Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Hukuman


__ADS_3

Disebuah apartemen terdapat gadis cantik yang tengah duduk santai di balkon, menikmati angin sepoi-sepoi dengan ditemani sebotol wine.


"Permainan sudah dimulai, tinggal tunggu puncaknya saja," gadis itu tersenyum devil sembari tangannya memainkan gelas yang berisi wine.


Dering telepon berbunyi, membuat gadis itu menjeda angan-angan buruknya.


"Hallo," sapa gadis itu, setelah menggeser ikon hijau pada layar ponselnya.


"Bagaimana keadaan mu?" tanya seseorang dari seberang sana.


"Baik Mom. Aku sangat senang karena bisa bertemu dengannya kemarin," ucap gadis itu.


"Bagus. Jangan sia-siakan kesempatan ini! Apa perlu wanita paruh baya ini, harus ke sana untuk membantu rencana busuk mu?" tanya orang seberang sana.


"Hhhh... Tidak perlu," jawab gadis itu dengan tertawa renyah, mengingat rencana liciknya yang telah ia atur.


"Jika ada masalah beritahu Mom, Oke?" Yah penelepon itu adalah ibu dari gadis itu.


***


Sedangkan ditempat lain ada sepasang kekasih yang tengah menikmati malam ini dengan berjalan-jalan bersama.


"Pakai makeup yah?" tanya Raka melirik Litha.


"Iya, bagus atau jelek atau biasa-biasa aja?" tanya Litha balik.


"Biasa," jawab Raka singkat. Tidak, bukan singkat! Tetapi Litha memotong kalimat Raka.


"Perasaan waktu pertama kali aku pake makeup natural gini, kamu bilangnya cantik," Litha mengerucutkan bibirnya dan bersekedap.


What... Biasa? Udah dandan bermenit-menit, bahkan sampai satu jam, masih dibilang biasa? Apa Litha harus menambah polesan makeup yang tebal? Harus berdandan sampai berjam-jam agar tampil cetar membahana badai? Begitu pikir Litha.


Raka menghelai nafasnya sebelum berkata, "Biasanya kamu ga pakai makeup, kenapa sekarang pakai?"


"Jangan salah sangka dulu. Orang ngomong belum kelar, kamu udah motong aja," tambah Raka fokus pada jalanan, tanpa melirik atau menoleh ke samping.


"Ya salah kamu sih... Kan aku nanya, harusnya kamu jawab. Aku juga udah ngasih pilihan jawaban, kamu tinggal milih aja. Malah balik nanya aku," gerutu Litha.


"Iya aku yang salah, kamu yang bener," sahut Raka pasrah. Karena apa? Karena ia tidak ingin marah-marahan dengan Litha. Yaps masih terngiang jelas dalam pikiran Raka tentang perkataan Leon, 'Perempuan selalu benar, dia tidak ingin disalahkan walau kenyataan dia salah,'


"Jadi tadi kamu mau nanya kenapa aku pakai makeup?" Litha mengingat kalimat yang diucapkan Raka beberapa detik yang lalu. Gadis itu merasa sedikit bersalah karena menyela ucapan Raka dan menuduh ucapan pemuda itu.


Raka mengangguk, mengiyakan pertanyaan Litha.


"Aku dandan biar kelihatan cantik. Biar kamu tambah suka sama aku. Biar gak malu-maluin kamu kalo jalan berdua gini. Biar kita kelihatan cocok kalau dilihat orang. Nanti kalo aku gak dandan, bisa aja yang lihat bilang gini. Eh kok cowoknya ganteng, ceweknya buluk dekil gak dandan gitu, kok bisa-bisanya si cowok mau jalan sama cewek yang gak bisa dandan gitu sih?" Cerocos Litha yang benar-benar seperti rumus volume balok, panjang kali lebar kali tinggi, benar-benar bak kereta api yang panjang.


Raka malah terkekeh mendengar penuturan kereta api dari gadis disampingnya. Yah Raka memang fokus menyetir, tapi pendengarannya masih berfungsi dengan baik. 50% otaknya mencerna kalimat Litha, dan 50% nya lagi ia gunakan untuk mengendarakan mobilnya dengan baik, diantara banyaknya kendaraan yang berlalu-lalang.


"Mau kamu pakai makeup atau enggak, kamu tetep cantik. Jangan dengerin omongan orang lain," sahut Raka melirik sekilas ke sampingnya.


Blush...


Entah sadar atau tidak, Raka telah membuat gadis itu tersenyum-senyum sendiri. Wajahnya memerah semerah tomat. Beruang kutub itu lagi gombal apa enggak sih? Ya pasti itu sebuah kejujuran dong, dia mah mana bisa gombal?

__ADS_1


"Kalo omongan dari orang lain itu sebuah pujian yang bagus, baru kamu dengerin, kamu hafalin juga gpp," ini ceritanya Raka lagi mencoba menjadi pelawak atau gimana sih? Litha tertawa renyah mendengar penuturan Raka.


"Kamu maunya kita ke tempat mana?" tanya Raka sekilas menoleh ke samping.


"Kemana aja, terserah Kak Raka," jawab Litha seraya bergelayut manja di lengan Raka, dan menyandarkan kepalanya pada pundak Raka.


Raka tersenyum dengan perlakuan gadis disampingnya, "Ke hotel mau?" tawar Raka dengan tampang menggoda.


Sontak saja Litha menengadahkan kepalanya, dilihatnya wajah tampan yang sedang menunjukkan ekspresi menyebalkan. Membuat Litha ingin meninju wajahnya. Eh... Jangan tinju, kasihan kalau kadar ketampanannya berkurang.


Litha melepaskan pelukan tangannya dari lengan Raka, lalu meninju lengan kekar itu. "Aw..." Pekik Raka meringis merasakan sedikit nyeri pada bekas tinjuan gadis mungil itu.


"Walaupun tubuh mungil gini, bayarannya nggak kaleng-kaleng lhoh... Emang Om bisa bayar?" tanya Litha bak wanita malam yang berada dalam mode genitnya.


Raka tersenyum miring, bisa centil juga gadis mungil itu. Raka menepikan mobilnya, netra nya beralih ke samping, melihat gadis disebelahnya yang masih tersenyum dengan gaya centil.


"Berapa pun yang kamu minta, Om akan kasih. Asal temani dan puaskan Om malam ini," balas Raka bagai seorang Om-om saja.


"Kalau aku minta perusahaan cabang yang Om pimpin bagaimana?" tanya Litha dengan senyum cantik.


"Apa Om akan memberikannya untuk ku?" tanya Litha dengan tangan menggerayangi dada bidang milik Raka.


Tak ada sahutan, lantas Litha melirik Raka yang hanya diam menatapnya. Litha tersenyum miring saat melihat leher Raka yang seperti menelan sesuatu. Kini tangan Litha seolah sedang merapikan jas hitam yang Raka kenakan.


Yah Raka memang memakai kemeja beserta jas hitamnya. Selepas dari kantor untuk meeting, Raka menjemput Litha di rumah dan mengajaknya jalan-jalan. Gimana? Persis seperti Om-om yang baru pulang dari kantor dengan setelan jas, lalu menjemput selingkuhannya untuk jalan-jalan kan? Big no, Litha adalah kekasihnya, bukan selingkuhan!


"Bagaimana. Om sanggup memberikan perusahaan itu atau tidak?" senyum Litha dengan memberi satu usapan lembut terakhir untuk dada bidang Raka.


"Apapun akan Om berikan untuk mu sayang," Raka membelai sisi wajah Litha.


Karena tak kunjung mendapat respon dari Raka, Litha melirik tangan yang berada disisi wajahnya. Dia meringis merasakan belaian lembut tangan besar itu, ditambah pula dengan raut wajah Raka yang terlihatt... berbeda.


Apa? Berbeda? Apa Raka sedang menahan sesuatu dalam dirinya? Oh apakah semudah itu menggoda Raka? Bahkan Litha tidak melakukan apapun, dia hanya mengucapkan kata-kata manis dan membelai dadanya.


Tunggu! Dada! Litha baru sadar. Gadis itu menatap Raka yang tiba-tiba saja wajahnya sudah dekat dengan wajahnya. Sorot mata pemuda itu bahkan sudah mengarah pada bibir mungilnya dan memiringkan sedikit kepalanya.


Jarak keduanya sudah terkikis habis, hidung mancung keduanya sebagai pembantas. Raka menatap sekilas mata indah Litha. Gugup, itulah yang Litha rasakan, Raka mampu mengetahuinya dari pupil mata Litha.


Raka beralih mendekatkan wajahnya pada telinga Litha, "Ini hukuman untuk mu!" bisik Raka lembut.


Litha membelalakkan matanya. Mendengar itu, tentu saja membuat bulu kuduk Litha seketika menjadi merinding, jantungnya berdegup cepat. Hidung mancung Raka sudah bersentuhan kembali dengan hidung mancung Litha. Dilihatnya kembali sorot mata Raka mengarah pada bibir mungilnya. Akh... Litha yakin ini bukanlah ciuman singkat seperti beberapa waktu yang lalu.


Gadis itu menelan salivanya dengan susah payah saat Raka mulai mengikis habis jarak bibir keduanya. Litha mampu merasakan deru nafas Raka, aroma mint yang khas dari Raka menyeruak masuk dalam indera penciuman Litha. Oh.. sebentar lagi Litha akan merasakan sensasi yang luar biasa dari bibir yang jarang berbicara itu.


Cup...


Bibir mereka bersentuhan, dan terjadilah sesuatu yang memang seharusnya terjadi. Raka melakukannya dengan selembut mungkin, agar tidak menyakiti raum bibir Litha. Raka menarik tengkuk leher Litha, agar memperdalam ciuman mereka. Tidak, Litha tidak membalasnya, dia hanya menikmatinya dan pasrah mengikuti permainan Raka. Dengan lihainya pemuda itu menyusuri setiap inci dalam mulut Litha, mengobrak-ngabrik isinya.


Raka tidak tahu saja, bahwa dia tidak hanya mengobrak-ngabrik isi mulut Litha, tetapi dia juga telah mengobrak-ngabrik hati gadis itu.


Disaat itu pula jantung Litha berdetak lebih kencang dari biasanya, dadanya bergemuruh. Namun tidak bisa disangkal juga, bahwa gadis itu merasakan ada jutaan bunga yang bermekaran didalam hatinya. Rasanya sangat... Akh tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, intinya Litha sangat amat bahagia.


Aroma buah dapat Raka rasakan dari bibir mungil itu, mungkin aroma itu berasal dari lipgloss yang Litha kenakan pada bibir mungilnya. Akhirnya Raka mampu merasakan sensasi yang luar biasa dari bibir mungil itu. Terasa manis baginya, meskipun tanpa adanya gula. Manis yang Raka rasakan sesuai dengan seleranya, pas dengan takaran yang Raka harapkan, rasanya tidak berlebihan, tapi juga tidak kekurangan.

__ADS_1


So disinilah saksi bisu ciuman mereka yang sesungguhnya, ciuman pertama yang benar-benar bisa dikatakan sebuah ciuman. Mobil sport mewah berwarna hitam ini adalah saksi bisu, tempat mereka bercumbu untuk pertama kalinya.


Raka melepaskan tautan bibir mereka, karena merasa kehabisan oksigen. Keduanya sama-sama meraup oksigen sebanyak mungkin untuk mengisi rongga dada mereka. Raka tersenyum melihat wajah Litha yang sudah merona, persis seperti kepiting rebus.


Gadis itu menatap balik Raka yang masih dengan senyumnya. "Apa lihat-lihat?" tanya Litha sedikit ngegas, seolah tidak terima dengan perlakuan Raka tadi, padahal didalam hatinya dia sangat amat senang bukan main.


Raka mendekatkan lagi wajahnya, membuat Litha memundurkan tubuhnya hingga terpentok oleh pintu mobil. Jantung Litha kembali bergemuruh, wajahnya semakin merona. Raka masih tersenyum tanpa rasa berdosa dan terus mengikis jarak keduanya.


"Kak," ucap Litha, memperingatkan Raka agar tidak berbuat lebih dari sekedar ciuman. Oh ayolah bagaimana tidak pikiran Litha mulai berfantasi liar? Setelah ciuman panas tadi, tatapan Raka semakin aneh.


Raka tidak menghiraukan ucapan gadis itu. Dia terus mendekat, hingga berhenti saat jarak keduanya sangat dekat, sampai aroma mint khas itu masuk ke dalam indera penciuman Litha lagi. Tangan Raka mengusap lembut bibir mungil yang baginya terasa manis itu.


"Lipstik kamu belepotan," tutur Raka masih tersenyum dan mengusap lembut bibir itu.


Deg


Rasanya Litha malu, tapi... untuk apa malu? Bukankah itu karena ulah Raka yang melahap bibirnya, bahkan Raka sampai menyusuri setiap inci dalam mulut Litha. Yah Litha tidak boleh malu!


"Ini lipgloss bukan lipstik!" sahut Litha.


Lipgloss, apa itu? Raka sama sekali tidak mengerti. Pemuda itu mengernyitkan keningnya.


"Lipgloss itu ada aroma buahnya, kalo lipstik aroma kayak bunga gitu," jelas Litha.


"Pantes," ucap Raka.


"Apa?" tanya Litha.


"Kecium aroma buah, rasanya juga manis," jawab Raka dengan santainya, tanpa rasa berdosa.


"Ikh... Lipgloss mana ada gulanya, nggak ada rasanya kak," sahut Litha.


"Tapi kok bibir kamu manis, manisnya beda," ucap Raka dengan senyum menyebalkan.


"Itu sih perasaan kamu aja," sahut Litha ketus.


"Bilang aja mau cium lagi," gumam Litha tetapi masih terdengar oleh Raka.


"Apa? Kamu minta dicium lagi?" goda Raka dengan menaik turunkan kedua alisnya.


"Ikh... Tauk ah," ketus Litha.


"Sini-sini aku cium lagi," sahut Raka dengan merangkul pundak Litha untuk mendekat padanya.


"Kak Raka..." rengek Litha dengan melepaskan tangan Raka dari bahunya. Membuat Raka tertawa renyah.


Kurang uwuwww gimana coba? Udah ah, Author gak mau lebih dari itu. Semoga kalian suka 🤗


Like,


Comment,


Vote,

__ADS_1


Follow Rsky Selly


__ADS_2