
Raka masih diam membuat Litha jengkel.
"Dasar es balok! Lo gak mau ngomong? Oke gue pergi sekarang!" Tatapan Litha tajam kepada Raka. Bahasa yang digunakan sudah elo gue yang artinya Litha benar-benar marah kepada Raka.
Umran langsung mingkem setelah dari tadi ketawa ketiwi ngakak. Umran menelan ludahnya bulat-bulat melihat kedua tangan adiknya yang tergempal kuat. Dalam hati Umran berdoa agar muka Raka yang kadar ketampanannya 11 12 dengannya tidak babak belur setelah ini.
"Kamu ini apa-apaan sih, kalau Dokter Raka gak mengakui kamu ya sudah. Dari awal seharusnya kamu sadar diri!" Sahut Dokter Frida yang masih tidak menyerah.
"Dokter Raka memang tunangan sa..." Ucapan Litha terpotong.
"Bukan," sela Raka membuat Frida tersenyum sinis.
Litha langsung membolakan matanya dengan tatapan sengit ingin mencakar wajah Raka. Oke, tolong seseorang ingatkan Litha untuk tidak membunuh Raka sekarang.
Bukan hanya Dokter Frida yang tertawa, tetapi orang-orang yang menyaksikan perselisihan itu juga tertawa terbahak-bahak.
Muka Litha memerah menahan amarahnya. "Oke fine kalau itu yang lo mau!" Teriak Litha.
Umran hanya bisa melihat itu dengan raut wajah tegang, demi apa pun Umran tidak tahu harus bertindak bagaimana? Sahabatnya ini sepertinya emang cari mati, bertahun-tahun hidup bersama Litha membuat Umran tahu kalau adiknya itu sedang marah besar.
Raka malah menatap Litha dengan tatapan yang sulit diartikan, tidak ada rasa bersalah sama sekali kepada Litha.
Diluar dugaan tiba-tiba Raka meraih tangan Litha dan menggenggamnya dengan posesif.
"Lepas! Ngapain lo pegang-pegang gue?" Litha memberontak ingin dilepas, tapi tenaganya kalah kuat dari Raka.
"Dia memang bukan tunangan saya, tapi calon isteri saya. Jadi siapapun yang berani mencari masalah dengannya, akan berhadapan dengan saya!" Tegas Raka dengan kalimat penuh penekanan.
Seketika semua bungkam, Litha memang mendengarnya tapi hatinya masih kesal dengan Raka jadi dia memilih diam saja sambil matanya tak berkedip menatap Dokter ganjen itu yang matu kutu karena ucapan Raka.
"Untuk Anda, Dokter Frida, saya akan memindah tugaskan Anda ke rumah sakit lain," ucap Raka dingin membuat Dokter Frida shock.
Raka melangkah pergi dengan menggenggam tangan Litha, namun langkahnya dihentikan oleh Dokter Frida karena ia masih tidak terima dengan keputusan Raka.
Frida memegang lengan Raka, "Tunggu Dok!"
Raka menghentikan langkahnya dengan mata elangnya mengarah ke lengannya yang dipegang oleh Dokter Frida.
Litha menepis tangan Frida agar tidak menyentuh Raka. "Udah dipelototin juga masih aja gak dilepasin!" Sungut Litha seperti anak kecil yang tidak rela jika induknya dipegang orang lain.
"Apa-apaan ini Dokter Raka. Saya butuh alasan yang logis kenapa kamu memindahkan saya ke rumah sakit lain," protesnya.
"Anda termasuk salah seorang yang beruntung karena saya masih berbaik hati dengan Anda, anggap saja ini sebagai bentuk terimakasih saya karena selama bekerja disini Anda menjadi tim yang baik di ruang operasi," ujar Raka.
"Maksud Dokter apa?" Tanya Frida dengan nada tinggi.
"Jika saya mau, saya sudah memecat Anda sejak lama. Bahkan bisa saja saya memecat Anda secara tidak terhormat dari rumah sakit ini," well Raka sebenarnya tahu kalau selama ini Frida mencoba mendekatinya.
Raka memperlihatkan layar handphonenya kepada Frida sebuah video yang tak lain adalah CCTV diruang kerja Raka sebagai Dokter bedah. Di sana terlihat jelas ketika Frida memasukkan sesuatu dalam minuman Raka, yaitu tepat setelah tim mereka menyelesaikan operasi pada malam hari.
__ADS_1
"Saya bisa saja melaporkan tindakan Anda ini ke kantor polisi," sahut Raka.
Frida menelan salivanya susah payah. Ia mengingat tindakan gilanya saat itu beberapa Minggu yang lalu. Dengan harap Raka akan meminumnya, karena setiap ada operasi di malam hari Raka akan menginap di rumah sakit sampai esok hari. Tentu saja Dokter Frida menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Raka dengan rencana licik sekalipun.
Semua tenaga medis yang melihat itu dibuat tercengang. Dokter Frida yang dikenal baik hati ternyata memiliki hati busuk.
"Seharusnya sejak awal Anda tidak perlu memaksa saya untuk menjelaskan semua ini," ucap Raka.
"Lalu kenapa Dokter Raka masih memperkejakan saya? Seharusnya setelah saya menampar dia, Dokter langsung memecat saya saja," Dokter Frida menatap tajam menunjuk ke arah Litha.
"Anda sendiri yang memaksa saya untuk menjelaskan semua ini. Kenapa Anda jadi menyalahkan saya?" Sahut Raka tenang dan tidak menunjukkan ekspresi sama sekali.
"Saya tidak akan memecat Anda secara tidak terhormat, karena bagaimanapun juga Anda adalah seorang Kakak yang harus membesarkan adiknya seorang diri," yahh Dokter Frida adalah anak yatim piatu. Mana tega Raka kalau adik Dokter Frida akan ikut menanggung kesalahan kakaknya yang membiayai hidup adiknya selama ini.
Raka melangkah pergi bersama Litha, meninggalkan huru hara disana yang sibuk membicarakan dan mencibir Dokter Frida dengan suara sengaja dibesar-besarkan.
***
Raka mengajak Litha ke rooftop rumah sakit yang hanya ada mereka berdua, sampai disana Litha menepis tangan Raka yang memegangnya.
"Kenapa?" Tanya Raka tanpa rasa bersalah.
Bukannya menjawab Litha malah langsung menangis dengan suara keras membuat Raka panik.
"Kenapa Tha? Maaf ya... Aku tahu aku salah," Raka segera meraih kedua tangan Litha.
Litha menghentakkan tangannya sehingga Raka melepas tangan gadis itu. "Kak Raka jahat!" Teriak Litha.
Litha berlari kecil ke arah pojokan.
Raka mengikuti Litha dan langsung memeluknya begitu erat dari belakang. "Jangan bunuh diri Tha. Setulus hati aku minta maaf," Raka menenggelamkan wajahnya di tengkuk leher Litha.
"Siapa yang mau bunuh diri? Orang cuma pengen cari udara segar," Litha mengusap pipinya.
Raka melepas pelukannya dan menghadapkan tubuh Litha ke arahnya. "Kamu marah sama aku karena aku baru ngomong nya diakhir?"
"Iya!" Ketus Litha.
Raka mengusap lembut pipi Litha yang terkena tampar dari Dokter Frida. "Pasti sakit, maaf ya?"
Litha menurunkan tangan Raka dari pipinya. "Bukan karena tamparan ini. Tapi kenapa kamu gak mau bilang dari awal kalo kita ada hubungan. Setelah aku dipermalukan sama Mbak-mbak genit itu, baru kamu angkat suara," ungkap Litha.
Raka menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hehehe soal itu aku sengaja,"
Mata Litha membulat mendengar kejujuran Raka. "Kamu sengaja mau buat aku malu didepan semua orang?"
"Bukan gitu Tha," Raka cepat menggeleng.
"Terus?" Sungut Litha sambil menyeret Raka dengan menarik kerah jas putih Raka untuk duduk di bangku panjang yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
"Berasa kayak sapi, ditarik-tarik gini," Walau bagaimana pun Raka pasrah-pasrah saja ditarik oleh Litha, agar gadis itu tidak tambah marah dengannya.
Kini keduanya sudah duduk. "So?" Litha menuntut meminta penjelasan.
"Sejujurnya waktu awal kamu melabrak Dokter Frida, aku seneng banget,"
"Kenapa gitu?"
"Aku merasa kalau kamu beneran cinta dan sayang sama aku. Yahh mengingat selama ini kamu gak pernah cemburu,"
"Aku diem, bukan berarti aku gak cemburu setiap ada cewek yang lirik-lirik kamu!"
Litha menatap lekat netra Raka. "Aku takut, hiks hiks hiks," kedua tangan Litha menutup wajahnya yang tertunduk dengan air mata mengalir.
"Hei... Jangan nangis Tha, aku mohon. Aku gak bisa lihat kamu menangis. Apa yang kamu takutin? Ada aku yang akan melindungi kamu," Raka memeluk erat tubuh mungil tersebut. Oke mode lembut si beruntung kutub diaktifkan!
"Aku takut hiks hiks. Aku takut kalau kamu akan tergoda sama Mbak-mbak itu, aku gak mau kehilangan kamu," Litha menenggelamkan wajahnya di dada bidang Raka.
"Kenapa kamu punya pemikiran sampai ke sana hm...?" Raka mengusap rambut Litha yang masih menangis sesenggukan.
"Dia kan tinggi, tubuhnya ada bentuk, terus wajahnya cantik pinter pakai makeup," Litha akhirnya luluh dan mau membalas memeluk erat tubuh Raka.
Raka terkekeh kecil mendengar jawaban itu. "Emang kamu pendeknya itu sependek bayi lagi lahir?"
Litha menggeleng.
Raka kembali tertawa. "Emang tubuh kamu gak ada bentuknya?"
Litha menggeleng lagi. "Kak Raka jangan ketawa!"
"Habisnya kamu lucu," Raka tertawa kembali.
Kemudian Raka mengurai pelukannya dan tangannya menangkup wajah Litha. "Dokter Frida cantik dengan makeup nya. Sedangkan kamu cantik alami tanpa makeup. Kamu gak bisa dibandingin sama siapapun Tha, bagi aku hanya kamu yang paling cantik,"
Raka mengecup kening Litha cukup lama sampai Litha kembali menghambur memeluk Raka erat. Senyuman dibibir Litha terlihat, ia sekarang tahu bahwa segala ketakutan dan kekhawatirannya tidak memiliki arti apapun karena hati Raka akan selalu untuk Litha seorang.
"Maaf ya kalau tadi aku diem nya terlalu lama, sampai membuat orang-orang menertawakan kamu. Sebenernya tadi aku diem karena mengagumi kamu," ujar Raka.
Lihat melepas pelukannya, mata Litha menyipit. "Maksud kamu?"
"Tadi kamu kelihatan keren abis," Raka tersenyum lebar dan memberikan dua jempol untuk Litha yang matanya langsung melotot minta diculek.
"Kak Raka....!" Teriak Litha.
"Maaf sayang,"
Raka segera memeluk kembali Litha yang memberontak minta dilepaskan karena ingin memberi bogem mentah untuk Raka. Tentu saja Raka sudah tahu apa yang ada dipikiran gadis itu, oleh karena itu Raka akan tetap memeluknya erat.
***
__ADS_1
The End
Hehehe enggak kok, masih ada lanjutannya 😻