasar itu. "Apa?" Tanya Arkan bingung.


Jordy menatap sinis dengan tatapan dipenuhi rasa kecurigaan. Dia melirik keduanya secara bergantian. Yang lainnya ikut tertarik dengan mereka bertiga, jadi mereka semua langsung diam menunggu drama apa yang terjadi selanjutnya.


"Ekhem..." Jordy berdeham menatap satu persatu kawannya yang penasaran dengan obrolan mereka bertiga.


"Wah berasa nonton drama," Nick menyimak serius dengan tangan bergerak menyomot makanan milik Danil yang ia colong dari Raka.


Jordy menarik nafasnya sebelum berkata, "Kalian udah nikah kan?" Ungkap Jordy yang sukses membuat semuanya terkejut.


"Hah?" Arkan dan Sekar saling pandang.


"Sejak kapan lo tau?" Tanya Umran.

__ADS_1


Bugh.


Arkan memukul belakang kepala Umran, membuat empunya meringis merasa nyeri. "Gue yang seharusnya bilang gitu,"


"Jadi bener, diam-diam kalian udah nikah?" Fika shock.


"Eh? Enggak!" Sekar menggelengkan kepalanya.


Pandangan Sekar beralih kepada Arkan yang nyengir kuda. Arkan sengaja ingin mengerjai Jordy dengan mengiyakan tuduhan si cowok selebgram itu.


"Kenapa lo bisa bilang gitu?" Kali ini tatapan Sekar mengarah kepada Jordy.


Bukan tanpa alasan Jordy memiliki pemikiran macam itu. Tadi pagi ia tidak sengaja mendapati Arkan yang mengajak Sekar masuk ke dalam kamarnya, karena pintunya sedikit terbuka membuat Jordy mengintip ingin mendengarkan pembicaraan mereka berdua yang terlihat sangat serius.


Samar-samar Jordy mendengarkan kata 'pernikahan diam-diam karena tidak direstui orang tua,'. Mata Jordy terbelalak lebar saat mengintip, Sekar sedang menangis sesenggukan dalam pelukan Arkan yang matanya berkaca-kaca ikut merasakan kesedihan Sekar.


Jordy langsung melangkah pergi, ia langsung menyimpulkan sendiri bahwa mereka sudah menikah entah sejak kapan. Mungkin baru-baru ini, sejak Arkan lulus kuliah mendapat gelar Sarjana.


Yap Arkan memang belajar keras agar segera cepat lulus dari pada mahasiswa seangkatannya yang masih harus belajar dua tahun lagi untuk mendapat gelar Sarjana.


"Bintitan nanti mata lu baru tau rasa," balas Nick.


Raka dan Litha hanya menjadi penonton, tidak ingin ikut komentar.


"Gue takut aja kalau nanti mereka berdua khilaf, kan ada gue yang akan menolong mereka," ucap Jordy menepuk dadanya dengan bangga.


Sedangkan Arkan menahan tawa melihat ekspresi semua temannya terkecuali untuk Raka. Mereka nampak terlihat sedikit murung mendengar cerita Jordy yang padahal belum diiyakan oleh tokoh dicerita tersebut.


"So... Kalian beneran udah nikah?" Tanya Fika yang sejujurnya ragu karena takut menyinggung perasaan Sekar.


Arkan dan Sekar saling pandang. Mulut Sekar baru terbuka, ingin bersuara, tapi sudah didahului oleh Sarah.


"Kalian nikah sirih?" Celetuk Sarah.


"Iye. Kenapa? Gak terima gue duluin?" Sungut Arkan yang langsung mendapat hadiah pukulan dilengannya dari Sekar.


"Boro-boro udah nikah! Kita aja sebentar lagi mau LDR," Sekar cemberut tidak menyukai kata LDR, apa lagi jika mengingat dulu Litha yang tidak berkabar sekalipun dengan Raka selama dua tahun.

__ADS_1


"Jadi sebenarnya masalah kalian yang mana sih? Yang nikah sirih atau LDR? Atau... kalian nikah sirih dan kedepannya akan LDR?" Litha yang dari tadi diam, kini ikut bersuara karena geram dengan tingkah mereka yang tidak jelas.


Sekar menatap sinis Arkan yang cengengesan tidak jelas. Sekar menghelai nafasnya, ia membenarkan bahwa kedepannya dirinya dan Arkan akan menjalin hubungan tanpa status jarak jauh.


"Dia daftar jadi TNI, bulan depan dia ikut seleksi pelatihan," ucap Sekar menceritakan jika Arkan mengikuti jejak Ayahnya yang menjabat sebagai seorang jenderal TNI.


"Doa in semoga gue ke pilih ya guys! Supaya gak malu-maluin nama keluarga," Arkan tersenyum lebar menaik turunkan kedua alisnya.


"Ogah!!!" Seru semuanya kompak.


"Sorry bro gue gak butuh doa lu semua. Gak ada sejarahnya seorang Arkan Wirata Pratama gagal dalam usahanya," Arkan menepuk dadanya bangga.


Memang terdengar sombong sih, tapi begitulah Arkan jika sudah niat dia akan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tujuannya, yaa meskipun dia ceroboh namun tidak akan menghalangi usahanya. Sehingga kata 'gagal' kemungkinan sangat kecil dalam hidup Arkan.


"Terus soal nikah sirih?" Tanya Jordy.


Arkan dan Sekar saling pandang lalu tertawa keras. Sekar hanya menceritakan kisah film yang baru ditontonnya bersama dengan para ciwi-ciwi kesayangannya.


Litha, Sarah, dan Fika mengingat kembali film romantis yang mereka tonton saat setelah Umran menemui Sarah yang tadi pagi menangis tidak jelas.


Setelah kepergian Umran, Sarah memilih menonton drama untuk menghilangkan rasa sedihnya. Litha, Fika, dan Sekar yang juga suka drakor jadi ikut nobar. Bukannya menghilangkan sedih, malah bertambah sedih karena kisah cinta yang harus banyak berkorban dalam film tersebut.


"Kenapa lo pake nangis segala?" Jordy menatap sinis Sekar yang masih cekikikan dengan Arkan.


"Suka-suka gue lah. Cewek tu gampang baper kalau lagi cerita," ucap Sekar membela diri.


Litha, Sarah, Fika mengangguk berada di pihak Sekar. Perempuan itu hatinya lembut dan mudah sekali terbawa suasana. Toh film yang mereka tonton tadi memang menguras air mata.


Para lelaki menggelengkan kepalanya menatap ciwi-ciwi yang kompak saling berangkulan dengan pelupuk mata yang basah. Mereka mengingat alur cerita film yang sad ending, karena kedua tokoh utama film tersebut mati secara tragis ditabrak oleh orang tua pihak laki-laki yang tujuan sebenarnya hanya ingin menabrak si perempuan.


"Katanya acara barbeque party. Kenapa ini malah jadi bahas drakor, bukannya makan-makan?" Leon garuk-garuk kepala, lanjut memanggang daging yang tinggal sisa sedikit.


Raka tersenyum menggelengkan kepalanya. Ia melihat isi makanan dipiringnya yang berada dalam tangan Danil sudah habis tak tersisa.


Raka mengambil daging, sayuran, sosis, dan bakso yang baru diangkat dari atas panganan dan langsung memakannya.


The Perfect memakan makanan dengan lahap sambil menikmati angin semilir dan suara ombak pantai. Sedangkan para wanita sudah heboh menceritakan kisah film lainnya yang bergenre komedi romantis. Dari pada membahas film bergenre romantis saja yang malah membuat suasana hati menjadi haru.

__ADS_1


__ADS_2