Ice Boy My Mood Booster

Ice Boy My Mood Booster
Belum Siap


__ADS_3

"Gimana kalo pulang sekolah, nanti kita ke rumah Fika?" ajak Litha.


"Okay," Sarah menyetujui ajakan dari sahabatnya itu.


"Aku antar," celetuk Raka dengan melihat ke arah Litha sekilas lalu fokus lagi pada jalanan.


"Masak aku sama Sarah harus nunggu sampai 1 jam di sekolah?" tanya Litha.


Belum dijawab oleh Raka, tetapi Litha sudah mengeluarkan suaranya lagi. "Ogah," tambah Litha.


"Oke, terserah," ketus Raka.


**Sekolah__


Mobil mewah Raka kini sudah terparkir rapi diparkiran sekolah. Tetapi yang berada di dalam mobil belum juga memperlihatkan batang hidungnya, padahal sudah banyak siswi yang sengaja menunggu si pemilik mobil tersebut untuk keluar dari mobilnya. Sebenarnya Litha masih agak malu kalau setiap bersama Raka, Litha selalu menjadi pusat perhatian.


"Tunggu!" seru Raka sambil memegang tangan Litha yang hendak keluar dari mobil sport hitam tersebut. Setelah Litha mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobil, Raka melepaskan genggamannya dari tangan Litha. Dan Sarah pun juga gak jadi keluar deh, kan Sarah dan Litha kalau menuju ke kelas selalu barengan.


"Lo ke kelas duluan aja! Gue ada perlu sama Litha. Gpp kan?" pinta Raka kepada Sarah sesopan mungkin, agar tidak menyinggung Sarah.


"Its oke," jawab Sarah setelah itu berlalu meninggalkan mobil tersebut.


"Ada apa?" tanya Litha penasaran.


"Besok papa sama oma pulang ke Indonesia," jawab Raka.

__ADS_1


Sudah lumayan lama papanya dan omanya Raka tinggal di luar negeri, kalau papanya sih sedang mengurus perusahaan keluarga Adelard yang berada di luar negeri. Sedangkan omanya memutuskan untuk sengaja tinggal menetap di luar negeri, setelah kematian opanya Raka 3 tahun yang lalu. Tapi entah mengapa tiba-tiba omanya Raka ingin kembali lagi ke Indonesia, dan tinggal menetap bersama anaknya serta cucu semata wayangnya.


"Bagus dong," ucap Litha sambil memperlihatkan senyuman manisnya.


"Apa kamu mau? kalau aku kenalin ke keluarga aku?" tanya Raka yang sebenarnya ragu. Raka tidak yakin kalau Litha akan menerima ajakan tersebut.


"Bukannya aku nolak, tapiiii a.. aku belom siap," jawab Litha yang juga sama ragunya, dan yang benar saja ternyata tebakan Raka tepat pada sasaran. Tetapi memang kenyataannya Litha belum siap untuk bertemu keluarga Adelard yang terkenal sangat dihormati dan disegani oleh pembisnis-pembisnis terkenal. Tentunya Litha takut dan kurang percaya diri.


Di saat wanita lain bersusah payah berlomba-lomba untuk mendapatkan hati seorang pemuda sedingin salju bernama Raka, Litha malah menolak ajakan Raka untuk berkenalan dengan keluarga Adelard. Sungguh aneh bukan? Biasanya wanita akan merasa senang jika dimintai kekasihnya untuk berkenalan dengan keluarganya, itu artinya lelaki tersebut memang bersungguh-sungguh dengan hubungan yang dijalaninya dengan wanitanya.


Raka hanya diam seribu bahasa, bahkan saat ini dia tidak menatap ke arah kekasihnya itu. Melainkan menatap ke depan, entahlah Raka sedang melihat apa? Hanya Raka yang mengetahuinya. Atau mungkin Raka melihat ke arah gadis-gadis cantik yang tengah menunggunya keluar dari mobil tersebut?


Gadis-gadis cantik itu adalah kelas 3 yang sejak pertama kali Raka masuk sekolah ini, mereka sudah jatuh hati pada es balok itu. Setiap hari kakak-kakak kelas itu selalu menunggu didekat mobilnya sendiri, berharap mereka dapat melihat Raka keluar dari mobil milik Raka.


Walaupun kakak-kakak itu telah mendengar gosip dan melihat dengan jelas hubungan antara Raka dan Litha yang setiap hari makin lengket kayak perangko, mereka tetap mengangumi Raka. Mereka tidak peduli dengan anak kelas 1 itu, walaupun anak kelas 1 itu adalah anak dari pemilik sekolah ini. Toh juga belum ada janur kuning melengkung diantara Raka dan Litha, mereka pun juga berharap hubungan Litha dan Raka segera kandas.


"Raka," panggil Litha dengan nada lembut.


"Hm," sahut Raka cuek dan tak melihat ke arah yang memanggil namanya tersebut.


Raka masih menatap ke arah kakak-kakak kelas itu. Andai saja kalau kakak-kakak itu bisa melihat Raka yang masih berada di dalam mobil, kakak-kakak tersebut pasti akan sangat kegirangan karena ditatap oleh Raka, walaupun dengan jarak jauh. Sebenarnya sih Raka fokusnya bukan pada kakak-kakak itu, Raka hanya tidak ingin menatap ke arah Litha. Karena Raka sedikit kecewa dengan penolakan pacarnya itu. Itu Raka kecewa ya..! Bukan marah..! Itu pun kecewanya hanya sedikit.


"Kamu marah?" Litha memberanikan diri untuk menanyakan hal itu, ya walaupun Litha sudah menebak pasti Raka marah.


"Aku gak bisa marah sama kamu," jawab Raka sambil memegang tangan Litha dan menatap Litha penuh makna yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

__ADS_1


Litha merasa lega dengan ucapan Raka, ternyata tebakannya salah. Gadis cantik itu tersenyum lebar hingga matanya melengkung membentuk bulan sabit. Dan ekspresi tersebut membuat gadis berkulit putih itu semakin tambah cantik.


"Turun yuk!" ajak Litha. Ajakan tersebut pun diangguki oleh Raka.


"Kasihan tuh kakak-kakak kelas 3, udah nungguin kamu dari tadi," ledek Litha dengan senyuman jahil. Raka hanya tersenyum tipis dengan ledekan dari pacarnya.


"Mau dibukain pintu mobil nggak?" tawar Raka.


Litha menggelengkan kepalanya, "Enggak usah.. aku bisa buka sendiri. Lagi pula nanti aku malah dikatain manja sama mereka," ujar Litha sambil melirik ke arah kakak-kakak kelas 3 saat mengucapkan kata terakhir.


"Ngapain ngurusin omongan orang lain? Gak usah didengerin!" perintah Raka.


"Kamu mah enak ganteng, jadi selalu digosipin yang bagus-bagus. Nah aku? Huffhhh... sejak semua murid tau kalo kita punya hubungan, aku tu sering digosipin yang jelek-jelek," ceritanya Litha lagi mengadukan keluh kesahnya sejak menjalin hubungan dengan Raka wkwk...


"Kamu juga cantik," jelas Raka datar.


"Kamu belajar gombal dari mana?" Duh kok Litha gak ngeh ya, orang tadi Raka ngomongnya gak pakai nada yang dibuat-buat gitu. Emang pada dasarnya Raka itu dingin dan datar, jadi bisa disimpulkan bahwa Raka itu ngomongnya jujur dan tulus dari hatinya.


Raka tidak menjawab pertanyaan dari Litha, Raka malah keluar dari mobilnya tanpa mengajak Litha. Kalau gini kan Litha jadi kesal dengan sikap Raka. Tiba-tiba terlintas sebuah pemikiran yang membuat Litha menjadi senyum-senyum sendiri di dalam mobil.


"Ohh... Gue tau nih, pasti dia mau bukain pintu mobil buat gue. Makanya dia gak ngajak gue keluar bareng, udah ketebak sih... Ngomong-ngomong bisa sweet juga tu kulkas berjalan," gumam Litha cekikikan di dalam mobil.


Belum sampai ke tujuannya, tetapi Raka sudah disambut oleh kakak-kakak kelas 3 itu. Kakak-kakak itu memberhentikan langkah kaki Raka tepat di depan Litha, tentunya hal tersebut membuat Litha menjadi kesal lagi. Litha pun juga dapat mendengar pembicaraan mereka, karena Raka diberhentikan secara paksa oleh kakak-kakak itu tepat di depan mobil Raka. Iya siswa kelas 3 itu dengan percaya dirinya menghampiri Raka.


"Hai Raka," sapa salah satu siswi yang kini sedang mengerumuni si ganteng beruang kutub.

__ADS_1


"Hm," Raka membalas sapaan tersebut dengan berdeham singkat dan datar.


__ADS_2