Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Makan Malam


__ADS_3

Litha terlihat cantik menggunakan dress selutut tanpa lengan berwarna putih tulang. Dia berdandan natural dengan rambut yang dicepol agak berantakan, beberapa anak rambutnya Ia biarkan menjuntai, menambah pesona plus kecantikannya.


Keluarga Nagara tersenyum menyambut kehadiran sahabat dari anak bungsunya. Sarah pun turut menyambut kehadiran The Perfect, Fika, dan Sekar. Sarah datang lebih awal, karena memang rumahnya yang paling dekat.


Keluarga Nagara berjajar rapi didepan pintu, para tamu bersalaman dengan tuan rumah. Ayah Kusuma dan Bunda Larissa berada paling depan, Litha berada di paling ujung dekat pintu, Sarah berada diantara Umran dan Litha.


"Selamat malam Pak Kusuma dan Bu Larissa," sapa mereka hampir berbarengan.


"Suatu kehormatan bagi kami bisa diundang ke kediaman Bapak dan Ibu," Danil menundukkan kepalanya sebagai rasa penghormatan kepada pemilik sekolah tempatnya belajar.


"Panggil saja Om dan Tante," Ayah Kusuma tersenyum kepada mereka.


"Iya panggil Om dan Tante saja. Kalian itu kawan-kawannya anak kami, jadi jangan terlalu formal dan jangan sungkan," ucap Bunda Larissa.


"Eh?" Mereka kaget karena orang tua Litha tahu jika mereka juga berteman dengan Umran, padahal ini adalah pertama kalinya The Perfect datang ke sini.


"Gue kasih tau nyokap sama bokap kalau lo semua sohib gue," santai Umran menjawab rasa penasaran mereka.


"Silahkan masuk!" Sarah tersenyum dan tangannya mempersilahkan untuk masuk ke dalam, bagai tuan rumah saja.


Fika memutar bola matanya malas melihat sikap Sarah yang begitu manis dengan balutan dress berwarna merah maroon. Berbeda dengan Sekar yang tersenyum simpul menanggapi Sarah.


Sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah, Fika berbisik kepada Litha. "Lo bener gak ngundang Kak Raka ke sini?"


Litha tersenyum dan mengangguk. Dia sengaja mengundang mereka semua ke sini untuk makan malam, karena ingin mengerjai Raka dengan berpura-pura marah kepada kulkas berjalan itu. Litha tahu Raka pasti juga ingin ikut bergabung ke acara malam ini, Litha juga yakin Raka pasti akan datang malam ini meskipun tanpa undangan darinya.


Mereka langsung menuju ruang makan yang dimana berbagai macam makanan telah melambai-lambai mereka untuk datang ke sana dan mencicipinya.


"Wah banyak banget makanannya. Apa ada tamu selain kami Om, Tante?" Tanya Leon.


"Tidak, tamu kami malam ini hanya kalian," jawab Ayah Kusuma sambil tersenyum.


"Saya senang kalian hadir dalam undangan Litha. Jika kalian tidak hadir, mungkin kami akan kewalahan menghabiskan makanan sebanyak ini," tutur Bunda Larissa mencairkan suasana, meskipun tidak dalam keadaan tegang.


Mereka sedikit kikuk, bukankah tadi Tante Larissa mengatakan jika jangan terlalu formal dengan keluarganya? Lah ini kok malah Beliau dan suaminya pengucapan katanya masih rada formal gitu?


Litha menahan senyum melihat The Perfect yang sepertinya bingung harus menanggapi seperti apa? Kedua orang tua Litha memang begitu, jika dengan orang asing yang tidak terlalu dekat akan berbicara sedikit formal. Jangankan dengan The Perfect yang baru saja kenal, dengan Fika saja terkadang masih bersikap formal.

__ADS_1


Tapi gak tau kenapa kalau sama Raka, dulu Ayah dan Bunda sangat mudah sekali akrab dengannya. Entahlah, mantra apa yang digunakan Raka? Apa mungkin karena Ayah berteman dengan Papa Baskara? Yah mungkin saja karena itu.


"Ayah sama Bunda emang gitu, bicaranya suka formal. Mungkin karena keseringan kerja, jarang pulang ke rumah soalnya," sindir Litha seraya menunjukkan jari berbentuk huruf V kepada orang tuanya, Litha hanya bercanda biar tidak kaku.


Ayah dan Bunda tersenyum hangat kepada mereka semua.


"Ya sudah, ayo kita makan!" Ayah langsung mengambil nasi putih dan beberapa lauk. Iya Ayah mengambilnya sendiri, tanpa bantuan Bunda. Biasanya Bunda kok yang ngambilin, tapi kali ini Ayah sengaja ingin mengambil sendiri, Beliau mendahului sebagai kepala keluarga ceritanya hehe...


"Oh ya bukannya kalian juga berteman dengan Raka?" Tanya Bunda disela makannya.


"Iya kami berteman. Emangnya kenapa ya Tan?" Tanya Jordy.


"Kenapa Raka tidak ikut kesini?" Heran Bunda.


"Oh iya Saya baru menyadarinya, pantas seperti ada yang kurang," Ayah ikut menimpali.


Semua menatap Litha, Dia tidak menceritakan tentang masalah tadi siang kepada orang tuanya dan juga Umran. Litha pikir, Raka akan hadir bersama rombongan, nyatanya tidak.


"Apa?" Tanya Litha sok polos, padahal mah Dia udah tahu maksud tatapan mereka.


"Kamu gak nyuruh Raka ke sini sayang?" Tanya Bunda Larissa.


Ayah mengerti kegelisahan putrinya. Karena Ayah duduk bersebelahan dengan Litha, Ayah mengusap lembut rambut putrinya. "Ada masalah?" Tanyanya penuh kelembutan.


Mereka yang melihat itu ada rasa senang dan sedikit iri juga, beruntungnya Litha memiliki Ayah yang pengertian terhadap putrinya. Umran saja dibuat iri oleh adiknya itu, tapi apa boleh buat? Dirinya seorang laki-laki yang tentu saja akan gengsi jika diperlakukan selembut itu oleh Ayahnya.


"Ee..." Litha tidak ingin masalah yang lumayan sepele tadi didengar oleh orang tuanya.


"Ngambek lo ya sama kembaran gue?" Tebak Umran. Tunggu! Kembaran? Kembaran dari mananya? Jauh woi!


"Iya, eh enggak," Litha menepuk-nepuk bibirnya yang keceplosan.


"Aduh... Kenapa sih ni mulut," gerutu Litha dalam gumamannya.


"Kak Raka nya sibuk Yah, Bun. Jadi gak bisa dateng," ragu-ragu Litha mengatakan hal tersebut.


"Permisi. Maaf Raka sedikit terlambat," seorang pemuda dengan setelan jas biru dongker berjalan ke arah meja makan.

__ADS_1


Litha terpanah oleh sosok pemuda tinggi itu, ketampanannya bertambah ketika Raka berpakaian formal seperti itu. Litha segera menggelengkan kepalanya, ingat Litha masih marah ceritanya, jadi jangan tersenyum dihadapannya! Apa lagi memandangnya macam tadi, bisa besar kepala nanti si kulkas!


"Tidak apa-apa. Sini sayang!" Bunda menepuk kursi sebelahnya yang masih kosong.


Raka duduk ditempat yang Bunda persilahkan untuknya. Raka dan Litha kini saling berhadapan, gadis didepannya sedari tadi menunduk, sesekali melirik ke depan, lalu langsung tambah menunduk lagi ketika Raka menatapnya.


Raka menahan tawanya, rasanya lucu melihat tingkah Litha macam gadis perawan yang berhadapan dengan pacarnya yang datang dengan tujuan melamarnya.


"Ayo ambil makanan kamu!" Suruh Bunda. Raka menurut mengambil makanan untuk dirinya.


"Kata Tatha kamu sibuk, apa benar yang diucapkan Tatha?" Tanya Bunda kepada, siapa lagi kalau bukan si dingin Raka.


Raka menatap Litha yang masih menundukkan kepalanya, tapi matanya melirik ke arah Raka.


"Iya, tadi Raka habis dari kantor Bun. Makanya datang kesini sedikit terlambat," ucap Raka yang memang kenyataannya begitu.


"Kamu masih memegang satu kantor cabang?" Tanya Ayah.


"Iya Yah, memangnya kenapa?" Tanya Raka sambil mengambil minuman.


Yang lainnya hanya menyimak pembicaraan dua laki-laki tersebut, sambil melahap makanan masing-masing. Litha mengusap tengkuknya, sesekali melirik ke samping Ayahnya dan ke depan, melirik sang pujaan hati yang terlihat berkharisma ketika memakai jas tersebut.


"Akh tidak. Saya hanya heran kenapa Papa kamu tidak menempatkan kamu di kantor pusat saja, ya meskipun dengan jabatan yang tidak setinggi Papa kamu? Dan kenapa hanya satu kantor cabang saja kamu kelola? Kenapa tidak dua, tiga, atau empat?" Tanya Ayah langsung ke intinya.


Jika Litha yang mendapat pertanyaan itu, mungkin Dia gelagapan harus jawab yang apa dulu dan bagaimana?


"Sementara ini Raka hanya ingin mengontrol satu kantor cabang saja Yah, dan fokus ingin mengembangkannya menjadi perusahaan yang lebih besar dari saat ini, meskipun itu adalah kantor cabang," jelasnya.


"Hanya itu?" Tanya Ayah lagi. Sepertinya Ayah kurang percaya dengan penjelasan Raka. Ralat, bukan tidak percaya, hanya saja penjelasannya kurang panjang kali, dasar Ayah.


Raka tersenyum sebelum berkata. "Tidak. Karena Raka juga punya kesibukan lain, Raka takut nantinya malah kewalahan dan merusak beberapa kantor lainnya karena lalai dalam menjalankan tugas,"


"Kesibukan anak muda?" Bunda memegang bahu Raka dengan seulas senyuman manis. Raka hanya membalasnya dengan senyumannya yang tak kalah manis, tapi ada campuran senyum ganteng juga dong.


Ayah Kusuma tersenyum, Ayah bertanya lebih detail karena Beliau ingin mendengar jawaban Raka. Jawabannya sungguh memuaskan, Ayah Kusuma sebenarnya tahu jika kesibukan Raka bukanlah kesibukan anak muda yang sering nongkrong dan bersenang-senang dengan temannya.


Ayah tahu jika Raka menjadi Manajer investasi di semua perusahaan Adelard Group. Jawaban Raka membuat Ayah semakin bangga saja kepada Raka yang tidak menyombongkan diri dihadapan kawan-kawannya. Ayah menebak yakin pasti teman-teman Raka tidak mengetahui hal tersebut, mereka hanya tahu bahwa Raka menjadi pimpinan disalah satu cabang perusahaan Adelard Group.

__ADS_1


Happy Weekend semuanya 🤗


__ADS_2